Between Hate and Love

Between Hate and Love
Kalau Tidak Percaya Ya Sudah



"Tidak mungkin! Aku tidak percaya kamu telah memiliki pacar. Selama ini kamu hanya seorang diri, aku tidak pernah melihatmu berduaan atau jalan sama laki-laki. Lantas bagaimana kamu sudah memiliki pacar?" cerocos Kevin. Matanya dipenuhi air mata yang tergenang di kelopak matanya, semakin menegaskan ada sakit yang tertahan di sana dan menjalar sampai ke ulu hati.


"Apakah saat aku jatuh cinta dan menjalin hubungan dengan seorang pria harus aku ekspos agar kamu tahu? Tentu saja tidak!" Almira menjawab dengan sinis. Matanya berkilat menandakan kalau dia tidak suka hidupnya dicampuri Kevin.


Kevin menggeleng pelan. Sulit baginya untuk percaya dengan semua pernyataan Almira. Gadis itu pasti tengah berbohong. Kevin dapat menangkap kebohongan itu lewat matanya meskipun mulut gadis itu berulang kali menegaskan kalau dia telah memiliki orang spesial dalam hidupnya, dan itu bukan Kevin.


"Tidak mungkin. Aku tetap tidak percaya. Kamu bohong! Aku bisa menangkap lewat matamu kalau kamu memang berbohong."


"Kalau tidak percaya ya sudah. Itu urusan kamu. Aku juga tidak memaksa agar kamu mau percaya," ucap Almira sembari memalingkan wajahnya ke sisi lain. Tidak berani menatap Kevin karena mata lelaki itu begitu tajam dan mengintrogasi.


Kevin tersenyum miris, secuil pun hatinya tidak bisa menerima untuk percaya pernyataan Almira. Oleh karenanya, Kevin menantang Almira.


"Baik kalau memang kamu tetap keukeuh tidak mau berkata jujur padaku, sekarang tunjukan pacarmu padaku."


Mendengar hal itu, Almira kelabakan bukan kepalang. Ia tertegun seketika.


'Bagaimana ini? Kevin tidak mau percaya begitu saja semua ucapanku. Aku harus berbohong seperti apa lagi untuk bisa meyakinkannya dan terlebih membuktikan padanya kalau aku sudah punya pacar beneran? Arggh kenapa jadi seperti ini sih? Aku bahkan tidak punya foto seorang teman cowok yang bisa aku jadikan alasan,' batin Almira.


"Kenapa kamu diam?" Kevin bertanya lagi. Matanya menyorot begitu tajam dan menyelidik. "Apa sekarang kamu bingung mau membuktikannya?" imbuhnya semakin menantang.


Almira benar-benar membeku di tempatnya. Dia bingung harus berkilah apa agar Kevin menjauh darinya dan fokus pada Namira. Kepala Almira sudah pusing diganggu terus Kevin.


"Aku sudah yakin kalau kamu pasti memang berbohong," lanjut Kevin. Ia semakin merasa menang karena Almira tak kunjung bisa menjawab.


Gadis berpikir dengan keras, Ia benar-benar sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Tapi bukan Almira namanya kalau kalah begitu saja. Dia tidak mau menjadi Almira yang dulu, yang selalu tersudut saat sedang tertekan. Ia tidak mau seperti dulu.


Almira menampilkan evil smirknya, "Untuk apa aku berbohong padamu? Lagipula pacarku adalah privasi aku. Jadi kamu tidak berhak tahu."


"Alasan kamu semakin meyakinkan aku kalau kamu benar-benar berbohong. Jelas-jelas aku berhak tahu, karena dengan kamu bisa menunjukan pacarmu ke hadapanku atau paling tidak menunjukan foto kebersamaan kamu dengan pria yang kamu anggap pacar itu padaku, aku jadi merasa yakin kalau kamu memang punya pacar. Sekarang? Bagaimana aku bisa yakin dan percaya semua statement kamu kalau kamu sendiri tidak bisa membuktikannya padaku? Jelaskan gimana aku bisa percaya?" tuntut Kevin.


Kedua alis Almira bertaut, napasnya megap-megap serasa tertahan. Ada benarnya juga apa yang diucapkan Kevin, siapapun tidak akan percaya dengan alasan klise yang Almira lontarkan. Semua orang tidak akan ada yang percaya kalau dirinya sudah memiliki kekasih kalau belum bisa menunjukkan secara langsung atau via foto mungkin.


Tangan Kevin membingkai pipi Almira dengan lembut. Mengelusnya secara perlahan sebelum akhirnya berkata.


"Aku sayang sama kamu Al, bisakah kamu juga menerima aku terlepas dari keliruan yang telah aku perbuat? Aku yakin kamu punya perasaan yang sama seperti apa yang tengah aku rasakan sekarang."


Almira tidak bergeming. Pandangan Kevin begitu menuntut seperti komandan yang memberi perintah pada Almira untuk patuh. Namun saat adegan mesra itu belum berlangsung cukup lama, tiba-tiba seseorang memekik memanggil Almira.


"Almira!!!"


Orang yang memanggil Almira seperti sebuah malaikat penolong bagi Almira, dan seperti malaikat maut bagi Kevin. Orang itu mendekat tanpa wajah berdosa sama sekali. Senyumnya terus mengembang terpamer, membuat Kevin ingin menjotos mulut laki-laki yang telah mengacaukan momen indahnya dengan Almira hanya dalam hitungan detik. Padahal Kevin hampir mendapatkan kepercayaan Almira kembali tadi.


Beruntung otak Kevin masih waras dan mengurungkan niatan anarkisnya itu. Lagi pula, saat ini Kevin berada di lingkungan kampus Almira, sangat tidak etis kalau Kevin berkelahi dan baku hantam di area kampus hanya karena sebal pada si pengacau yang entah siapa namanya. Kevin belum tahu.


"Almira, kamu sudah selesai mengerjakan tugas dari Pak Agung belum?" kata laki-laki dengan rambut berjambul mirip jengger ayam jantan. Senyum selalu terbit dibibirnya.


"Sudah kok, Rick. Kalau kamu?" Almira sengaja bertanya balik agar ia bisa terlepas dari intaian mata Kevin yang kian detik kian dipenuhi kilatan amarah tertahan. Dan Almira cukup tahu penyebabnya, dia tahu Kevin tak senang dengan kehadiran Ricko yang tiba-tiba muncul dan mengacaukan segalanya. Tapi siapa yang akan peduli? Almira bahkan berterimakasih dalam hatinya karena Ricko datang tepat waktu, dia datang saat Almira hampir terbuai oleh rayuan maut Kevin.


"Sudah juga. Oh ya Al, kamu sudah makan siang belum? Kalau belum mending kita ke kantin aja yuk?! Mumpung kelas Pak Agung mulainya nanti selepas ba'da dzuhur. Gimana mau gak?"


"Wah ide bagus tuh. Lagipula aku juga belum makan dari pagi. Tadi gak sempet makan dulu soalnya tugasnya banyak banget hingga membuat aku keteteran dan lupa mengisi perutku. Hehehe."


"Serius kamu mau makan siang sama aku?" kata Ricko berbinar. Usut punya usut, Ricko dan Almira adalah teman seangkatan, yang sama-sama belum menyelesaikan kuliahnya secara tepat waktu. Jika Almira sibuk bekerja sana sini hingga membuatnya telat lulus kuliah, berbeda dengan Ricko. Lelaki bertubuh ramping dengan tonjolan otot-otot liat di perutnya itu memang sengaja ambil cuti karena sibuk ikutan organisasi dan sejenisnya. Hal itu juga ia jadikan sebagai alasan agar bisa bersama Almira, karena diam-diam Ricko memang sudah ada hati untuk Almira semenjak mereka dipertemukan pada saat program Kuliah Kerja Nyata (KKN).


Maka tak heran, saat Almira kembali ke kampus. Ricko adalah orang yang pertama kali senang dan selalu berusaha untuk mencari cara agar bisa dekat dengan Almira. Seperti saat ini, dia mengajak Almira makan siang bersama dan mengabaikan orang yang tengah bersama Almira lebih dulu yaitu Kevin.


Saat ini, Kevin benar-benar diabaikan, baik oleh Ricko, maupun Almira. Bahkan, Almira tak segan-segan sengaja memanas-manasi Kevin dengan bersikap sangat ramah dan lembut pada Ricko seolah mereka memang sangat amat dekat. Kevin begitu cemburu dibuatnya.


"Iya dong, Rick. Gak ada salahnya kan kita makan, ayok!" Almira menarik telapak tangan Ricko dihadapan Kevin. Membuat Kevin memelotot tak percaya, pun dengan Ricko yang memelotot tak percaya sekaligus kesenengan.


"Tunggu!" Kevin tak membiarkan Almira pergi begitu saja, terlebih sampai harus bertautan tangan dengan Ricko. Rasanya Kevin ingin menebas tangan Ricko saat itu juga. Ia tidak rela tangan Almira disentuh laki-laki lain. "Lepaskan tangan Almira!" titah Kevin pada Ricko.


"Loh, Mas nya siapa nyuruh-nyuruh saya?" Ricko menanggapi tak terima.


"Lepaskan tangan Almira!" ulang Kevin menekankan. Sementara matanya menatap Almira dengan telak.


"Nggak mau," Ricko mulai ngeyel. Ia malah semakin merekatkan tautan tangannya dengan tangan Almira.


"Lepaskan!" tepis Kevin paksa. "Jangan menyentuh tangan pacarku!" bentak Kevin, membuat Ricko terbelalak kaget. Pun, dengan Almira.


"Apa?" indera pendengaran Ricko seolah tak berfungsi dengan jelas saat Kevin mengklaim bahwa Almira adalah pacarnya. "Apa aku tidak salah dengar? Sejak kapan?"


Sementara Almira semakin tersenyum kecut. "Katakan, sejak kapan aku menjadi pacarmu? Aku bahkan tidak sudi menatapmu, lantas bagaimana kamu bisa seenaknya mengatakan aku pacarmu?" Kevin diam.


"Iya nih, jangan ngarang Mas. Hidup tuh jangan kebanyakan ngehalu, repot urusannya kalau sampai ditolak!" timbrung Ricko meremehkan, membuat Kevin benar-benar ingin menenggelamkan lelaki itu ke kerak bumi terdalam.


Bersambung.