Between Hate and Love

Between Hate and Love
Bab 32 : Bertengkar lagi



Yohan yang tengah membaca buku lantas menoleh, "memangnya kenapa, ini juga kamarku?"


Safira mendengus pelan, "vila ini begitu besar, apa hanya ini kamar yang kosong? Aku mohon bersikaplah lebih normal Yohan, aku lelah aku ingin istirahat."


"Apa kau pikir aku tidak normal? Apa sikapku, berlebihan?" pertanyaan itu sukses membuat Safira menatap Yohan dengan diam.


"Safira, aku hanya ingin memperbaiki hubungan kita, aku tahu mungkin perlakuanku terhadapmu sebelumnya membuatmu sakit hati. Tapi, sekarang aku berjanji aku akan menjadi suami yang lebih baik, apa pun yang kau inginkan selama aku bisa aku akan memenuhinya, aku janji." Ujar Yohan dengan pandangan serius.


Alis Safira bertautan, dia bingung harus berucap apa, "terima kasih, tapi kau tidak perlu menjanjikan apa pun padaku."


"Mengapa? Apa kau tidak ingin hubungan kita membaik?" tanya Yohan.


"Bukan begitu, aku hanya--,"


"Apa karena dia?" Safira mengerutkan alis.


"Dia siapa maksudmu?"


"Foto pria yang ada di ponselmu."


Mata Safira membulat sempurna, "kau benar-benar lancang, mengapa kau menyentuh ponselku?!" Safira meraih ponselnya yang teronggok di atas nakas dengan kasar.


Yohan bangkit dan berjalan mendekat, pandangannya terarah pada baju mandi Safira yang hanya seatas lutut di tambah belahan di tengahnya, "ma-mau apa kau?" Safira mundur seketika, hingga pergerakannya terhenti karena terhalang dinding.


"Ja-jangan mendekat Yohan, a-atau aku akan memukulmu!" Safira mengacungkan tangannya ke udara, berusaha menggertak Yohan dengan tindakannya, namun nyatanya dia sama sekali tak punya keberanian sama sekali.


Yohan hanya tersenyum miring, dia tahu gadis itu hanya menggertaknya, dan itu tak lantas membuatnya menghentikan pergerakannya, "Safira, kau ingin aku melepaskan mu kan?" Yohan berbisik di telinga Safira, saat ini posisi mereka hampir menempel satu sama lain.


"Lahirkan anakku, maka aku...akan melepas mu." Seketika mata Safira membulat sempurna.


Dia langsung mendorong Yohan menjauh darinya, "kau benar-benar tidak waras, aku tidak mau!" Teriak Safira dengan mata penuh kemarahan.


"Kalau begitu, terus saja bermimpi untuk pergi dari hidupku! Selamanya aku takkan pernah melepaskan mu!" Yohan berlalu sambil membanting pintu. Tubuh Safira merosot perlahan ke lantai, Ia gemetar air mata menerobos kedua sudut matanya tanpa mampu ia bendung.


Yohan berjalan dengan langkah cepat hingga dia berhenti di teras luar, "sialan dia memancing amarahku. Aku sudah berusaha mengendalikannya, tapi tetap saja. Dasar buku sialan!" Yohan membanting buku yang sedari tadi Ia baca. Buku petunjuk untuk membujuk istri yang marah, sama sekali tak ada yang berguna disana.


Tapi dia kembali memungut buku itu dan memilah-milah halamannya, "tahap kedua, peluk dia dari belakang dan ucapkan kata-kata manis." Aah, gumam Yohan frustasi, selama dia hidup baru kali ini dia merasa putus asa, menyukai wanita itu benar-benar merepotkan, perasaan wanita lebih rumit dari pada rumus matematika.


"Menyebalkan, siapa pria itu? Aku harus menyuruh Ken menyelidikinya." Yohan bergumam sendiri.


"Aku tak akan membiarkan laki-laki itu mengganggu hubunganku dengan Safira. Dia hanya akan menjadi miliku selamanya, tak peduli suka atau pun tidak, kau akan tetap bersamaku Safira."