
"Pergilah. Aku tidak butuh penjelasan apapun dari kamu," ucap Almira mantap. Mengusir Kevin secara terang-terangan.
"Tapi ... Al," Kevin tersentak kaget dengan keputusan Almira. Ia pikir Almira akan menerima cintanya, atau paling tidak memaafkan Kevin. Namun faktanya, Almira sama sekali tak merubah keputusannya. Dia tetap menjadi Almira yang cuek dan ketus pada Kevin. Bahkan setelah ribuan kali Kevin meminta maaf dan menyatakan cintanya, rupanya tak membuat Almira goyah dengan sikap dinginnya pada Kevin.
"Waktumu berbicara denganku sudah selesai. Sekarang pergilah dari sini!" usir Almira, judes.
"Tapi, Al ..." hanya kata yang sama seperti sebelumnya yang mampu Kevin keluarkan dari mulutnya, seakan sulit untuk mengungkapkan kata-kata yang lebih panjang dari itu.
"Aku bilang pergi. Apa kamu tuli?" Almira sedikit mendorong tubuh Kevin di sela rasa tidak percayanya saat Almira mengusirnya seperti itu. Kevin menatap Almira tanpa berkata-kata lagi. "Pergi dari sini, urusan kita sudah selasai."
"Ee.. eu tapi bagaimana dengan perasaanku? Kamu belum memberikan jawaban atas pernyataan cintaku?" ucap Kevin setengah menghiba. Ia tidak peduli dicap sebagai pria yang lemah di depan Almira. Ia tidak peduli kehilangan jati dirinya yang cerdas, jenius, berwibawa dan banyak dihormati orang. Di depan Almira, dia merasa payah dan rendah. Ia benar-benar tidak peduli, asalkan Almira mau kembali seperti dulu. Berada di dekatnya dan selalu bersikap manis dan tak kasar.
Almira memalingkan wajahnya ke arah lain sejenak, seolah tengah mengambil sebuah senyuman kecut dan remeh untuk ditampilkan ke hadapan pria yang kini menghiba balasan cinta padanya.
"Apa kamu tidak salah ngomong? Ck! Otak kamu itu dimana sih? Kenapa kamu begitu pikun?"
"Maksud kamu?" Kevin tak mengerti.
"Sepertinya gelar S-2 kamu yang kamu dapat di negeri sakura itu tak terlalu berpengaruh untuk kamu. Kamu pikun. Bukankah aku sudah mengatakan padamu kalau aku sudah punya pacar? Jadi jangan berharap lagi padaku," terang Almira sarkas. Emosinya hampir meledak jika terus-terusan berhadapan dengan manusia paling bebal sedunia.
"Kamu pikir aku akan percaya begitu saja dengan semua omong kosong kamu? Meski mulut kamu ribuan kali mengatakan kamu telah mempunyai pacar, tapi mata kamu sama sekali tidak bisa berbohong. Kamu sebenarnya tidak punya pacar kan? Lelaki yang kemarin aku temui itu faktanya bukan pacar kamu kan? Kenapa sih Al, kenapa kamu harus membohongi aku serta perasaan kamu? Apa kamu takut Namira memarahi kamu? Atau kamu merasa gak enak sama kakakmu? Begitukah?" cecar Kevin menyimpulkan. Matanya mulai berkaca - kaca karena terbawa emosi serta suasana. Ia merasa memang telah berubah menjadi manusia payah sekarang.
"Aku sudah bilang aku tidak peduli. Asal kamu tahu, aku tidak pernah takut sama Namira. Aku mengalah bukan berarti aku kalah. Aku akan buktikan kalau aku bisa mendapatkan yang aku mau. Harta, tahta, pujian, semuanya aku bisa dapatkan dengan caraku sendiri. Jadi jangan mengungkit nama itu di depan aku," kilah Almira meninggikan nada bicaranya. Darahnya mendidih hebat acap kali diungkit-ungkit mengenai ketidak adilan yang ia dapat selama menjadi orang yang memiliki saudara kembar namun dapat perlakukan berbeda. Kasih sayang orang tuanya, teman, bahkan cinta.
"Lalu kenapa kamu berbohong dengan perasaanmu padaku? Kalau kamu tidak merasa apa yang tengah aku tudingkan padamu?"
Ya, meskipun Kevin telah berkata jujur akan perasaannya. Namun Almira tidak mau menerima Kevin begitu saja. Rasa sakit dipermainkan seolah telah mendarah daging dan bercokol di benaknya. Ia tidak mau kembali pada Kevin bukan berarti tidak sayang dengan lelaki itu. Tapi keadaan memaksa Almira harus lebih kuat dan tak terbuai akan yang namanya cinta. Terlebih, Namira adalah kakak sekaligus musuh bebuyutan Almira. Bagaimana mungkin Almira menerima Kevin setelah Kevin hampir menjadi iparnya? Itu artinya, Kevin adalah mantan Namira, yang otomatis bekas gadis itu. Dan Almira tidak mau barang bekas. Apa kata Namira nanti?
Kevin tersenyum tipis dan cenderung dipaksakan. "Kamu telah banyak berubah Al, aku tidak mengenal kamu yang dulu. Almira yang manis, lembut dan selalu bertutur kata dengan sopan. Sekarang ..."
"Sekarang aku bukanlah Almira yang lemah yang mampu kamu bualin dan kamu kadalin. Sekarang aku bangga jadi diriku sendiri, aku bangga dengan Almira yang sekarang," serobot Almira, memangkas kalimat Kevin yang belum selesai.
Kevin diam sejenak. Mengumpulkan napas banyak - banyak, seolah stok oksigen di dalam tubuhnya berkurang begitu boros. Dadanya sesak, matanya sepet, serta telinganya panas mendengar ucapan Almira yang begitu kasar. Ia seperti menghadapi Almira dengan pribadi yang lain.
"Meskipun kamu kasar begini, aku tetap akan mencintai kamu Al. Karena aku memang tulus mencintai kamu. Aku akan menunggu sampai kamu menjadi Almira yang biasanya. Meski terdengar sulit, namun aku sangat percaya kalau esok atau nanti hati kamu akan luluh," lirih Kevin. Air matanya tiba-tiba saja lolos dan meluncur mulus ke pipinya.
Melihat Kevin dengan ekor matanya, Almira sedikit banyak merasa empati. Tapi ia mencoba menepis perasaan tersebut, bukankah ia berjanji pada dirinya sendiri tak akan merasa kasihan atau iba pada Kevin? Lantas untuk apa kasihan? Almira mencoba bersikap biasa saja seolah tidak terpengaruh meskipun Kevin sudah berurai air mata. Keputusan Almira sudah bulat, ia tidak ingin sakit hati untuk kedua kalinya.
"Tunggu saja semau kamu, aku tidak akan merubah apapun keputusanku. Aku akan tetap seperti ini," tegas Almira. Ia pun mendorong tubuh Kevin, berharap kalau lelaki itu peka dan menjauh darinya.
Setelah itu, Almira mengayunkan kakinya dan meninggalkan Kevin tanpa ada keraguan. Ia tidak peduli Kevin menatap kepergiannya dengan nanar. Ia tidak peduli lelaki itu sedih atau kecewa. Rasa kecewa dan sedih yang ia dapat sebelumnya, jauh lebih sakit dari apa yang Kevin rasakan.
"Al, kenapa kamu begini banget sih sama aku? Apakah kesalahanku ini sangat membuat kamu terluka? Kalau kamu memang ingin menghukumku, silahkan! Tapi jangan seperti ini caranya. Jangan pernah menyuruhku untuk pergi dan menjauh darimu. Al ... aku mohon, huhuhuuuu...," raung Kevin ketika Almira tak sedikit pun berkeinginan untuk menengok. Gadis itu bersikukuh tidak ingin menengok ke belakang. Gadis itu tidak ingin lagi berurusan dengan Kevin. Meski rasanya sakit, tapi Almira menahan dirinya untuk tak lagi terbuai dan terlena oleh pesona Kevin. Gara-gara Kevin, Almira kehilangan misi utamanya yaitu membuat ayahnya bertekuk lutut padanya.
"Al, kenapa kamu tega banget sama aku? Kenapa Al? Hiks ... Hiks ... Hiks ... tapi kalau memang ini membuat kamu bisa memaafkan aku, tidak apa-apa. Aku akan terima, aku akan bertahan. Ayo kita lihat sejauh mana kamu bisa bersikap seperti itu padaku?" ucap Kevin menghibur dirinya sendiri.
Bersambung.