Between Hate and Love

Between Hate and Love
Debat Dengan Vallen



"Sekarang kita mau cari kemana dulu nih?" tanya Vallen sembari menyetir mobil Kevin, sementara mobilnya dibiarkan terparkir di depan rumah kontrakan Almira yang telah kosong.


"Aku gak tahu Len. Lagian kita udah telat nyari Almiranya, mungkin dia juga udah jauh," balas Kevin tak bersemangat dan sudah putus asa.


"Lo jangan putus asa begitu dong Vin."


"Ya aku gak tahu harus cari Almira kemana Vallen. Gimana gak putus asa coba, sekalipun kita berusaha keras buat cari Almira, kalau kita gak punya info mulai darimana dan akan kemana kita cari Almiranya, percuma aja kan?!"


"Gak ada yang percuma Vin, siapa tahu Almira belum jauh," hibur Vallen meyakinkan Kevin agar sedikit optimis. Walau kemungkinannya kecil, Vallen tetap percaya kalau Almira tetap akan bisa ditemukan.


Kevin menghela nafasnya dengan lesu, "Entahlah ... aku udah hopeless duluan."


"Heleh ... lembek amat lo Vin, kaya agar-agar aja!. Belum juga dicari, tapi udah nyerah duluan. Dimana Kevin yang gue kenal dulu, yang selalu optimis bahkan cenderung ngeyel. Tapi mending lo ngeyel, daripada lo pesimisan kaya gini, lembek tahu gak!"


"Ya terus kita harus gimana? Apalagi aku sama sekali gak punya kontaknya buat ngehubungin Almira atau melacaknya menggunakan find my phone."


Vallen menjengit kaget, reaksi kagetnya itu bahkan terlampau berlebihan. "Eeeeehhh! Jadi selama ini berarti lo gak pernah telponan atau apa gitu sama si Almira?"


Kevin menggeleng pelan sebagai responnya. Ia cukup malas membalas pertanyaan Vallen dengan rangkaian kata-kata.


"Parah banget lo Vin, masa lo gak punya kontak cewek yang lo taksir," Vallen benar-benar tidak percaya dengan apa yang diutarakan Kevin barusan. "Terus kalau lo kangen sama dia, gimana tuh?"


"Ya ... aku akan langsung datang ke butik Mamaku buat nemuin dia."


"Iya, kalau lo kangennya pas siang, terus kalau kangennya pas malem, gimana tuh buat meredamnya?"


"Biasanya sih aku mandang bulan, terus aku curhat sama bulan. Setelah itu, aku akan merasa lega dan rasa kangen aku ke Almira berkurang kalau sudah bicara sama bulan," polos Kevin.


Mulut Vallen menganga lebar-lebar sejurus dengan itu, matanya juga ikut terbuka lebar, bahkan bisa dikatakan hampir copot dari rongganya. "Ck! Kadang-kadang kebiasaan lo itu gak masuk akal Vin. Hari gini ngomong sama bulan, lo pikir bulan bisa nyampein curhatan lo sama cewek yang lo taksir?! Ada-ada aja sih lo, Vin."


"Ish ... terserah akulah, toh menurut aku cara itu efektif kok buat meredam rasa kangen ke Almira kalau pas malam-malam rasa itu mampir."


"Ck! Bener-bener ajaib sekaligus ngawur lo, Vin," ujar Vallen diselingi tawa yang tertahan di sudut bibirnya.


"Diamlah! sekarang kita kembali ke topik awal. Kira-kira kita mau mulai pencarian dari titik mana?"


"Lah ... kok lo malah nanya ke gue sih? Pan lo yang tahu Almira sering pergi kemana dan sama siapa biasanya kalau pergi sehari-hari. Kaya semacam tempat nongkrongnya gitu, lo tahu kan?"


Kevin diam sejenak, detik berikutnya dia kembali menggelengkan kepalanya dengan ragu, membuat Vallen kembali terkejut.


"Ja-jadi lo sama sekali gak tahu tempat nongkrong Almira?"


"Nggak ... aku cuma tahu kontrakannya aja, lagi pula dia biasanya akan langsung pulang ke kontrakannya sehabis dari butik, atau ngajar les privat gitu dari rumah ke rumah."


"Nah, berarti kita cari ke rumah tempat dia biasa ngajar les."


"Tapi aku juga gak tahu di mana rumah orang yang ngambil jasa les Almira," tandas Kevin polos.


"APA?! Sebenarnya lo tahunya apa sih? Dari tadi perasaan lo bilang gak tahu, gak tahu dan gak tahu mulu. Lo naksir dia apa nggak sih?" geram Vallen.


"Kok kamu malah jadi sewot sih? Orang aku gak tahu, mau di gimanain dong."


Vallen tersenyum miris, dia baru tahu kalau selain plin-plan dan ceroboh, sahabatnya sekaligus anak bossnya yang bernama Kevin itu juga masuk kategori pemuda kolot dan kuno. Pasalnya, tipe pedekate Kevin ke Almira benar-benar jaman dulu banget, yang hanya mengandalkan saling tatapan-tatapan, ngobrol biasa, dan saling lempar senyum malu-malu kucing.


"Ck! Pantas aja hubungan lo stagnan banget, alias gitu-gitu aja. Ternyata lo tipe cowok yang lambat dalam membuat si cewek yang lo taksir luluh dan takluk."


"Kenapa kamu malah jadi bahas ini sih, Len?" Kenapa kita gak fokus ke pencarian Almira aja sih? Bikin aku keki aja!" tukas Kevin tak suka.


Kevin membuang mukanya ke arah lain, ia kesal bukan main saat Vallen terus-terusan meledek dan mempermasalahkan cara pendekatannya ke Almira. Vallen belum tahu, kalau cara itu adalah cara-cara romantis yang Kevin petik dari adegan di dalam drama serial India yang ia tonton di kala senggang.


Melihat reaksi Kevin yang tiba-tiba membuang muka dan tak mau membuka suara lagi, tiba-tiba Vallen membelokkan setir mobilnya ke jalan lain.


"Loh kok kita malah belok sih? Memang kita mau kemana?" heran Kevin.


"Butik nyokap lo."


"Kenapa kita ke butik? Kita kan lagi cari Almira, Len ... bukan mau ketemu sama Mama aku," tandas Kevin tak mengerti.


"Ya maka dari itu, kita harus ke butik."


"Memang gak mungkin si Almira ke sana," timpal Vallen sepatah dua patah kata, membuat Kevin mengerutkan keningnya membentuk tiga lipatan.


"Terus ngapain kamu malah mau ke sana?" jengah Kevin.


Vallen menemukan satu fakta lain tentang sahabatnya yang kini tengah terduduk di sampingnya itu, yaitu Kevin adalah tipe pemuda yang lemot dan terlalu banyak bertanya.


"Gini ya ... Tuan Kevin Andara Fernaldy yang ganteng tapi lemot ... tadi kan lo bilang gak punya kontaknya si Almira dan lo juga bilang kalau lo gak tahu tempat-tempat yang sering dikunjungi si Almira, maka dari itu kita harus ke butik nyokap lo buat lihat CV Almira."


"CV? Kenapa harus lihat CV Almira? Memangnya buat apa sih?" polos Kevin.


Vallen jengah. Dia mengusap wajahnya dengan gusar saat Kevin menunjukan sisi lemotnya yang entah berasal dari mana. Mengingat, Kevin berasal dari keturunan yang super cerdas, jadi agak mengherankan untuk Vallen melihat sikap yang ditunjukan Kevin sekarang yang lola, alias loading lama.


Kemudian, Vallen menghembuskan nafas beratnya secara perlahan. Berhadapan dengan Kevin, seperti sedang berhadapan dengan bocah kelas tiga SD yang masih membutuhkan penjelasan berulang-ulang dan harus mendetail.


"Vin, dari CV Almira kan nanti kita bisa dapat banyak info tentang Almira, semisal nomor telponnya, alamat kampusnya, dan info-info penting lainnya."


"Oooo ... iya ya ... bener juga kata kamu. Hehe ...," ujar Kevin diselingi kekehan kecil di akhir kalimatnya, membuat Vallen lagi-lagi jengah.


"Oooo ... iya ya ... bener juga kata kamu," jengkel Vallen meniru kalimat Kevin dengan nada mengejek.


Setelah berbincang-bincang ngalor ngidul yang menghabiskan banyak tenaga dan emosi, Vallen pun langsung menancap gas dan menaikan kecepatan mobil yang dia kemudikan. Lantas, mobil itu langsung melesat membelah jalanan Ibu Kota Jakarta yang tak pernah nampak sepi dirayapi banyak kendaraan.


—o0o—


Sesampainya di butik Mamanya, Kevin dan Vallen pun langsung buru-buru masuk ke butik tersebut dengan sedikit berlari-lari kecil. Beruntung, jam kerja belum berakhir, masih ada sekitar tiga puluh menit lagi waktu yang tersisa.


Namun, saat mereka mencapai ambang pintu masuk, mereka berdua dihadang seseorang yang sudah sangat familiar dengan kehebohannya. Siapa lagi kalau bukan Tania. Si manusia heboh dan super kepo yang mirip-mirip admin Dispatch Korea.


"Waah ... ada Pak Kevin!" seru Tania super heboh. "Udah lama bapak nggak mampir kesini semenjak Almira resign. Ngomong-ngomong bapak mau ngapain kesini? Almira nya kan udah gak kerja lagi di sini Pak, hayooo ... bapak lupa ya??? imbuh Tania, masih dengan kehebohannya.


"Memang saya gak boleh kesini kalau Almira gak ada?"


"Yak bukan gitu Pak, tapi—"


"Sudahlah. Kamu bukannya kerja yang bener, malah sibuk ngeganggu saya terus. Bikin keki aja!"


Dengan segera, Kevin memotong kalimat Tania yang belum kelar. Ia sedang tidak ingin diajak berbasa-basi atau bercanda dengan Tania. Keadaan sekarang terlalu genting untuk melakukan dua hal tersebut.


"Idih ... kok bapak jadi sensian gitu sih? Saya kan cuma—"


"Stop Tania! Jangan ganggu saya terus! Lebih baik kamu balik ke ruangan kamu," potong Kevin lagi dengan nada memerintah.


"Tapi Pak—"


"Tania ...," Kevin memelototkan matanya ke hadapan Tania yang masih enggan pergi dari sana. "Balik ke tempat kamu atau saya bilang ke Mama saya untuk pecat kamu?!" ancam Kevin.


Mau tak mau, rela tak rela, Tania pun menurut dan langsung bergegas ke ruangan kerjanya. Terlalu beresiko, kalau Tania masih ngeyel dan kepo ada angin apakah Kevin datang ke butik Mamanya? Tania sebenarnya masih penasaran ingin mencari tahu. Tapi apa dayanya, kalau anak bossnya itu sudah memerintah dengan nada super ngegas seperti itu, membuat Tania sedikit kalap juga. Sepertinya Kevin serius dengan ancamannya tadi.


Sepeninggal Tania, Vallen yang sedari tadi menyimak percakapan Kevin dan Tania, akhirnya mau membuka suara.


"Dia siapa sih, Vin?"


"Tania, Kepala Staf Divisi Keuangan."


"Jadi dia Tania yang sempet lo tawarin buat dicomblangin ke gue itu?"


Kevin mengangguk dengan cepat. "Kamu setuju kan?"


"Ogah banget gue punya pasangan kaya dia. Cerewet dan keponya naudzubillah. Hiiyyy ... gak mau gue," tolak Vallen diiringi bergidik ngeri.


Melihat ekspresi Vallen yang bergidik ngeri, terbesit di otak Kevin untuk menjahili rekannya itu. "Gausah jaim kamu Len, sekarang kamu bilang gak suka ntar tau-tau kamu jodoh sama dia gimana? Haha," goda Kevin sembari mendorong bahu kanan Vallen dengan pelan.


"Idih! Amit-amit ... amit-amit, jangan sampe gue berjodoh sama dia ya Tuhan...," melas Vallen seraya mengetuk-ngetuk kepalanya seolah sedang mengeluarkan nasib buruk dari seluruh anggota badannya.


Jangan tanya keadaan Kevin sekarang! Dia amat sangat puas melihat Vallen bertingkah kocak ketakutan begitu. Padahal raut wajah Kevin sebelumnya terlukis jelas kalau dia sedang kusut dan semrawut, tapi ketika Vallen ketakutan seperti itu membuat Kevin jadi sedikit terhibur dengan ekspresi lucu dan konyol yang ditampilkan Vallen kali ini. Sebegitu takutkah Vallen dicomblangin dengan Tania? Atau mungkin Vallen hanya sedang berpura-pura saja merasa ngeri sama Tania, padahal aslinya dia cocok.


Bersambung.