Between Hate and Love

Between Hate and Love
Pertemuan Dengan Pak Jamil



Kevin dan Vallen saling memandang heran saat langkah kaki mereka berhenti di sebuah ruangan Pak Gunawan.


"Kenapa Papa ngajak kita ke ruangan Papa?" tanya Kevin pada Papanya.


"Ada yang ingin bertemu kalian," jawab Pak Gunawan singkat. Tentu saja Kevin dan Vallen kembali saling melempar pandangan heran tanpa berniat meninjau lebih jauh. Mungkin mereka berpikir kalau yang mau bertemu dengan mereka berdua itu adalah partner bisnis atau klien baru yang ingin bekerja sama dengan perusahaan The Gunawan Group.


Ditariknya handle pintu ruangan tersebut oleh sang empunya ruangan saat tak ada lagi pertanyaan yang keluar baik dari mulut anaknya, maupun Vallen. Kemudian, Pak Jamil pun masuk ke dalam, disusul oleh Kevin dan Vallen yang sedari tadi masih sama - sama diliputi kebingungan luar biasa. Tak hanya itu .. seperti biasa, terjadi aksi saling sikut menyikut di antara keduanya saking tidak menentunya perasaan mereka. Antara bingung dan juga cemas, meski lebih dominan cemas karena sedari tadi Pak Gunawan tidak menginformasikan secara jelas siapa yang hendak mereka temui, apakah klien atau bukan.


Dan betapa terkejutnya Kevin dan Vallen saat mata mereka melihat sosok yang ingin bertemu dengan mereka adalah Pak Jamil. Pikiran-pikiran cemas, takut, ngeri mulai mendominasi dan bergumul di benak mereka berdua.


Glek!


Glek!


Terlihat jelas jakun Kevin dan Vallen bergetak naik turun, menandakan kalau kerongkongan mereka seolah tercekat dan mengering. Melihat Pak Jamil ada di Perusahan The Gunawan Group, apalagi ingin bertemu dengan Kevin dan Vallen secara pribadi, sudah dapat keduanya simpulkan kalau Pak Jamil pasti hendak membicarakan tentang Namira anaknya, bukan tentang perjanjian kerja sama antara Perusahaan The Rubbiantoro Corps dengan The Gunawan Group.


Entah kabar buruk atau baik yang nanti akan Pak Jamil bahas, Kevin dan Vallen belum tahu. Yang jelas, kalau menelisik dari raut wajah Pak Jamil saat ini, pasti kabar buruk yang akan disampaikan oleh lelaki paruh baya itu.


"Gimana nih?" tanya Vallen setengah berbisik pada Kevin yang berdiri tak jauh di sampingnya.


"Gimana apanya?" Kevin membalas tak kalah pelan, bahkan ia tidak menengok sama sekali ke arah Vallen dan hanya menatap lurus ke arah Pak Jamil.


"Jangan-jangan lelaki tua itu sudah tahu kalau lo sama Namira sudah end, terus si Namira ngadu sama bokapnya kalau lo udah mempermainkan dia," celetuk Vallen masih dengan gaya berbisik-bisik menakut - nakuti, sembari memasang senyum masam agar Pak Jamil tidak curiga.


"Jangan bikin aku cemas kamu, Len! Kita harus tetap tenang dan berpikir positif. Anggap saja Pak Jamil memang mau silaturahim sama kita," balas Kevin masih berusaha tenang, padahal sejatinya dia juga cemas. Boro-boro mau tenang. Melihat Pak Jamil dengan raut tatapan membunuh seperti itu, sudah membuat otak Kevin kalang kabut. Tapi gengsi juga kalau dia melarikan diri.


"Yakin lo bisa bersikap tenang saat melihat tatapan Pak Jamil yang super killer begitu? Gue sih angkat tangan, bro! Jujur gue gak bisa tenang sama sekali. Perasaan gue mengatakan kalau ini akan jadi kejadian menyeramkan yang gak bakal lo bayangin seumur hidup lo," sambung Vallen yang sudah tidak karuan perasaannya.


"Yakin aja dulu. Kita kan juga belum tahu apa maksud dan tujuan Pak Jamil ke sini secara gamblang. Dari tadi kita cuma menebak-nebak, padahal ini jelas banget kita gak boleh bersikap gitu. Dosa tahu!"


"Hais... tetep aja biasanya kalau tebakan yang buruk-buruk suka jadi kenyataan," ucap Vallen sangsi.


"Sok tahu, kamu!" seru Kevin.


"Eh bukannya gue sok tahhh—"


"Euhemmm ... euhemmm ...." suara deheman yang berasal dari Pak Gunawan berhasil membuat Kevin dan Vallen bungkam dan mengacaukan bisikan-bisikan mereka seketika. Kemudian, Kevin dan Vallen langsung menundukkan kepala mereka setelah mendengar deheman yang lebih mengarah sebagai tanda peringatan kecil kalau mereka dilarang berbisik-bisik di sana.


"Hallo Pak Jamil, bagaimana kabar anda?" sapa Pak Gunawan seraya menjabat Pak Jamil, menyambut Pak Jamil di sana dengan ramah dan profesional.


"Tidak apa-apa Pak Jamil, kebetulan saya juga belum berangkat. Beruntung sekretaris saya cepat-cepat ngabarin saya, jadi kita masih bisa bertemu hari ini. Oh ya, silahkan duduk dulu!" Pak Gunawan mempersilakan Pak Jamil untuk duduk.


"Terimakasih Pak Gun," jawab Pak Jamil sembari mendaratkan bokongnya di sofa yang berwarna maroon yang ada di ruangan Pak Gunawan.


Kevin dan Vallen pun ikut duduk, tanpa babibu. Mereka memilih diam tanpa berniat membuka suara atau berbasa-basi sebelum dilibatkan dalam percakapan.


"Ngomong-ngomong ada apa Pak Jamil kemari? Apa ada sesuatu yang terjadi dengan Namira?" tanya Pak Gunawan to the poin. Beliau seperti tahu kemana arah pembicaraan yang hendak diciptakan oleh Pak Jamil. Hal itu tentu saja membuat jantung Kevin dan Vallen seolah berdegub lebih kencang dari biasanya. Panik, cemas, takut, bahkan keringat dingin sudah mulai menghampiri mereka berdua.


"Iya, saya mau membicarakan Namira, makanya tadi sebelum kita berhadapan seperti sekarang saya sempat meminta Pak Gun ajak sekalian Kevin dan Vallen juga," ucap Jamil. Kini sorot matanya mengarah pada Kevin dan Vallen yang terduduk dengan posisi yang tak nyaman sama sekali. Bukan karena sofanya yang membuat mereka berdua tak nyaman. Melainkan, karena situasi dingin dan mencekam yang mengakibatkan mereka duduk begitu gelisah, bergerak-gerak kecil seolah sedang mencari posisi ternyaman. Namun sayangnya, tidak mudah untuk saat ini. Situasi yang mereka rasakan begitu seram seperti dalam posisi sedang nonton film horor sendirian.


"Me-memang ada apa dengan Namira? Apa penyakit dia kambuh lagi?" pada akhirnya Kevin ikut melontarkan pertanyaan disela perasaannya yang nampak tak tenang dan cemas.


"Ah iya, memang ada apa dengan Namira? Dia baik-baik aja kan, Pak?" Vallen ikut bicara. Ia berusaha mencoba mengusir kecemasannya saat dilibatkan dalam pertemuan ini. Sengaja ia melakukan itu, itung-itung agar tidak terlalu ketara karena telah berbuat dosa menjadi orang yang selalu membantu Kevin dalam segala hal. Apalagi selalu membantu dalam membuat keputusan bagi Kevin yang ingin mengakhiri hubungannya dengan Namira.


"Tidak. Anak saya baik-baik saja kok. Jadi kalian tidak perlu cemas," ucap Pak Jamil tanpa merubah tatapan matanya yang terkesan sedang murka tertahan baik pada Kevin maupun Vallen.


"Syukurlah," jawab Kevin dan Vallen berbarengan.


"Saya ingin tanyakan sesuatu pada kalian?" lanjut Pak Jamil yang langsung membuat Kevin dan Vallen serasa mati rasa seketika. Mereka diam tak bergeming beberapa detik. Perasaan takut mulai menyelimuti mereka lagi saat Pak Jamil melontarkan kalimat tersebut yang pasti merujuk pada 'Hubungan Kevin dan Namira' lelaki paruh baya itu pasti sudah tahu kalau Kevin telah mengakhiri hubungannya dengan Namira. Dan lelaki itu datang untuk protes pada Kevin sekarang.


"Aanu, nanya apa ya, Pak?" jawab Kevin kikuk. Diikuti anggukan dari Vallen, menandakan kalau dia juga tengah melontarkan pertanyaan yang sama.


Pak Jamil menghembuskan napasnya dengan berat, seakan beban hidup yang sedang ia pikul terbawa ikut keluar.


"Sebelumnya saya minta maaf sama kamu, Vin... " ucap Pak Jamil ambigu, membuat Kevin dan Vallen mengernyitkan dahi mereka secara bersamaan. Kemudian Pak Jamil mulai melanjutkan kalimatnya yang terjeda beberapa detik. "Saya ingin bertanya pada kalian, sebenarnya apa yang terjadi sama Namira beberapa hari ke belakang hingga membuat dia berpikir ingin mengakhiri pertunangannya dengan kamu dengan alasan kalau dia mencintai orang lain dan itu bukan kamu, Vin. Kamu tahu siapa orang yang selama ini mengunjungi Namira selama sakit?"


"Eh? Maksud bapak?" Kevin bingung.


"Iya anak saya tidak ingin bertunangan dengan kamu karena dia baru sadar kalau dia ternyata mencintai orang lain dan itu bukan kamu." Pak Jamil memperjelas ucapan sebelumnya.


"Hah?" hanya ekspresi itu yang terlintas di kepala Kevin maupun Vallen saat Pak Jamil mengatakan kalau putrinya tidak ingin melanjutkan pertunangannya dengan Kevin. Seketika, otak Kevin berputar ke kejadian beberapa waktu yang lalu dimana dia mengatakan ingin mengakhiri hubungannya dengan Namira karena mencintai orang lain. Namun kenapa Namira membalikkan fakta? Kenapa dia tidak mengatakan yang sebenarnya kalau Kevin lah yang baru sadar kalau dia ingin memperjuangkan cintanya pada wanita lain.


Pertanyaan-pertanyaan itu seolah bergelayut di kepala Kevin. Meski menguntungkan buat Kevin, tapi ia sulit sekali mencerna semua ini. Sebab, Kevin belum tahu kenapa Namira malah melindunginya dari amarah Pak Jamil. Apa jangan-jangan Namira sebetulnya memang sudah memiliki orang yang dia suka juga sebelum Kevin datang?


Bersambung.