
Ken berdiri menyambut kedatangan sang majikan, "Ken kenapa kau tiba-tiba datang kemari?" tanya Yohan penasaran.
"Ada masalah yang terjadi di perusahaan cabang, Tuan. Anda di harapkan secepatnya hadir disana."
Berita yang Ken bawa, membuat acara liburan itu terhenti seketika. Yohan langsung berangkat ke luar negri bersama Ken, sedang Safira di antar pulang oleh sopir yang tadi membawanya ke-rumah sakit.
Hati Safira mencelos, kala melihat mobil yang Yohan tumpangi berbelok berlawanan arah dengan mobil yang Ia tumpangi. Ada perasaan sesak yang tak bisa di gambarkan, perasaan takut kehilangan dan ingin tetap berada disisinya melihatnya setiap detik, melihat aktifitasnya, senyumnya dan semua tentangnya.
Deg...! Safira mendongak, hatinya menyadari sesuatu. Dia mengatur napasnya dengan kasar, dia menoleh ke belakang mobil yang Yohan tumpangi sudah tak nampak lagi.
"Pak bisa kita putar balik?" pinta Safira tiba-tiba membuat dahi sang sopir berkerut.
"Apa kita akan kembali ke vila, Nyonya?" tanyanya memastikan.
"Bukan, kita akan mengejar Yohan ke bandara!"
Sopir itu mengangguk patuh, dia langsung memutar balik kemudinya dan melaju secepat mungkin, "Yohan ku mohon jangan pergi dulu, ada yang ingin aku katakan." Safira menggenggam ponselnya, dia mencoba menghubungi Yohan namun suara dari operator-lah yang terdengar. Dia juga berusaha menghubungi Ken, namun pria itu tak kunjung menjawab.
"Pak tolong lebih cepat!" Safira mulai gelisah.
"Maaf Nyonya, ini sudah dalam kecepatan maksimal, jika lebih dari ini saya takut terjadi sesuatu pada anda," tolaknya secara halus.
"Maaf Nona, anda tidak boleh masuk jika anda tidak membawa kartu identitas." Ucap sang penjaga dengan tegas.
"Pak, saya mohon saya harus menemui suami saya ini penting!" Safira memohon seraya mengatupkan kedua tangannya di hadapan sang penjaga.
"Maaf Nona ini sudah peraturan, jika anda tidak membawa kartu identitas anda tidak di perkenankan masuk!" Dia menghalangi pergerakan Safira, tang mengijinkannya lewat.
Safira menunduk seraya mundur dengan perasaan hampa, seolah dia tak akan pernah bertemu Yohan kembali, kini dia harus bersabar dan menyimpan kata-kata yang ingin Ia ucapkan nanti saat Yohan telah kembali.
Hari-hari berlalu penuh dengan kehampaan, dia juga ragu walau hanya sekedar untuk menanyakan kabar sekali pun. Safira sarapan seorang diri, matanya tak henti-hentinya menatap kursi kosong yang sering Yohan duduki. Ternyata memang benar, setelah tiada baru terasa bahwa orang tersebut amat berarti di hati kita.
"Nyonya, apa makanannya tidak enak, biar saya ganti dengan yang lain." Tanya seorang pelayan yang sedari tadi memperhatikannya.
"Tidak, ini enak. Aku hanya sedang tidak napsu makan saja, nanti saja aku makannya." Safira berlalu, sembari menyampir-kan tas di pundaknya.
Dia pulang pergi di antar sopir, di kantor dia dapat mengalihkan pikirannya dari Yohan, sedang di rumah dia kembali teringat akan dirinya, yang bahkan kini tak ada kabar.
'Yohan, apa kau sudah lupa bahwa ada seorang wanita yang berstatus sebagai Istrimu tinggal di rumahmu? Kau bahkan tak memberiku kabar.' Safira melempar tatapan sedih pada kaca jendela yang berembun akibat udara dingin yang terbawa hujan.