
Deru-deru mesin kendaraan bermotor telah menyala, embun masih memeluk erat di atas dedaunan hijau, matahari mulai menyingsing di ufuk timur ditemani semburat kejinggaan. Hari ini adalah hari sabtu, Almira tidak ada kelas di kampusnya. Namun ia sedikit ada urusan di sekitaran kampusnya, oleh karena itu dia akan ke sana nanti.
Disibaknya tirai yang menghalangi jendelanya. "Argggh masih pagi ternyata," gumam Almira saat bola matanya melihat keadaan di luar melalui kaca jendelanya.
Diregangkannya kedua tangan lentik nan mulus Almira, menghirup dengan seksama udara pagi yang menyegarkan. Lengkungan senyumnya terukir tak kala kesejukan itu dirasakan tubuhnya.
"Aku merasa pagi ini adalah pagi terindah yang pernah aku rasakan dalam hidupku," gumam Almira sembari memejamkan matanya. Ia tak menaruh curiga sama sekali ketika mengucapkan kata-kata tersebut. Padahal, pagi ini tidak ada yang spesial. Masih sama seperti pagi-pagi sebelumnya, namun Almira merasa nampak berbeda. Kepala serta tubuhnya serasa ringan tanpa beban. Almira sadar akan hal itu.
Cukup lama Almira berkutat dengan aktivitasnya yaitu menghirup udara pagi dengan aromanya yang khas. Almira tidak menyangka bahwa aroma terbaik di dunia ini adalah aroma embun di pagi hari. Ia berpikir, aroma embun di pagi hari selain menyehatkan tubuh bagi siapa saja yang berlama-lama menikmatinya, aroma tersebut juga bisa dijadikan sebagai sarana merelaksasikan tubuhnya.
"Benar-benar membuat relaks. Aku suka aroma pagi hari. Seluruh tubuhku juga menikmatinya," imbuh Almira masih dengan kesibukannya mengumpulkan udara pagi yang menyehatkan. Ia begitu asyik menikmati pagi ini hingga ia lupa sudah hampir setengah jam berlalu ia duduk di tepian jendela, sembari meregangkan tangan dan memejamkan matanya.
Tok ... Tok ... Tok.
Hingga pada akhirnya, suara ketukan pintu depan kontrakannya membuat aktivitas Almira terhenti. Almira secara otomatis menoleh, matanya tak berkedip antara bingung dan juga penasaran.
"Siapa yang datang pagi-pagi begini? Apa mungkin si Manusia Kerdus itu, ah maksudku Kevin? Apa dia berhasil menemukan kontrakan aku? Aishh ngadi-ngadi aja dia!" pikir Almira.
Tok ... Tok ... Tok
"Sebentar!" pekik Almira.
Tanpa mengucapkan salam untuk sekedar berbasa-basi, orang di luar sana kembali mengetuk pintu kontrakan Almira. Ia jadi semakin yakin kalau orang yang berkunjung di pagi hari ini adalah Kevin, si pengacau hidupnya.
Tok ... Tok ... Tok.
Almira beringsut dengan gerakan malas saat pintu lagi-lagi diketuk. Mulutnya mendumel lancar saat dirinya mengira orang yang datang adalah Kevin. "Mau apa lagi sih manusia kerdus ini, seneng banget ya gangguin aku? Dasar kurang kerjaan!"
Tok ... Tok ... Tok.
"Aku bilang sebentar! Apa kamu tuli hah?" pekik Almira sembari berusaha menjangkau pintu saat pintu kontrakannya lagi-lagi diketuk untuk kesekian kalinya. Membuat Almira naik pitam saja.
Almira menarik handle pintunya dalam satu kali tarikan. Dan ketika pintu itu menganga lebar, betapa terkejutnya Almira mendapati seorang gadis cantik yang memiliki wajah serupa dengannya.
"Kamu ..." suara Almira memelan secara perlahan saat melihat Namira berdiri di hadapannya. "Ke-kenapa ka-kamu ada di sini?" lanjut Almira, tergugup.
"Kenapa kamu begitu terkejut melihatku?" Namira balik bertanya. Nada bicaranya terdengar sinis dan dingin. Tidak seperti Namira yang biasanya.
"Dari mana kamu tahu tempat tinggalku? Apa si bodoh itu memberitahu kamu?" Almira kembali bertanya. Ia cukup terkejut mendapati Namira di hadapannya. Terlebih, Namira datang lumayan masih pagi.
"Si bodoh? Maksud kamu Kevin?"
"Ya siapa lagi kalau bukan dia," sergah Almira.
Namira berdecak pelan. "Ck! Kenapa kamu memanggilnya si bodoh?"
"Begitukah?" ucap Namira meremehkan. Gadis itu menyelonong masuk ke dalam kontrakan Almira, pandangannya menyapu seluruh ruangan. "Jadi selama ini kamu bertahan di tempat kumuh seperti ini? Tak kusangka!! Ternyata tubuh kamu kuat juga ya bisa bertahan di tempat ini. Tidak ada pendingin ruangan, sofa, televisi dan barang-barang eletronik lainnya."
"Apa maksud kamu mengatakan ini kumuh? Tempat ini jauh lebih baik dari rumah meskipun tidak dilengkapi fasilitas mumpuni," cetus Almira tak terima. Sungguh ia tidak suka dengan kalimat Namira yang seolah menghina tempat tinggal Almira sekarang. Toh, tidak ada yang salah dengan tempat tinggalnya, lagipula Almira cukup bangga karena kontrakan itu ia bayar hasil keringatnya.
"Kalau aku jadi kamu, aku tidak akan tahan tinggal di sini sehari saja. Kulitku akan merah - merah terkena debu," kata Namira sembari mencolek dinding yang dirasa berdebu.
"Tentu saja kamu tidak akan tahan, secara ... kamu kan anak manja yang tidak tahan dengan hidup sederhana," sindir Almira sekenanya. Ia merasa tidak perlu lagi berjaim ria pada kakak sekaligus kembarannya itu.
"Jaga ucapan kamu, Al!" sentak Namira tak terima.
Alih-alih merasa terancam atau paling tidak sedikit tersentak, Almira malah dengan santai menanggapi kalimat Namira.
"Untuk apa aku menjaga ucapanku sementara kamu juga tidak bisa menjaga mulutmu? Sebenarnya apa sih mau kamu, hah? Kalau kamu datang ke sini hanya untuk menilai dan menghina rumah kontrakan ini, lebih baik kamu pulang saja. Kamu membuang-buang waktuku saja!" cecar Almira.
Namira memalingkan wajahnya sejenak, menyungging sinis pada Almira yang mulai berani padanya. "Sebenarnya aku datang ke sini bukan untuk membuat kamu marah. Justru aku datang ke sini untuk memberi tahu kabar bahagia padamu."
"Kabar bahagia? Maksud kamu?"
"Ya, kabar bahagia kalau aku dan Kevin akan menikah bulan depan," pungkas Namira berdusta. Ia sengaja ingin memanas-manasi adiknya itu.
"Apa kamu bercanda? Kalian bahkan tidak jadi tunangan. Bagaimana kalian akan menikah?"
"Apa Kevin memberitahu kamu begitu?" Almira mengangguk yakin. Ia memang marah pada Kevin, tapi setelah banyak berpikir. Almira merasa Kevin bersungguh-sungguh dengan perkataannya. Entah darimana keyakinan itu, tapi yang jelas Almira percaya. Ia hanya butuh waktu untuk membuktikannya secara langsung bahwa lelaki itu memang sedang tidak berbohong padanya.
"Kevin mengatakan semuanya padaku. Aku sudah tahu jadi please deh kamu gak usah ngarang cerita kalau kamu mau menikah," balas Almira, malas.
Namira terkekeh pelan. Kemudian menimpali Almira dengan satu kalimat yang ia rasa akan membuat Almira terpengaruh. "Apa kamu percaya akan hal itu? Kalau ya, sungguh kamu adalah gadis terpolos di dunia ini yang gampang sekali dirayu."
"Apa maksud kamu?" Almira mengernyit tak mengerti saat Namira mengungkap informasi yang menurut Almira berbelit-belit.
"Kevin bilang seperti itu karena dia sedang marah padaku. Dia cukup kasihan padamu. Mengingat kondisi kamu yang memprihatinkan seperti ini. Apa kamu berpikir Kevin mencintai kamu? Jawabannya tentu tidak!! Dia hanya mencintai aku. Ya mungkin kemarin-kemarin dia sempat khilaf padamu karena kita memiliki wajah serupa. Tapi jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam dia hanya mencintai aku. Kamu harusnya paham posisimu, Almira."
Almira terdiam mencerna setiap rentetan informasi yang disampaikan Namira. Sedikit banyak, Almira mulai terpengaruh.
"Apa kamu tahu, Kevin selalu mengajakku ke tempat-tempat favoritnya. Dia mengajakku makan malam di tempat romantis. Dia juga pernah memposting kedekatan kami. Sementara denganmu? Apakah kamu mendapatkan semua itu darinya? Aku rasa tidak. Itu membuktikan kalau dia memang serius dengan aku, sementara denganmu? Apa kamu tidak merasa kalau Kevin hanya mempermainkan kamu? Dia tidak sungguh-sungguh denganmu, Al. Karena pada dasarnya cintanya cuma satu, yaitu aku!" Namira menambahkan dengan tegas.
Sementara Almira masih tak bergeming di tempatnya. Otaknya berputar mengingat hal-hal yang berhubungan dengan informasi yang dilontarkan Namira. Satu fakta yang ia temukan, yaitu Kevin memang tidak memperlakukannya secara spesial. Kevin hanya ada di dekatnya saat Kevin merasa kesepian.
"Kamu benar, Nami... semua yang kamu katakan itu benar," lirih Almira. Matanya sudah mulai panas seperti ada cairan yang sudah siap meleleh.
"Jadi aku mohon, berhentilah menjadi orang ketiga diantara hubunganku dengan Kevin," titah Namira.
Bersambung.