Between Hate and Love

Between Hate and Love
Lebih Baik Bungkam



Kevin dan Almira bergegas ke rumah sakit di mana Namira di rawat. Mereka berdua berangkat dengan perasaan masing-masing. Kevin dengan perasaan lega karena Almira mau mendengarkan penjelasannya, dengan begitu Kevin tidak dituduh pembual lagi oleh Almira.


Sementara Almira, berangkat dengan perasaan yang tak menentu. Almira takut dia melihat Namira dalam keadaan yang sakit malah akan membuat hatinya jadi luluh dan tak melanjutkan misinya menjatuhkan ayahnya.


Almira bukan anak pendendam, hanya saja dia tipikal anak yang selalu mengingat siapa saja yang telah memberi perlakuan buruk padanya. Meski itu ayahnya, Almira tetap akan memberinya sedikit pelajaran agar Almira tidak diremehkan lagi.


Selama ini, Almira tidak tahu alasannya kenapa ayahnya berlaku tidak adil padanya. Meski Kevin menjelaskan kalau pak Jamil kemungkinan sengaja melimpahkan kasih sayangnya hanya untuk Namira karena putri sulungnya itu sedang sakit, tapi menurut Almira hal itu tidak bisa diterima.


Sebagai seorang ayah yang baik, adakalanya ia harus membagi kasih sayang pada kedua anaknya dengan porsi yang sama tanpa terkecuali.


"Al, apa kamu masih marah padaku?" tanya Kevin memecah keheningan di dalam mobilnya.


Almira enggan membuka suara, pikirannya tengah disibukkan berbagai pertanyaan yang akan dia lontarkan jika seandainya di rumah sakit dia bertemu dengan kedua orang tuanya. Apalagi ayahnya, orang yang selama ini jadi penyebab utama dirinya hengkang dari rumah.


"Al, kenapa kamu diam saja?" panggil Kevin sekali lagi.


Almira melirik sejenak ke arah Kevin dengan ekor matanya tanpa berniat membuka suara sesuai harapan Kevin.


"Al, aku ngajakin kamu ngobrol masa kamu malah diem aja sih!" kali ini Kevin sewot saat Almira tak mau meresponnya.


Almira tidak peduli. Dia bahkan membungkam rapat-rapat mulutnya agar Kevin menyadari kalau dia tidak ingin diajak berbicara. Lagi pula Almira masih sebal dengan Kevin.


"Al... kumohon jangan diamkan aku kaya gini dong... aku kan udah minta maaf." Kevin memelas. Dia tidak suka kalau Almira mendiamkannya seperti obat nyamuk. Ada wujudnya tapi tidak dianggap.


Tapi Kevin tidak mau menyerah, dia tetap melontarkan banyak pertanyaan agar Almira mau diajak berbicara meski nanti jawabannya singkat-singkat. Paling tidak, Almira tak mengabaikannya terus-terusan.


"Al apakah kamu tahu, kalau asistenku kemarin sempat terkecoh karena wajah kamu sama Nami begitu mirip. Vallen nyangkanya kalau kamu adalah Nami. Haha" ucap Kevin mencoba merubah topik pembicaraan.


Barangkali saja Almira mau sedikit menanggapi kalau topiknya berbeda. Kevin benar-benar tidak nyaman kalau harus di kacangin sama Almira.


"Dan lebih lucunya lagi, dia baru ngeuh kalau kamu bukan Nami saat beberapa jam setelah kamu sampai di hotel waktu itu. Dia juga menceritakan kalau dia sempat kikuk soalnya kamu pas dia ajakin ngobrol kamunya diam saja seperti sekarang"


Kevin terus saja berceloteh panjang lebar meski tak di dengarkan Almira. Bahkan Kevin dengan sengaja menyinggung kejadian Almira yang mendiamkan Vallen pas diajak bicara sama seperti situasi dirinya sekarang. Sama-sama didiamkan dan di kacangin.


Kevin berharap dengan dia menyinggung kejadian malam itu, Almira mau membuka suara meski hanya sepatah kata. Dan benar saja setelah sekian lama Almira mendiamkan Kevin tadi, akhirnya Almira mau membuka suara dan menanggapi obrolan Kevin.


"Oh ya... begitukah?" tandas Almira singkat.


Meski balasan Almira cukup singkat tapi Kevin begitu senang dan bersemangat untuk kembali melanjutkan kalimatnya. Pokoknya sebisa mungkin Kevin akan memancing Almira agar mau diajak mengobrol.


"Betul. Bahkan Vallen mengatakan pantas saja kamu diam saja seperti patung. Ternyata dia salah orang. Tapi wajah kalian begitu mirip hingga dia tidak bisa membedakan mana Almira mana Namira."


"Asistenmu itu sangat cerewet hingga aku malas menanggapinya"


"Begitulah dia. Tapi asal kamu tahu dia tidak bisa cerewet kalau di depan gadis yang sedang dia gebet. Makanya sampai sekarang dia menjomblo, karena dia itu kaku kalau dihadapan gebetannya. Haha "


Almira terbahak kecil mendengar penuturan Kevin yang terakhir. Dia tidak menyangka kalau Vallen punya sisi yang aneh. Biasanya orang ceriwis seperti Vallen akan lebih mudah mendapatkan pasangan karena berani mengungkapkan perasaannya secara gamblang. Tapi nyatanya tidak berlaku dengan Vallen, dia ciut dan lemah kalau urusan menggaet perempuan.


"Tadinya aku berniat menjodohkan dia dengan Tania sih. Tapi pas aku ceritakan kebiasaan-kebiasaan si Tania pada Vallen, eh kata Vallen dia tidak suka cewek penggosip. Haha"


"Masa sih? tapi kalau mereka bisa saling suka kayanya akan jadi pasangan yang kocak deh. Satunya cerewet, satunya lagi penggosip. Siapa tahu mereka bisa membuat perusahaan jasa yang memproduce presenter gosip terbaik. Kan lebih bermanfaat tuh.Hehehe"


Tanpa sadar Almira terpancing oleh Kevin untuk mau diajak mengobrol, bahkan Almira dengan antusias malah mengajak tos pada Kevin setelah mendapat ide brilian untuk menjodohkan Vallen dan Tania.


Almira benar-benar tidak sadar kalau dia sudah terpancing kecerdikan Kevin. Untuk sesaat Almira bahkan melupakan perasaan sebalnya pada Kevin. Dan sekarang dia malah tertawa begitu renyah ketika Kevin lagi-lagi melontarkan usulan-usulan menarik tentang rencana menjodohkan Vallen dan Tania.


Di saat Almira tengah tertawa begitu renyah bahkan dia sampai memegang perutnya menahan sakit karena terlalu banyak tertawa, di saat itu pula Kevin mencuri pandang ke arah Almira.


Rupanya Kevin berhasil membuat gadis pujaannya bersikap seperti semula. Tidak peduli jika topik pembicaraan mereka adalah Vallen, yang paling penting bagi Kevin adalah Almira kembali tertawa ceria dan tak mendiamkannya lagi. Kevin begitu merindukan sifat ceria Almira yang selama ini memudar. Selain itu Kevin rindu setiap tingkah konyol dan lugunya Almira, Kevin rindu semuanya. Dia menyesal telah melakukan hal ceroboh yang membuat hubungannya dengan Almira jadi runyam.


"Aku senang melihat kamu tertawa lebar seperti itu, Al." gumam Kevin pelan.


Meskipun gumaman Kevin begitu pelan seperti cicitan tikus, tapi hal itu berhasil membua Almira jadi menghentikan tawanya dan seketika dia ingat lagi rasa sebalnya terhadap Kevin. Dia pun jadi kikuk lalu kembali memilih bungkam.


"Kenapa... kenapa kok kamu diem lagi sih?" tanya Kevin sembari fokus menyetir mobilnya.


"Aku tidak berselera melanjutkan tawaku"


Almira kembali ketus, dia belum mau melupakan tindakan Kevin yang mempermainkan perasaannya. Bagi Almira baik Kevin, Namira, dan ayahnya mereka adalah orang-orang yang harus Almira beri pelajaran. Almira harus membatasi diri untuk tidak kontak langsung dengan mereka bertiga. Meski Kevin menjelaskan kalau dirinya hanya berniat membantu, tapi bagi Almira tindakan itu bukan bersifat bantuan melainkan sumber masalah baru. Makanya dia tak mau memaafkan Kevin secara mudah.


"Berarti kamu masih marah dong sama aku?"


"Jalankan saja mobilnya lebih kencang agar kita bisa cepat sampai di rumah sakit!" titah Almira mengalihkan pembicaraan.


"Tapi... "


"Aku bilang cepat kemudikan lebih kencang!" sentak Almira.


"Al... kenapa sih kamu sebenci ini sama aku? memang seberapa banyak sih kesalahan aku sama kamu sampai kamu tak mau mengampuni aku?" tandas Kevin.


"Jika kamu bertanya seberapa bencinya aku sama kamu, aku akan jawab SANGAT SANGAT MEMBENCIMU" Almira menekankan kata-kata terakhirnya ke hadapan Kevin membuat Kevin jadi sedikit takut.


Dia juga menambahkan dan menjawab pertanyaan Kevin yang kedua dengan nada yang tidak sedap "Dan jika kamu bertanya seberapa banyak kesalahan kamu, sebanyak aku membencimu!"


Kevin terhenyak mendengar penuturan Almira yang emosional. Dia tidak menyangka Almira segalak itu kalau sedang marah.


"APAKAH KAMU PUAS DENGAN JAWABANKU?" imbuh Almira murka.


Kevin pun mengangguk dengan cepat.


"Sekarang tancap gasnya lebih cepat agar aku bisa segera menyelesaikan masalahku!!!"


Lagi, Kevin mengangguk dengan cepat.


"Lebih baik aku bungkam saja mulutku daripada kena semprot lagi!" batin Kevin takut.


Kemudian mobil Kevin pun melesat membelah jalanan dengan kecepatan super tinggi sesuai permintaan Almira.


Bersambung~