
Kevin mengikis jarak dengan mobilnya yang terparkir di parkiran kantor atau perusahaan milik orang tuanya. Kali ini ia mengenakan si merah karena mobil sport berwarna biru yang sudah seperti sahabatnya itu tengah berada di bengkel. Sembari berlari kecil, buru-buru ia mencapai dan masuk ke dalam mobilnya.
Ia sudah menawarkan diri untuk mengantar Namira ke tempat tujuannya, meskipun Kevin sendiri belum tahu hendak kemana Namira pergi. Ia tak sempat bertanya tadi, namun tak masalah bagi Kevin menolong Namira.
Kevin merasa perlu melakukan itu, mengingat hubungan Namira sewaktu Kevin kedapatan mencintai gadis lain, agaknya sedikit merenggang. Beruntungnya, Namira tak berlarut-larut marah pada Kevin. Meskipun Kevin tidak tahu kenyataan aslinya seperti apa sifat Namira sekarang.
Yang Kevin rasakan hanya perlu meyakinkan Namira bahwa dia tidak ingin mencari musuh. Ia tidak ingin hubungannya dengan gadis itu canggung seperti pasangan pada umumnya yang akan berubah jadi saling membenci karena gagal tunangan atau menikah. Kevin tak seperti itu. Kevin ingin hubungannya baik-baik saja. Menurutnya jika kegagalan pertunangan itu adalah takdir yang sudah digariskan Tuhan. Kendati demikian, Kevin tak ingin menyurutkan silaturahmi dengan Namira maupun keluarga.
Oleh karena itu, sekarang Kevin menyanggupi untuk mengantarkan Namira ke tempat yang ia tuju. Itung - itung sebagai tanda maaf pada gadis itu karena kecerobohan Kevin tempo lalu.
Tak butuh waktu lama untuk kembali ke tempat Namira tadi. Karena memang jaraknya tak terlalu jauh, hanya ada di sebrang jalan depan PT Gunawan Group. Alhasil ia sudah sampai di mana Namira berdiri menunggunya.
Kevin menurunkan kaca mobilnya ketika mobil itu berhenti tepat di pinggir Namira. Ia pun mengepakkan telapak tangannya, "Ayo, kita harus cepat - cepat agar kamu tidak terlambat ke tempat yang akan kamu tuju!" memberi kode pada Namira untuk mobilnya sudah siap dan Namira harus segera masuk.
Namira sedikit tak suka dengan cara Kevin memperlakukan dirinya. Biasanya Kevin akan membukakan pintu mobil untuknya sewaktu lelaki itu masih berstatus calon tunangannya. Namun coba lihat sekarang? Kevin jauh lebih santai dan hanya menyuruh Namira masuk dengan sendiri, membuat Namira masuk dengan hati yang mengumpat.
"Brengsek!! Sekarang tidak benar-benar tidak menganggap aku spesial. Dia bahkan memperlakukan aku seperti teman biasa. Benar-benar sudah berubah sikapnya. Semua ini pasti gara-gara Almira."
Entah kenapa setiap mendapat sesuatu yang dirasa tidak adil untuknya, Namira selalu merasa sebal, marah, geram dan ingin segera menengggelamkan dua orang tersebut dari hidupnya. Namun Namira sadar kalau dia tidak boleh grasak-grusuk dan juga ceroboh. Penjahat yang hebat adalah penjahat yang bermain pelan-pelan tapi menghanyutkan.
Namira menahan emosi sekaligus dendamnya di dalam dadanya. Kemudian dia pun tersenyum palsu pada Kevin.
"Terimakasih ya," ucapnya sambil masuk ke dalam mobil sport mewah berwarna merah milik pewaris tunggal tahta kekayaan The Gunawan Group, yaitu Kevin.
"Don't mention it! Ini kan bukan hal besar, aku senang kok bisa bantuin kamu. Ya itung-itung jalan-jalan sebentar dari mumetnya kerjaan kantor, hahaha..." Kevin tergelak begitu nyaring saat melontarkan guyonannya yang dirasa garing.
"Cih, dia pikir leluconnya itu lucu?" decih Namira dalam hati. Matanya terus memandang ke arah Kevin yang asik tertawa, selanjutnya terpaksa Namira juga ikut tertawa seolah menikmati guyonan Kevin.
Agar lebih meyakinkan bahwa ia juga menikmati guyonan Kevin, Namira pun ikut membalas guyonan tersebut meskipun ia tak pandai bercanda atau berbasa-basi.
"Oh jadi kamu keluar biar bisa bolos kerja gitu? Terus kamu beralasan kalau kamu nganterin aku, makanya kamu terpaksa keluar? Dan setelah itu Om Gunawan langsung mengizinkan kamu gitu?"
Kevin menyengir bak keledai bodoh, menampilkan separuh deretan giginya yang putih dan bersih. Menyampirkan poninya dengan pede sambil menanggapi cuitan Namira.
"Ya bisa dibilang begitu sih, Hahaha!" lalu tertawa terbahak-bahak begitu puas dan renyah, membuat Namira sebenarnya muak dan mual mendengar lelucon yang sama sekali tak lucu!
"Oooh, cerdas sekaligus licik juga ya kamu, Vin?" ucap Namira pura-pura ngambek, memajukan bibirnya yang mungil.
"Wah patut dicoba tuh," ucap Namira sarkas.
"Nanti aku akan ajarkan cara-cara jitu memberikan alasan yang cukup relevan ketika kamu jenuh atau mumet dan ingin segera melarikan diri sejenak dari hiruk pikuk kantor. Aku yakin Ayah kamu atau orang-orang kantor tak akan curiga kalau kamu bolos pakai cara-cara aku," tambah Kevin penuh kebanggaan.
"Oooh, jadi kamu sekarang mulai ngomporin aku nih buat melakukan tindakan negatif? Such a nice advice!" sindir Namira sembari memonyongkan bibirnya lalu manut-manut seolah setuju.
"Ya buat jaga-jaga aja takut kamu perlu. Soalnya tiap orang tuh pasti ada sisi jenuhnya dan mereka butuh penyegaran pikiran, dan melibatkan panca indera mereka seperti mata, hidung, lidah, tangan pendengaran. Mereka juga butuh direfresh Nami, kita gak bisa terus-terusan kerja, kerja dan kerja. Meskipun jadwal dan jobdesk kita pada merayap kaya kendaraan terjebak macet, adakalanya, kita harus puter otak kita dan cari alasan buat stop kerja dulu beberapa saat," Kevin mulai berspekulasi panjang lebar, Namira hanya menyimak dengan santai. Walau sebenarnya telinga Namira begitu malas mendengar ocehan Kevin, namun sekali lagi.. keadaan memaksa Namira untuk berpura-pura baik seperti manusia yang punya sifat angelic.
"Ya sesekali mah gak apa-apa kita bolos. Toh, Papa aku gak akan marah kok, apalagi aku perginya sama kamu. Beuhh udah pasti Papa aku gak bakalan negur aku sih," tambah Kevin begitu amat pede. Dan Namira lagi-lagi menyimak santai.
"Kamu yakin Papa kamu gak akan marah kalau kamu keluar di jam kantor hanya karena bantuin aku?"
"Yakin kok, Papa aku juga pasti akan menyarankan aku kalau tahu kondisi kamu seperti tadi," tegas Kevin.
"Baguslah kalau gitu, setidaknya lain kali jangan pakai nama aku buat alasan kamu bolos ya?" cibir Namira menarik turunkan alisnya.
Kevin jadi malu sendiri saat Namira melontarkan kalimat tersebut, rasanya Kevin ingin melompat dari mobilnya atau bersembunyi di lubang semut yang kecil dan sempit saking malunya Namira ngegap.
"Kamu bisa aja sih, aku jadi malu.." tukas Kevin menggosok tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.
"Memangnya kamu masih punya urat malu? Bukankah urat malu kamu sudah putus? Buktinya kamu gak malu tuh sok baik padaku? Padahal kamu sudah tahu kemarin - kemarin aku marah.. dan anehnya sekarang kamu tidak merasa berdosa sedikit pun atas apa yang telah kamu lakukan terhadapku? Kamu juga seolah melupakan kejadian yang lalu begitu mudah, luar biasa sekali anda!! Sungguh urat malu kamu memang sudah putus dan hilang!! Dasar lelaki brengs*k payah!! Kenapa tidak enyah saja sih dari muka bumi ini? " Namira mengutuk nama Kevin penuh dendam. Bagaimana pun Namira tak akan secuil pun ada niatan akan memaafkan dan melepas Kevin begitu saja tanpa pemberian balasan dulu? Oh No!! Rasanya Namira tidak akan sanggup bila melihat Kevin tak hancur.
"By the way, kita mau ke mana nih? Mobil ini dan supir tampan sudah siap mengantar kamu kemanapun kamu mau," ujar Kevin narsis. Lagi-lagi Namira ingin muntah mendengarnya, namun ia urungkan niatnya agar Kevin tak menaruh curiga sama sekali.
"Antarkan aku ke hotel XXX," jawab Namira.
"Oke!!" seru Kevin sembari mengayunkan telapak tangannya hingga menyentuh dahinya memeragakan hormat ala-ala prajurit.
Dan setelah itu, Kevin langsung menancap gas mobil dengan cepat. Lantas mobil itu langsung melesat membawa Kevin dan Namira ke hotel XXX yang dituju Namira.
Kevin sama sekali tak menaruh curiga ada rencana buruk apa yang tengah Namira sembunyikan. Hati Kevin terlalu gembira untuk sekedar sadar bahwa Namira tak sebaik dan selegawa yang ia kira. Namira ada niat busuk, namun Kevin benar-benar tak tahu. Ia terlalu senang sekaligus amat sangat bersyukur atas kebaikan Tuhan. Karena berkat Tuhan, Namira sudah tidak ngambek malah kembali ramah lagi padanya seperti sedia kala. Tidak ada yang lebih membanggakan dari hal tersebut, Kevin tak pernah tahu bahaya tengah mengintainya. Bahaya itu bersumber dari orang yang kini duduk sebelah dirinya, Namira.
Bersambung.