
Dua hari setelah resign, Almira jadi punya banyak waktu luang. Hal itu memungkinkan dirinya untuk bersih-bersih rumah, berkebun, bahkan mungkin melakukan pekerjaan dapur yang selama ini jarang sekali Almira lakukan.
Jika biasanya dia bersih-bersih rumah sehari sekali, kali ini dia melakukannya dua kali dalam sehari yaitu pagi dan sore hari. Sementara jika biasanya Almira ingin makan dia pasti akan delivery order atau membeli langsung makanan di warung depan, kali ini dia bisa memasak sendiri.
Sedangkan jika biasanya Almira hanya membiarkan rumput liar menghiasi pekarangan rumah kontrakannya, maka kali ini dia berinisiatif menanam tanaman hias atau bunga-bunga kesukaannya. Semua itu ia lakukan untuk mengisi waktu luangnya selama menunggu jadwal kuliahnya di buka kembali.
Seperti kali ini, dia sengaja menggali tanah untuk menanam bunga mawar dan tanaman lidah mertua yang di belinya kemarin sore selepas dari kampusnya.
Sambil bersiul cantik serta mendendangkan lagu kesukaannya, Almira tampak cekatan menggunakan cangkulnya seperti seorang tukang kebun yang sudah mahir.
"Du... du... du... hari telah berganti, tak bisa ku hindari... "
Almira tampak asyik mendendangkan penggalan lirik dari lagu Sheila On 7 yang berjudul- Hari bersamanya.
Saking asyiknya, ia bahkan lupa dengan capek dan peluh yang mengucur dengan deras keluar dari pori-pori kulitnya.
Bahkan sesekali dia menggeolkan pinggulnya mengikuti gerakan cangkulnya yang naik turun.
Tapi tiba-tiba...
"Kamu nampak aneh bergoyang seperti itu?"
Almira mendongak dengan refleks kala suara berat yang tak asing mengacaukan aktivitasnya.
"Kamu"
Kevin, dialah pemilik suara berat tersebut. Kevin menampilkan deretan giginya yang rapih saat Almira mendongak. Senyum ramah khas Kevin tertampil di wajah bulatnya. Matanya tenggelam saat tersenyum, bahkan lesung pipi di ujung senyumnya itu turut memperindah senyum Kevin. Membuat Kevin yang tampan menjadi semakin tampan.
Lain hal dengan Almira, dia tidak membalas senyum ramah Kevin. Dia selalu jengkel jika melihat wajah Kevin.
"Mau apa kamu ke sini?" saking jengkelnya, bahkan tidak ada lagi kata "Pak" yang di sematkan pada nama Kevin. Almira menggantinya dengan panggilan biasa, padahal sehari-hari ia selalu memanggil Kevin dengan diawali kata "pak".
"Aku ingin minum kopi dengan kamu," balas Kevin, kemudian dia menyodorkan gelas couple yang ia berikan sebagai hadiah ulang tahun Almira.
"Kenapa kamu membawanya kemari, bukankah aku sengaja meninggalkannya di kantor?" ketus Almira.
"Ini milik kamu. Tidak bisakah kamu membawanya sebagai tanda pertemanan kita?" Kevin masih menyodorkan dua buah gelas bermotif bulan sabit dan bulan penuh yang ditinggalkan Almira di kantor.
"Cih! Sejak kapan aku berteman dengan kamu? Aku tidak sudi berteman dengan kamu"
Almira hendak melenggang meninggalkan Kevin, tapi buru-buru Kevin menahannya.
"Jelaskan padaku... apa salahku padamu? Apa kamu marah karena aku bertunangan dengan kakak kamu?"
Almira berbalik, "YA! AKU MARAH KARENA ITU, KAMU SUDAH MEMPERMAINKAN AKU" tegas Almira dengan nada tinggi.
"Mempermainkan? Apa kita memiliki hubungan spesial selain daripada teman? Apa kamu pernah memberiku kepastian tentang perasaan kamu?"
Kevin sengaja memancing emosi Almira, dia sengaja berkelit agar Kevin tahu seperti apa perasaan Almira terhadapnya. Selama ini, Almira selalu bungkam dengan perasaannya. Bahkan Almira terlampau cuek meski Kevin terang-terangan mengejarnya.
"Coba jelaskan padaku, apa alasannya sampai kamu sebegitu marahnya padaku? Apa karena hanya Namira?" lanjut Kevin.
Almira tak bergeming, dia seperti kehilangan rangkaian kosa katanya. Dia lupa kalau kemarahannya itu tak memiliki dasar yang kuat di mata Kevin.
"Terserah kamu saja lah!" ucap Almira singkat. Dia benar-benar tak mampu memberikan alasan yang lain agar Kevin tak curiga kalau sebenarnya dia cemburu. Tidak! bukan karena cemburu saja, tapi Almira kesal karena lagi-lagi dia kalah dari Namira.
"Al... " Kevin mencekal lengan Almira agar tak pergi.
"Lepaskan tanganmu dari tanganku!" Almira melotot tak suka.
"Tidak, aku tidak akan melepaskan tangan kamu sebelum kita bicara."
"Lepaskan tanganmu atau aku akan berteriak!" ancam Almira.
"Aku tidak takut, aku tidak peduli jika nanti aky dipukuli satu kampung pun aku tetap tidak peduli. Asalkan aku bisa mengatakan dan memberi tahu yang sejujurnya pada kamu Al"
"Aku tidak butuh kejujuran apapun dari kamu, dasar laki-laki pembual!" pekik Almira mencoba berontak.
Namun tenaga Kevin terlalu kuat dibanding Almira. Hingga Almira sedikit kewalahan untuk melepaskan tangannya dari cengkraman Kevin.
"Lepaskan aku bodoh!" Almira menghardik Kevin dengan kasar kala tangannya tak bisa terlepas dari cengkraman Kevin yang kuat.
"Tidak akan! Aku tidak akan melepaskannya sebelum kita bisa bicara baik-baik dan meluruskan semuanya"
Tenaga Almira mulai berkurang setelah beberapa kali berontak mencoba melepaskan tangannya dari cengkraman Kevin yang semakin lama semakin kuat bukannya melonggar. Hingga akhirnya Almira pun menyerah.
"OK! Stop mencengkram tanganku seperti ini! Kita akan bicara, tapi tolong lepaskan tanganmu. Apa kamu tidak berpikir cengkraman kamu ini melukai tanganku?" decak Almira kesal.
"Maaf, tapi aku terpaksa lakukan ini.Hehe" ucap Kevin sembari terkekeh.
Sementara Almira masih memasang wajah jengkelnya akibat perlakukan Kevin yang egois. Kevin tidak hanya menyakiti hatinya, sekarang dia juga mulai berani menyakiti lengan Almira. Dan naasnya, Almira tidak bisa berkutik kalau tak menuruti kemauan Kevin. Semakin Almira menolak, maka semakin tinggi juga ego Kevin yang tak bisa menerima penolakan.
"Kamu membuat tanganku jadi sakit," protes Almira sembari mengelus tangannya yang terasa perih.
"Sekali lagi maafkan aku Al, aku gak bermaksud nyakitin kamu"
"Terserah kamu saja!" Almira beringsut menuju teras rumahnya dengan dongkol.
"Al... " panggil Kevin.
"Apa lagi?" Almira berbalik dengan malas, "Bukankah kamu mau mengajakku bicara?" tukas Almira.
Kevin mengira kalau Almira akan kabur dan tak mau diajak bicara, nyatanya Almira hanya ingin berpindah tempat karena cahaya matahari mulai menyorot sedikit lebih panas dari sebelumnya.
"Aku pikir kamu akan pergi lagi," ucap Kevin polos dan menyengir.
"Apa kamu ingin mengobrol di tempat panas seperti itu?" balas Almira dengan culas.
Kevin mengelang, kemudian dia buru-buru menyusul Almira yang berjalan di depannya.
"Segalak apapun Almira, dia tetap menggemaskan.ckck" gumam Kevin di selingi kikikan geli tanpa sepengetahuan Almira.
Mereka berdua pun duduk di teras rumah kontrakan Almira setelah tadi berdebat seperti anak kecil.
"Cepatlah katakan apa yang mau kamu jelaskan padaku? Setelah itu pergilah jauh-jauh dari kehidupanku"
"Apa kamu yakin aku harus pergi jauh dari kamu?" goda Kevin sambil menyenggol bahu Almira dengan sengaja.
"Cih! Dasar pembual... kamu pikir aku akan tergoda sama gombalanmu itu"
"Aku tidak sedang menggombal"
"Terserah!"
"Kamu benar-benar menggemaskan Al. haha"
Kevin malah terbahak di saat Almira mulai naik pitam. Rupanya dia tak bisa menampik perasaannya kalau dia memang benar-benar menyukai Almira. Apalagi kalau sedang marah seperti itu, membuat Kevin jadi gemas melihatnya.
Melihat Kevin yang malah terbahak, Almira malah kembali sinis. "Cepatlah katakan apa yang mau kamu jelaskan!"
Seketika Kevin menghentikan tawanya dengan takut, lalu ia kembali serius dan melanjutkan niatannya memberi tahu Almira tentang alasannya bertunangan dengan Namira.
"Pertama-tama aku minta maaf kalau menyakiti kamu, tapi sejujurnya aku bertunangan dengan Namira karena kamu Al"
"Aku?" tunjuk Almira pada dirinya sendiri.
"Ya, karena sejujurnya aku ingin memberimu pelajaran karena selalu bersikap cuek padaku, bahkan kamu terlampau cuek padaku"
"Hah? Apa kamu tidak waras! Bisa-bisanya kamu mempermainkan pertunangan hanya untuk membuatku kesal? Dimana otakmu?" Almira menyentak Kevin dengan lantang.
"Tidak... tidak! jangan emosi dulu, masih ada alasan lain." Kevin mencoba menenangkan Almira yang hampir diujung kemarahannya.
"Berhentilah berbasa-basi!" Almira bangkit dari duduknya tapi lagi-lagi Kevin menahannya.
"Kumohon duduklah sebentar, aku belum menyelesaikan penjelasan aku," pinta Kevin memelas.
"Aku tidak punya banyak waktu untuk mendengarkan gurauan kamu! Jadi lebih baik kamu pergi," Almira mengusir Kevin dengan tegas, sementara orang yang dituju malah enggan untuk bangkit dari duduknya.
"Apa kamu tidak ingin tahu kalau kakak kamu sebenarnya sedang sakit?"
"Sakit? Maksud kamu Nami sakit?"
Almira tampak shock mendengarnya, dia pun mengurungkan niatnya untuk beranjak pergi meninggalkan Kevin.
Sementara itu Kevin mengangguk dan melanjutkan kembali ucapannya, "Dia sakit kanker otak stadium tiga"
Almira terperangah tak percaya. "Tidak, tidak mungkin. Kamu pasti bercanda lagi kan?"
"Aku sama sekali tidak bercanda, kalau kamu ingin lihat. Ayok kita ke rumah sakit sekarang!" tantang Kevin.
Bersambung.