
"Mbak, ini sudah pemberhentian terakhir. Mbaknya gak mau turun?" tegur abang kondektur dengan wajah galaknya.
"Ma-mau Bang," ucap Almira takut.
Dari tatapan si abang kondektur, dapat Almira simpulkan bahwa lelaki itu pasti tengah menilai Almira dengan angka buruk. Sebab, terlihat begitu sinis seolah ingin menendang Almira jauh-jauh. Almira jadi taku sendiri bawaannya.
Almira turun dari busnya dengan langkah yang cenderung gemetar. Ia pun buru-buru kabur setelah kakinya berpijak pada aspal tanpa menoleh ke belakang.
Huh hah huh hah...
Setelah berhasil melarikan diri dari si abang kondektur yang galak, Almira berhenti sejenak. Membungkukkan badannya sembari mencoba mengatur diafragmanya yang tak beraturan. Nafasnya memendek seiring dengan jantungnya yang memburu dengan cepat.
Kondektur tadi begitu menyeramkan, apalagi kalau sedang memelototi Almira. Rupa si abang kondektur tadi sudah seperti raksaksa buruk rupa yang siap melahapnya. Membuat Almira jadi manusia paling kecil tadi.
"Aih... belum genap sehari di kota orang, Aku sudah dapat kesialan yang mengerikan seperti ini. Sungguh malang nasibku ini," celetuknya sembari menyeka keringat yang mengucur lumayan deras.
"Aku serasa lari maraton dibarengi dengan kejaran anjing galak hingga membuat keringatku ini mengucur begitu banyak, haduuuhh," gerutu Almira mengeluh.
Selang beberapa menit, nafas Almira pun telah stabil. Dia menegakkan badannya ke posisi semula. Menatap sekeliling yang terasa asing.
Glek
Layaknya menemukan air di hamparan padang pasir, Almira menelan ludahnya begitu rakus untuk sekedar membasahi kerongkongannya yang serasa mengering dan tercekat.
"Harus kemana aku sekarang?" tanya Almira pada dirinya sendiri. Ia memandang ngeri ke keadaan sekitar, apalagi hari sudah semakin menggelap. Almira bingung mau ke mana.
Almira benar - benar belum ada tujuan mau tinggal atau mungkin bermalam dimana. Mengingat, di kota Karawang Almira belum ada teman, kolega ataupun saudara. Kota itu masih terasa asing hingga Almira bingung sendiri akan melangkah kemana.
Almira menjatuhkan kepalanya dengan lesu. "Aku sepertinya terlalu buru-buru mengambil keputusan tanpa menimbang - nimbang dulu konsekuensinya. Aku hanya fokus ingin lepas dari kehidupan Kevin. Aishhh bodoh! bodoh!" rutuk Almira menyalahkan dirinya sendiri.
"Kalau sudah begini, aku jadi merasa menyesal sendiri. Aishhh lagian kamu tuh mau aja diperintah sama si Namira. Sudah jelas-jelas dia adalah musuh kamu yang bakal merugikan kamu Al. Haduuuhh, aku ini bener - bener ceroboh!" lanjut Almira.
Semakin diingat, malah semakin membuat Almira bingung. Sedari tadi dia tak henti-hentinya menyalahkan dirinya sendiri. Dia tahu kalau dirinya memang plin-plan dan ceroboh. Namun kali ini dampaknya lebih fatal.
Almira menjongkokkan kakinya, memeluk lututnya dengan erat selayaknya para gelandangan yang begitu menyedihkan dan minta dikasihi. Almira juga seperti itu. Dia tak ada bedanya dengan para gelandangan yang terlihat menyedihkan sekarang.
"Mau bagaimana lagi, aku benar-benar tidak tahu sekarang harus menuju kemana. Kalaupun sekarang harus menginap di hotel, dimana hotelnya? Ponsel aku pun mati. Haduuuh ngada-ngada aja sih kamu tuh Al," untuk kesekian kalinya yang bisa Almira lakukan sekarang hanya menyalahkan dirinya sendiri. Dia memang ceroboh dan selalu mengambil keputusan di saat kondisi pikirannya yang semrawut. Alhasil, dia kelimpungan sendiri.
Ditepuknya kepala Almira beberapa kali, merutuk, menghardik, serta menyesali apa yang telah dia putuskan. Seolah, hanya dengan cara itu Almira bisa melampiaskan semua kekesalannya pada dirinya sendiri. Seolah, hanya dengan memukul ia bisa merasa itu lebih baik. Mungkin saja dengan ia puas menghakimi dirinya sendiri, nantinya dia tak akan ceroboh lagi.
Namun apa yang tengah dilakukan Almira cukup banyak mengundang perhatian dari beberapa orang yang kebetulan lewat. Mereka berpikir mungkin Almira gadis stress yang lari dari rumah sakit jiwa. Lihat saja, tingkah Almira benar-benar membuat semua orang keheranan dan geleng-geleng kepala.
Kendati demikian, Almira sendiri tidak begitu mempedulikan orang-orang sekitar yang tengah memfokuskan mata mereka ke arahnya. Almira terlalu sibuk serta kesal sama dirinya yang terus-terusan dibodohi. Andai saja ia dapat mengulang waktu, mungkin dia akan berpikir lebih cerdas sebelum memutuskan kabur ke kota lain, apalagi hanya karena gertakan Namira. Sungguh tidak etis sama sekali.
Namun apa boleh buat, semuanya sudah terlanjur Almira sepakati. Mau mengeluh dan menghakimi ribuan kali pun Almira tetap tak akan bisa memutar waktu. Sekarang ia sudah tiba di Kota Karawang. Tidak mungkin juga Almira ke Jakarta lagi, tadi kunci kontrakan rumahnya telah ia kembalikan pada sang pemilik kontrakan.
"Percuma aku tetap di sini kalau ujung-ujungnya aku tetap tak akan ada yanh menolong selain diriku sendiri," cetusnya begitu lemah.
Saat semuanya terasa begitu berat, tiba-tiba saja ada orang yang merasa iba pada Almira. Meski tak kenal sama sekali dengan Almira, ia merasa empati pada gadis itu.
"Mbak mau kemana?" tegur wanita yang seumuran dengan Almira, sekaligus menghentikan langkah Almira. "Apa Mbak tersesat?"
Almira menoleh ke arah belakang, dia menatap heran pada si pemilik suara lembut yang kini menegurnya. Terutama saat yang menegurnya mengira Almira tersesat. Almira terus saja menatap gadis itu tanpa menjawab pertanyaannya hingga membuat gadis itu menegur Almira kembali dengan pertanyaan serupa.
"Maaf... Mbak mau kemana? Apa Mbak tersesat? Sepertinya Mbak begitu kebingungan dan asing di tempat ini."
Almira masih belum menjawab. Ia hanya mengernyitkan kedua alisnya. Ia memang kebingungan dan merasa asing di Kota Karawang, tapi dia bukan anak yang tengah tersesat. Dia bingung harus dan merasa asing karena tidak tahu mau menjalani hari esok seperti apa dan tinggal di mana.
"Mbak? Mbak?" gadis yang belum diketahui namanya itu malah mengibaskan tangannya tepat beberapa senti di depan wajah Almira. Menyadarkan Almira dari keheranannya.
"Ah bukan.. bukan..." hanya kata itu yang keluar dari mulut Almira untuk menampik dugaan gadis itu yang mengira Almira tersesat.
"Bukan apa Mbak?" gadis itu kembali bertanya karena jawaban Almira terkesan ambigu.
Almira menunduk lesu. Ia malu menceritakannya kalau dia datang ke kota ini bukan karena tersesat tapi karena ingin hidup tenang tanpa gangguan Kevin ataupun Namira. Tapi sayangnya, keputusan Almira terlalu ia ambil buru-buru sehingga tidak ada persiapan maksimal saat sudah berada di Karawang. Seperti misalnya, mental, keuangan dan lain sebagainya. Almira tak mempersiapkan semua itu, dia hanya langsung pergi begitu saja saking tak tahannya terus-terusan ditekan Namira.
Bodoh memang! Almira menyadari hal itu. Jika gadis di hadapannya ini tahu, pasti dia akan mentertawakan Almira.
"Mbak? Mbak kenapa jadi sedih begini? Kalau ada masalah cerita aja Mbak, siapa tahu saya bisa bantu," tawar si gadis bersuara lembut yang sama sekali belum mengenalkan namanya. Bagaimana Almira mau percaya dan menceritakan masalahnya pada gadis yang namanya saja tidak Almira kenal.
Melihat Almira ragu-ragu, gadis itu seolah tahu maksud Almira. Dia pun menepuk dahinya. "Aduh, sampai lupa memperkenalkan diri.. Namaku Risa Mbak, orang-orang memanggil aku Riri," kata gadis itu sembari mengulurkan tangannya dengan ramah.
"Aku Almira, panggil saja aku Al biar lebih singkat," jawab Almira sambil menjabat tangan Riri.
"Salam kenal ya Mbak. Oh ya.. kembali ke topik awal, Mbak mau kemana? Aku lihat Mbak kaya kebingungan? Apa Mbak mau ke tempat saudara Mbak?"
Almira menggelengkan kepalanya dengan lemah. "Aku gak punya saudara di sini."
"Lah terus Mbak berarti beneran tersesat?" terka Riri.
Almira kembali menggelengkan kepalanya untuk kedua kali. "Bukan, aku sengaja datang ke sini. Tapi..."
"Tapi apa? Apa Mbak mau saya antar ke tempat tujuan Mbak?" tawar Riri. Gadis itu sangat baik dan ramah, seolah sudah mengenal Almira begitu lama. Dia memang suka menolong orang. Maka tak heran meski baru kenal, rasanya Riri ingin membantu Almira jika memang perlu bantuannya.
"Aku sebenar..." Almira ragu untuk mengatakan kejadian sebenarnya, ia terlalu malu untuk bercerita. Apalagi alasan dia ke kota itu hanya karena masalah lelaki. Sungguh seperti di dalam sinetron saja. Almira jadi bingung harus cerita atau tidak. Kalau dia cerita, dia takut Riri berpikir aneh-aneh. Tapi kalau dia tidak cerita, bagaimana dia bisa mendapatkan bantuan dari orang lain? Mengingat, dia perlu bantuan yang memang siap membantunya saat ini. Almira jadi dilema sendiri sekarang.
Bersambung.