
"Kamu benar Len, aku tidak seharusnya menyalahkan diriku di waktu yang tak tepat ini."
"Yaudah, lebih baik kita cari bukti lagi yang lebih relevan. Semakin cepat, semakin baik kan?" ucap Vallen dengan diiringi senyuman yang terbit di kedua ujung bibirnya. Dalam posisi sekarang, Vallen memang harus bisa menjadi penyejuk perasaan Kevin yang tengah semrawut dan kacau. Dengan begitu, Kevin tak berlama-lama sedih yang nantinya masalah ini semua bisa, cepat selesai.
"Nah sekarang, hal pertama yang harus kita lakukan adalah bertanya ke beberapa orang yang rumahnya ada di sekitaran sini," tambah Vallen. Kevin hanya mengangguk setuju.
Setelah drama-drama cekcok antara Kevin dan Vallen, pada akhirnya mereka berdua pun sepakat untuk bertanya dan mencari informasi tentang Almira pada tetangga - tetangga terdekat.
Setelah itu, mereka membagi tugas masing-masing. Mereka berdua berpencar bertanya. Kevin bertanya pada orang yang rumah-rumahnya di deret selatan, sementara Vallen bertanya pada penghuni yang rumahnya di deret Utara.
Dengan membagi tugas seperti itu, mereka berharap menghemat waktu agar lebih efisien. Selain itu, mereka juga bisa lebih banyak menjangkau rumah lainnya agar bisa secepetnya menemukan titik terang dalam kaburnya Almira.
Kevin bertanya begitu antusias dan serius. Vallen juga menjalankan tugasnya dengan baik. Bagi Vallen, Almira adalah orang penting karena dia adalah gebetan Kevin anak bosnya. Vallen mau tak mau harus membantu Kevin menemukan Almira. Meski itu bukan pekerjaan kantor dan tak ada hubungannya sama sekali dengan jenjang karir Vallen, tapi dia tetap melaksanakan tugas tersebut tanpa menyerah.
Sekali lagi, Kevin adalah teman, saudara, rekan kerja dan segalanya buat Vallen. Jadi, dia dengan senang hati bekerja meski itu bukan jobdesk Vallen sesungguhnya.
Buktinya, seperti saat ini. Dari raut wajahnya Vallen tak nampak sama sekali dia merasa bosan atau lelah. Dia bekerja sangat bersungguh-sungguh.
"Permisi Pak," ucap Vallen saat dia menghampiri bapak-bapak yang tengah berkumpul dan bercengkrama satu sama lain.
Vallen membuka sepatunya, lantas berjalan sedikit membungkukan tubuhnya mendekat ke arah para bapak-bapak yang kini dengan duduk santai di salah satu rumah warga.
"Ya, ada apa ya Mas?" ucap salah satu bapak tua yang kepalanya dipenuhi uban.
Sebelum melontarkan niatannya, Vallen terlebih dahulu menyalami bapak-bapak tersebut, pertanda hormat.
"Maaf Pak mengganggu acaranya, perkenalkan saya Vallen. Kebetulan saya di sini lagi cari orang. Yang rumah kontrakannya yang itu tuh," Vallen memutar tubuhnya dan menunjuk pada kontrakan Almira yang telah kosong.
Para bapak-bapak itu pun langsung heboh memandang heran satu sama lain.
"Maksudnya neng Almira?" tanya salah satu bapak lainnya. Vallen pun menggangguk dan. melanjutkan kalimatnya.
"Tapi sayangnya orang yang tinggal dirumah itu sudah pergi katanya, jadi saya tak sempat bertemu. Tapi saya kehilangan info tentang tempat tinggal barunya," ucap Vallen jujur.
Para bapak-bapak itu pun kembali saling melempar pandangan heran. Vallen yang mengerti maksudnya langsung angkat bicara lagi.
"Ah, saya ini temannya. Khususnya teman lama dia pas kerja di perusahaan. Udah lama gak ketemu dan kehilangan kontak dia, jadi tujuan saya kesini mau silaturahmi sama dia aja kok gak bermaksud apa-apa," dusta Vallen sembari terkekeh dipaksakan.
Masih dengan bibir tersungging yang ditampilkan pada bapak-bapak dihadapannya itu, Vallen bergumam dalam hatinya.
"Ooooh, jadi Mas nya ini ke sini mau silaturahim toh sama Mbak Almira?" suara bapak-bapak yang berkacamata mulai membuyarkan ketertegunan Vallen. Vallen pun segera mengangguk antusias. Dia berharap para bapak-bapak yang tadi memandangnya penuh curiga itu bisa sedikit banyak mulai percaya kalau Vallen bukanlah orang jahat yang mau ngapa-ngapain Almira.
"Iya, Pak. Apa bapak tahu kemana pindahnya Almira?" Vallen lanjut bertanya.
"Kalau saya pribadi sih gak tau menahu Mas," sahut si bapak tadi. "Mungkin teman saya yang di sini pada tau... Pur, kamu tahu tidak kemana Almira pindah?" si bapak berkacamata itu pun langsung mengarahkan pertanyaannya pada temannya yang bernama Pak Pur.
"Kurang tahu juga sih, mungkin Sukirno tahu." Kali ini giliran Pak Pur yang mengalihkan pertanyaannya kepada Pak Sukirno yang duduk di sebelahnya.
Semua mata langsung mengarah pada Pak Sukirno, ingin tahu jawaban yang akan dilontarkan Pak Sukirno, termasuk Vallen. Ia berharap kali ini Pak Sukirno lebih tahu dan akan memberikan jawaban yang lebih memuaskan daripada kedua temannya tadi.
"Saya sih sebenar kurang tahu banyak Mas tapi menurut saya, kemarin - kemarin sempet ada perempuan yang sebaya Mbak Almira. Terus kaya terlibat percakapan serius gitu," jawaban Pak Sukirno itu pun akhirnya membuat Vallen membulatkan matanya. Nampak serius dan juga penasaran tentang kelanjutannya.
"Nah saya juga sempet ketemu ibu-ibu dan nanya mengenai Almira, jawabannya sama persis kaya yang bapak ucapkan. Ada perempuan yang seumuran Almira datang ke kontrakannya. Katanya mereka beradu mulut, tapi sayangnya si ibu yang tadi saya tanya gak tahu banyak akan kelanjutannya. Kira-kira bapak tahu gak ciri-ciri perempuan itu? Misal perawakannya, tingginya atau apanya deh terserah asal saya bisa dapat informasi buat menguak perempuan itu," ucap Vallen menggebu-gebu.
Jujur, Vallen sebenarnya mencurigai salah seorang yang menjadi pemicu kaburnya Almira. Namun sayangnya, Vallen belum berani mengatakan secara blak-blakan kalau dia mencurigai Namira adalah dalang utamanya. Waktu dia baru menduga Namira dengan nada bercanda saja, Kevin sudah mengomelinya. Apalagi dengan nada serius? Sudah dapat dipastikan suasana akan mendadak keruh seketika. Lagipula, Kevin tak akan percaya pada dugaan Vallen.
Memang, selama belum ada bukti kongkret semua dugaan itu terasa remang-remang dan tak pasti. Oleh karena itu, Vallen ingin membuktikan kalau dugaannya kali ini tak meleset bahwa Namira lah pelakunya.
Jika seandainya apa yang membelenggu pikiran Vallen ternyata benar dan sesuai dengan apa yang Pak Sukirno terangkan, pastinya Vallen tak akan mengampuni gadis itu.
Vallen masih menunggu penjelasan Pak Sukirno dengan amat serius.
"Maaf Mas, untuk hal itu saya tidak tahu," jawab Pak Sukirno mematahkan semua harapan Vallen.
"Bapak yakin gak tahu? Please Pak, tolong kasih tahu sejujur-jujurnya. Saya butuh informasi ini demi teman saya. Please Pak, saya harap bapak gak berbohong!" ucap Vallen masih belum percaya bahwa Pak Sukirno tidak tahu menahu. Dari raut wajahnya saja, Vallen bisa menangkap bahwa sebenarnya ada yang tengah di sembunyikan oleh beberapa warga di sini termasuk Pak Sukirno.
"Maaf Mas, sekali lagi saya minta maaf kalau saya beneran gak tahu."
"Bapak jangan bohong!" seru Vallen. Ia tak kuasa untuk tidak marah. Dia tahu sikapnya itu keterlaluan tapi ia merasa ada yang janggal dengan semua ini.
"Eh Mas, jangan nuduh sembarangan yak!! Pokoknya kalau saya bilang gak tahu ya gak tahu, kenapa maksa sih?" jawab Pak Sukirno tak terima. Ia pun berdiri dan marah-marah. Merasa jengkel karena Vallen sudah tidak sopan menuduhnya berbohong.
"Pergi kamu dari sini!!" usir Pak Sukirno pada Vallen.
Bersambung.