Between Hate and Love

Between Hate and Love
Resign



Almira membuka matanya perlahan-lahan saat tidurnya terasa terganggu karena pantulan cahaya matahari menelusup masuk melalui celah-celah jendela kamar Almira dan mengusik netranya.


"Eh! Kenapa aku tidur di sini?" gumam Almira saat menyadari dirinya tertidur bukan di kasurnya melainkan di meja kerjanya.


Sepertinya Almira tidak ingat kalau dia ketiduran di sana, bahkan laptop Almira pun masih menyala.


"Sial! Aku bahkan tidak mengganti dressku dengan baju tidurku," Almira mencebik saat dia masih bersetelan dress yang sama seperti dress yang dipakainya di acara pertunangan Kevin semalam.


Dia juga kembali mencebik kala melihat surat pengunduran dirinya masih tertera di laptopnya, "Double sial! Kenapa aku lupa men print out surat pengunduran diriku ini sih?" decak Almira, kesal.


Almira menarik nafasnya dalam-dalam, dan kemudian mulai menekan tanda print pada laptopnya.


Tak lama, hasil cetakan dari mesin printernya itu keluar. Almira segera melipat surat pengunduran dirinya dan memasukannya ke dalam amplop.


"Selesai!" seru Almira semringah.


Ia bangkit dari duduknya dan langsung menyambar handuknya. Ia harus segera bergegas mandi supaya bisa cepat-cepat datang ke kantor sebelum Kevin lebih dulu sampai di sana. Almira cukup yakin kalau nanti Kevin juga akan datang. Biasanya Kevin akan mengunjungi butik mamanya sekitaran jam 10 atau menjelang makan siang, selain dari jam itu Kevin jarang ke sana.


Almira tidak mau melihat Kevin, nanti hatinya akan luluh lagi setelah Kevin melontarkan banyak alasan dari mulut manisnya itu. Pokoknya sebisa mungkin Almira harus menjauhi Kevin. Dia tidak mau berurusan lagi dengan Kevin maupun Namira.


Bagi Almira, dua orang itu adalah penyebab runtuhnya kebahagiaan Almira. Dua orang itu yang membuat Almira seperti manusia lemah yang selalu bisa di manfaatkan hanya untuk kepentingan pribadinya.


"Aku tidak akan membiarkan siapapun mengacaukan hatiku," tegas Almira.


Ia pun lantas pergi ke kamar mandi untuk menunaikan ritual paginya. Badan Almira serta wajahnya terasa pliket dan lengket karena semalam ia tak sempat bersih-bersih atau sekedar menghapus make up nya.


Selang beberapa puluh menit, Almira keluar dengan jubah mandinya. Aroma shampoo serta body soap begitu menyerebak memenuhi ruangan.


"Rasanya segar sekali kalau sudah mandi begini," pungkasnya seraya memeras rambutnya yang masih mengucurkan air.


Almira kemudian bersiap memakai setelan kerjanya dan membubuhkan make up natural pada wajah cantiknya.


Namun saat melihat pantulan dirinya di cermin, Almira terdiam sejenak dari aktivitasnya.


"Hari ini semua yang sudah ku susun harus ku susun ulang dengan yang baru," ucap Almira ambigu.


Terlukis jelas ada raut sedih bercampur kecewa di wajah Almira, senyumnya kecut tak seperti biasanya. Mungkin dia sebenarnya belum rela kalau harus resign dadakan seperti ini. Tapi apa mau dikata, semuanya sudah berakhir karena hatinya terlanjur sakit.


"Aku tidak boleh sedih seperti ini, aku harus merelakan semuanya. Aku tidak mau terjebak dalam masalah perasaan. Lagipula aku harus mulai terbiasa dengan hidup tanpa cinta," ucap Almira menyemangati dirinya sendiri.


Setelah semuanya siap, barulah Almira melenggang menuju tempat kerjanya. Bukan untuk bekerja, melainkan untuk mengajukan pengunduran dirinya di butik Vania Gunawan. Meski berat, Almira harus bisa melawan titik kelemahannya itu.


Dia harus kembali mengejar mimpinya. Dia harus kembali menjalankan misinya yang pertama. Yaitu membuat ayahnya, Rubbiantoro Jami mengakui bahwa Almira adalah perempuan hebat dan kuat, meski tak dapat dukungan darinya.


Sementara ini, Almira juga tidak boleh terbuai akan yang namanya cinta. Cinta adalah sesuatu yang semu, kadang membuat siapapun keliru dan terjerat hingga melupakan mimpi yang sudah terancang sebelumnya.


"Aku akan membuktikan bahwa hidupku tanpa ayah dan keluargaku jauh lebih baik. Ayah tidak bisa merendahkan aku lagi. Aku juga akan menunjukan pada Kevin dan Namira kalau aku hebat," sorot mata Almira begitu tajam seiring dengan tangannya yang mengepal menahan amarah.


***


Almira memasuki butik dengan langkah yang tak biasa, tidak ada wajah sumringah yang di tampilkan setiap kali bertemu dengan rekan kerjanya. Tidak ada lagi senyum simpul yang selalu terpatri di wajah ovalnya.


"Apa bu Vania sudah datang?" tanya Almira pada resepsionis bernama Alisa.


"Sepertinya belum mbak, ngomong-ngomong ada apa ya mbak? tumben mbak tanyain bu Vania saat baru sampai sini?" resepsionis itu balik bertanya kepada Almira.


Almira mendesah pelan sebelum akhirnya menjawab pertanyaan si resepsionis itu, "memang aku gak boleh kalau nanyain bos aku sendiri?"


"Aneh? Apanya yang aneh sih? kan wajar-wajar aja seorang pegawai nyari bos nya." Almira mulai berkelit.


Sengaja dia berkelit seperti itu agar si resepsionis tidak tahu kalau Almira sedang merencanakan sesuatu. Ia tidak ingin orang-orang tahu kalau dia sebenarnya ingin segera mengajukan resign pada bu Vania, makanya dia mencari bu Vania dadakan seperti itu.


Namun tak di sangka, orang yang sedari tadi di cari Almira baru saja tiba di butik tersebut. Dan tak di sangka lagi, Kevin mengekor di belakang bu Vania.


"Eh itu dia bu Vania!" tukas si resepsionis setelah melihat penampakan bu Vania yang hendak memasuki butik.


Almira menoleh, dan betapa shocknya dia ketika melihat Kevin juga datang ke butik bersama bu Vania.


"Sial! Kenapa dia harus ikut sih?" gerutu Almira pelan dan buru-buru berlalu ke ruangannya.


"Loh mbak Almira mau kemana? Katanya tadi mbak nyari bu Vania?!" jerit si resepsionis itu dengan nyaring.


Almira tidak menjawab, hal itu membuat si resepsionis bernama Alisa itu terheran.


"Dasar aneh!" cebik Alisa.


Almira terus saja mempercepat langkahnya menuju ruangannya. Awalnya sih dia memang mau memberikan langsung surat pengunduran diri tersebut ke bu Vania saat ini juga, tapi karena ada Kevin yang mengekor di belakang bu Vania, Almira jadi ciut dan harus menunda keputusannya itu. Paling tidak sampai Kevin benar-benar pergi dari butik.


"Kenapa harus datang lebih cepat sih tuh orang?!" Almira kembali mendengus kesal seraya menaruh tasnya di meja kerjanya dengan kasar.


"Kalau kaya gini aku harus bersabar sejenak buat mengajukan rencana resign aku," tambahnya.


Almira menghela nafas panjang seiring dengan mendudukan bokongnya pada kursi kerjanya. Tiba-tiba muncul seorang karyawan yang bisa disebut pengacau harinya Almira, siapa lagi kalau bukan Tania. Gadis yang hobinya bergosip setiap pagi.


"Hai Almira," sapa Tania sembari melambaikan telapak tangannya dengan manja.


"Dia lagi," gerutu Almira dalam hati.


Meskipun sebal dengan kehadiran Tania, Almira tetap saja pura-pura senang dan merasa tidak terganggu sedikit pun, "Hi Tania," jawab Almira sembari menarik ujung bibirnya terpaksa.


"Kamu lagi apa?" tanya Tania berbasa-basi.


"Oh aku lagi mau bikin design baru," Almira menjawab dengan asal.


Kemudian tanpa di persilahkan, Tania pun langsung duduk di hadapan Almira dan bersiap memulai kebiasaan paginya yaitu bergosip ria.


"Al, kamu tahu gak_____ "


"Nggak dan gak mau tahu," Almira memotong kalimat Tania dengan sigat.


"Ih... kok kamu gitu sih?" protes Tania kala Almira tidak memberi kesempatan padanya untuk melontarkan pergosipan pagi ini.


Almira sudah tahu ketika seseorang mengatakan kalimat "Kamu tahu gak...." maka di situlah awal mula pergosipan di mulai. Apalagi Almira yakin bahwa topik pergosipan yang akan dibawakan Tania berhubungan dengan pertunangan Kevin. Sungguh, Almira sedang menghindari nama itu, dan Almira cukup tahu kalau lelaki yang dia harapkan itu sama saja dengan lelaki di luar sana. Sama-sama pembual.


Almira tidak ingin berurusan dengan yang namanya Kevin, dan Almira tidak mau tahu tentang pertunangan Kevin. Apapun yang terjadi di pertunangan Kevin Almira tidak mau ikut campur.


"Al, kok kamu malah jadi bengong?" ucap Tania saat menyadari lawan bicaranya malah terhanyut dalam lamunannya.


"Nggak apa-apa kok," balas Almira seraya tersenyum tipis kemudian termenung lagi.


"Aku harus segera memberikan surat resign ku pada bu Vania," ucap Almira dalam hatinya.


Bersambung~