
Vallen telah sampai di kontrakan Almira setelah menempuh perjalanan satu jam, ditambah macet lima menit. Buru-buru Vallen pun menghampiri Kevin yang berdiri dengan raut wajah kusut bak ada awan berkabutnya.
"Vallen, kenapa sih kamu lama banget nyampenya? Kamu tahu kan ini udah satu jam lebih. Gimana kalau Almira semakin jauh perginya. Kamu gak mikir apa ya kalau Almira kenapa-kenapa gimana?" Padahal Vallen baru datang, tapi langsung diberondong pertanyaan-pertanyaan tanpa jeda oleh anak boss sekaligus sahabat karibnya itu.
"Ya maaf Vin, namanya juga Jakarta pasti ada drama-drama macet dikitnya lah. Kaya lo gak tahu aja Jakarta macet!"
"Alasan aja kamu!" sentak Kevin penuh kekesalan.
"Dih emang bener kok," Vallen tetap menanggapi sentakan Kevin dengan kalem. Ia paham betul kalau manusia di depannya ini sedang kepanikan, dan kalau Kevin sedang di situasi panik seperti sekarang, sumbu otak Kevin mendadak jadi pendek dan bawaannya sensi. "Lagian lo kenapa sih gak cari sendiri dari tadi, jadi lo bakal nemuin si Almira secepat mungkin," tambah Vallen masih dengan suara cool dan kalem seperti Ji Chang Wook di dalam drama Korea.
Kevin menempuk dahinya dengan keras, lalu turun untuk menarik wajahnya yang kusut menjadi semakin kusut. Sekali lagi, dia telah melakukan hal bodoh untuk kesekian kalinya. "Oh iya ya ... kenapa aku gak kepikiran kesitu, dan parahnya aku malah nungguin kamu Len biar bisa nyari bareng-bareng jejak Almira. Padahal jarak dari perusahaan Papa ke sini lumayan jauh. Aishh kenapa aku bodoh banget sih!" hardik Kevin untuk dirinya sendiri.
Vallen menghela nafasnya dengan berat, melipat kedua tangannya di depan dada, serta memandang tajam ke arah Kevin.
"Kadang-kadang lo menjadi bukan diri lo yang sebenarnya."
"Maksud kamu?" Kevin memicingkan matanya terheran.
"Sebenarnya gue agak heran deh sama lo Vin," kata Vallen santai dan ambigu, hal itu justru menuai pertanyaan lagi dari Kevin.
"Heran? Heran kenapa emangnya?"
"Sebenarnya lo tuh cintanya sama siapa sih? Almira apa Namira?"
"Jelas Almira lah," tegas Kevin. Setengah kebawa emosi karena Vallen menanyakan hal yang sebenarnya tak perlu dia tanyakan. Hanya buang-buang waktu saja menurut Kevin.
"Kalau lo cinta sama Almira, kenapa lo malah milih Namira?"
Kevin mendelik, ia tak menjawab pertanyaan Vallen karena itu pertanyaan mubadzir menurut Kevin. Lagi pula, Kevin pernah menjelaskan dan menceritakan alasannya tunangan dengan Namira pada Vallen tempo lalu. Tapi kenapa Vallen membahasnya lagi? Benar-benar, buang-buang waktu.
Menyadari makna tersirat dari delikan mata Kevin, Vallen pun melanjutkan kalimatnya. "Ya maksud gue gini Vin, kalau lo memang cinta sama Almira, seharusnya lo gak melibatkan Namira apapun alasannya. Mau dia sakit kek, mau dia sekarat kek. Itu tetap bukan kapasitas lo buat bantuin dia. Apalagi lo harus ngorbanin perasaan lo, dan secara gak langsung lo juga nyakitin Almira. Sekarang lo lihat kan akibatnya, Almira kabur. Coba kalau lo gak melibatkan Namira, mungkin lo bisa tuh dapetin Almira sekarang."
"Ya aku gak tahu kalau kejadiannya akan seperti ini. Lagipula Papa aku kan memang berencana mau jodohin aku sama Namira, apalagi saat aku tahu Namira sakit. Aku jadi gak mikir panjang, belum lagi sikap Almira yang seolah-olah tidak ada perasaan padaku, aku jadi makin plin-plan."
"Ya, lo emang plin-plan dan ceroboh. Lo kan udah nolak keras-keras perjodohan itu, tapi masih sempet-sempetnya lo menjadikan Namira pelarian saat lo jengah dengan sikap Almira. Alhasil, ruwet sendiri kan lo."
"Iya ... iya ... aku menyesal."
"Tidak ada gunanya lo menyesal sekarang. Nasi udah jadi bubur."
"Ya terus aku harus gimana?" gusar Kevin.
"Kata orang kalau pepatah mengatakan nasi udah jadi bubur, lo tinggal taruh bawang goreng, suwiran daging ayam, potongan bawang daun dan seledri, lalu taruh kerupuk. Pasti nikmat—" ujar Vallen sambil memperagakan gaya para Food Vlogger sehabis menyantap makanan lezat.
Ctak!
"Bisa serius sedikit gak sih kamu, Len?!" dengan sengaja Kevin mendaratkan jitakan tepat mengenai dahi Vallen dengan keras atas selorohannya yang tidak berguna sama sekali, apalagi di situasi panas dan genting begini. Hal itu tentu membuat Vallen mengaduh dengan nyaring.
"Saran apaan yang bahas-bahas komponen bubur ayam yang gak ada hubungannya sama sekali dengan masalah aku. Benar-benar tidak berguna!" seru Kevin memakai nada super kesal. Bisa-bisanya Vallen menyelipkan guyonan di tengah ruwetnya masalah Kevin kali ini. Lagipula Kevin tidak butuh ice breaking tapi saran yang bermanfaat. Ironisnya, Kevin tak mendapat hal itu dari Vallen.
"Kata siapa gak ada hubungannya, ada kok. Dengerin nih! Analoginya gini, jika masalah yang sudah terlanjur tercipta itu adalah buburnya, lo tinggal memutuskan komponen-komponen tambahan yang dapat membuat bubur itu dapat dinikmati. Kaya misalnya—"
"Argh! Aku gak mudeng sama analogi kamu yang bertele-tele," erang Kevin memotong penjelasan filosofi bubur ayam Vallen.
"Aishhh emang susah kalau ngomong pakai bahasa tingkat dewa ke lo mah," Vallen berdecak kesal karena Kevin tak bisa diajak memahami bahasa vickynisasi nya.
"Udah deh Len, ambil bahasa sederhana aja. Gak usah bikin kepala aku tambah pusing dengan analogi kamu yang muter-muter, kamu kira aku mau jualan bubur ayam apa!" ujar Kevin tidak mau berpusing-pusing memikirkan kalimat Vallen yang sulit dipahami.
Kepala Kevin sudah hampir pecah karena pusing memikirkan kemana kaburnya si pujaan hatinya itu, ditambah harus mencerna bahasa-bahasa tidak normal dari Vallen, membuat suasana jadi makin mumet dan semrawut saja.
"Intinya, kamu harus segera memutuskan mau memilih mana yang benar-benar kamu ingin perjuangkan Almira atau Namira."
"Aku kan sudah bilang kalau aku pasti akan memilih Almira, kenapa kamu tanya lagi sih?" sewot Kevin.
"Kalau gitu, tinggalkan Namira!" tekan Vallen.
"Iya nanti, setelah Namira sadar dan keadaannya pulih serta kuat kembali seperti sedia kala."
Vallen hampir menyerah dengan sikap keras kepala temannya itu. Tapi sebagai teman yang baik, Vallen tidak boleh putus asa untuk selalu mengingatkan Kevin supaya segera mengambil keputusan sebelum semuanya benar-benar retak, bercerai berai, musnah, hancur dan tak bersisa begitu saja.
"Menurut gue, mau nanti atau sekarang sama aja Vin."
"Len, Namira itu sedang sakit. Masa aku tega sih nambahin rasa sakit dia sekarang, belum lagi nanti aku harus menghadapi kekecewaan dari bu Rani. Gak bisa! Pokonya aku akan menunggu momen yang tepat."
"Lo benar-benar b*go Vin, sekalipun lo nunggu nanti. Lo tetep akan membuat Namira terluka. Ya gue sih bukan bermaksud memprovokasi lo ya ... Sekarang lo udah nyakitin perasaan Almira dan cewek pujaan lo menghilang karena sikap lo yang gak tegas. Lagian, kalau semakin dinanti-nanti Namira akan lebih terluka karena lo dianggap cuma mempermainkan dia, pun dengan Almira. Emang lo mau kehilangan dua-duanya?"
Kevin termenung dengan ucapan Vallen. Memang betul kata Vallen, nanti atau sekarang Kevin adalah pemeran utama yang akan membuat dua wanita kembar dalam hidupnya terluka.
"Lagipula Vin, siapapun yang akan lo pilih. Lo akan membuat salah satunya terluka. Jadi untuk apa lo ragu dan mengulur-ngulur waktu?" terang Vallen lagi.
Kevin masih tak bergeming. Lidahnya terlalu kelu untuk menyatakan sepatah dua patah kata pada Vallen. Semua yang dikhawatirkan Vallen saat ini, memang benar adanya.
"Arrgh! kenapa semuanya jadi runyam begini sih?" erang Kevin seraya menarik rambutnya dengan gusar.
Melihat reaksi Kevin yang langsung lesu dan muram, bahkan lebih muram dari sebelumnya, Vallen jadi agak sedikit bersalah karena telah menggurui Kevin dan ikut campur mengenai kisah percintaannya. Tidak! Vallen tidak bermaksud seperti itu, dia cuma khawatir dengan keadaan sohibnya itu. Sebelum semuanya semakin terlambat, tidak ada salahnya kan Vallen berusaha mengingatkan kalau Kevin jangan sampai ceroboh lagi.
Bukankah sudah cukup bagi Kevin mengelabui perasaannya sendiri dan semua orang dengan berencana tunangan dengan Namira? Untung saja, pertunangan itu tertunda tanpa terduga-duga. Mungkin saja gagalnya pertunangan Kevin dan Namira waktu itu, semata-mata adalah pertanda kalau Tuhan memberikan waktu agar Kevin lebih bijak lagi dalam mengambil sebuah keputusan penting.
"Sudahlah. Lebih baik kita mencari Almira. Untuk masalah kelanjutan pertunangan lo dan Namira nanti kita cari jalan keluarnya sama-sama," ajak Vallen.
Kevin pun hanya membalas ajakan Vallen dengan anggukan kepalanya yang terkesan lesu. Mau semenyesal apapun tidak ada gunanya sekarang. Seperti filosofi semangkuk bubur ayam, jika nasi sudah terlanjur menjadi bubur, apa salahnya kita melanjutkan dengan memberikan komponen lain pada bubur tersebut. Menambah rasa nikmat dan kebermanfaatan. Sama seperti kehidupan, jika kita sudah terlanjur melakukan sesuatu yang keliru, tinggal kita menata ulang dan melanjutkan sisa kehidupan berikutnya tanpa perlu berlarut-larut menyesal. Tidak perlu menyesali apa yang sudah terjadi, karena waktu yang terlewat tidak akan pernah bisa diulang kembali.
Bersambung.