
Yohan tak peduli dengan ucapan Safira, dia duduk dan meletakan kaki Safira di atas pangkuannya.
"Hey, lepaskan!"
"Diam! Atau aku akan mematahkan kaki mu!" seketika itu pula Safira bungkam. Yohan mengusapkan minyak urut di kaki Safira dan memijatnya pelan. Safira meringis menahan sakit dan memejamkan matanya.
Yohan menoleh, dia menatap wajah gadis yang ada di depannya, 'mengapa dia? Apa yang sepesial darinya, hingga pikiranku selalu saja berpusat padanya?'
Seketika Yohan tersadar Ia langsung memalingkan wajahnya, "sudah." Ujarnya sembari menurunkan kaki Safira dan Ia pun bergeser sedikit menjauh dari posisi sebelumnya.
Safira membuka mata, dia menyentuh kakinya yang tadi di pijat Yohan, masih sedikit sakit namun tidak sesakit tadi.
"Terima kasih." Ucap Safira tanpa menatap lawan bicaranya.
"Kalau kau ingin mangga, kau bisa menyuruh pelayan disini untuk mengambilnya. Mengapa kau memanjat sendiri? Kau pikir kakimu itu terbuat dari baja?" gerutu Yohan.
"Yura menginginkannya. Lagi pula, para pelayan di tempat ini hampir semuanya wanita."
"Satpam di depan itu Pria!"
"Tapi berjalan ke gerbang terlalu jauh, aku tidak bisa meminta bantuannya." Balas Safira tak mau kalah.
"Kenapa kau tidak minta bantuan ku?" ucapan itu tiba-tiba keluar dari bibir Yohan.
Hah, Safira terperangah. Bagaimana orang macam Yohan bisa membantunya, "memangnya kau bisa memanjat?" cibir Safira.
"Aku pernah memanjat, waktu masih kecil."
'Saat itu, saat Mamah hamil Yura, dia juga ingin makan mangga muda.'
"Tak apa Yura, ini bukan salahmu. Aku saja yang kurang berhati-hati." Tutur Safira lembut.
'Hmph, gadis ini, kapan dia akan bersikap normal padaku.' Yohan memberengut kesal.
"Benarkah Kak? Tapi jika aku tidak ingin mangga, Kakak tidak akan naik dan Kakak tidak akan jatuh," dia masih saja terus menangis, "hiks, mulai sekarang aku tidak ingin mangga lagi."
"Hey adik kecil, ini tidak seburuk yang kamu pikirkan. Lihat, aku sudah bisa berdiri," Safira bangkit dan berjalan beberapa langkah, "kamu lihat bahkan Kakak sudah bisa berjalan lagi." Seketika Yura berhambur ke pelukan Safira, ukuran tubuh mereka yang hampir sama membuat Safira sedikit oleng dan hampir saja terjatuh.
"Terima kasih. Terima kasih karena Kakak baik-baik saja!" Yura terisak lirih.
"Iya, Iya!" Safira menepuk punggung Yura pelan. Rasa sayangnya kian bertambah pada gadis polos ini, "sudah jangan menangis, anak baik."
Yura melepas rangkulannya, "apa aku bisa makan mangga yang tadi?"
"Tentu saja, pergilah." Yura berlalu kegirangan. Hmph, Safira menatap punggung Yura dengan hati mencelos, apakah dia akan normal kembali, gadis seumurannya seharusnya sedang masa-masa bermain dan bersekolah dengan teman sebayanya.
"Dia akan sembuh, itu pasti!" Ucap Yohan seperti tahu apa yang tengah Safira pikirkan. Safira hanya mengangguk dengan diam.
"Apa kau sudah memikirkan tawaranku tadi?" tanya Yohan lagi.
"Belum sempat aku pikirkan. Tapi baiklah, setidaknya aku bisa keluar dari tempat ini." Ujar Safira tanpa menyaring kata-katanya.
Hmph, Yohan mendengus sembari berlalu. Safira melirik dari sudut matanya, dia heran sebenarnya apa mau pria ini? Sikapnya yang sering kali berubah-ubah membuat Safira kadang takut dan tak berani menghadapinya.
Tapi satu hal yang pasti, ada niat tersembunyi saat dia meminta Safira bekerja di tempatnya.