Between Hate and Love

Between Hate and Love
Sampai Jumpa Kapan-Kapan



"Cinta memang selalu dipenuhi liku yang berat dan kejam. Kadang membuat siapapun keliru. Meski tak saling menyatu sesuai harapan, mesti tak menetap untuk bertahan, jangan ragu untuk mengatakan sampai jumpa kapan-kapan di kehidupan yang lain"


Vallen dan Kevin masih terjaga di rumah sakit menunggu dokter yang masih belum juga keluar dari ruangan Namira. Sesekali Kevin mengamati keadaan Namira yang sedang di beri penanganan dari balik kaca transparan yang tersemat di pintu.


Terlukis jelas raut cemas dibalut bersalah menyelimuti Kevin sekarang. Dia sungguh cemas dengan keadaan Namira, tapi dia juga merasa bersalah karena harfiah dia berperan untuk membuat penyakit Namira kambuh.


Jika saja dia segera mengatakan yang sebenarnya pada Almira, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini. Mungkin keluarga Rubbiantoro Jamil akan utuh seperti sebelumnya dengan kembalinya salah satu putri mereka.


"Arghh...bodoh-bodoh!" Jerit Kevin merutuk dirinya sendiri.


Vallen yang menemani Kevin jadi ikut merasa iba bercampur sedih melihat keadaan Kevin sekarang. Vallen mengerti betul, Kevin pasti sangat amat menyesal dengan perbuatannya.


"Sabar Vin, gue yakin semua akan baik-baik aja. Yang udah terjadi biarlah terjadi, sekarang kita pikirin gimana caranya buat kedepannya,"


Vallen mengelus punggung Kevin untuk membantu meringankan bebannya yang terasa berat.


"Seandainya aku lebih berhati-hati mungkin kejadiannya gak kaya gini," lirih Kevin.


"Vin, lo gak usah menyesal-menyesal banget lah Vin. Jadiin semua ini buat pembelajaran lo ke depannya, biar lo gak gegabah lagi dalam mengambil keputusan" ucap Vallen mengingatkan.


"Sekarang lo tenangin diri lo. Daripada lo merutuki diri lo, mending lo doa yang banyak sama Tuhan buat kesembuhan Namira, dan juga doa buat Almira semoga dia nanti mau maafin lo," imbuh Vallen di selingi sedikit ledekan untuk Kevin.


Menyadari kalau kalimat Vallen yang terakhir itu seperti sebuah ejekan, Kevin pun mengerutkan wajahnya dengan kesal. Bisa-bisanya Vallen meledek Kevin di situasi yang segenting ini.


"Nggak lucu!" sentak Kevin.


Vallen terkekeh dan menimpali, "Idihhh... siapa juga yang sedang melucu? Gue kan tanpa melucu pun wajah gue udah lucu!"


Kevin jengah dengan sikap Vallen yang seringkali tidak pernah bisa serius. Di saat dirinya sedang ketar-ketir dirundung frustrasi, si Vallen malah sengaja melontarkan goyunan. Mungkin maksud Vallen baik, supaya suasananya agak mencair dan supaya Kevin juga lebih tenang, tapi hal itu malah membuat Kevin jadi sebal bukan main.


"Len, aku lagi pusing tapi kamu tetap saja becanda"


"Gue cuma gak mau anak bos sekaligus sahabat gue murung kaya gini, lo jelek kalau lagi pusing kaya gini," goda Vallen di selingi seringaian di ujung bibirnya.


Sontak saja Kevin bergidik ngeri mendengar godaan Vallen yang lebih mirip cowok dalam tanda petik.


***


Di tempat lain, dengan gaun yang tak sempat terganti dan riasan make up yang sudah berantakan. Seorang gadis tengah terduduk di tepian jendela kamarnya, memandang bulan yang nampak malu-malu menampakkan wujudnya.


Matanya bengkak dan sembab karena buliran air mata terus saja meluncur deras dari pelupuk matanya. Almira, si gadis yang tengah memandang bulan sambil menangis itu masih belum beranjak dari tempatnya. Padahal malam semakin larut, dan udara malam semakin dingin menusuk kulit.


Bersamaan dengan itu, Almira tidak bisa tidur. Pikirannya masih berputar-putar mengingat kejadian tadi di pertunangan Kevin. Kejadian yang membuat Almira sakit hati.


"Aku tidak menyangka ternyata pak Kevin mendekati aku hanya untuk bisa lebih dekat dengan Namira. Parahnya lagi, dia sama sekali tidak merasa bersalah. Apa dia tidak waras?" Almira meringkuk lututnya dengan kedua telapak tangannya. Menenggelamkan wajahnya di sana.


Dadanya terasa sesak sekarang, dia merasa dipermainkan oleh Kevin. Dia merasa Kevin hanya memanfaatkannya. Selama ini Almira sudah terbuai dengan semua kebaikannya Kevin, bahkan Almira sampai berani membuka hatinya untuk Kevin.


Lalu Almira menyunggingkan tepian bibirnya sebelah, tersenyum kecut saat menyadari kebodohannya sendiri. Ia sangat menyesal karena telah memberi harapan pada Kevin, dia menyesal karena telah masuk dalam permainan Kevin.


"Kevin dan Namira adalah dua orang yang menyebalkan, aku tidak akan pernah memaafkan mereka berdua sampai kapanpun! "


Almira berjanji pada dirinya sendiri, meneguhkan hatinya untuk membenci dua orang yang sudah melukai hatinya. Namira, sejak awal dia adalah orang yang paling Almira benci. Kevin, saat ini Kevin masuk dalam daftar orang yang Almira benci juga. Karena Almira berpikir Kevin telah memanfaatkannya hanya untuk kepentingan Kevin sendiri, yaitu agar bisa dekat dengan Namira.


"Dari kecil Namira selalu mencuri semua hakku dan sekarang dia juga telah menghancurkan impianku tentang cinta. Kenapa kehadirannya selalu membuat semua milikku terenggut? Dia penyebab semuanya, aku tidak akan pernah bisa memaafkannya!" Almira meracau tak jelas. Dia benar-benar emosi sekarang.


Almira menyeka sisa-sisa air matanya, "Aku tidak boleh lemah, aku tidak boleh terlihat sedih. Aku harus menunjukan pada semuanya kalau aku gadis yang kuat, mulai sekarang aku berjanji pada diriku sendiri kalau aku tidak akan mempercayai apa itu cinta!" ucap Almira dengan sorot matanya yang tajam kemudian dia bangkit dari duduknya.


Almira bergegas menuju meja kerjanya, membuka laptopnya dan mengetikkan sesuatu di atas keyboardnya.


"Hal pertama yang harus aku lakukan, aku harus mengajukan surat resign dan kembali ke bangku kuliahku. Setelah itu aku akan membangun kembali misiku yang selama ini tertahan. Aku akan melakukan apapun yang aku sukai, dan aku tidak akan tergoda lagi dengan yang namanya cinta!" batin Almira.


Almira memfokuskan dirinya pada laptopnya, dia benar-benar membuat surat resign yang akan dia berikan besok.


Entah seperti apa jadinya jika bu Vania tahu, tapi yang jelas Almira harus segera menyingkir dari hal-hal yang berhubungan dengan Kevin, lagi pula sekarang Kevin sudah bertunangan dengan Namira, lalu untuk apa Almira bertahan. Sejak awal Almira ingin hidup jauh dari Namira, jika Kevin bertunangan dengan Namira maka pupuslah niatan Almira yang tidak ingin dekat-dekat dengan kembarannya itu.


Meski mimpi dan misi Almira belum benar-benar tercapai, paling tidak sekarang kehidupannya membaik. Keuangannya juga mulai stabil, hanya hatinya saja yang rapuh. Tapi Almira tak akan menyerah, dia pasti bisa memulihkan kembali hatinya itu.


Di saat Almira tengah sibuk dengan laptopnya tiba-tiba ponselnya berdering menandakan ada panggilan masuk. Almira meraih ponselnya, dan ditatapnya layar ponsel yang menampilkan panggilan atas nama Tania.


"Tania? Untuk apa dia malam-malam begini menelponku?"


Buru-buru Almira menggeser ikon gagang telpon berwarna hijau ke samping kanan, lalu dia mulai berbicara pada Tania di sebrang sana.


"Hallo Tan, ada apa?"


"Hallo Al, apa kamu tadi ke acara pertunangan pak Kevin?" tanya Tania dengan nada tergesa-gesa. Mungkin dia bersiap untuk mengajak Almira bergosip, soalnya Tania itu kan senang bergosip.


"Ya," jawab Almira malas.


"Apa kamu tahu kalau pertunangannya berjalan______ "


Almira memotong kalimat Tania yang bahkan belum sempat terselesaikan, ia enggan membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan Kevin, "Sudahlah aku tidak mau bahas tentang ini, lagi pula aku sekarang sedang sibuk!" sentak Almira lalu menutup telponnya.


Setelah menutup paksa sambungan telpon Tania, kini Almira terdiam sejenak. Mimik wajahnya menampilkan kemarahan yang amat mendalam. Setiap kali mendengar nama Kevin sekarang, rasanya Almira ingin sekali berteriak marah-marah.


"Aku harus melupakan semuanya, aku tidak mau berurusan dengan orang yang bahkan tak sudi ku sebutkan namanya," pungkas Almira.


Almira kembali memfokuskan dirinya pada laptop yang sudah berisi surat pengunduran dirinya yang hampir jadi.


"Sampai jumpa kapan-kapan tempat kerjaku. Meski berat tapi aku harus meninggalkanmu," ucap Almira seraya menatap surat yang telah jadi.


Bersambung~