
Namira telah sampai di tempat tujuannya. Ia pun segera turun dari mobil Kevin, sementara sang empunya mobil tak turun untuk sekedar membukakan pintu buat Namira. Benar-benar tidak peka untuk seorang Kevin yang notabene hatinya itu hanya untuk Almira. Jadi, tidak ada alasan untuk memperlakukan wanita lain spesial walau hanya membukakan pintu mobil seperti apa yang lelaki pada umumnya lakukan.
Namira membungkukkan setengah badannya untuk berpamitan dengan lelaki itu, dengan lembut.
"Aku masuk dulu ya, terima kasih sudah mengantar aku Vin. Kalau gak ada kamu mungkin aku akan telat ke sini," ucap Namira berbasa-basi.
"Sama-sama Namira, kamu gak perlu berlebihan kaya gitu. Sudah sewajarnya aku membantu kamu. Kan kita ini teman.hehe," kekeh Kevin.
"Tapi tetap saja kalau bukan karena kamu, aku akan telat ke sini. Sekali lagi terima kasih," lanjut Namira. Rasa terima kasih yang keluar dari mulutnya itu rupanya tidak setulus nada bicaranya. Itu hanya akal - akalan Namira saja menunjukan sikap lembut nan angelic.
"Tidak usah sungkan Nami, kamu kaya ke siapa aja sih. Udah gak usah dipikirkan!"
Namira menganggukkan kepalanya, berpura-pura memasang wajah penuh syukur karena kebaikan yang dilakukan Kevin padanya.
"Kalau gitu aku pamit dulu ya, maaf banget aku gak bisa nemenin kamu sampai acaranya selesai. Soalnya ada sesuatu yang gak bisa ditunda-tunda nih."
"Yaudah gak apa-apa. Pokoknya hati-hati buat kamu."
"Terima kasih Nami," Kevin tersenyum simpul di sela siap-siap untuk melajukan kembali mobilnya yang berwarna merah tersebut.
Namira pun membalas senyuman Kevin. Setelah semuanya selesai, barulah Kevin menaikan kaca mobilnya dan menyalakan mobilnya. Tak lama, mobil itu pun melaju dengan kecepatan cukup tinggi.
Setelah mobil itu menjauh dari posisi Namira berdiri, gadis itu segera menyentak - nyentakan kakinya dengan kesal.
"Aishhh sialan-sialan! Aku sudah berusaha melupakan si brengsek itu, tapi setiap kali aku mendengar si brengsek itu lebih memilih Almira, kenapa rasanya hatiku sakit dan terbakar api amarah? Kenapa Tuhan, kenapa? Apa Kau sengaja membuatku tak bisa melupakan lelaki itu, hah? Aishhh ini curang Tuhan, aku tidak sudi jika harus di posisi ini. Sungguh menyakitkan tetap menyukai orang yang udah pernah berbuat salah padaku. Aku tidak sudi, jadi tolong Tuhan hilangkan perasaan bodoh yang dinamakan cemburu ini. Lelaki itu tak pantas mendapat api cemburu dari aku!!" kesal Namira, matanya tetap saja memerhatikan ke arah mobil Kevin tadi melaju.
Sejatinya, semua kejadian hari ini di mulai dari ban mobilnya yang kempes, meminta bantuan Kevin untuk mengantarkannya, dan berpura-pura ada acara di hotel XXX adalah skenario yang dikarang Namira sendiri. Fakta sebenarnya, Namira sama sekali tidak punya acara di tempat itu. Kalaupun ada, Namira pastinya perlu susah payah mengandalkan Kevin. Namun, karena ia ingin merencakan sesutu, ia terpaksa mengarang bebas cerita itu. Sayangnya, semua tak berjalan sesuai rencana sepenuhnya gara-gara Kevin memilih untuk segera pergi. Padahal, jika saja Kevin ikut ke dalam hotel yang dalam tanda petik sedang ada perayaan, mungkin saja Kevin akan terjebak dengan permainan Namira.
Namun sepertinya, Namira harus gigit jari karena Dewi fortuna lebih berpihak pasa lelaki itu ketimbang dirinya. Sial memang. Walhasil, Namira kesal bukan main.
"Almira lagi.. Almira lagi.. Bahkan ketika jaug pun lelaki itu masih saja bersusah payah buat mendapatkan Almira," dengus Namira. Tingkat rasa sebalnya semakin berlipat-lipat tatkala Kevin dan Vallen malah membagas Almira tanpa sepengetahuan Namira.
"Aku harus ikutin dia, aku ingin tahu gimana reaksi Kevin kalau tahu Almira kabur lagi. Dear.. Kevin bodoh! Serapat apapun kamu mencoba menyembunyikan sesuatu dari aku? Akan aku pastikan kalau semua bisa kutafsir. Aku ini cerdas, licik, dan jahat. Jangan macam-macam kamu, hah!!" Namira mulai kesal lagi dan lagi. Kali ini dia melepaskan seluruh unek-uneknya yang sudah tak terbendung lagi.
Tak lama setelah kepergian Kevin, buru-buru Namira melambaikan tangannya, memberhentikan taxi yang tanpa sengaja lewat.
Namira pun segera masuk ke dalamnya.
"Tolong antarkan saya ke jalan XXX ya Pak," titah Namira pada supir taksi berusia empat puluhan tahunan.
Kemudian mobil itu perlahan-lahan maju dengan kecepatan sedang, meninggalkan area hotel yang sempat diklaim Namira tengah mengadakan acara yang akan dihadiri Namira sebagai salah satu pesertanya.
***
Kevin telah sampai di tempat yang di share location oleh Vallen melalui ponselnya. Tempat yang Vallen duga adalah bekas kontrakan Almira.
Dengan langkah sedikit tergesa-gesa, Kevin menghampiri Vallen yang masih setia di tempatnya. Bersender di depan mobilnya sambil mengotak-ngatik manja ponselnya.
"Len..." Vallen secara otomatis menoleh saat suara Kevin menyapanya. Dengan segera Vallen memberhentikan aktivitasnya, memasukan ponsel tersebut ke dalam saku celananya dan berdiri menyambut temannya yang dapat Vallen simpulkan bahwa lelaki itu tengah dirundung rasa khawatir.
"Gimana, apakah kamu yakin ini tempat tinggal Almira?" ucap Kevin lagi, berbasa-basi yang menurut Vallen itu bukanlah kalimat basa-basi melainkan kalimat pengalihan dari rasa khawatir luar biasa tersebut.
"Terus kata kamu tadi ada orang yang mencurigakan tengah mengawasi rumah kontrakan Almira, dimana dia? Berani-beraninya dia membuat Almiraku mengharuskan pergi dan cari tempat baru," maki Kevin secara geram. Vallen yang belum sempat menjawab hanya bisa mengerutkan wajahnya melihat kelakuan Kevin yang baru datang tapi sudah marah-marah.
"Dimana dia Len, katakan?" tukas Kevin lagi sembari celingak-celinguk mencari sosok mencurigakan tersebut.
"Astga bro, kan gue udah bilang perasaan di telepon kalau orangnya kabur. Apa Lo lupa?" sindir Vallen, dia tidak habis pikir kalau Kevin mendadak jadi pelupa seperti itu.
"Kenapa kamu gak kejar sih Len? Dia pasti membahayakan Almira!!!" sergah Kevin dengan nada tinggi.
"Etdah, gimana mau ngejar tuh orang kalau semakin dikejar malah semakin kencang larinya," elak Vallen tak kalah sengit. "Lagian kita gak bisa seenaknya bilang dia membahayakan Almira kalau tanpa bukti kongkrit."
"Gak ada bukti gimana sih Len, udah jelas-jelas orang itu membuat Almira kabur. Itu artinya orang tersebut berbahaya buat Almira. Belum lagi Almira bercekcok dengan gadis yang entah ada masalah apa dihidupnya sampai-sampai mengajak Almira cekcok. Aku sangat yakin, kejadian Almira kabur pasti disebabkan dua orang tersebut. Dua orang tersebut pasti sekongkolan mengancam Almira," Kevin mulai berspekulasi dengan amat sok tahu. Sementara Vallen yang sedari tadi menyimak masih saja tidak setuju dengan apa yang dituduhkan Kevin.
Bagi Vallen, pantang buatnya untuk menyambung - nyambungkan dua hal yang belum pasti. Terlebih semua tuduhan atau asumsi Kevin tidak berdasar sama sekali. Dua hal yang Kevin tuduhkan dan disangkut pautkan dengan kepergian Almira semuanya akan jadi fitnah jika belum ada bukti. Oleh karena itu, Vallen sangat pantang buat percaya begitu saja.
Vallen pun menjeda Kevin yang tengah mencerocos ini dan itu. "Gini Vin, kita ini gak punya bukti. Ucapan tetangga Almira yang mengatakan kalau Almira sempat bercekcok dengan seorang gadis yang kita gak kenal siapakah orangnya, tak bisa kita jadikan bukti mutlak. Kita harus tetap menggali informasinya lebih dalam. Kita boleh curiga, tapi kalau untuk langsung mendakwa tanpa bukti kuat, lebih baik jangan!!"
"Halah kebanyakan menelaah malah bikin semuanya jadi terbuang secara percuma. Kelamaan itu Vallen!! Almira keburu susah ditemukan," sergah Kevin.
"Ya gak bisa gitu, kita pokoknya harus menggali informasi sebanyak-banyaknya dulu baru kita bisa menemui titik terangnya."
"Halah, kamu pikir kita ini tikus tanah yang hobinya menggali?" celetuk Kevin, semakin sebal saja dia pada Vallen yang mendadak jadi sok bijak. Kevin benci Vallen yang kebanyakan menelaah dan menelaah.
Bersambung.