Between Hate and Love

Between Hate and Love
Pertemuan Dengan Dosen



Setelah lima belas menit Kevin pusing memilih-milih minuman dan camilan mana yang Almira suka, akhirnya Kevin memutuskan membeli satu persatu varian minuman yang tersedia di lemari pendingin. Ia tidak tahu mana yang Almira sukai, saat ditanya pun Almira menolak memberi tahu. Daripada Kevin kebingungan sendiri, alhasil Kevin membeli semua saja agar Almira bisa memilih kesukaannya nanti. Kalau untuk urusan uang, tak masalah bagi Kevin harus merogoh kocek yang cukup besar. Toh, membeli minuman sekaligus mini market saja, Kevin mampu. Maklum, orang kaya bebas!!


"Mas, saya mau minuman yang ada di dalam pendingin itu diangkut semua ya!" titah Kevin pada salah satu pegawai mini market sembari menunjuk ke arah lemari pendingin.


"Hah? Maksudnya apa Mas?" kening si Mas penjaga mini market itu berkerut berlipat-lipat.


Kevin mendesah pelan saat ucapannya tak dimengerti oleh si Mas penjaga mini market. Padahal, Kevin adalah tipikal pria yang tak suka mengulang apa yang telah dicetuskannya. Namun, melihat si Mas penjaga mini market yang umurnya jauh lebih muda itu menampilkan ekspresi bingung, mau tak mau Kevin harus mengulangi perkataannya agar lebih cepat selesai.


"Saya mau semua minuman yang ada di dalam pendingin itu diangkut semua keluar."


"Eh? Maksud Masnya mau borong gitu?" ucap


si Mas penjaga mini market masih dengan raut kebingungan. Ia rupanya belum bisa percaya dengan apa yang didengarnya. Mungkin ia merasa Kevin sedang bercanda padanya. "Apa Mas sedang bercanda? Ah maksud saya..."


"Ya ampun Mas, kamu pikir saya tipe-tipe orang yang hobi bercanda?" potong Kevin. Ia memang bukan pemuda yang hobi bercanda dengan orang lain, dia hanya akan bisa bercanda atau usil kalau sedang bersama Almira. Kalau sama yang lain, dia akan cenderung serius. Bahkan beberapa orang mengatakan kalau dia tipe pria dingin seperti susah bergaul dengan orang, padahal nyatanya tidak. "Cepat angkut semua!" perintah Kevin jutek.


"Tapi ini serius gak Mas? Soalnya sekarang kan zamannya orang lagi seneng nge-prank jadi saya takutnya jadi korban prank juga," curhat si Mas penjaga mini market dengan wajah lugunya.


"Kan saya udah bilang, saya tidak hobi bercanda. Kalau Mas nya ngira ini adalah prank, berarti saya sedang bercanda dong, gimana sih Mas nya?!" sewot Kevin.


"Tapi ini beneran serius gak Mas?" ragu si Mas penjaga mini market. "Takutnya saya nanti udah capek-capek angkut sesuai perintah Masnya, tau-tau gak jadi," lanjut si Mas penjaga mini market, ia rupanya tak gentar untuk mengorek apakah Kevin tengah serius dengan ucapannya atau tidak.


Kevin mendesah pelan untuk kedua kalinya. Zaman sekarang memang sulit untuk membuat orang lain mudah percaya pada ucapannya. Apalagi sekarang maraknya acara-acara prank di televisi, membuat beberapa orang trauma atau bahkan waspada. Tak heran kalau si Mas penjaga mini market juga melakukan hal yang sama, tak mudah percaya dan juga waspada.


Ketika dikira cuma sedang melakukan prank, mau tak mau Kevin menggunakan jurus tajirnya agar si Mas penjaga mini market mau mempercayai semua ucapannya. Ia pun merogoh saku celananya, mengambil dompetnya yang terbuat dari kulit asli bernilai jutaan rupiah. Lantas, ia mengeluarkan beberapa kartu sebagai jaminan kalau dia sedang tidak bermain-main. Ia serius ingin membeli semua minuman yang tersedia di dalam lemari pendingin berukuran panjang kali lebar tersebut.


"Ini ada kartu ATM dan Kredit saya sebagai jaminan kalau saya serius!" pungkas Kevin sembari menyodorkan beberapa kartu penting pada si Mas penjaga mini market.


Si Mas penjaga mini market itu tercengang setengah mati. Antara masih tak percaya sekaligus heran. Ditatapnya wajah Kevin serta tangan Kevin yang menyodorkan kartu padanya secara bergantian.


"Kenapa? Apa Masnya masih belum yakin?" tanya Kevin mengklarifikasi.


"Ah anu, bukan begitu. Tapi, ini pertama kalinya ada yang mau membeli semua minuman yang ada di dalam pendingin tersebut. Terlebih, jumlahnya kan ratusan buah Mas. Kalau boleh tahu, memang minumannya mau diapakan? Apa Mas nya sedang buka toko?" duga si Mas Penjaga mini market.


"Hadehhh yakali buka toko belinya di mini market. Ya rugi dong saya. Minuman itu buat diminum bukan buat dijual lagi."


Penjaga mini market itu semakin tercengang mendengar penuturan Kevin kali ini. Ketara sekali wajahnya langsung terbelalak tak percaya. "Jadi Mas borong semua itu buat Mas minum sendiri sekarang juga? Daebak!! Keren tapi ini agak aneh!!" ucapnya polos.


"Lah terus buat apa dong?"


"Haishhhh bisa gak sih gak usah banyak nanya?" sembur Kevin.


Si Mas penjaga minimarket itu menyengir bodoh. "Maaf Mas, hehehe..."


"Cepat hitung semua biayanya, dan angkut semua minuman itu ke luar. Kalau perlu sekalian sama lemari pendinginnya! Saya tunggu di luar!" perintah Kevin maksa.


Setelah berdialog dengan Mas penjaga minimarket dan meninggalkan kartu debit serta kreditnya di meja kasir, Kevin pun kembali menemui Almira. Anggap saja itu jaminan kalau Kevin tak akan lari setelah nanti si Mas penjaga minimarket mengeluarkan semua minuman botol yang dibelinya.


Dan saat sepasang matanya menangkap sosok punggung laki-laki yang tengah berbincang dengan Almira, entah kenapa jantungnya bergemuruh kencang, wajahnya memerah jelas, serta darahnya berdesir hebat.


"Lelaki mana lagi yang mencoba mendekati Almira-ku?" Kevin mencoba mendekat. Ia tak sabar ingin menjotos lelaki yang ia kira tengah mendekati Almira kini. Namun, baru selangkah dia mengayunkan kakinya, tiba-tiba Kevin teringat sekelebat kejadian tempo lalu. Saat dia menjotos dosen Almira.


"Tidak! Tidak! Aku tidak boleh menggunakan otot apalagi sampai berbuat anarkis lagi di depan Almira. Kalau dia tahu aku selalu tak bisa mengontrol emosiku, Almira pasti akan semakin benci sama aku. Dia pasti akan semakin menjauhi aku. Dia pasti akan kabur dari aku. Lagipula taktik aku untuk lebih sabar, lebih ampuh menahan Almira untuk tak pergi. Yapp! Aku harus tetap stay cool dan relax!" ucap Kevin. Ia pun mengatur diafragmanya naik turun. Menstabilkan kembali emosinya yang acapkali meledak tak karuan dan tak terkontrol.


Setelah dirasa tenang, Kevin melangkahkan kakinya ke arah Namira dan lelaki yang duduk dengan serius itu. Kali ini langkahnya lebih kalem. Ia tidak mau menunjukkan kecemburuannya di depan Almira. Dia harus stay cool dan relax! Harus!!


"Wah, rupanya teman kamu sudah datang Al," cetus Kevin heboh. Lelaki yang sedari tadi membelakangi Kevin pun menoleh ke arah sumber suara. Dari ekspresinya, dapat disimpulkan kalau lelaki itu nampak terkejut dengan kehadiran Kevin. Pun dengan Kevin. Mereka saling menatap terbelalak kaget satu sama lain.


"Loh Almira, bukannya dia pria yang nyerang saya tempo lalu?" ucap pria yang sedari tadi ditunggu Almira, yang tak lain adalah dosen pembimbing skripsi Almira yang bernama Pak Hendrawan. Orang yang pernah Kevin jotos karena kesalahpahaman.


Glek!


Baik Kevin maupun Almira, keduanya terdengar meneguk salivanya bersamaan. Kevin ingat tentang kecerobohannya yang salah menjotos tanpa bertanya status lelaki itu apa untuk Almira. Sementara Almira baru ingat kalau Kevin pernah menyerang Pak Hendrawan waktu itu, dan kejadian itu mengakibatkan Pak Hendrawan enggan ditemui berminggu-minggu. Almira juga harus membujuk Pak Hendrawan mati-matian agar mau memaafkan kekacauan yang dibuat Kevin.


"Ngapain dia ada di sini?" imbuh Pak Hendrawan jengkel. Dia bangkit dari duduknya. Wajahnya sudah dipenuhi kilatan amarah yang siap menyembur kapan saja.


"Maaf Pak, saya bisa jelasin semua!" ucap Almira panik. Ia takut Pak Hendrawan tak mau lagi ditemui seperti sebelum-sebelumnya lantaran terlalu kesal jadi korban penyerangan brutal Kevin.


"Saya bisa jelaskan kekeliruan ini Pak!" Kevin ikut bicara.


Bersambung.