
Dengan penampilan tertutup rapat, Almira melenggang dengan perasaan yang was-was bercampur takut. Wajahnya tertunduk menatap lantai satu demi satu, kaki jenjangnya melangkah dengan sedikit gemetar. Ia harus segera kabur sebelum ada yang mengenalinya.
Tap!
Tap!
Tap!
"Aku harus cepat-cepat pergi dari sini," pikir Almira.
Lajunya sedikit melambat saat berpapasan dengan orang yang ia kenal. "Aku harus tetap relaks, aku tidak boleh membuat orang lain curiga. Relaks Almira relaks!" batinnya menenangkan dirinya sendiri.
Tuan Jamil dan bu Rani, orang tua Almira yang kini berjalan semakin mendekat dengan Almira sama sekali tidak sadar kalau orang yang berpenampilan cukup tertutup itu adalah putrinya.
Saat berpapasan, tuan Jamil dan bu Rani sedikit memandang heran pada orang yang berpenampilan tidak biasanya itu. Mungkin dipikir mereka, orang yang berpenampilan aneh itu tengah mengidap penyakit menular makanya harus berpenampilan tertutup rapat sampai harus pakai hoodie.
Sementara wajah Almira semakin ditundukkan kala ekor mata tuan Jamil sekilas menatap intens ke arah Almira.
"Maaf," kata bu Rani saat tak sengaja bersenggolan dengan lengan Almira.
Almira hanya mengangguk dengan cepat. Nafasnya memendek seiring dengan degup jantungnya yang memburu. Untung dia sudah berpenampilan serba tertutup, jadi bu Rani tidak sadar kalau orang yang kini dihadapannya adalah Almira, anak bungsunya.
"Apa anda gak apa-apa?" tanya bu Rani memastikan.
Lagi, Almira hanya mampu mengangguk tanpa mau membuka suara. Lantas Almira buru-buru meloloskan diri dari sana. Dia tidak mau berdiri lebih lama, dia takut penampilannya yang sudah serba tertutup itu masih bisa diketahui bu Rani kalau berlama-lama berbasa-basi di sana.
"Aku merasa seperti dekat dengan orang itu," gumam bu Rani pelan sepeninggal Almira, matanya menatap dengan sendu punggung Almira yang makin menjauh dari hadapannya.
Terpancar jelas raut penuh tanda tanya terpatri di wajah bu Rani. Ada perasaan aneh yang muncul kala kulit lengannya bersentuhan dengan kulit orang yang ditabraknya barusan. Belum lagi, saat mata mereka bertemu pandang, rasanya seperti ada aliran listrik yang menusuk hingga ke dalam hati. Bu Rani seperti terkoneksi dengan orang tersebut.
"Ada apa bu?" tanya pak Jamil pada bu Rani yang tengah asyik memandang punggung Almira yang kian menjauh.
Bu Rani menoleh dan tersenyum tipis, "tidak ada apa-apa, Yah."
"Tapi kenapa ibu kaya sedih gitu setelah bersenggolan dengan orang tadi?" pak Jamil terheran.
"Ibu merasa terkoneksi dengan orang tadi, Yah. Seperti ada perasaan aneh yang menyelimuti ibu."
"Memang perasaan aneh seperti apa bu?"
"Entahlah ... ibu tidak yakin perasaan seperti apa, hanya saja ... ibu merasa dekat dengannya."
"Mungkin itu cuma perasaan ibu saja."
"Iya sih ... tapi ibu jadi teringat Almira," bu Rani mendadak jadi sedih setiap mengingat nama anak bungsunya itu.
"Tidak usah memikirkan anak itu. Dia sudah bahagia ... dia anak yang kuat. Ayah yakin dia baik-baik saja, sekarang fokus kita hanya pada Nami."
Bu Rani mengangguk mengiyakan. Lantas mereka melanjutkan langkahnya menuju ruangan ICU anak sulungnya.
--o0o--
Di depan ruang ICU, Kevin dan Vallen berdiri memandangi ruang ICU Namira seolah tidak terjadi apa-apa. Mereka berdua memang pandai kalau urusan berakting dan berkamuflase. Meski tadi sempat ketar-ketir karena pak Jamil dan bu Rani mau datang, nyatanya sikap Vallen dan Kevin sekarang tenang seperti air mengalir di sungai dalam.
Memang sudah seharusnya Kevin dan Vallen bersikap seperti itu, semata-mata agar tak menuai kecurigaan dari pak Jamil dan bu Rani yang baru datang.
"Nak Kevin, nak Vallen ... maaf ya ibu sama bapak jadi merepotkan kalian di sini," tukas bu Rani diselingi senyum simpul dan ramah.
"Tidak apa-apa kok tante, lagian ini udah jadi kewajiban aku dan Vallen buat jagain Namira. Toh aku kasihan sama tante kalau terus-terusan jagain Nami sampai tante gak bisa istrihat atau pulang dulu ke rumah," balas Kevin berbasa-basi.
"Bohong bu ... sebenarnya si Kevin ini juga baru dateng. Yang jagain Nami selepas ibu pulang tadi kan sebenarnya saya bu," ceplos Vallen yang langsung dihadiahi tatapan mendelik dari Kevin.
"Oooh ... jadi gitu toh. Haha yaudah berarti ibu berterima kasihnya sama nak Vallen aja," bu Rani tertawa renyah setelah mendengar penuturan Vallen yang polos.
"Iya bu ... memang sudah seharusnya begitu. Si Kevin mah cuma pencitraan doang dengan dalih menunggu Nami, padahal dia juga baru tiba," ceplos Vallen lagi seolah tidak puas mempermalukan Kevin sekali di depan bu Rani.
"Iya bener sekali bu, kayanya kalau anak kita yang satu lagi masih ada ... mau ayah jodohin sama nak Vallen saja, kayanya karakternya mirip sama nak Vallen deh," tukas pak Jamil.
Entah pak Jamil keceplosan, atau tidak. Yang jelas kalimatnya barusan membuat suasananya berubah menjadi aneh seketika. Bu Rani yang tadinya antusias berguyon dengan Vallen dan Kevin jadi ikut terbawa suasana, sememtara Kevin dan Vallen juga kikuk.
"A-a-anak?! Maksud bapak apa ya?" ucap Vallen pura-pura tidak tahu.
Reaksi pak Jamil jadi serba salah sekarang, ia sadar telah membuat kekeliruan yang besar dengan mengatakan kata, 'anak yang satunya lagi' dihadapan Vallen dan Kevin.
"Anu maksud bapak, seandainya kalau bapak punya anak satu lagi selain Nami nanti bapak jodohkan dengan nak Vallen," dusta pak Jamil.
"Oooh gitu, aku pikir bapak punya anak lagi. Hehe," Vallen terkekeh dengan terpaksa agar pak Jamil tidak curiga kalau Vallen sebenarnya juga sudah tahu pak Jamil punya anak kembar.
"Ti-tidak kok. Anak saya cuma Namira saja," tukas pak Jamil terbata.
Suasana di depan ruangan ICU mendadak jadi mencekam sekarang. Bu Rani enggan berkomentar atau menanggapi kalimat pak Jamil yang diyakininya tidak sengaja itu, ia memilih diam seribu bahasa membiarkan suaminya beralasan ini itu tidak mau mengakui putri bungsunya.
Sedangkan Kevin, dia pura-pura tidak tahu. Kevin juga menutup mulutnya rapat-rapat agar tidak salah bicara. Lebih baik dia diam, karena diam adalah cara paling bijaksana daripada memperkeruh suasana dengan melontarkan komentar atau tanggapan.
"Kalau gitu ... kami mau masuk dulu ya nak Kevin, nak Vallen ... ayok bu!" ujar pak Jamil seraya merangkul bahu istrinya.
Vallen cuma mengangguk tanpa bersuara. Dia tahu kalau pak Jamil sebenarnya cuma ingin menghindar dan mengalihkan pembicaraan agar Vallen tidak kepo.
Ketika pak Jamil dan bu Rani sudah masuk ke ruangan Namira yang kedap suara, tiba-tiba saja Vallen langsung berdecak kesal.
"Benar-benar pandai si pak tua itu menyembunyikan keburukannya. Bisa-bisanya dia enggan mengakui kalau dia punya putri lainnya selain Namira. Dia pikir gue belum tahu ceritanya sebenarnya, pantas saja Almira kabur. Mana tahan sih dia tidak diberi kasih sayang begitu sama bokapnya sendiri, Ish ... Ish ... Gue gak habis pikir sama jalan pikirannya si tuan Jamil itu."
"Sudahlah gak usah dibahas lagi," tandas Kevin malas.
"Sebagai pria sejati, gue merasakan apa yang Almira rasakan sekarang. Gue kasihan padanya," cetus Vallen dengan nada super lebay.
Kevin memandang Vallen dengan memicingkan kedua matanya. "Sejak kapan kamu sok peduli sama Almira?"
"Sejak lo menceritakan semuanya tentang Almira pada gue."
Rahang Kevin mendadak mengeras mendengar penuturan Vallen yang penuh penghayatan itu. "Apa maksud kamu ngomong kaya gitu?" Kevin mulai cemburu.
Menyadari reaksi Kevin yang cemburu, tiba-tiba terbesit ide jahil di otak Vallen untuk mengerjai Kevin dengan membuatnya makin cemburu.
"Gak ada maksud apa-apa ... cuma gue kepikiran ucapan pak Jamil tadi. Seandainya Almira nanti kembali, dan mau dijodohkan dengan gue, rasanya itu bukan ide buruk." Vallen menyeringai licik.
"Jangan ngarep kamu!" balas Kevin tak suka.
"Loh kenapa? Apa lo cemburu? ... inget Vin, lo kan sudah punya Namira, jadi gak masalah dong Almira buat gue. Haha."
Kevin semakin tidak tahan dengan ocehan Vallen, bahkan saking tak tahannya refleks Kevin hendak melayangkan satu bogeman keras pada Vallen yang dikiranya telah menikung secara halus itu.
"Kurang ajar kamu, rasakan ...."
"Eits ... sabar bosque! gue cuma bercanda doang," tukas Vallen seraya menahan tangan Kevin yang sudah mengudara. "Lo kalau lagi cemburu udah kaya ABG baru kenal cinta deh, kelihatan alay dan bucin banget. Haha," imbuh Vallen diiringi gelak tawa yang renyah.
"Becanda kamu kelewatan," ujar Kevin sembari mengerucutkan bibirnya beberapa senti.
"Dasar bucin lo!" cibir Vallen.
"Biarin, suka-suka akulah. Daripada kamu ...,"
"Kamu apa?!"
"JOMBLO! Bhwahahaha ...."
"Kampr*t lo Kevin."
Bersambung.