
Setelah sedikit berdebat perkara gandengan tangan, rupanya Vallen benar-benar tidak peduli sama sekali dengan semua isu-isu kalau dirinya dan Kevin memiliki hubungan dalam tanda petik. Ia tidak peduli para karyawan yang tadi bergosip ria membicarakan kejanggalannya. Ia benar-benar mengindahkan semua bisikan-bisikan yang mirip bisikan gaib itu. Mengabaikan semua itu bukan berarti Vallen merasa setuju, tapi dia justru tidak merasa sama sekali kalau dia berkelainan. Jadi untuk apa dia menanggapi semua ocehan negatif itu? Toh yang tahu sifat aslinya adalah dirinya sendiri dan Tuhan. Orang lain cuma sok tahu.
Berbanding terbalik dengan Kevin yang risih luar biasa saat diisukan menyeleweng. Seumur-umur dia tidak pernah dapat gosip seperti itu. Jadi ketika tadi ada yang mulai bergosip ria, Kevin jadi terpancing memaki mereka. Menggunakan kekuasaannya demi menyelamatkan diri dari bisikan - bisikan gaib yang membuat kupingnya panas.
Makanya, saat Vallen tetap memegang tangannya, Kevin mati-matian berontak. Ia juga tak segan-segan melayangkan protes pada Vallen. Namun bagaimana tanggapan Vallen? Sekali lagi, Vallen tidak peduli semua rumor murahan itu. Malahan, Vallen beneran menggandeng tangan Kevin sampai pada ruangan kerjanya.
"Aishhh Vallen kenapa harus nganter aku sampai ruangan aku sih? Aku kan bisa jalan sendiri," ucapnya sembari cemberut sebal.
"Kan gue mau mastiin lo beneran gak kabur," sergah Vallen tanpa dosa.
"Ya tapi gak pakai digenggam kaya tadi juga kali. Itu memalukan tahu!"
Melihat ekspresi Kevin yang risih, justru malah menimbulkan pertanyaan di benak Vallen. Dia jadi berpikir kalau otak Kevin pasti sedang tidak beres. Makanya sampai segelisah itu hanya perkara gandengan tangan sesama cowok.
Ditelisiknya Kevin lekat-lekat, membuat Kevin reflek menjauhkan wajahnya dari tatapan super aneh dari Vallen. Sementara Vallen malah semakin sengaja mencondongkan kepalanya ke depan agar dapat menelisik Kevin lebih dalam.
"Mau apa kamu?" curiga Kevin. Tak dapat Vallen pungkiri kalau temannya itu pasti sedang berpikir yang tidak-tidak. "Jangan bilang kalau yang dikatakan oleh beberapa karyawan tadi adalah benar."
Kontan saja Vallen memposisikan kepalanya kembali ke semula.
"Idiiiih amit-amit," katanya sambil mengetuk kepalanya dan meja secara bergantian. Mengusir semua dugaan - dugaan Kevin yang konyol. "Kegeeran lo. Siapa juga yang suka sesama jeruk. Lo pikir gue gak normal apa?" decak Vallen.
"Lah terus kamu tadi ngapain merhatiin wajah aku sedekat itu? Menelisik mataku sampai segitunya kalau kamu tidak mau macam-macam sama aku?"
Ctak!
Dengan gerakan cepat, Vallen melepaskan satu jentikan tepat mengenai kening Kevin cukup keras. Jelas saja Kevin langsung meringis kesakitan akibat aksi temannya itu.
"Aduuuh Len, sakit tahu! Kenapa malah jitak jidat aku sih?" protesnya sembari mengelus keningnya yang terasa perih bekas jentikan Vallen barusan.
"Anggap aja itu reward dari gue karena udah nuduh gue macem-macem. Pakai segala mikir gue ada perasaan sama lo pagi. Anjay banget lo! Itu kan gak lazim! Lagian nih kalau gue mau jadi kaum belok, gue gak akan tertarik sama lo yang plin-plan," tandas Vallen ngalor ngidul. Membuat Kevin mengerutkan bibirnya secara sebal.
"Dasar temen gak ada akhlak. Sono kamu pergi deh, ngapain masih di sini sih?"
"Jadi lo ngusir gue?" timpal Vallen sengit.
"Ya!" tegas Kevin, tak kalah sengit.
"Nah berarti yang gak ada akhlak ya lo. Main usir-usir orang sembarangannya aja," pungkas Vallen enteng.
Kevin mengacak rambutnya secara kasar. Lagi-lagi dia selalu jadi pihak salah. Dan bodohnya, dia selalu tak berkutik kalau yang jadi lawan debatnya adalah Vallen. Sampai habis kata-kata pun Kevin memang tak akan menang melawan Vallen yang selalu banyak cara untuk menepis. Mungkin Tuhan tidak hanya menakdirkan Kevin jadi orang payah dalam hal percintaan, tapi Dia juga menakdirkan Kevin jadi orang yang tak bisa menepis ucapan Vallen. Menyedihkan sekali Kevin.
Kevin melenguh panjang. Percuma saja dia berdebat dengan Vallen kalau ujung-ujungnya kalah juga. Daripada koar-koar berdebat tanpa adanya kemenangan, lebih baik Kevin mengalah lebih awal daripada urusannya makin panjang. Tidak ada pilihan lain. Ia pasrah, sepasrah-pasrahnya.
"Yaudah gue yang gak ada akhlak. Lo akhlaknya banyak!" Kevin jengah. Saking jengahnya, dia merubah kata 'aku kamu' menjadi 'gue lo' yang bukan sama sekali ciri khasnya.
"Nah gitu dong, itu baru bener," celetuk Vallen merasa menang.
"Yaudah sekarang kamu keluar dari ruangan aku gih!" usir Kevin secara halus.
"Etdaaah Len, bukan gitu. Kan tadi kamu nyuruh aku buat nyelesein pekerjaan yang gak jadi aku limpahkan ke kamu. Nah, sekarang aku mau ngerjain sampe selesai."
Vallen hanya membulatkan mulutnya sambil mangut-mangut mengerti.
"Cepet keluar sebelum aku murka nih!" sentak Kevin. Jika ada kata yang melebihi kata jengah, maka Kevin akan menggunakannya sekarang juga. Berhadapan dengan Vallen memang membutuhkan kesabaran yang amat sangat tinggi.
"Iya iya gue keluar," ucap Vallen seraya berangsur mundur.
Saat sebilah tangan Vallen berhasil memegang handle pintu, dan bermaksud untuk menariknya. Tiba-tiba tindakan lebih dulu diserobot oleh orang dari luar ruangan yang lebih dulu mendorong pintu. Membuat Vallen sedikit terhenyak dengan kehadiran orang tersebut. Ia pun menundukan kepalanya sambil memberi salam hormat pada orang tersebut.
"Hallo Pak," ucap Vallen canggung. Orang itu membalas sapaan Vallen dengan sebuah anggukan tanpa membuka mulut.
Orang yang disapa Vallen tersebut adalah pak Gunawan, ayahnya Kevin alias bos besar pemilik perusahaan The Gunawan Group. Kehadiran Pak Gunawan di ruangan Kevin tak hanya membuat Vallen saja yang merasa heran, tapi juga Kevin.
"Hallo Pa, ada apa Papa ke ruangan Kevin?" tanya Kevin berbasa-basi. Berusaha mencairkan suasana yang terasa dingin ketika ada Pak Gunawan masuk.
Alih-alih menjawab pertanyaan Kevin, Pak Gunawan justru malah melayangkan pertanyaan balik.
"Darimana saja kamu?"
"Abis nemuin temen, Pa," jawab Kevin seadanya.
"Papa tegesin sama kamu, jangan sering-sering keluar di jam kerja. Meskipun kamu anak Papa, tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya keluar masuk perusahaan, apalagi keluar bukan untuk urusan perusahaan. Terlebih melimpahkan pekerjaan ke Vallen. Sangat terdengar tidak professional," Pak Gunawan memperingatkan.
"Maaf Pa, Kevin tidak akan mengulanginya lagi."
Kevin tertunduk takut. Dia tahu tindakannya tersebut salah. Dia tidak seharusnya melakukan hal itu. Dia pantas ditegur Papanya. Dia menyesal karena bersikap sesukanya, ia juga berjanji tidak akan mengulanginya entah janjinya itu akan bisa ia tepati atau justru dilanggar lagi, yang jelas Kevin memang sangat menyesal.
Pak Gunawan mengambil napasnya banyak-banyak, membuangnya secara perlahan. Terdengar begitu berat. Mungkin Pak Gunawan agak kecewa dengan kelakuan Kevin akhir-akhir ini. Yang beliau ingat, Kevin tidak pernah seperti itu sebelum-sebelumnya. Ia jamin anaknya itu sangat loyal dan pekerja keras. Namun sekarang, entah apa yang merasuki anaknya tersebut. Perusahaan seolah jadi nomor dua setelah urusan-urusan tidak jelasnya.
Masih dengan wajah yang tertunduk menyesal, Kevin pun masih bungkam tak mau berkomentar lagi. Ia membiarkan Papanya jika memang masih mau memarahinya kali ini. Ia memang pantas dihukum kok.
Alih-alih marah, Pak Gunawan malah mengajak Kevin ke luar ruangan. "Sekarang ikut Papa!"
"Mau kemana Pa?" Kevin bingung dibuatnya.
"Ikut saja dulu," ucap Pak Gunawan sembari membalikan badannya ke hadapan ambang pintu. "Kamu juga ikut, Len!"
"Baik Pa," ucap Kevin.
"Baik Pak," Vallen menimpali.
Mereka pun berjalan beriringan. Pak Gunawan yang berjalan lebih dulu, sementara Kevin dan Vallen berjalan berdampingan dengan saling sikut menyikut tanpa sepengetahuan Pak Gunawan. Mungkin dibenak mereka berdua bertanya-tanya kenapa Pak Gunawan mengajak mereka keluar. Benar-benar mencurigakan!
Bersambung.