
"Gini nih kalau kuliahnya jauh-jauh ke Jepang dan mandek ngonsumsi pelajaran akademik, tapi kalau urusan percintaan lo awam banget. Jadi gak bisa deh yang namanya peka! Pantes aja si Almira kabur terus kalau lo kejar, lo nya gak pekaan sama cewek. Pinter akademik doang lo tapi bodoh dalam hal beginian," ceramah Vallen diakhiri dengan tersenyum sangsi.
"Kenapa jadi bawa-bawa akademik sih? Lagian kan dalam dunia perkuliahan, mana ada pelajaran percintaan. Ngarang aja kamu!" Kevin mendebat. Gemas sekali dia selalu jadi pihak yang disalahkan. "Dahlah, daripada kamu nyalahin aku terus lebih baik bantu aku memikirkan cara mengungkap kalau Almira itu bohong soal status Ricko."
"Idih, ogah banget mesti bantuin lo. Lagian lo kan kalau gue kasih saran suka ngeyel gak mau dikasih tahu. Merasa pinter sendiri. Ngapain gue harus bantuin lo!"
"Ya kali ini aku gak bakal nolak. Pokoknya harus bantuin aku sekarang!" Kevin menekankan. Sementara Vallen hanya menarik bibirnya ke samping membuat senyum terpaksa.
"Terserah lo dah. Sekarang giliran gue yang merintah! Lo ikut gue!" Vallen menarik tangan Kevin untuk masuk ke dalam mobil milik Kevin secara paksa, mendudukkan lelaki itu di belakang kemudi mobilnya sembari berkata, "Sekarang lo bawa mobil lo, dan kembali ke kantor sesuai perintah bokap lo!"
"Etapi—" Kevin berusaha mendebat, namun segera diselesaikan oleh Vallen yang lebih dulu menutup pintu mobil Kevin, sehingga pria itu tak bisa melayangkan protesnya pada Vallen.
"Ish, suka semena-mena aja dia tuh. Sebenarnya yang bos itu dia apa aku sih? Lagian Papa juga ... nggak pekaan banget kalau anaknya ini lagi memperjuangkan kisah cintanya, bukannya biarin anaknya buat berjuang ini malah nyuruh Vallen nyusulin anaknya yang lagi berjuang. Hadeeh... Vallen sama Papa sebelas dua belas." ditepuknya jidat Kevin disela gerutuannya karena ulah Vallen yang lebih mirip seorang diktator, padahal jelas-jelas yang anak bos itu bukan Vallen tapi Kevin. Namun anehnya, Kevin selalu saja bisa kalah dan tunduk oleh sahabatnya itu. Luar biasa memang aura seorang Vallen yang mampu membuat Kevin selalu tak berkutik.
Tid ... tid ... tid.
Pemilik mobil berwarna maroon pun mengklakson Kevin yang tengah menggerutu, membuat lelaki itu menoleh ke si pengendara yang kini juga menoleh ke arahnya sambil melambaikan tangan, menyuruh Kevin untuk menyalakan mobilnya.
"Ayo bro cepetan!" pekik si pemilik mobil berwarna maroon, yang tak lain adalah Vallen.
"Iya," jawab Kevin malas. Kendati demikian, ia tetap mematuhi apa yang diperintahkan Vallen.
Selang beberapa menit, kedua mobil mewah yang ditunggangi pria-pria tampan itu melesat di jalanan yang tak terlalu ramai. Membawa tubuh keduanya menuju kantor mereka.
***
Mobil Vallen lebih dulu sampai di Perusahaan The Gunawan Group, disusul mobil Kevin yang kini telah sampai jua. Setelah memarkirkan mobil-mobil mereka di parkiran belakang, keduanya pun turun dari mobil masing-masing.
"Ayo!" seru Vallen diiringi oleh kedikan kepala, menyuruh Kevin untuk segera masuk ke dalam kantor. Kevin lagi-lagi menurut tanpa protes. Dia pun melangkahkan kakinya, mencoba mensejajarkan diri dengan Vallen.
Jujur, Kevin malas harus balik lagi ke kantor, apalagi jam kerja tinggal beberapa jam lagi berakhir. Tapi karena Papanya menyuruhnya untuk kembali ke kantor dan bertanggung jawab melanjutkan pekerjaan yang sempat dialihkan ke Vallen, mau tidak mau Kevin pun menurut. Apalagi, belakang ini dia sering keluar kantor diam-diam, kalau papanya tahu, bisa repot urusannya. Meski dia adalah pewaris tunggal dan generasi penerus The Gunawan Group, bukan berarti dia bisa seenaknya lari dari tanggung jawab. Papanya tidak menanamkan kebiasaan buruk itu.
"Buruan bro!" titah Vallen lagi. Menyuruh Kevin untuk lebih mempercepat langkahnya. Membuat Kevin mendesis sebal.
"Ish, sebenarnya yang anak bos itu aku atau dia sih? Kenapa dia yang jadi nyuruh-nyuruh aku sedari tadi?"
Pertanyaan-pertanyaan tersebut seolah terngiang - ngiang di kepala Kevin, membuat ia jadi keheranan sendiri.
"Vin!" panggil Vallen lagi. Sedikit meninggikan suaranya saat ia melihat Kevin malah terbengong di tempatnya.
Tentu saja Kevin lagi-lagi hanya bisa mendesis tanpa sepengetahuan Vallen. "Iya, sabar kenapa!" balas Kevin.
"Aish! Kenapa mesti pegangan begini sih?" protes Kevin saat kehadirannya dan Vallen menjadi pusat perhatian para karyawan yang tak sengaja lewat. Bagaimana tidak, mereka berjalan sambil berpegangan tangan. Terlihat tampak so sweet tapi juga agak aneh. Di negara ini, sesama laki-laki dewasa berjalan sambil pegangan tangan adalah hal yang tidak lumrah sama sekali meskipun mereka sahabatan. Jadi tidak heran kalau Kevin cukup malu saat Vallen terus memegang tangannya dengan erat, sementara Vallen tidak risih sama sekali. Di pikiran Vallen, hanya ada satu yaitu membuat Kevin tidak melarikan diri lagi dari tugasnya.
"Biar lo gak kabur!"
"Tapi gak usah pegangan begini bisa gak sih? kita terlihat seperti sepasang lelaki tak lajim. Apa kamu gak malu diperhatiin sama beberapa karyawan?"
"Bodo amat! Gue gak peduli mereka mau mandang gue apaan, yang jelas gue gak bakalan biarin lo kabur dan gue mau pastiin lo duduk di belakang komputer lo buat nyelesein tugas - tugas lo sesuai perintah Pak Bos Besar, alias bokap lo!" ucap Vallen seraya terus memegang tangan Kevin. Bahkan lebih erat dari sebelumnya, membuat semua orang yang melihat langsung berbisik-bisik heran, ada juga yang cekikikan kaya mbak kunti. Benar-benar memalukan.
"Ya tapi aku malu, Vallen," timpal Kevin seraya memperhatikan kondisi sekitar yang mulai tak bisa diajak kompromi. Apalagi saat ia mendengar bisikan-bisikan para karyawan yang mengejeknya begini:
'Lihat deh! Ternyata bos muda yang sering kita puja-puja kaum jeruk makan jeruk ya,' kata karyawan yang memakai blazzer berwarna biru toska.
'Apa jangan-jangan pertunangannya batal dengan anak pemilik perusahaan Rubbiantoro Corps itu gara-gara si mbaknya shock tahu si pak bos muda itu seorang kaum jeruk makan jeruk? Dan pemberitaan yang mengatakan kalau si mbaknya pingsan karena penyakitnya kambuh tuh cuma pengalihan isu aja?' tebak karyawan berambut agak merah, mulai sok tahu.
'Bisa jadi sih,' timpal karyawan berblazzer biru.
'Pantesan ya bos muda akrab banget sama mas Vallen, ternyata mereka ... aaargh menyebutkannya saja sudah membuat aku mual dan ingin memuntahkan seluruh isi perutku saat ini juga,' oceh karyawan lain sembari menggosok perutnya, seperti merasa beneran mual dadakan.
Kevin yang tak tahan mendengar ocehan-ocehan tak masuk akal itu langsung saja memperingatkan ketiga karyawan perempuan yang tengah bergibah ria itu.
"Bicara apa kalian? Apa kalian pikir perusahaan Papa aku adalah tempat buat menampung penggibah seperti kalian hah?" bentak Kevin dengan nada tinggi. Sementara Vallen diam tak mengambil peran buat ikutan membentak ketiga karyawan yang kini tertunduk takut itu. "Bukannya kerja yang bener, ini malah sibuk ngomongin dan ikut campur urusan orang! Kalian mau saya pecat, hah?" imbuh Kevin mengancam.
"Tidak Pak Bos. Maafkan kami," jawab ketiga karyawan itu serempak.
"Balik ke ruangan kalian, sekarang juga!!! Kalau sampai aku dengar kalian gibahin orang lain terutama aku, siap-siap saja kalian kutendang dari perusahaan ini!" tegas Kevin.
Mereka bertiga pun semakin takut, tak lama mereka pun langsung berlari berhamburan ke tempat mereka masing-masing. Membungkam mulut mereka dan tak lagi ada yang berani menjelek-jelekan Kevin.
Selepas memastikan ketiga karyawan itu kembali ke tempatnya masing-masing, Kevin akhirnya bisa bernapas sedikit lega. Setidaknya dia berhasil membungkam mulut-mulut para penggibah itu dengan sekali gertakan. Itu benar-benar bukan ciri khas dari diri seorang Kevin yang biasanya humble dan lemah lembut sama bawahan, sekarang dia menunjukan kekuasaannya sebagai anak bos karena terpaksa keadaan.
Melihat Kevin mengambil napas lega, Vallen yang sedari tadi memilih bungkam akhirnya pecah juga tawanya.
"Kenapa kamu ketawa?" heran Kevin diikuti memicingkan matanya.
"Lucu aja, sejak kapan lo jadi sok galak begitu? Benar-benar terlihat seperti bukan lo. Kalau Almira dan Namira tahu lo begini, gue pastiin mereka beneran gak ada yang mau sama lo. Hahahaha."
"Gak lucu!"
Bersambung.