Dear, Dolls!

Dear, Dolls!
Masuk Perangkap



Kembali ke masa kini, saat Pak Kiman sedang sibuk merenung dalam kamar tidur nya.


Setelah pencarian yang cukup lama dan alot di villa ini, akhirnya Kiman memiliki kecurigaan terhadap mendiang Tuan pemilik villa tempat nya bekerja saat ini.


Ya. Secara tak sengaja Kiman mendengar perbincangan Bi Hara dengan Pak Adda saat mereka menyebutkan nama Madeline sekali dalam obrolan mereka.


Kiman pun akhirnya tahu kalau Bi Hara juga mengetahui rahasia di balik menghilang nya Madeline. Karena nya lelaki itu selama beberapa tahun terakhir sedikit demi sedikit mengorek informasi dari Bi Hara. Meski itu sebenarnya adalah usaha yang sangat sulit.


Tanpa Kiman minta, lelaki itu akhirnya mengetahui sisi gelap Bi hara perihal ilmu hitam yang digeluti oleh wanita paruh baya itu. Sehingga Kiman pun bersikap hati-hati terhadap nya.


Lalu Emma muncul dan menjadi nanny baru di villa tersebut. Dan kini Kiman mengetahui kalau ternyata Emma adalah putri kandung nya yang telah lama ia tinggalkan.


Emma nyatanya telah menjadi target bagi ilmu sihir yang dimiliki oleh Hara. Karena itulah Kiman tergerak untuk memberi peringatan dini terhadap putri nya itu. Ini Kiman lakukan untuk menebus rasa bersalah nya terhadap Emma.


Keesokan hari nya, Kiman menyusun sebuah rencana untuk menjumpai Emma.


"Ada apa, Pak Kiman?" Tanya Sofia di ruang televisi.


"Saya ingin tahu nomor kontak nona Emma, Nyonya. Bisakah Anda memberitahukan nya kepada saya?" Tanya Kiman yang berdiri di dekat Sofia.


"Memang nya ada apa? Gadis itu sungguh tak tahu diuntung! Sudah kubantu segala pengobatan ibu nya yang sakit. Tapi masih juga dia ingin berhenti kerja. Benar-benar gadis tak tahu diri!" Umpat Sofia yang kesal terhadap mantan pegawai nya itu.


"Saya ingin.. menagih hutang pada nya, Nyonya," jawab Kiman tak jujur.


"Dia berhutang juga padamu, Kiman?! Benar-benar! Berarti kepergian nya itu sebuah keberuntungan bukan? Kalau tidak, anak-anakku bisa dicemari pikiran nya oleh gadis tak tahu diri itu!" Imbuh Sofia.


Kiman memilih tak menjawab lagi.


"Heran. Apa sebenarnya yang sudah dilakukan oleh Emma, sehingga kedua anakku menyukai nya? Sampai sekarang, Sella dan Cello masih saja menanyakan keberadaan gadis itu!" Imbuh Sofia lebih lanjut.


"Jadi, Anda masih menyimpan nomornya bukan, Nyonya?" Tanya Kiman lagi, mengingatkan Sofia yang kembali melantur dari topik pertanyaan nya.


"Ya. Ada. Ini. Catat sendiri!" Ujar Sofia seraya menyerahkan ponsel nya kepada Kiman.


Dengan segera, Kiman mengetikkan nomor Emma pada layar ponsel milik nya sendiri.


"Terima kasih, Nyonya. Mm.."


"Ada apa lagi, Pak Kiman?" Tanya Sofia lagi. Saat dilihat nya Pak Kiman yang masih berdiri di samping nya.


"Apa Nyonya bisa sekalian membagi alamat Emma? Saya khawatir bila telepon saya tak diangkat nanti, atau dia telah ganti nomor," Kiman kembali memberikan argumentasi nya.


"Oh.. kau benar!"


Sofia pun menyebutkan alamat Emma. Dan Kiman bergegas mengetikkan nya di aplikasi catatan pada ponsel nya.


"Terima kasih, Nyonya. Saya juga minta ijin untuk libur besok, Nyonya. Saya ingin segera..err.. menagih anak itu sebelum ia pindah rumah juga!" Ujar Pak Kiman beralasan.


"Oh.. yah.. baiklah. Ku rasa sehari gofood pun tak apa-apa. Pergilah! Dan sampaikan salam ku pada Emma! Katakan pada nya kalau biaya pengobatan ibu nya juga akan kuanggap hutang yang harus ia bayarkan segera!" Ujar Sofia dengan sikap angkuh.


"...baik, Nyonya!" Sahut Kiman seraya undur diri.


Begitu kembali ke kamar nya, Kiman langsung menghubungi nomor Emma. Sayang nya nomor gadis itu sedang tak aktif.


Akhirnya Kiman pun meninggalkan pesan untuk Emma.


Dari Kiman: Emma, saya Pak Kiman. Ada yang perlu saya beritahu kan ke kamu tentang Bi Hara. Bisakah kita bertemu besok?


Kirim.


Setelah nya, Kiman pun menyelesaikan pekerjaan nya di sisa hari itu. Ia bahkan berniat untuk memasak pagi-pagi sekali. Jadi majikan nya tak perlu memesan Go food. Paling Bi Hara hanya tinggal memanaskan nya lagi.


Baru setelah masak lah Kiman akan pergi menemui Emma. Begitu kiranya rencana Kiman untuk besok. Sayang nya, takdir berkata lain.


Tengah malam nya, Kiman dikejutkan dengan kejadian yang menimpa nya tiba-tiba.


***


"Bisa tolong gantikan lampu di kamar ku, Kiman? Lampu nya padam," ujar Hara meminta tolong.


Kiman langsung berjalan di depan menuju kamar Hara yang letak nya berada di ujung lain villa dari tenpat kamar tidur nya berada.


Lelaki itu tak mencurigai Hara akan melakukan sesuatu terhadap nya. Karena menurut Kiman, ia masih bersikap seperti biasanya ia di hadapan wanita itu.


Kiman lalu masuk ke kamar Hara dan mengganti lampu nya dengan menaiki sebuah bangku.


Selesai mengganti nya, Kiman hendak kembali ke kamar nya. Namun Hara tiba-tiba menyodorkan sepotong kue untuk nya.


"Tolong terima ini. Aku baru saja membuat nya tadi sore. Mungkin rasa nya tak seenak buatan mu, tapi ku harap rasa nya cukup edible untuk dimakan," ucap Hara dengan sikap ramah.


"Aku masih kenyang. Jadi ini buat mu saja," tolak Kiman.


"Jangan lah begitu, Kim! Aku tahu kau selalu tak menyukai ku untuk sebab yang tak ku tahu," ujar Hara kembali dengan raut wajah sedih.


Malas untuk berdebat, Kiman pun langsung mengambil piring kue tersebut dari tangan Hara. Ia berniat untuk membawa nya ke kamar nya saja. Urusan memakan nya atau tidak, itu sih hal lain lagi. Begitu pikir Kiman.


Akan tetapi Hara kembali menahan lengan Kiman.


"Makan lah di sini! Dan beritahu aku, bagaimana rasa nya!" Pinta Hara kembali dengan nada merajuk.


Tanpa banyak kata, Kiman langsung mencuil sedikit potongan cake di piring dan mencicipinya.


"Mm. Enak. Sudah ya! Aku mengantuk..!!"


Brak!


Tiba-tiba saja Kiman merasa badan nya menjadi lemas. Hingga kedua tungkai kaki nya tak lagi mampu menahan bobot tubuh nya sendiri.


Kiman jatuh tersungkur ke atas lantai, dengan posisi tengkurap ke bawah. Dan ia tetap dalam posisi nya yang seperti itu selama beberapa saat.


Hanya kedua mata nya saja yang bisa Kiman kendalikan. Jadi ia masih bisa melihat saat tiba-tiba saja pandangan nya tertutupi oleh sepatu heel rendah yang dikenakan oleh Hara.


Dan tak lama kemudian, Hara sudah duduk jongkok tepat di depan lelaki paruh baya tersebut.


Pada detik itu juga, barulah Kiman menyadari kalau Hara telah menjebak nya untuk datang ke kamar wanita itu. Tujuan Hara hanyalah ingin menahan Kiman agar lelaki itu ada di bawah kendali nya.


Dan usaha Hara pun berhasil. Dengan bodoh nya, Kiman masuk ke dalam perangkap Hara begitu saja.


"Ck.ck.ck.. Kiman.. Kiman.. Sebenar nya aku cukup menyukai mu, tahu! Kau itu tipe lelaki idaman ku. Pendiam, tangguh, dan... Pintar masak! Hihihi.." Kiman mendengar suara Hara bicara di hadapan nya.


Lelaki itu mencoba untuk menyahut ucapan Hara. Namun ia tak bisa menggerakkan mulut nya meski hanya untuk menelan ludah nya sendiri.


"Sayang sekali.. kau berada di jalan ku untuk memenuhi keinginan putri ku. Jadi, maaf saja ya! Dengan terpaksa, aku harus menahan mu dulu. Hmm.. seharusnya sih aku membunuh mu. Tapi, aku ingin menikmati malam bersama dengan mu terlebih dahulu sebelum kau menjemput ajal mu nanti. Jadi, Kiman Sayang.. bersabarlah dalam tahanan ku sementara ini ya!" Bisik Hara diakhiri dengan kekehan kecil.


Kiman lalu melihat Hara berlalu menjauhi nya. Sementara kemudian muncul sepasang kaki lain yang bisa Kiman terka adalah milik Adda, pegawai lain nya Nyonya Sofia.


"Tahan dia di gudang ke dua. Dan pastikan, agar tak ada lagi tahanan yang bisa kabur dari penjagaan mu, Adda!" Titah Hara sekaligus teguran nya kepada Adda atas kesalahan yang telah lalu.


"Baik, Hara!" Sahut Adda segera.


Selanjutnya, Adda memindahkan Kiman ke dalam kolong troli makanan. Kiman yang tak bisa melakukan apapun akhirnya hanya bisa pasrah saat diri nya dibawa pergi oleh Adda menuju tempat tahanan nya yang baru.


Hanya satu hal yang membuat Kiman penasaran saat ini.


'Atas kesalahan apa sebenar nya sehingga Hara menahan nya seperti ini?' gumam Kiman dalam hati.


***