Between Hate and Love

Between Hate and Love
Curhat Dengan Riri



"Aku sebenarnya..." Almira ragu untuk mengatakan kejadian sebenarnya, ia terlalu malu untuk bercerita. Apalagi alasan dia ke kota itu hanya karena masalah lelaki. Sungguh seperti di dalam sinetron saja. Almira jadi bingung harus cerita atau tidak. Kalau dia cerita, dia takut Riri berpikir aneh-aneh. Tapi kalau dia tidak cerita, bagaimana dia bisa mendapatkan bantuan dari orang lain? Mengingat, dia perlu bantuan yang memang siap membantunya saat ini. Almira jadi dilema sendiri sekarang.


"Apa aku cerita aja kali ya sama Riri, toh aku rasa Riri anak baik. Dia kayanya gak bakal mentertawakan aku seperti apa yang aku sangkakan sedari tadi. Siapa tahu kan, Riri memang bisa membantu aku. Paling tidak, ya dia bantu aku cari penginapan atau apalah yang bisa buat aku tempatin sementara ini."


Melihat Almira lagi-lagi melamun, Riri pun inisiatif menegur Almira lagi.


"Mbak?" otomatis saja Almira tersadar dari dunia imajinya. Dia pun tersenyum masam pada diri. Mengusir rasa kikuk bercampur malu karena dua kali kepergok melamun tanpa sebab. Jika itu bukan Riri, pasti Almira akan beneran dicap wanita tidak waras karena dikit - dikit mengeluh, dikit - dikit melamun, lengah sedikit langsung terbawa arus lamunan. Ah, rasanya Almira sedang berada di situasi yang cukup rumit dan membingungkan sekarang.


"Aku gak apa-apa kok," jawab Almira seadanya. Ia bingung harus cari alasan apa lagi agar Riri tak menaruh curiga dan menilainya yang bukan-bukan. Masa baru ketemu sudah menampilkan citra buruk, mau ditaruh dimana wajah Almira saat ini.


"Mbak lagi ada masalah ya?" celetuk Riri. Dia menatap Almira lekat - lekat dan cenderung menyelidik. Gadis itu seolah tahu kalau Almira memang tengah dirundung masalah. Lebih tepatnya masalah entah harus dimana dia tinggal sekarang, sementara tidak ada orang yang Almira kenal di kota ini.


"Mbak gak usah canggung sama aku kalau emang beneran punya masalah. Kalau Mbak mau cerita dan memberitahu aku apa masalah Mbak, insyallah aku bantu kok semampu aku. Tenang aja, aku berdiri di sini emang beneran mau bantu Mbak. Gak ada maksud lain kok. Soalnya sedari tadi aku perhatiin Mbak kaya orang bingung. Aku takut Mbaknya kesasar tapi Mbak malu buat nanya gitu," jelas Riri.


Almira serasa dihantam ribuan voltase listrik. Malu sekali rasanya sedari tadi dia dilema dan agak khawatir mengenai Riri. Tapi rupanya gadis itu sepertinya memang tulus mau bantu.


"Duduk di situ dulu yuk, Mbak!" tukas Riri seraya menunjuk pada kursi panjang di dekat kedai-kedai yang berjejeran di pinggir jalan.


Almira pun hanya menurut. Memang tidak ada salahnya Almira mencoba berteman dengan Riri. Dari gayanya sih, Almira cukup yakin kalau Riri memang bukan tipe orang jahat atau tukang nipu. Entahlah darimana keyakinan itu muncul, Almira hanya mengikuti instingnya saja.


"Semoga instingku benar bahwa Riri memang bukan orang jahat, dia beneran orang baik yang Tuhan kirim buat bantu aku," pikir Almira mencoba untuk percaya pada Riri.


Mereka pun kini telah duduk di kursi yang ditujukan Riri barusan, lantas ia berbaik hati memesankan minuman untuk Almira. Ia tengah menunjukan jati dirinya kalau ia memang bukan orang jahat. Ia memesankan minuman itu agar Almira bisa lebih relax nanti saat cerita.


"Sekarang Mbak bisa ceritakan, duduk permasalahan Mbak seperti apa. Ya bukan buat apa-apa sih Mba, di sini aku cuma lagi berusaha agar Mbak mengemukakan alasan Mbak secara gamblang, dengan begitu aku bisa bantu menyelesaikan problem Mbak. Itupun kalau Mbak mau sih, aku gak akan maksa Mbak kok," tutur Riri dengan tingkah yang begitu sopan. Almira sendiri jadi semakin yakin kalau Riri emang beneran orang Yang dikirim Tuhan untuk membantu sekelumit permasalahan yang tengah Almira hadapi kini.


Almira mengambil napas dalam-dalam. Ia tengah ancang-ancang untuk membuka suara. Mungkin dengan curhat pada Riri, beban dan masalah yang ia hadapi bisa sedikit banyak berkurang. Toh, Almira memang tengah membutuhkan bantuan dari masyarakat sekitar.


"Tapi kalau aku cerita kamu gak bakalan mentertawakan aku kan?" tanya Almira yang masih was-was Riri akan mentertawakannya selepas bercerita nanti.


"Ya nggaklah Mbak, masa orang lagi mau curhat tentang masalahnya aku malah ketawain? Itu artinya nggak ngehargain Mbak dong?" balas Riri meyakinkan.


"Pelan-pelan aja ceritanya Mbak, dari dasarnya dulu aja. Biar aku semakin paham ceritanya, dengan begitu lebih mudah buatku juga nantinya harus bantu Mbak dari mana," imbuh Riri. Ia masih berusaha kalem dan mencoba menyimak dengan baik apa yang coba Almira ceritakan.


Almira menghela napasnya dalam-dalam. Mengumpulkan keberaniannya agar bisa menceritakan seluruh uneg - uneg yang membuncah di benaknya. Setelah semuanya selesai, barulah Almira mulai bercerita pada Riri.


"Sebenar awalnya tuh ini masalah aku dengan kedua orang tuaku. Ah tidak, ralat! Lebih tepatnya aku ada masalah dengan ayahku. Aku merasa kalau beliau selalu membeda-bedakan kasihnya antara aku dan saudara kembar aku, namanya Namira," terang Almira pada bagian awal. Riri tampak serius, dia memang pendengar yang baik. Dia tidak memotong pembicaraan seolah memberi ruang agar Almira bisa lebih leluasa menyelesaikan ceritanya.


"Semenjak saat itu, aku memutuskan untuk kabur dari rumah. Aku kaburnya masih sekitaran Jakarta waktu itu, soalnya aku gak tau mau kabur kemana. Yang ada di pikiran aku yang penting bisa kabur aja dulu. Nah, singkat cerita.. pada awalnya aku begitu berat menjalani hidup baru di tempat persembunyian aku itu. Bayangkan saja, yang awalnya aku bergelimang harta dan hidup dengan fasilitas mewah punya keluargaku. Aku harus hidup begitu minim, aku harus membiasakan diri hidup serba hemat. Makan hemat, uang harus dihemat, pokoknya semuanya harus serba dibatasi. Tapi lambat laun aku mulai bertahan, aku juga dapat pekerjaan sebagai staff di salah satu butik. Hanya saja, orang yang merekomendasikan aku kerja di butik tersebut adalah..." Almira menggantung kalimatnya, ia ragu menyebutkan nama Kevin. Setiap kali dia mengingat nama itu bawaannya sebal dan emosi.


"Kenapa Mbak? Apa orang yang merekomendasikan Mbak di tempat itu masih ada hubungannya dengan keluarga Mbak?"


Almira mengangguk lemah. Pertanda membenarkan tebakan Riri.


"Orang itu adalah Kevin, anak dari pemilik butik yang kebetulan sering menolong aku ketika aku kesulitan."


"Terus hubungan dengan keluarga Mbak apa?"


"Dia calon tunangan kembaran aku. Aku baru tahu kalau dia ternyata mendekati aku hanya untuk mengambil hati saudari aku. Dia memanfaatkan aku, meski dia bilang dia gak bermaksud seperti itu. Tapi aku mengiranya begitu." Almira menjawab dengan lesu.


Riri berusaha mencerna baik-baik setiap rentetan kalimat yang dilontarkan Almira barusan.


"Jadi maksud Mbak, selama ini Mbak gak tahu kalau lelaki itu tunangan saudari Mbak? Terus Mbak baru tahu sekarang?"


"Ya intinya begitu. Padahal aku mengira kalau dia ada perasaan untuk aku. Nyatanya dia hanya memanfaatkan aku. Nah baru-baru ini dia menyatakan perasaannya padaku, aku bingung harus senang apa tidak. Aku terlanjur kecewa. Apalagi saat saudariku terus-terusan menekan aku untuk pergi dari kehidupan mereka. Menyatakan aku adalah pengganggu hubungan mereka, aku jadi semakin yakin mau menjauhi Kevin. Tapi..."


"Tapi apa Mbak?" tanya Riri terheran saat Almira kembali menggantung kalimatnya. Membuat Riri jadi semakin penasaran kelanjutan ceritanya.


Bersambung.