
"Nah kan udah aku bilang, seharusnya kita kemarin kejar Almira bukan malah membiarkan dia pergi gitu aja," Kevin berdecak kesal pada Vallen yang tengah duduk di kursi kemudi mobilnya.
"Astaga Vin! Kenapa sih lo marah-marah mulu ke gue? Udah bagus gue mau nemenin lo lagi buat cari Almira," jengah Vallen.
"Sekarang coba lihat! Di sekitaran sini gak ada tuh penampakan Almira atau yang kenal dengan Almira, itu artinya dia gak tinggal di sini."
Vallen diam, membiarkan lelaki berketurunan Tionghoa itu menyerocos memaki dirinya. Sebenarnya dia agak dongkol, tapi Vallen mencoba untuk mengesampingkan egonya, karena dia tahu Kevin memang selalu ketar-ketir kalau dalam keadaan panik atau tertekan.
"Sekarang kita kehilangan jejak Almira lagi, semua ini gara-gara kamu Vallen!"
Entah untuk yang ke berapa kalinya Kevin menyalahkan Vallen gara-gara kehilangan jejak Almira dan memilih mengikuti saran Vallen kemarin malam.
"Kalau saja aku gak ngikutin usul kamu buat pulang, pasti sekarang aku gak kehilangan jejak Almira," lanjut Kevin masih dengan nada mengomel bak ibu-ibu kehilangan Tupperware nya.
Vallen menarik nafasnya kemudian membuangnya dengan berat sebelum menimpali Kevin yang sedari tadi mengomel memarahi dirinya perkara Almira.
"Gak usah panik gitu napa! Lo udah kaya kehilangan saham aja sampe sewot lo gak kunjung berkesudahan!" balas Vallen datar.
Lain hal dengan Vallen, anak bosnya itu tak bisa tenang dan selalu ketar-ketir kalau menyangkut Almira, si pujaan hatinya.
"Gimana aku bisa tenang Vallen, aku belum jadian sama Almira tapi aku harus kehilangan dia duluan. Aku gak mau sampai itu terjadi. Pokoknya kita harus temuin dia sesegera mungkin!"
"Ck! Menjijikan! Udah kaya ABG labil aja Lo, Vin," Vallen berdecak geli mendengar penuturan anak bossnya itu. "Lagian udah gue bilang, sekalipun lo gak nemuin Almira di sini, kan lo masih bisa nyusulin dia ke kampusnya."
Kevin diam sejenak. Ia tampak berpikir sebelum akhirnya menyengir polos.
"O-o ... iya ya! Kenapa aku gak kepikiran sampe ke situ?"
"Mana bisa lo kepikiran sampe situ! Secara lo kan pintarnya cuma masalah akademik doang. Masalah beginian mah lo payah!" ejek Vallen sembari membelokkan setirnya ke arah lain, membuat Kevin sukses mengerucutkan bibirnya beberapa senti.
Kevin menatap lekat-lekat ke arah Vallen yang tengah mengemudi. Mulutnya masih mengerucut tapi pikirannya jauh lebih tenang.
"Kenapa lo merhatiin gue kaya gitu? Apa lo juga mau tanya kenapa gue belokin arah?" cibir Vallen.
"Ish ... nyebelin kamu!"
***
Vallen dan Kevin telah sampai di sebuah kampus swasta yang diyakini mereka adalah kampus Almira. Mereka tahu kampus itu adalah kampus Almira, karena mereka melihatnya di CV Almira yang masih ada di butik Mamanya Kevin.
Untuk itu, sebenarnya tidak sulit jika mereka mau menemukan Almira. Karena gadis itu tidak akan pergi jauh-jauh dari ibukota Jakarta.
"Sekarang kita tinggal cari gedung Fakultas Ekonomi di sebelah mana. Karena menurut data Almira sih, dia ambil jurusan Bisnis dan Manajemen, jadi pasti dia di sekitaran situ," ucap Vallen seraya melepas sabuk pengaman yang sedari mengikatnya.
Pun dengan Kevin, dia juga melepas sabuk pengamannya sebelum akhirnya keluar dari mobil sport berwarna biru itu.
Baru beberapa langkah kaki Kevin dan Vallen membawa mereka memasuki sebuah lobby gedung Fakultas Ekonomi, mata mereka dikejutkan oleh penampakan yang tak asing.
Mereka terdiam sejenak.
"Bukannya itu Almira ya?" ucap Vallen seraya menunjuk dua orang yang dihadapan mereka. "Tapi sama siapa tuh dia, kaya akrab banget?"
Kevin tak menyahut, tangannya mengepal dengan kuat saat melihat sosok Almira tengah berbincang-bincang dengan lelaki tampan yang sangat berwibawa.
"Vin? Lo gak apa-apa kan?" tanya Vallen khawatir.
Kevin tetap tak bergeming. Ia menatap lurus ke pemandangan di depannya. Demi apapun, Kevin tak suka melihat keakraban lelaki berahang kekar itu pada Almira.
Dengan penuh emosi, kaki panjang Kevin mempersempit jarak ke arah Almira dan lelaki yang tak diketahui identitasnya.
BUGH!
BUGH!
BAM!
Tanpa disangka-sangka Kevin langsung melayangkan jotosan pada lelaki yang kini tengah bercengkrama dengan Almira.
"PAK HENDRAWAN!"
Almira menjerit histeris saat melihat lelaki yang sedang mengobrol dengannya ambruk tiba-tiba.
"Bapak gak kenapa-kenapa? Bibir bapak berdarah!"
Ia pun langsung menolong lelaki itu tanpa ia menoleh terlebih dahulu siapa pelaku utama yang membuat lelaki dihadapannya itu ambruk tak berdaya seperti itu.
"Saya gak apa-apa kok Almira," ucap korban yang ditonjok Kevin tanpa alasan itu.
"Saya gak apa-apa," Almira berusaha membantu lelaki itu untuk bangkit, tapi dengan sigat lelaki itu menepis bantuan Almira.
Lelaki itu berlalu meninggalkan Almira yang masih berjongkok hampa.
Tap!
Tap!
Tap!
Tiba-tiba Vallen menghampiri Kevin yang kini masih berdiri di depan Almira berjongkok dengan pandangan kosong.
"Vin! Lo apa-apaan sih? Kenapa lo hajar orang tiba-tiba begitu?" cerocos Vallen saat berhasil mendekat ke arah Kevin yang masih dipenuhi kilat emosi. "Lo tau kan, lo bakal kena masalah setelah ini."
Kevin diam.
Sayup-sayup mendengar nama Kevin, Almira pun mendongak. Dan betapa terkejutnya Almira saat ia berhasil mengetahui siapa pelaku penonjok lelaki bernama Pak Hendrawan itu memang benar Kevin yang ia kenal.
Almira marah, Almira kesal bukan kepalang. Ia pun lantas bangkit dan memekik lantang ke arah Kevin dan Vallen.
"APA-APAAN KALIAN?!" sentak Almira.
"Siapa dia?" tandas Kevin tak sedikit pun merasa bersalah.
"Apa urusanmu bertanya seperti itu? Dan mengapa kamu memukulnya?" balas Almira penuh amarah.
"Aku tidak suka dia dekat-dekat dengan kamu Al, apalagi dia tadi sok akrab sama kamu. Dia ********!"
"Cukup! Jangan sok tahu jadi orang!"
"Tapi Al—"
"Aku bilang cukup! Apa kamu tuli?!"
Amarah Almira semakin mengungkung dan memprovokasi jiwanya. Ia marah bukan main, bahkan saking marahnya Almira pada Kevin, gadis itu sampai mengeluarkan air matanya.
"Kamu selalu ikut campur urusanku. Aku gak boleh inilah itulah. Memangnya kamu siapa, HAH?!!" bentak Almira pada Kevin sembari menitikkan air matanya.
Almira tak tahan untuk membendung tangisnya lebih lama lagi, ia menangis bukan karena sedih, tapi karena dadanya terlalu sesak dan jengah dengan kelakuan Kevin. Bisa-bisanya Kevin melakukan tindak kekerasan seperti itu tanpa alasan yang berbobot.
"Al, kenapa kamu malah menangis?" Kevin mencoba menghapus air mata Almira, tapi sesegera mungkin Almira menepis kasar lengan Kevin.
"Diam! Aku belum selesai bicara bodoh!" pekik Almira, membuat Kevin yang tadinya ingin menghapus air mata Almira sambil membela diri— hanya mampu tertegun.
"Kamu itu siapa sih? Kok kamu bisa-bisanya selalu mengatur hidup aku? Bukankah kamu hanya seseorang yang tukang mainin perasaan orang lain? Kamu hanya pembual yang egois! Kamu selalu berbuat sekehendak kamu, aku benci sama kamu!"
"Kenapa kamu ngomong gitu sih sama aku? Aku hanya menyelamatkan kamu dari si ******** itu!" Kevin tak segan-segan menunjuk lelaki yang dia tonjok tadi dengan kata '********' padahal ia sama sekali belum tahu identitas sebenarnya mengenai lelaki tersebut. Yang Kevin tahu, lelaki itu telah mengganggu Almira, pujaan hatinya.
"Lancang sekali kamu mengatakan dia '********'. atas dasar apa kamu berani mengatakan hal itu pada dosen pembimbing skripsi aku?!"
Glek!
Kevin tercekat.
"Do-dosen? Jadi lelaki itu—" Kevin menggantung kalimatnya. Ia bahkan tak punya nyali melanjutkan kalimatnya sendiri.
"Ya, dia dosen aku! Dan kamu gak berhak untuk memukulnya. Kamu sudah membuatku malu. Asal kamu tahu, lelaki yang kamu kira ******** itu adalah dosen yang paling sulit dibujuk. Dan saat aku berhasil membujuk lelaki itu agar mau mengoreksi skripsi aku, kamu datang dan menghancurkan segalanya! Kamu bajingannya!"
"Almira, aku minta maaf. Aku tidak tahu kalau dia adalah dosen pembimbing kamu. Sebagai lelaki normal, aku cukup tahu kalau dosen kamu itu terlihat brengsek! Dari cara dia natap kamu aja, aku tahu dia dosen genit," terang Kevin.
"Simpan saja maaf kamu itu!"
Bugh!
Almira mendorong tubuh Kevin, lantas ia bergegas pergi meninggalkan Kevin. Perasaannya terlalu kacau untuk sekedar mendengarkan ocehan permintaan maaf Kevin.
"Almira ... Almira ...," Kevin terus memanggil Almira, tapi gadis itu abai dan tetap berlalu menjauh dari Kevin.
Kevin hendak mengejar Almira, tapi dering ponselnya berbunyi dan menandakan ada panggilan masuk, alhasil Kevin memilih mengecek ponselnya terlebih dahulu.
Dilihatnya nama yang tertera pada ponselnya itu.
"Tante Rani?"
Bersambung!