Between Hate and Love

Between Hate and Love
Rencana Lain Namira



Malam mulai menjemput pagi, matahari mulai menyingsing di ufuk timur. Burung-burung bersahutan mengajak sekelompoknya untuk berkelana ke tempat lain. Kelopak mata indah dari seorang gadis yang semalam tertidur dengan begitu nyaman dan nyenyak mulai bergerak-gerak, menandakan kalau sang pemiliknya akan segera bangun. Dialah Namira. Gadis baik yang kini berubah menjadi licik dan menghalalkan segala cara demi membalaskan rasa sakitnya dipermainkan Kevin, cinta pertamanya. Lelaki yang Namira dambakan menjadi suaminya kelak, namun berakhir karena lelaki itu tak menginginkan Namira namun gadis lain yaitu Almira.


Gadis itu mampu tertidur dengan nyaman dan pulas setelah mendapat kabar menggembirakan dari orang suruhannya mengenai Almira. Kabar gembira itu bukan tentang kepulangan Almira seperti sebelum-sebelumnya, melainkan tentang kepergian Almira yang semakin menjauh dari kehidupannya maupun Kevin. Ya, Namira menjalankan semua itu semata-mata untuk melancarkan kelicikannya.


Seperti yang ia tekadkan semalam, bahwa licik adalah salah satu sifat yang akan Namira sematkan dalam dirinya. Dan Namira cukup puas sejauh ini saat tahu rencananya berjalan mulus tanpa siapapun menaruh curiga padanya.


"Euhmmmm..." lenguhan berat itu tercipta dari bibir mungil Namira, saat bias-bias cahaya matahari masuk melalui serat gorden kamarnya dan mengusik netranya.


Sambil sedikit meregangkan tangannya, Namira mencoba mendudukkan setengah tubuhnya dan mulai mengumpulkan pundi-pundi kesadarannya.


"Sudah pagi ternyata," kata Namira saat matanya mulai sedikit terbuka. Tak lama ia pun menggosok - gosok kedua matanya, menghalau kantuk yang terus-terusan mengajaknya untuk kembali merasakan nikmatnya kasur empuk. Tak mau tertidur lagi, Namira mengerjap-ngerjapkan kedua kelopak matanya agar kantuknya itu benar-benar hilang.


Setelah itu, barulah Namira tersenyum simpul. Senyum tersebut ia berikan untuk mengapresiasi hasil kerjanya semalam yang telah berhasil menjauhkan kembarannya dengan Kevin. Senyum sederhana namun sarat akan makna, karena di dalam senyum yang tengah Namira tampilkan sekarang terselip doa-doa licik dan jahat mengenai kelanjutan misinya menghancurkan Kevin. Ia cukup merasa puas akan hal itu, dan Namira akan semakin merasa puas jika Kevin benar-benar sudah hancur ditangannya. Baik itu perasaan lelaki itu, kepercayaan atau bahkan cintanya terhadap Almira.


"Entah kenapa pagi ini terasa berbeda dengan pagi - pagi sebelumnya. Aku merasa pagi ini sangat spesial dan aku merasa sangat bersemangat menjalani hari. Ck!" Namira berdecak pada dirinya sendiri. Sungguh, wajahnya berseri-seri saat ini.


"Ah, sepertinya aku bahagia dan bersemangat karena rencanaku selangkah demi selangkah mulai menemui titik terang. Hahaha aku benar-benar cerdik, semudah ini aku bisa mengendalikan dunia," lanjut Namira licik.


Ia pun bangkit dari kasurnya, mengambil handuk dan menyampirkannya ke bahunya. Tanpa komando apapun, ia langsung mengayunkan kakinya menuju kamar mandi. Ia ingin sedikit berlama-lama melakukan ritual pagi sebelum akhirnya dia menemui Kevin dengan segudang ide gila yang telah ia rencanakan dan siapkan untuk hari ini.


Sebuah rencana Bagus selanjutnya telah Namira agendakan hari ini. Rencana jahat yang sama sekali tak seorang tahu apalagi curiga. Namira sangat hati-hati dalam menjalankan misinya. Otak cerdasnya memang patut diacungi jempol, dan mampu membuat Namira dengan mudah mencapai tujuannya. Entah itu tujuan jahat atau baik, Namira yakin apa yang ia inginkan akan terwujud sebentar lagi. Termasuk membuat lelaki yang pernah ia sematkan dalam doa-doanya itu merasakan pedihnya ditinggalkan orang yang ia cintai. Sama seperti Namira rasakan dulu, ketika Kevin meninggalkannya untuk Almira. Namira akan membalas semua itu agar Kevin sadar bahwa perbuatannya dulu sangat amat menyakitkan.


Meski Namira tak sesadis joker dengan tega menghabisi nyawa orang lain, tapi Namira ingin memberi pelajaran pada Kevin dengan cara hidup jauh dengan wanita pujaannya yang entah di mana rimbanya. Karena Namira memastikan, baik Kevin dan juga orang tuanya tak ada yang tahu keberadaan Almira sekarang. Hanya dirinya dan orang sewaannya yang tahu di manakah Almira sekarang.


Setelah beberapa menit selesai dengan ritual paginya, Namira kembali ke kamarnya dengan lilitan handuk yang menempel sebatas dadanya dan aroma vanilla yang menguar mengisi ruangan.


Ia pun segera mengambil outfitnya, memakainya setelah itu membubuhkan sedikit make up dan juga menyisir rambutnya.


Sembari mematut dirinya di cermin, sudut bibirnya melengkung membentuk kurva senyum yang jahat.


"Baiklah Nami, hari ini kamu harus menjalankan tahapan selanjutnya yaitu mendekati Kevin lagi. Kamu harus berhasil mendapatkan hatinya, paling nggak supaya dia percaya bahwa kamu masih bisa berteman baik dengannya," tutur Namira pada dirinya sendiri melalui pantulan cermin.


***


"Nah itu dia manusia paling brengsek sejagat raya baru datang. Dasar pemalas, jam segini baru ngantor? Pewaris tahta macam apa manusia begitu? Datang sesukanya, dasar payah! Aku yakin pasti perusahaan Gunawan Group dalam beberapa tahun ke depan akan banyak memakan kerugian kalau masih mempercayakan manusia seperti Kevin untuk bekerja," ucap Namira penuh emosi. Namun dua detik berikutnya Namira ingat kalau dia tak punya kepentingan mengurusi perusahaan The Gunawan Group. Tugasnya sekarang adalah untuk urusan lain yang jauh lebih penting.


"Ah apa urusan dan peduliku mengurusi perusahaan The Gunawan Group? Bukankah kalau mereka bangkrut itu artinya Kevin juga semakin menderita? Berarti bagus dan tentunya menguntungkan buatku. Ya, aku harusnya hanya fokus untuk menghancurkan Kevin, jika memang keluarganya ikut hancur juga akibat kelakuan si manusia brengsek itu, berarti itu bonus buat aku. Hahahaha..." ralat Namira, kemudian ia tertawa begitu lantang di dalam mobilnya. Cukup puas selaksa mendapat jackpot dua milyar.


Usai puas terbahak begitu jahat.. selanjutnya, Namira pun berpikir sejenak untuk mencari ide brilian agar Kevin mengetahui dirinya ada di luar, namun dibuat secara tak sengaja.


"Aha! Aku punya ide...!" soraknya bangga. Entah kenapa otaknya semakin ke sini semakin encer saja. Alhasil Namira semakin di untungkan oleh otak cerdas yang ia miliki. Ide-ide licik serta gila selalu muncul dengan mudah saat Namira butuhkan.


"Oke, saatnya beraksi!"


Namira pun turun dari mobilnya, lantas ia berjongkok di dekat ban depan mobilnya lantas mengempeskan bannya agar dikira kempes tak terduga atau mungkin menginjak paku. Sebisa mungkin Namira harus bertingkah seolah ini murni tanpa kesengajaan.


Puk!


Puk!


"Beres!" Namira menepuk-nepuk tangannya seolah membersihkan debu yang tertempel bekas mengempeskan ban depan mobilnya. Tentunya diiringi dengan tawa jahat yang tak pernah luput.


"Aku tinggal menghubungi Kevin dan pura-pura meminta bantuan padanya bahwa ban mobilku kempes di sekitaran kantornya. Aku yakin dia pasti akan keluar, pokoknya aku harus memancing dia keluar agar aku perlahan-lahan bisa membuatnya percaya padaku, aku harus berpura-pura menjadi gadis baik dan legawa, aku harus menjadi temannya agar dia merasa membutuhkan aku, setelah aku bisa masuk ke dalam kehidupannya lagi maka saat itu aku akan melancarkan kejahatan lainnya," tekad Namira amat sangat licik.


Namira pun mengambil ponselnya dari dalam sling bag berwarna merah yang menyampir di pinggangnya. Setelah dapat, jari jemari lentik nan halusnya langsung menari-nari di atas layar ponselnya. Mengerikan sesuatu pada Whatsappnya.


Namira:


Selamat pagi Vin, maaf nih ganggu.. kamu ada di kantor ga? Bisa bantuin aku ga? Aku lagi buru-buru ke suatu tempat tadinya, tapi nahasnya ban mobil aku kempes nih...


Begitulah kiranya isi pesan yang akan Namira kirim pada Kevin. Setelah dirasa tak ada yang mencurigakan, Namira pun menekan tombol send pada kontak Kevin.


"Ok tinggal nunggu respon si manusia brengs*k ini membalas pesanku!"


Bersambung.