Between Hate and Love

Between Hate and Love
Angkuh!



Almira tampak gelisah di meja kerjanya, sesekali dia melihat jam yang melingkar manis di pergelangan tangannya. Raut gelisah bercampur kesal itu bersatu padu menyelimuti Almira.


"Kenapa dia belum mau keluar juga sih dari ruangan bu Vania?" gerutu Almira saat menyadari kalau Kevin belum mau beranjak pergi dari ruangan bu Vania.


"Kalau masih ada dia kan aku jadi susah mau kasih surat resignku,"tambahnya yang langsung di sambar Tania.


"Ini surat apa?" tanya Tania.


Rupanya Almira lupa kalau sedari tadi dia sedang berhadapan dengan Tania, gadis yang selalu kepo urusan Almira.


"Kembalikan surat itu Tan!" ucap Almira panik.


Tania tidak mengindahkan ucapan Almira, dia malah sengaja menyobek ujung amplop yang sudah berisi surat resign Almira.


"Tan kumohon kembalikan!" pekik Almira masih berusaha mengambil kembali surat itu, tapi Tania malah menghalau Almira yang bersikukuh merebut suratnya dari tangan Tania.


"Biarkan aku lihat dulu isinya apa" kata Tania singkat lalu mulai membaca isi surat tersebut.


Almira menutup mulutnya untuk menyembunyikan rasa khawatirnya. Dia tidak tahu harus berbuat apa saat Tania menguasai surat itu.


Tania fokus membaca deret per deret rangkaian kata yang tertera di dalam surat itu, matanya membelalak saat mengetahui kalau surat itu berisi pengunduran diri Almira.


"Jelaskan padaku ini maksudnya apa?" mata Tania menyorot begitu tajam ke arah Almira.


"Aku... " Almira seperti kehilangan perbendaharaan kosa katanya saat Tania menatapnya begitu tajam.


"Apa kamu tidak waras Al? Kenapa kamu ngajuin resign mendadak begini? Apa kamu tidak betah kerja di sini? Atau kamu mematahkan kepercayaan bu Vania padamu?" Tania mencecar Almira dengan rentetan pertanyaan-pertanyaan tanpa jeda.


"Tidak, bukan begitu maksud aku. Aku hanya___ " Belum sempat Almira menjawab salah satu pertanyaan Tania, tapi Tania sudah kembali melontarkan pertanyaan lain.


"Apa kamu marah padaku karena aku selalu mengganggu kamu?" pungkas Tania, tentu saja membuat Almira menggebrak mejanya dengan kasar.


Brak!


"Dengarkan aku dulu!" sentak Almira dengan nada tinggi.


Tania pun terdiam saat melihat Almira menyentaknya begitu keras dan nyaring.


"Biarkan aku menjawab satu persatu pertanyaan kamu Tan," ucap Almira setelah berhasil menenangkan Tania yang tadi sempat seperti orang kesetanan dengan mencecar banyak pertanyaan pada Almira.


"Aku bukannya gak betah di sini, aku juga gak bermaksud untuk mengecewakan kepercayaan bu Vania. Dan satu lagi, aku tidak marah sama kamu sama sekali karena kamu sering mengganggu aku. Aku hanya ingin keluar dari sini," jelas Almira dengan suara yang tenang.


"Lantas kenapa kamu mau keluar? Pasti ada alasannya kan?" tanya Tania lagi.


"Aku hanya______ " jawaban Almira menggantung. Hal itu membuat Tania semakin curiga pada Almira.


"Apa semua ini ada hubungannya dengan pertunangan pak Kevin semalam?" terka Tania.


Buru-buru Almira mengelak, "tidak... bukan karena itu," ucap Almira berbohong.


Almira tidak mungkin mengatakan pada Tania kalau ternyata rencana pengunduran dirinya ini memang ada kaitannya dengan pertunangan Kevin semalam, apalagi karena Almira tahu tunangan Kevin adalah saudarinya sendiri. Tapi Almira memilih berbohong pada Tania, toh Tania tidak mengerti awal mula permasalahannya.


"Kalau gak ada hubungannya dengan acara semalam, lantas kenapa kamu mau ngundurin diri tiba-tiba?" curiga Tania.


"Itu karena... aku, ____ " Almira kembali menjeda kalimatnya. Dia harus mencari alasan terbaik agar Tania percaya.


"Karena apa?" selidik Tania.


"Karena aku mau melanjutkan kuliah aku," hanya itu kalimat yang lolos dari mulut Almira, dia tidak tahu harus mencari alasan kuat apa lagi agar Tania percaya.


"Kuliah?"


"Ya, aku ingin kembali ke bangku kuliahku yang sempat tertunda. Aku ingin menjadi designer profesional seperti bu Vania yang dibekali ijazah juga. Selama ini kan aku cuma pekerja biasa tanpa ada lisensi yang mengikatku, orang tidak akan mau percaya kalau nanti aku designer terkenal tapi tanpa ada bukti nyata, paling nggak kan ini bagus buat karir aku kedepannya," Almira menjelaskan dengan panjang lebar diiringi perasaan yang was-was apakah Tania bisa percaya atau tidak dengan alasannya itu.


Almira manut-manut sambil mengusap dagunya lalu berkata, "bener juga sih, alasan kamu bisa di terima."


Almira menghela nafas lega saat Tania mulai percaya dengan alasan pengunduran dirinya itu. Jujur, Almira tadi sempat khawatir kalau Tania tidak akan percaya dengan mudah. Pasalnya Tania itu bukan tipe gadis yang keras kepala, dia akan menyelidik sampai ke akar-akarnya dulu jika kecurigaannya itu tanpa bisa di sanggah dengan alasan yang kuat dan masuk akal.


Tania tampak menimbang-nimbang, "Tapi kenapa harus sekarang sih kamu ngajuin resignnya? kenapa gak tahun depan saja?" rengek Tania.


Mungkin Tania sedih kalau Almira tidak bekerja di sana lagi. Soalnya Tania jadi tidak ada teman bergosip atau sekedar meledek Almira setiap pagi. Apalagi Almira tidak seperti karyawan lain yang suka lebih parah kalau diajak bergosip. Pembawaan Almira cukup tenang, makanya Tania senang berteman dengan Almira.


"Tan, kalau aku nunggu lagi tahun depan berarti aku menunda kesuksesan aku juga dong?" kilah Almira.


"Iya juga sih, tapi aku kan jadi gak ada teman___ "


"Teman bergosip maksudnya?" kali ini giliran Almira yang memenggal kalimat Tania.


Tania terkekeh seraya menggaruk pipinya saat Almira bisa menebak maksud dari kalimatnya yang terpotong.


Almira mengulum senyum tipis, lalu merebut suratnya kembali.


"Gara-gara kamu robek amplopnya, aku jadi harus menggantinya dengan yang baru." dengus Almira.


"Ya ampun Al, cuma amplop doang," protes Tania lalu dia buru-buru keluar karena takut kena semprot Almira lagi.


"Hey... mau kemana kamu?" pekik Almira saat menyadari Tania diam-diam kabur.


Sepeninggal Tania, Almira kembali mengulum senyum tipis. Tidak terbayangkan oleh Almira kalau nanti dia akan merindukan saat-saat seperti ini, bercanda, ribut-ribut atau bahkan bergosip dengan Tania.


Kemudian dia melirik ke arah gelas couple pemberian Kevin di hari ulang tahunnya yang ke dua puluh empat waktu itu.


"Semua gara-gara kamu!" Almira menunjuk kesal pada gelas tak berdosa itu.


Mungkin Almira menganalogikan gelas itu adalah Kevin, orang yang berperan dan menjadi penyebab Almira berani mengambil keputusan untuk mengundurkan diri.


"Kamu harus bertanggung jawab!" Almira kembali menyalahkan gelas itu.


Kemudian dia terdiam, "Kenapa aku jadi seperti orang gila kaya gini sih?" cebiknya.


Tok... Tok... Tok...


Almira mendongak saat pintu ruangannya di ketuk oleh seseorang di luar sana.


"Masuk!" titah Almira memekik.


Tak lama, pintu itu terbuka dan menampakkan sesosok pemuda yang tak asing di mata Almira. Siapa lagi kalau bukan Kevin, si lelaki pembual yang sedang Almira hindari.


"Apa aku boleh masuk?" tanya Kevin ragu.


Ini pertama kalinya Kevin mengetuk pintu ruangan Almira dan meminta izin pada sang empunya ruangan ketika hendak masuk ke sana. Biasanya dia akan menyelonong begitu saja. Kali ini tidak, mungkin Kevin merasa bersalah pada Almira.


Almira tidak menjawab, dia malah memalingkan wajahnya ke arah lain.


Kevin nampak ragu memasuki ruangan Almira, meski dia tak mendapatkan kata "silahkan", tapi Kevin tetap berusaha masuk ke sana. Dia ingin menjelaskan dan meluruskan semuanya.


Kemudian Kevin duduk lalu dia mulai membuka suara, "Apa kamu marah padaku?"


Almira tidak bergeming, dia tidak sudi menjawab pertanyaan Kevin atau sekedar berbasa-basi pada Kevin.


"Al, aku ingin menjelaskan dan meluruskan kesalahpahaman ini... Jadi izinkan aku beberapa menit saja berbicara padamu," harap Kevin.


Almira mendelik dengan angkuh, "Anda tidak perlu mengatakan atau menjelaskan apapun pada saya!" ucap Almira yang tiba-tiba tidak memanggil Kevin dengan panggilan formal seperti kemarin-kemarin.


"Kenapa kamu tidak memanggilku dengan sebutan "bapak" seperti biasanya?" ucap Kevin berusaha mencairkan suasana.


Alih-alih cair, Almira justru semakin memperpanas suasana dengan sikap angkuhnya itu.


"Anda bukan bos saya, anda cuma anak bos saya. Jangan mengatur saya!" tegas Almira lalu melenggang pergi meninggalkan Kevin yang masih belum percaya dengan sikap Almira yang mendadak jadi angkuh dan tidak sopan padanya.


Bersambung~