
Almira dan Kevin telah sampai di salah satu rumah sakit swasta ternama di mana Namira dirawat. Perasaan gugup dan takut bercampur jadi satu dan berkecamuk di benak Almira.
Sejenak ia melirik ke arah Kevin, berharap mendapat kekuatan dari sana. Meski Almira mencoba membenci Kevin, tampaknya Almira masih belum move on dari pemuda tampan yang kini berjalan dengan gagah di sampingnya itu.
Almira semakin mendekat ke ruang ICU Namira. Detak jantungnya berpacu seiring dengan langkahnya yang memberat. Perlahan tapi pasti Almira menghentikan langkahnya. Diam tak bergeming membiarkan Kevin berjalan lebih dulu.
Menyadari kalau Almira tidak lagi berjalan di sampingnya lagi, Kevin pun menoleh ke belakang.
"Almira, ada apa?" ucap Kevin seraya memundurkan langkahnya.
"Aku... aku... "
"Apa kamu takut?"
Almira mengangguk pelan.
"Tidak perlu takut. Orang tuamu tidak ada di sini, mereka sengaja aku suruh pulang dulu." imbuh Kevin tersenyum simpul dan meraih telapak tangan Almira, memberi kekuatan lewat genggamannya.
Almira memperhatikan tangannya yang digenggam Kevin. Entah kenapa sekarang dia memang membutuhkan genggaman hangat dari laki-laki di depannya itu. Rasa gugup serta takut yang sempat dirasakan Almira tadi seketika berubah menjadi rasa nyaman dibalut kikuk.
"Ayok kita temui kakakmu!" lanjut Kevin.
"I-iya... "
Suasana mendadak jadi aneh. Jika tadi Almira sepanjang perjalanan selalu mengomel dan mengomel pada Kevin. Lain hal dengan sekarang, dia mendadak jadi kalem saat Kevin menggenggam erat tangannya. Almira tidak bisa menampik kalau dia memang masih ada perasaan khusus untuk Kevin. Bagaimanapun lelaki itu adalah orang pertama yang mampu masuk ke dalam hatinya lalu membuka matanya dan menyadarkannya dengan yang namanya cinta.
"Aku benar-benar payah!" rutuk Almira dalam hatinya.
Almira mendadak jadi plin-plan sekarang. Dia seperti tersihir oleh sikap ramah serta sikap sabar Kevin. Padahal se-jam yang lalu dia begitu enggan melihat atau berbicara baik-baik dengan Kevin. Namun sekarang, apa yang dia lakukan? Seperti remaja bodoh yang terbius virus bucin. Virus yang menurut Almira setingkat lebih parah dari Covid-19.
Kevin dan Almira melanjutkan langkahnya ke ruang ICU. Di satu sisi Almira ingin melepaskan genggaman tangan Kevin, tapi di sisi lain dia membutuhkannya sebagai penguat agar mampu melangkahkan kakinya menemui Namira.
"Kenapa aku jadi plin-plan begini sih?" gumam Almira gusar.
Kevin yang sekilas mendengar gumaman Almira malah tersenyum puas. Dia merasa menang karena pesonanya masih ampuh meluluh lantahkan kerasnya hati Almira.
"Sekuat apapun kamu mengelak, dan sebanyak apapun kamu menolak aku. Kamu tetap tidak akan menang dariku." batin Kevin.
Sesampainya di depan ruang ICU, Vallen yang sedari tadi ditugaskan oleh Kevin untuk menjaga Namira langsung terlonjak kaget melihat kedatangan Kevin dan Almira.
"Ada apa? Kenapa kamu seperti kaget begitu melihat kami datang?" tegur Kevin saat melihat Vallen malah diam melongo tak berkedip. Bola matanya bahkan hampir keluar dari rongganya melihat Kevin dan Almira datang sambil bergandengan tangan.
"Apakah ada yang aneh dari kami berdua?" tambah Almira.
Vallen masih saja bungkam tak merespon kalimat Kevin maupun Almira. Dia tetap melongo menyaksikan pemandangan tak biasa. Bagaimana tidak, pasalnya Vallen ingat kalau Kevin sedang perang dingin dengan Almira. Tapi yang membuat Vallen melongo seperti orang bodoh adalah kenapa mereka berdua bisa datang bersama-sama sambil bergandengan tangan dengan mesra seperti itu?
"Apa kalian sudah berbaikan?"
Kevin dan Almira menatap satu sama lain, setelah itu menatap Vallen dengan heran.
"Kamu kok nanya begitu? Kapan aku marahan sama Almira." sahut Kevin santai.
Berbanding terbalik dengan Kevin, Almira malah menolak dengan keras kalimat yang dilontarkan Kevin barusan. "Kata siapa aku sudah berbaikan dengan manusia ini. Aku masih akan selalu membencinya sampai waktu yang tak di tentukan!"
"Kamu kok ngomong gitu sih Al... "
"Diamlah! Aku sedang berbicara dengan asisten mu."
"Masa sih?" nada bicara Vallen seperti meremehkan Almira, bahkan kini dia menampilkan evil smirknya.
"Al ... aku tidak suka kamu ngomong kaya gitu. Kupikir kita sudah berbaikan?" Kevin menginterupsi.
"Aku bilang DIAM!!! aku sedang berbicara dengan Vallen." sentak Almira pada Kevin.
Kevin patuh. Dia menutup rapat-rapat mulutnya sesuai perintah Almira. Padahal dalam hatinya Kevin begitu dongkol dengan sikap Almira yang mendadak jadi galak lagi.
Melihat Kevin disentak Almira, spontan saja membuat decak tawa di mulut Vallen. "Haha kamu mengatakan tidak mau memaafkan Kevin tapi sekarang kamu menggenggam tangan Kevin begitu erat? Apa aku harus percaya sama ucapannya kamu sekarang?. Lo juga Vin, kenapa lo mendadak kaya ayam sayur gitu kalau Almira bentak lo? Bhahahaha." seloroh Vallen santai lalu terbahak.
Almira melirik ke bawah, dan didapatinya kalau tangannya dan tangan Kevin saling bertautan begitu erat. Lantas Almira berdesis sebal, "Sial... aku lupa akan hal ini."
Kemudian Almira mencoba melepas paksa tangannya dari genggaman tangan Kevin, tapi dengan sigat Kevin malah mempererat genggamannya dan tak mau melepaskannya.
"Lepaskan tanganku!" protes Almira sambil memelotot tak suka pada Kevin.
"Jangan berpura-pura tidak suka, bukankah kamu nyaman kalau aku genggam kaya gini?" Kevin menyeringai menggoda Almira.
"Kata siapa? Aku sama sekali tidak suka kamu seenaknya menggenggam tanganku tanpa seizin aku. Cepat lepaskan aku!" Almira mencoba berontak tapi dia kalah kuat dengan tenaga Kevin.
Sementara Vallen hanya terkikik geli menyaksikan kedua orang yang dihadapannya itu bertingkah seperti remaja yang baru mengenal cinta, "Sudahlah Almira, kamu gak perlu malu menunjukan kalau kamu nyaman di genggam sama Kevin. Haha" ejek Vallen dengan senyum puas.
Merasa ada yang berpihak padanya, Kevin dengan sengaja mengajak Vallen untuk High Five dengan riang, Vallen pun menyambutnya tak kalah riang.
Pasrah! Itulah kata yang terlintas di otak Almira saat menghadapi dua orang manusia yang kelakuannya sama. Sama-sama menyebalkan dan membuat keki.
"Cih! kalian menjijikan ... "Almira berdecih dan menghentak-hentakkan kakinya dengan gusar.
"Menjijikan tapi kamu suka kan sama Kevin?" goda Vallen diiringi dengan menaik turunkan alisnya.
"Ngaku!" Kevin menyenggol bahu Almira dengan bahunya.
"Ck. Terserah kalian lah!" Almira melengos ke arah lain. Tak mau meladeni dua manusia aneh yang kian detik kian seenak jidatnya berucap.
"Cie ... ngambek!" goda Vallen.
"Dia makin cantik kalau sedang ngambek kaya gitu. Makanya aku suka banget membuatnya ngambek." ucap Kevin pada Vallen.
"Tingkat kecantikan cewek emang naik dua kali lipat kalau sedang marah, Vin. Hahaha"
"Yoi ... apalagi kalau pipinya merona duh ... menggemaskan banget."
Almira naik pitam mendengar Kevin dan Vallen membeo ngalor ngidul membicarakan dirinya. Dia ingin sekali menyumpal mulut Kevin dan Vallen agar berhenti bergosip.
Lantas Almira pun mencari cara agar Kevin melepaskan genggamannya dari tangan Almira.
"Kayanya aku tahu bagaimana menyumpal mulut-mulut lemes dua manusia ini." pikir Almira dalam hati.
Dan tiba-tiba ...
Ctak!
Pletak!
Duk!
Bersambung.