
Dunia Kevin serasa runtuh, kakinya lemas tak mampu berpijak, kepalanya mendadak pusing dan tak mampu berpikir jernih saat Namira menodongnya pertanyaan seputar pertunangan mereka. Namun sekuat tenaga, Kevin berusaha untuk tetap tenang. Nampak bersikap biasa saja padahal dalam hatinya dia begitu terkejut dengan pernyataan Namira soal kelanjutan pertunangan yang sama sekali tak Kevin harapkan dalam hidupnya.
'Kenapa harus mengungkit masalah pertunangan lagi sih?' decak Kevin dalam hatinya. Ia masih belum rela harus dilibatkan dalam obrolan seperti itu.
Sementara Namira yang kini terduduk di ranjang pesakitannya semakin yakin kalau Kevin tengah menyembunyikan sesuatu darinya. Sesuatu yang mungkin merugikan salah satunya entah dirinya ataupun Kevin.
"Kamu bisa kan kembali lagi ke sini setelah urusanmu selesai?" Namira seketika membuyarkan lamunan Kevin dan membuat lelaki itu sedikit terkesiap nampaknya.
"A-apa? Maaf aku tidak mendengarnya dengan jelas, bisakah kamu mengulangi pertanyaanmu!" Kevin mulai berkilah dan mencari alasan saat Namira tiba-tiba membuyarkan dan merusak monolog dalam batin Kevin.
"Kamu bisa kan kembali lagi ke sini setelah urusanmu selesai? Aku ingin membicarakan tentang kelanjutan pertunangan kita," ulang Namira seraya menatap lurus ke arah Kevin dengan makna lain yang tersirat.
Kevin nampak melirik ke arah Vallen sejenak, sebelum akhirnya mengangguk dan tersenyum canggung.
"Heummm ... tentu saja," jawabnya singkat.
"Aku tunggu!" pinta Namira. Agaknya dia sedikit memaksakan Kevin walaupun dia tahu kalau Kevin ragu.
"Kalau gitu, aku dan Vallen pergi dulu," cetus Kevin pamit.
Namira mengangguk pelan. Wajah gadis itu terlihat lebih tegas seiring dengan benaknya yang berkecamuk dipenuhi ribuan pertanyaan. Namira merasa Kevin yang dilihat sekarang nampak berbeda, sikapnya seolah sedang menghindar dari Namira. Jikapun dekat, dapat Namira tangkap kalau Kevin lebih sering mengedarkan pandangan ke arah lain ketimbang menatap intens Namira. Mata mereka tak pernah bertemu meski dalam posisi saling berhadapan, seolah Kevin memang takut Namira bisa menangkap sesuatu yang ganjil di dalam iris matanya.
Dan betul saja, Namira merasa ada yang tengah di sembunyikan oleh Kevin. Dia juga menduga kalau rahasia yang coba disembunyikan Kevin ada hubungannya dengan dirinya. Suasana jadi nampak aneh menurut Namira. Bahkan ketika Kevin dan Vallen keluar dari ruangannya, Kevin terlihat sangat lesu.
"Dia semakin mencurigakan," tebak Namira saat melihat punggung Kevin tak nampak lagi karena terhalang pintu. "Aku akan menggali informasi sebanyak mungkin agar aku tahu kebenarannya yang coba ditutup-tutupi oleh Kevin. Aku harus mengikutinya, paling tidak sampai aku mendapatkan satu informasi kecil agar aku bisa menelaah sedikit demi sedikit rahasia besar Kevin."
Tanpa berlama-lama, Namira langsung beringsut dan beranjak mengejar Kevin yang barang kali belum terlalu jauh. Badannya memang masih lemas, namun rasa keingintahuannya lebih besar hingga dapat mengalahkan rasa sakit dan lemas yang tengah ia alami saat ini.
Gadis itu terus melenggang mencari sosok Kevin dengan menenteng botol infusannya. Dengan langkah yang lambat dan sedikit tertatih-tatih dia berusaha menahan pening yang menggelayuti kepalanya. Sebisa mungkin Namira harus menemukan titik terang agar ia tahu apa masalah yang tengah dihadapi Kevin.
Hingga saat Namira memutuskan untuk mencari Kevin di parkiran, mata gadis itu berhasil menangkap sosok Kevin dengan tingkah aneh yang mencurigakan.
Namira terus memasang mata awas saat Kevin kini berdiri sambil mengumpat tak jelas, di sebelahnya ada Vallen yang setia menenangkan anak boss sekaligus teman akrabnya itu.
Kevin tampak menepuk-nepuk jidatnya, merutuki kebodohan serta kepayahannya karena tak punya nyali untuk mengungkapkan kebenarannya.
"Aiisssh bodoh Vin, kamu bodoh! Kamu payah, kamu pecundang! Kamu gak punya nyali secuilpun untuk mengatakan hal yang sebenarnya sama Namira."
"Sabar Vin, mungkin belum waktunya lo ngungkapin semua itu pada Namira," ucap Vallen seraya menggosok bahu Kevin berkali-kali, menenangkan Kevin yang kini sedang ketar-ketir layaknya habis gagal menang jackpot.
"Aku tuh beneran gak bisa sabar dengan keadaan sekarang. Aku beneran pengen menyudahi ini semua dengan Namira. Aku pengen fokus mencintai orang yang benar-benar ada di hatiku, dan itu bukan Namira."
Tanpa Kevin dan Vallen sadari, Namira telah berdiri tepat di belakang mereka berdua. Di tatapnya punggung kedua orang yang tengah berbagi argumen tersebut dengan keadaan limbung. Namun Namira berusaha menahannya sekuat tenaga agar tak ambruk saat itu juga. Paling tidak, sampai dia menemukan jawaban dari pertanyaan ganjil yang memenuhi isi kepalanya.
"Jadi kamu ingin mengakhiri hubungan kita?" sela Namira, kontan saja Kevin dan Vallen memelotot tak terkira saat mendengar suara Namira menyela pembicaraan mereka berdua dari arah belakang.
"Namira?" hanya kata itu yang lolos dari mulut Kevin saat kini dia mendapati Namira berdiri dengan raut wajah masih pucat.
"Namira kamu kenapa ada di luar?" Vallen berusaha merangkul Namira, sekaligus memecah kebekuan yang tercipta di antara mereka. "Kamu masih belum sehat, kamu harus kembali ke ruangan kamu Nami," imbuh Vallen.
Namira menepis Vallen sembari berkata. "Aku tidak apa-apa. Sakit aku tidak seberapa jika dibanding rasa ingin tahuku terhadap apa yang Kevin ucapkan barusan."
Kevin diam seribu bahasa. Ia seolah kehilangan kosa katanya yang ia pelajari bertahun-tahun di sekolah. Dia hanya diam, tidak ada alasan baginya untuk menyangkal. Seperti pepatah dunia mengatakan, serapat - rapatnya kita menyembunyikan bangkai, tetap akan tercium juga baunya. Begitu pula dengan rahasia yang coba di sembunyikan Kevin mengenai isi hatinya pada Namira.
"Jelaskan padaku, apa kamu benar-benar ingin mengakhiri hubungan kita?" tanya Namira sekali lagi. Air matanya terbendung di sudut-sudut kelopak matanya yang mungkin sebentar lagi akan meluncur deras tanpa bisa di tahan lajunya.
"Ah, Nami kamu cuma salah paham aja, tadi aku sama Kevin hanya bercandaan doang, jadi kamu tidak perlu khawatir. Sekarang lebih baik aku antar kamu balik ke ruangan kamu, ya?!" tawar Vallen, dengan cepat Namira langsung mengacungkan telapak tangannya, memberi kode pada Vallen kalau dia menolak tawaran Vallen. Dia tidak ingin kembali ke kamarnya sebelum dia mendengar penjelasan langsung dari mulut Kevin.
"Aku tidak mau kembali, jadi jangan mencegahku untuk tetap di sini. Biarkan aku mendengar langsung penjelasan dari Kevin."
"Tapi Nami," Vallen berusaha untuk mencegah, namun Namira terlalu keras kepala. Ia tetap ingin mendengar penjelasan langsung dari Kevin yang sedari tadi memilih bungkam tak bersuara.
"Jelaskan padaku, apa kamu hanya akan diam saja seperti ini, hah?" jerit Namira seraya menggoyangkan bahu Kevin kuat-kuat. Memaksa lelaki itu untuk segera membuka. mulutnya.
"Jelaskan padaku ... hiks ... hiks ...." kini, air mata Namira yang sedari tadi ditahan dengan bebas meluncur mulus ke pipinya. "Apa kamu akan diam saja membiarkan aku mengemis seperti ini? Hiks ... hiks ...."
Vallen yang sedari tadi sibuk membujuk Namira kembali ke ruangan, agaknya mulai tidak tega melihat gadis itu memohon-mohon sambil menangis pada Kevin, sementara teman bedeb*hnya itu belum juga mau membuka suara, atau paling tidak menanggapi sepatah dua patah pertanyaan Namira. Ingin rasanya Vallen meninju Kevin yang berdiri di sampingnya kini, tapi sayangnya Vallen tak mau berbuat anarkis dan makin memperkeruh suasana. Alhasil Vallen hanya bisa mendesah pelan seraya berkata.
"Vin, jawab tuh Namira minta penjelasan lo."
Kevin menarik napasnya dalam-dalam, meleguk salivanya seraca pelan sebelum akhirnya mengucapkan kata yang tak pernah Namira duga.
"Aku ingin mengakhiri hubungan kita, karena aku mencintai orang lain, maafkan aku Nami."
Namira tersenyum miris sekaligus kecewa dengan apa yang dilontarkan Kevin barusan. Ia tidak pernah menyangka Kevin akan menduakan dirinya di saat kondisinya seperti sekarang.
"Aku tahu kenapa kamu mencintai gadis lain, itu karena kamu tidak mau terbebani aku yang penyakitan ini kan?"
Kevin tertohok seketika, saat gadis dihadapannya ini bahkan berpikir kalau Kevin meninggalkan Namira sedang sakit.
"Apa?"
"Ya, kamu meninggalkan diriku karena aku sakit kan?"
"B-bukan begitu Namira. Aku—"
"Tidak usah diperjelas!" potong Namira dengan cepat. "Jika kamu ingin pergi, pergilah sesuka hati kamu."
Bersambung.