Between Hate and Love

Between Hate and Love
Peringatan Namira



Pada akhirnya Namira dan Kevin menikmati kopi yang mereka pesan sambil bercengkrama dengan santai. Obrolan awalnya masih sedikit canggung karena kebodohan Kevin yang kepergok melamunkan hal lain, namun setelah saling melempar guyonan suasana jadi sedikit membaur, sehingga obrolan yang mereka ciptakan juga melebar kemana - mana. Dari mulai membahas masa-masa kuliah, hal-hal konyol yang dilakukan semasa kuliah, tinggal di negara orang lain untuk menempuh kuliah lanjutan, hingga pada saat mereka pada akhirnya bertemu.


Semua itu Kevin bahas dengan antusias, namun lain hal dengan Namira. Ia hanya berpura-pura antusias padahal sejatinya tidak. Apalagi saat menyinggung soal pertemuannya dengan Kevin hingga tak jadi menikah karena Kevin menyukai Almira-adiknya Namira. Hal itu membuat hati Namira sedikit banyak merasakan lukanya lagi.


Meskipun begitu, Namira mencoba menahan dan tak menunjukan rasa sakitnya itu di hadapan Kevin. Ia sengaja bersikap begitu serta merta bukan mencoba kuat, namun ada hal lain yang tengah ia rencanakan.


Sorot mata Namira begitu tajam memandang Kevin, andai saja Kevin tahu kalau di dalam mata Namira tersimpan dendam yang begitu ketara, mungkin Kevin tak akan cekakak cekikik seperti sekarang.


'Kamu boleh tertawa sepuasnya saat ini, asal kamu tahu sebentar lagi kamu tak akan bisa tertawa selepas itu, karena aku tak rela kamu bahagia. Aku lebih senang kamu menangis sedih. Aku lebih senang kamu tersiksa! Apalagi tersiksa karena cintamu sendiri. Lihat saja, setelah ini tidak hanya kamu yang akan kupermainkan, tapi gadis incaranmu juga akan merasakan pahitnya pembalasan dendamku!!' tukas Namira dalam hatinya.


Kelicikan Namira saat ini tak tercium sama sekali oleh Kevin maupun Almira. Gadis itu memang cerdik. Dia tidak bermain kasar menggunakan tindakan anarkis atau sejenisnya. Namun cara yang dipakai Namira jauh lebih elegan dan juga halus. Ibarat kata, dia seperti air yang tenang namun menghayutkan. Dia tak berkoar-koar layaknya gadis patah hati pada umumnya. Yang Namira lakukan sekarang hanya bermain licik.


Tak peduli jika Namira akan melibatkan atau melukai saudara kembarnya sendiri. Ia hanya ingin menuntaskan hasrat balas dendamnya pada Kevin. Apapun caranya!!


"Oh ya Nami, setelah ini kamu mau kemana lagi?" tanya Kevin membuyarkan monolog Namira dengan batinnya.


Namira sedikit terperanjat saat Kevin tiba-tiba bertanya. Beruntung lelaki itu bertanya sambil mengaduk minumannya, ia tak tahu kalau tadi Namira sedikit kaget.


"Ah, aku akan ke suatu tempat. Masih ada urusan yang harus aku selesaikan," jawab Namira simple.


"Apakah kamu sudah masuk lagi ke kantor?" tanya Kevin lagi. Wajahnya masih menunduk karena tengah mengaduk-ngaduk minumannya.


"Ah tidak, aku belum kembali ke kantor. Ayah tak membolehkan aku untuk ke kantor dulu sampai waktu yang gak ditentukan."


"Terus kamu mau kemana dong kalau bukan urusan kantor?" Kevin mendongak, ditatapnya Namira yang tengah kikuk mencari jawaban. Membuat Kevin jadi mengernyitkan dahinya, ikut terheran. Padahal pertanyaan tidak terlalu sensitif ataupun aneh-aneh. Tapi ekspresi yang ditampilkan Namira malah seperti orang yang bingung mau jawab apa. "Nami, kamu kenapa? Kenapa kamu jadi gugup begitu? Memang ada yang salah dengan pertanyaanku?"


"Anu... ah maksudku, aku hanya akan pergi ke rumah teman lamaku. Kebetulan aku baru berkomunikasi lagi setelah lama gak tahu rimbanya di mana," Namira berdalih. Otaknya terlalu mandek untuk memikirkan hal lain. Ia cuma berharap Kevin tak curiga.


"Teman lama kamu? Teman SMA apa teman kuliah?"


"Teman SMA hingga kuliah," jawab Namira seadanya.


"Kalau dia teman SMA sampai kuliah, berarti dia teman dekat kamu dong? Tapi kenapa kamu bilang gak tau rimbanya di mana? Emang sempet lost kontak apa gimana?" cecar Kevin. Rupanya dia malah jadi kepo. Karena setahu dia saat menjalani hubungan dengan Namira, gadis itu tak pernah mengungkit teman-teman dekatnya. Tapi kenapa sekarang tiba-tiba gadis itu mau menemui teman lamanya? Hanya Namira dan Tuhan yang tahu. Kevin tidak mau terlalu jauh keponya.


Kevin hanya manut-manut sambil membulatkan bibitnya pertanda mengerti. Lantas, ia menyeruput minumannya tanpa bertanya lebih jauh. Meskipun Kevin masih agak sedikit penasaran siapakah gerangan yang hendak ditemui Namira kali ini. Pria atau wanita, namun Kevin urungkan niat bertanya lagi. Toh, itu privasi Namira. Apalagi status Kevin sekarang bukan lagi tunangan Namira, yang artinya Kevin tak berhak tahu siapakah sebenarnya teman lama Namira tersebut.


Namira menatap pergelangan tangannya yang dilingkari oleh jam tangan. "Sepertinya aku harus pergi sekarang, oh ya kalau kamu masih mau di sini tidak apa-apa .. duduk dan nikmati saja kopinya, kalau kamu mau menghabiskan punyaku juga tidak apa-apa. Hehee..." Namira berseloroh santai. Dia pun berkekeh ria menertawakan ekspresi Kevin yang tiba-tiba mendadak jadi datar.


"Ish masa aku disuruh ngabisin punya kamu juga. Memang aku gentong air yang mampu menampung begitu banyak minuman sampai-sampai punyamu juga harus ikut kusikat?" desis Kevin diakhiri dengan mengerutkan bibirnya, manja.


"Yakali aja masih kurang gitu," tambah Namira dengan nada bercanda.


"Ya nggaklah. Ini punya aku aja belum habis, gimana sih kamu Nami... jahat banget deh kamu kalau udah nyeletuk."


"Hahaha ya maaf .. maaf," Namira meminta maaf seraya bangkit dari duduknya. Ia tengah bersiap-siap pergi dari hadapan Kevin yang masih tampak merajuk sehabis diguyoni oleh Namira. "Kalau begitu aku pamit dulu ya, Vin."


Kevin menganggukan kepalanya sambil memamerkan senyum khasnya. "Hati-hati ya Namira..."


"Sippp!" jawab Namira singkat. Ia pun benar-benar menjauh dari hadapan Kevin kini. Sementara Kevin masih duduk di bangkunya. Dia sama sekali tak menaruh curiga pada gadis itu. Kevin hanya berasumsi bahwa Namira sudah memaafkan dan melupakan semua kesalahan yang pernah Kevin perbuat kemarin-kemarin. Makanya gadis itu jadi bersikap baik dan manis lagi padanya.


"Huaaaahhh lega rasanya kalau tidak ada yang salah paham lagi," gumam Kevin selepas Namira pergi. Ia kembali menyeruput minumannya dengan perasaan gembira.


Namira masuk ke dalam mobilnya lagi. Wajah ramah dan manis yang sempat tadi dipakainya di depan Kevin seketika sirna. Ekspresi wajahnya kini berganti dengan ekspresi wajah penuh dendam dan amarah tertahan.


"Kamu pikir aku bisa begitu mudah memaafkan kamu tanpa berbuat sesuatu dahulu untuk membalaskan rasa sakit ini padamu? Kamu sangat salah Vin!! Aku tak sebaik yang kamu kira. Aku tak selegowo yang kamu terka. Aku adalah Namira.. aku harus mendapatkan apapun yang aku mau. Jika aku berkata A, maka aku harus mendapat A, jika aku tidak ingin B, maka akan kupastikan aku tidak akan mendapatkan B," ucap Namira menyeringai licik.


"Artinya, semua yang aku rencanakan harus sesuai dengan keinginanku. Dan saat ini keinginan terbesarku adalah menghancurkan kamu. Aku ingin melihatmu tidak bahagia. Aku ingin melihatmu terluka. Aku ingin kamu menangis!!" lanjut Namira dengki.


Namira menancapkan gas mobil, membuat kendaraan roda empat itu perlahan-lahan bergerak.


"Sekarang yang perlu aku lakukan hanya akan memberi peringatan kesekian kalinya pada Almira. Kembaranku itu harus ikut andil dalam menghancurkan Kevin. Karena pada dasarnya yang mampu membuat Kevin hancur berkeping-keping adalah Almira. Adik tercinta sekaligus kembaranku adalah kuncinya. Jadi aku harus berhasil menghasutnya agar Kevin benar-benar terluka. Ya, lelaki itu akan segera mendapatkannya. Dia harus membayar apa yang telah dia perbuat padaku!" tekad Namira disela kegiatan menyetirnya. Betapa piciknya Namira kini. Namun Namira sudah terlanjur sakit hati sehingga ia mampu berbuat hal-hal yang tak mungkin orang duga.


Bersambung.