Between Hate and Love

Between Hate and Love
Haruskah?



Siang berganti senja, langit juga mulai menggelap menyongsong malam. Matahari juga telah kembali ke peradabannya. Malam ini akan jadi sejarah, baik untuk Kevin maupun Almira. Entah pertunangan Kevin berhasil di laksanakan atau mungkin Almira yang memenangkan peperangan ini. Yaitu, menggagalkan rencana pertunangan Kevin dengan gadis lain.


Sepasang kaki beralas sepatu flat dan di lengkapi dress selutut tengah bersiap-siap untuk pergi ke acara pertunangan Kevin. Almira, gadis itu kini tampil cantik mempesona. Tapi dibalik tampilan cantiknya, terbesit rasa gundah yang menggangu pikirannya.


"Haruskah aku benar-benar mengikuti saran Tania?" ucap Almira seraya memoles bibirnya dengan gincu berwarna salmon, senada dengan gaunnya yang juga berwarna salmon.


Dia mematut dirinya di cermin dan kembali bergumam, "Tapi kata Tania, semua adil dalam cinta dan perang"


Pikirannya berkecamuk antara setuju dan tidak setuju dengan usulan Tania yang menyuruhnya untuk menggagalkan pertunangan Kevin.


"Tapi bagaimana caranya?" Almira kembali bertanya pada pantulan dirinya di cermin.


Tiba-tiba sekelebat sisi buruk dan sisi baiknya mampir dan menimbrung untuk membuat Almira yang bingung menjadi tambah bingung.


"Kamu harus maju dan ikuti perintah Tania, Almira!" titah sisi buruknya mengompori.


Kemudian sisi baiknya menyahut, " tidak! Kamu tidak boleh mengikuti saran Tania. Itu tindakan jahat Almira," ucap sisi baiknya mengingatkan.


Almira bingung harus mendengarkan saran yang mana, di satu sisi dia memang menyukai Kevin dan tidak ingin Kevin bersanding dengan yang lain. Tapi di sisi lainnya, dia tidak mungkin merecoki pertunangan Kevin.


"Argggh... aku pusing sekali sekarang!" Almira mengerang keras dan menarik rambutnya dengan gusar.


Mendadak, Almira juga menghapus riasan make up dan gincunya yang sudah terpasang rapih pada wajah dan bibirnya.


"Ini salah!" ucap Almira sadar.


"Ya ini salah, aku tidak boleh egois. Meski semua adil dalam cinta dan perang, tapi aku tidak ingin melihat orang yang kusukai jadi membenciku," pungkasnya lagi seraya membuat tanda silang pada kaca yang sedang memantulkan dirinya.


"Cinta tidak butuh rasa egois. Cinta berasal dari hati yang bersih dan pikiran yang jernih. Cinta itu suci, jika memang dia mencintaiku dia pasti akan kembali padaku tanpa harus ku gagalkan pertunangannya," Almira kembali meneguhkan hatinya untuk tidak berbuat nekat.


Saat Almira tengah berperang dengan kebingungannya tiba-tiba suara klakson mobil terdengar jelas di telinga Almira.


Tid... Tid... Tid...


Almira terdiam sejenak, sepertinya dia nampak heran kenapa ada suara klakson mobil di depan rumah kontrakannya.


"Apa itu Tania?" tanya Almira pada dirinya sendiri. "Tapi Tania bilang kalau dia tidak mau menjemput ku dan malah minta ketemuan di hotel saja," tambahnya.


Segera, Almira mengambil clutch dan mengaplikasikan kembali bedak dan gincunya. Merapihkan make up yang tadi sempat ia hapus.


"Duh, harusnya aku tadi gak perlu menghapus make up ini. Emosi sih emosi tapi kalau harus menempelkan make up lagi, aku juga yang ribet," Almira mendumel kala menyadari kekeliruannya.


Setelah siap, Almira pun langsung meluncur bersiap membuka pintu depan kontrakannya. Tapi saat sampai di pintu, ia tak lantas memutar gagang pintu. Ia malah berpikir sejenak.


"Bagaimana kalau yang di luar itu orang jahat yang akan menculikku," Almira mendadak jadi parno.


Kemudian dia mengintip dari balik jendela kontrakannya. Matanya membelalak lebar-lebar saat menangkap sesosok pria dengan setelan jas hitam berdasi kupu-kupu.


"Siapa dia?" batinnya.


Almira kembali memperhatikan laki-laki yang sedang menunggu di depan kontrakannya. Almira sama sekali tidak mengenali orang itu. Dengan wajah oval, mata sipit, hidung mancung, kulit putih serta rambut yang di cat agak pirang di bagian depan. Nampak rapih, tidak seperti orang jahat sama sekali.


"Aku sama sekali tidak mengenalnya. Tapi ngapain dia berdiri dan menunggu di depan kontrakan ku?" Almira mengernyitkan dahinya berulang-ulang kala melihat sesosok pemuda ganteng yang bergaya mirip dengan Kevin.


Cukup lama Almira memandang pria tersebut, bukan karena terpesona wajah gantengnya tapi Almira penasaran siapakah pemuda itu, dan apa tujuannya pemuda tersebut berdiri di depan kontrakannya. Jika memang itu tamu untuk Almira, tidak seharusnya pemuda itu hanya berdiri di sana. Tapi jika memang bukan tamunya Almira, lantas sedang apa pemuda itu di sana.


Rasa penasaran itu kian mengungkung batin Almira, lalu dengan segera Almira memberanikan diri menarik knop pintu kontrakannya dan menghampiri pemuda yang sedari tadi berdiri di dekat mobilnya sendiri sambil sesekali memainkan ponselnya.


"Kamu siapa?" tanya Almira dengan nada sinis dan mengejutkan si pemuda itu.


Dia, si pria dengan penampilannya yang hampir mirip Kevin itu terhenyak kaget dan membelalakan matanya lebar-lebar.


"Kamu mau membuat aku jantungan?" pria itu memekik seraya mengambil ponselnya yang sepertinya terjatuh tadi akibat dikejutkan Almira.


"Kenapa kamu malah di sini, bukankah seharusnya kamu ada di hotel untuk acara pertunangan?" ucap pria yang tidak di ketahui namanya oleh Almira.


Almira menaikkan sebelah alisnya, merasa terheran dengan pria di hadapannya ini yang mendadak sok kenal dan sok dekat. "Loh emang kamu siapa?" tanya Almira.


Pria itu menjawab enteng, " ya ampun... masa kamu gak kenal aku?"


Almira menggelengkan kepalanya pelan tanpa bersuara. Dia bingung bukan main, kenapa ada orang aneh seolah-olah sudah mengenalnya. Padahal ini pertemuan pertama mereka.


"Aku Vallen, apa kamu lupa?" ucap pria itu lagi sembari menunjuk dirinya sendiri.


Lagi, Almira hanya menggelengkan kepalanya, terheran. Dia benar-benar tidak mengenal orang itu. Almira juga tidak tahu dari planet mana datangnya pria aneh itu yang mendadak hadir di hidup Almira. Di tambah sok akrab, layaknya seorang teman lama yang baru berjumpa.


"Apa dia orang gila?" kata Almira dalam hati.


Almira menatap lekat-lekat orang itu dan kemudian bergidik ngeri.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu? Apa kamu mulai berpaling dari kekasihmu?" goda si pemuda itu dengan begitu pedenya.


Almira tidak menjawab, dia malah merutuk pemuda itu dalam hatinya. "Sepertinya dia tidak waras!!!"


Merasa tak ada jawaban, pemuda yang bernama Vallen itu kembali mengulang pertanyaan yang sama, "kenapa kamu menatapku seperti itu?"


"Sebenarnya kamu siapa? Dan apa tujuanmu datang ke sini?" sinis Almira.


"Sudah aku bilang... aku Vallen. V-A-L-L-E-N," jawab Vallen, bahkan dia menekankan dan mengeja huruf pada namanya agar Almira tidak terus-terusan bertanya siap Vallen.


"Dan tujuanku ke sini tentu menjemputmu," tambahnya.


"Menjemputku?" Almira memicingkan matanya.


"Ya, ini perintah dari bosku"


"Siapa bos kamu?"


"Siapa lagi kalau bukan Kevin," jawab Vallen malas.


"Kevin?" Almira berkali-kali dibuat bingung kala Vallen mengatakan kalau Vallen di tugaskan oleh Kevin untuk menjemputnya.


"Ya, dia yang menyuruhku ke sini. Aku gak nyangka kalau ternyata kamu tinggal di sini. Ternyata kamu selain cantik, kamu juga anak yang mandiri," cerocos Vallen panjang lebar.


Sementara otak Almira benar-benar sudah dipenuhi ribuan pertanyaan-pertanyaan, kenapa dan kenapa?. Apalagi melihat sikap Vallen yang seolah-olah teman dekat Almira. Almira merasa ada sesuatu yang aneh.


"Kenapa kamu malah diam?" tanya Vallen mengagetkan Almira yang terhanyut dalam lamunannya.


"Tidak, aku hanya sedang memikirkan sesuatu," jawab Almira asal.


"Kamu pasti merasa nervous ya?"


"Nervous?" Almira balik bertanya.


Jujur, dia sama sekali tidak mengerti dengan semua yang terjadi. Vallen selalu mengungkapkan banyak pertanyaan ambigu yang membuat Almira jadi semakin bingung. Mungkin sebentar lagi kepala Almira hampir meledak karena terlalu sering dibuat bingung oleh sosok Vallen ini.


Saat Vallen hendak menjawab pertanyaan Almira, tiba-tiba ponselnya berdering. Menandakan bahwa ada pesan masuk. Dia pun mengurungkan niatnya untuk menjawab pertanyaan Almira dan malah memilih membuka pesan dari ponselnya.


Saat melihat ponselnya, tiba-tiba Vallen memekik "Astaga! Acaranya hampir di mulai kita harus segera berangkat!"


"Tapi... "


Dengan sigat, Vallen menarik lengan Almira. Tidak memberikan Almira kesempatan untuk bertanya lebih jauh sebenarnya apa yang terjadi.


Bersambung~