Between Hate and Love

Between Hate and Love
Tepati Janjimu



Namira mengetuk pintu kontrakan Almira, ia kembali lagi ke sana setelah tadi pagi juga sempat ke sana. Ia balik lagi ke sana ingin memperingatkan Almira lagi. Namira tidak mau kalau adik bodohnya itu mengacaukan rencananya menghancurkan Kevin. Maka dari itu, terpaksa Namira ke sana lagi.


Tok.. Tok.. Tok..


Kurang dari 30 detik, ketukan pintu tersebut mendapat respon dari sang pemiliknya—Almira. Gadis itu membukakan pintu kontrakannya, dia cukup tercengang kala mengetahui yang datang adalah Namira.


"O.. ow, Nami.. mau apa lagi kamu ke sini? Apa ada barang kamu yang tertinggal tadi pagi?" tanya Almira dengan nada terkejut.


Namira menatap datar adiknya itu, lantas mendorong bahu Almira hingga membuat adiknya itu sedikit terhuyung ke belakang.


"Apa-apaan ini?" protes Almira, ia cukup merasa sebal dengan sikap Namira yang tiba-tiba mendorongnya tanpa sebab. "Kenapa kamu mendorongku?"


"Kenapa katamu?! Kamu tuh polos apa bodoh sih? Kamu bahkan tidak tahu apa salahmu?" murka Namira.


Almira menautkan kedua alisnya tak mengerti. "Maksud kamu?"


"Bukankah tadi pagi aku sudah memperingatkan kamu kalau kamu jangan menjadi perusak di antara hubungan aku dan Kevin!! Tapi kenapa kamu masih berusaha mendekati Kevin tanpa sepengetahuan aku?"


Almira terdiam sejenak, menerima baik-baik informasi yang terlontar dari mulut Namira. Almira belum paham apa maksud Namira berkata seperti itu. Lantas kenapa gadis itu tiba-tiba sudah memarahinya lagi?


"Sebentar deh! Apa maksud kamu kalau aku berusaha mendekati Kevin tanpa sepengetahuan kamu?" Almira balik bertanya. Otaknya sungguh kesulitan mencerna semua ini secara cepat.


"Masih pura-pura polos!! Kamu pikir aku tidak tahu kalau kamu sengaja meminta Kevin menemani kamu bimbingan kan? Kamu pikir aku tidak tahu semua itu?" desak Namira. Ia kembali berakting layaknya gadis teraniaya dan terselingkuhi oleh adiknya sendiri, padahal ia tahu kejadian tepatnya seperti apa.


Almira menganga tak percaya. Ujaran Namira barusan membuat otaknya kembali mengingat pertemuannya dengan Kevin hari ini. Pertemuan yang sama sekali tidak Almira duga sebelumnya. Almira tidak pernah merencanakannya. Mana tahu kalau ia hari ini akan bertemu dengan Kevin. Semua ini kehendak Tuhan, Dia lah yang mengatur!!


"Sebentar deh, Nami. Aku rasa kamu salah paham padaku—"


"Salah paham katamu?" potong Namira dengan cepat. Tangannya kembali mendorong bahu Almira tanpa bisa ditepis. "Aku lihat sendiri dengan mata kepalaku kalau kamu bersama Kevin hari ini. Kenapa kamu berusaha mengelak, hah?"


Almira berdecak sebal. Ia benar-benar tidak tahu kalau hari ini akan bertemu Kevin. Pertemuan dirinya dengan Kevin benar-benar di luar dugaan alias terjadi secara alamiah tanpa rencana.


"Aku tidak berusaha mengelak atau membela diriku. Ini sesuai fakta kok, kamu salah paham padaku. Aku sama sekali tidak meminta Kevin menemani aku buat bimbingan. Aku juga gak tahu kenapa dia ada di sekitaran kampus. Aku tadi gak sengaja ketemu dengan manusia itu. Sungguh!" Almira berusaha menenangkan Namira yang sudah dipenuhi emosi. Almira juga mengacungkan dua jari membentuk huruf V menandakan kalau dia bersungguh - sungguh tidak sedang berbohong atau membela diri. Pertemuannya dengan Kevin murni sebuah ketidak sengajaan.


"Kamu harus percaya padaku!" seru Almira menambahkan. Jujur, sebenci-bencinya Almira pada Namira, dia tidak berniat sama sekali mengambil Kevin dari kembarannya itu. Menurut Almira, masih ada cara lain yang bisa dia pakai untuk balas dendam pada Namira. Tapi bukan dengan cara merebut Kevin.


"Lantas bagaimana aku harus membuat kamu percaya kalau aku benar-benar tidak sengaja bertemu dengan Kevin? Beritahu aku bagaimana caranya agar kamu yakin sama aku bahwa aku tidak bermaksud menemui Kevin? Ini murni semuanya Tuhan yang atur. Beritahu aku bagaimana mengelak semua yang telah di atur Tuhan?" tanya Almira balik. Entah terbuat dari apa hati Almira hingga dia selalu jadi pihak yang dirugikan hanya karena perkara seorang pria. Namun sayangnya, Namira tak pernah menyadari hal itu. Ia selalu merasa dirinya yang tak seberuntung Almira.


"Jauhi Kevin bagaimana pun caranya!"


"Tapi aku sudah berusaha menjauhinya semampuku. Hanya saja lelaki kamu itu cukup keras kepala dan selalu menguntitku," jelas Almira.


"Lelaki mana pun akan selalu melakukan itu, memang sudah kodratnya seperti itu. Tapi dalam hal ini pihak lelaki tak akan bisa masuk jika pihak perempuan tak memberi celah," ucap Namira sarkas. Jelas saja Almira meradang. Ia merasa Namira hanya menyudutkan dirinya seolah-olah dalam situasi sekarang Almira lah yang paling salah.


Padahal, itu bukan kesalahan Almira sama sekali. Semenjak Almira tahu Kevin memiliki hubungan dengan Namira, semenjak itu pula Almira bertekad untuk tak pernah tergoda oleh Kevin. Dia juga bertekad menjauh dari kehidupan Kevin. Namun apa daya Almira? Kevin selalu mengejar-ngejarnya. Bagaimana Almira bisa mengelak hal itu untuk tidak terjadi? Ribuan kali dan cara yang telah Almira lakukan agat Kevin tak mengganggunya. Ia juga berbohong mengenai status Ricko agar Kevin percaya Almira sudah punya kekasih, namun lagi-lagi Almira gagal mencegah Kevin untuk tak mengganggu dirinya. Sebab, Kevin bukanlah anak kecil yang bisa ditakut-takuti begitu saja. Dia lelaki dewasa yang cerdas dan bertindak sesuai pola pikirnya bukan berdasar perintah Almira atau orang lain. Lantas kenapa Namira harus menyalahkan Almira? Almira tak terima diperlakukan seperti sekarang. Tidak! Almira tidak terima sama sekali!!


Almira menatap pelik pada Namira, biar bagaimana pun tindakan Namira sekarang terlalu menyudutkannya. "Kenapa kamu selalu menyalahkan aku? Kenapa kamu selalu menekanku seolah-olah akulah orang paling salah di sini?"


"Karena kamu memang salah!" sentak Namira tak mau kalah.


"Aku tidak bersalah!! Kevin orang yang paling bersalah. Kenapa kamu tidak menekan dirinya juga agar menjauhi aku?" kobaran api amarah tak kuasa Almira bendung saat Namira lagi-lagi menyudutkannya, membuat Namira terdiam tak berkata-kata.


"Kenapa kamu diam? Apa kamu juga tetap akan menyalahkan aku setelah kamu tak bisa menjawab pertanyaanku? Begitukah?" lirih Almira. Ia tidak pernah menyangka hidupnya selalu diliputi masalah yang sama sekali bukan salahnya. Kenapa Almira selalu disalahkan? Pertanyaan itu selalu terbesit di benak Almira hingga kini. "Kamu selalu menyalahkan aku hanya karena Kevin, Kevin dan Kevin. Tidak bisakah kamu bicarakan semua ini baik-baik? Tidak bisakah kamu bertanya pada Kevin juga?!"


"Aku tidak mau tahu! Aku tetap ingin kamu jauhi Kevin. Terserah apapun caranya. Mau kamu menghilang dari hadapannya atau bagaimana pun. Yang jelas aku tidak ingin kamu merebutnya dariku!!" ucap Namira culas. Gadis itu membalikan tubuhnya setelah berhasil membuat Almira tertohok. Namira perlahan beranjak dari tempat itu.


"OKE!!" pekik Almira menghentikan langkah Namira. "Oke!! Sesuai keinginan kamu bahwa aku akan pergi dari sini. Aku akan jauhi Kevin agar kamu tak melulu menuduhku yang tidak - tidak. Aku tak akan menampakan batang hidungku lagi dihadapannya!! Kau puas, HAH?!" jengah Almira. Hilang sudah kesabaran dia selama ini. Bertahun-tahun selalu jadi pihak tersalahkan dan kini juga masih jadi pihak tersalahkan. Malang sekali nasib Almira.


"Aku tidak akan percaya sebelum aku melihat buktinya!!" tandas Namira tanpa berbalik.


"Tunggu dan lihat saja nanti!! Aku bukan tipe wanita yang selalu berbohong! Kau tidak perlu khawatir! Besok aku akan pergi dari sini, aku akan pindah ke luar kota agar bisa jauh dari lelaki kesayangan kamu yang gak tau diri itu!!" tekad Almira berapi-api.


Namira tersungging licik tanpa sepengetahuan Almira, kemudian dia benar - benar pergi dari kontrakan Almira tanpa menimpali ucapan Almira yang terakhir. Ia cukup puas karena berhasil membuat Almira menyingkir.


"Permainan dimulai!!" batin Namira merasa menang.


Bersambung.