Between Hate and Love

Between Hate and Love
Tertangkap Basah



"APA? Kamu mau lepas dari Namira?"


Kontan, Kevin dan Vallen menoleh ke arah sumber suara.


Secara kompak Kevin dan Vallen sukses membulatkan mata mereka dengan lebar. Mereka berdua membeku di tempat.


"Jelaskan pada saya, apa maksud kamu mau lepas dari Namira? Jangan bilang kamu mau meninggalkan putri saya saat kondisinya sedang tidak baik-baik saja."


Pak jamil langsung mempersempit jarak dengan Kevin dan Vallen yang masih memasang tampak terkejut tak bergeming. Dari raut yang terlihat oleh bola mata Kevin dan Vallen, dapat mereka simpulkan kalau lelaki tua yang tengah menghampiri mereka itu memendam amarah luar biasa.


"Coba jelaskan sekali lagi apa maksud kamu berkata begitu?" lanjut pak Jamil dengan nada galak. "Apa kamu mau mencoba mengkhianati putri saya?"


Kevin meloloskan salivanya dengan rakus, bahkan sampai terdengar ketara suara lolosan saliva tersebut oleh telinganya sendiri. Begitupun dengan Vallen, dia melakukan hal serupa dengan apa yang tengah dilakukan Kevin saat ini.


Terlihat jelas kalau Kevin dan Vallen tidak nyaman di situasi seperti itu. Mereka rasanya ingin melarikan diri dari tempat itu sesegera mungkin. Namun sayang, seribu kali sayang, keduanya tidak dapat kabur dari tempat itu. Jangankan kabur, menggerser sedikit tubuh mereka saja rasanya kaku.


Pak Jamil menajamkan matanya memandang Kevin dan Vallen yang kini berdiri ketakutan. Perasaan was-was mulai menyelimuti Kevin dan Vallen saat ini.


"Anu pak ... maksud saya—"


"Saya tidak akan pernah membiarkan satu orangpun berani menyakiti apalagi mencampakkan putri saya, kalau sampai hal itu terjadi saya tidak akan mengampuni siapapun orang itu, termasuk kamu!" seru pak Jamil berapi-api. "Jadi jangan harap kamu bisa melakukan itu pada putri saya. Sebelum hal itu terjadi, maka saya akan membuat kamu menyesal duluan!"


Pak Jamil masih memandang Kevin dengan tatapan intens nan tajam seperti harimau yang siap melahap mangsanya. Tidak peduli itu Kevin atau bukan, yang jelas Pak Jamil bertekad akan bertindak kasar pada siapapun yang berani menyakiti putri kesayangannya yang bernama Namira.


Hal itu tentu saja membuat Kevin yang nyali kecil langsung ciut seketika. Dia terjebak dengan permainannya sendiri. Kalau sudah begitu, Kevin merasa menyesal telah memantik api peperangan tanpa berpikir dulu sebelumnya.


Menyadari situasi semakin menegang dan memanas, Vallen pun berinisiatif melontarkan bantahan agar posisi Kevin tak semakin tersudut. Lagipula sejahat-jahatnya Vallen, dia tidak akan tega melihat Kevin dibentak dan diintimidasi oleh lelaki tua bernama Pak Jamil itu. Sebisa mungkin dirinya harus menyelamatkan Kevin dari kemurkaan Pak Jamil.


"Ahahaaa bapak ngomong apa sih?" Vallen terkekeh masam, sementara Pak Jamil langsung mengalihkan atensinya pada Vallen.


"Bapak itu salah paham. Maksud Kevin sulit lepas dari Namira tuh ... maksudnya Kevin bukan mau meninggalkan atau melepas Namira begitu saja, meskipun Namira sekarang sakit tapi bukan alasan buat Kevin untuk dia berpaling dari anak bapak. Karena Kevin sangat mencintai Namira. Kevin tidak bisa lepas dari Namira ... gitu maksudnya pak," kilah Vallen berdusta.


"Benar begitu Kevin?" Tatapan pak Jamil kembali mengarah pada Kevin lagi setelah tadi beralih sejenak.


Dengan sigat Vallen pun menyenggol lengan Kevin agar mengiyakan apapun yang dilontarkan Pak Jamil. Mending cari aman daripada kena semprot pak Jamil yang wajahnya telah diliputi rasa curiga yang luar biasa.


"I-iyaa pak," gelagapan Kevin.


"Dia sangat mencintai anak bapak. Jadi bapak gak perlu cemas, lagi pula saya juga ikut mengawasi Kevin agar dia tidak berpaling dari Namira, kalau dia macam-macam saya tidak akan segan-segan menceramahi dia, Pak. Hehe ...," sambar Vallen dengan nada polos.


Seperti seorang pahlawan kesiangan, Vallen lagi-lagi membela Kevin meskipun harus sedikit berbohong pada Pak Jamil— pasalnya Vallen tahu persis kalau berurusan dengan lelaki tua bangka yang kejam itu akan berabe jika tidak disisipkan kebohongan.


"Oh baguslah kalau begitu. Maafkan saya telah salah paham," balas pak Jamil sambil mengusap bahu Kevin dan melayangkan senyum khas pria antagonis pada Kevin.


"Tidak apa-apa pak," kata Kevin masih dengan ekspresi takut dan cemas.


"Kalau gitu saya masuk dulu ke ruangan Namira. Kalian mau masuk atau tidak?"


"Oh iya pak silahkan bapak duluan saja, saya masih ada urusan sama Vallen," balas Kevin lagi.


Sepeninggal pak Jamil, lenguhan nafas lega dari Kevin dan Vallen terdengar begitu jelas dan ketara. Tapi detik berikutnya, Kevin langsung menyerbu Vallen dengan protes garis keras.


"Ishh ... kamu kenapa sih malah bilang aku sangat mencintai Namira? Kenapa coba harus mengatakan kalimat bantahan begituan pakai bilang aku gak bisa lepas dari Namira lah, inilah ... itulah ... kaya gak ada alasan lain aja. Jadi rasain ini!"


Selain memaki Vallen, Kevin juga tak segan-segan melayangkan cubitan di pinggang Vallen dengan gemas.


Tuk ...


Tuk ...


Tuk ...


Hal itu tentu saja mengundang aduhan dari Vallen. Lelaki itu langsung meringis dengan nyaring.


"Aduuuuuhhh ... aduh ... aduh ... Hentikan, Vin! Lo boleh marah sama gue tapi gak usah pake nyubit pinggang gue juga kali ... sakit tau! Hentiin gak! Aduh ... aduh ...."


Alih-alih berhenti, Kevin malah semakin gencar menghujani Vallen dengan cubitan ke seluruh badan Vallen. Sengaja dia melakukan itu, semata-mata agar Vallen menyadari kesalahannya yang membuat Kevin semakin terjerat dalam permasalahan cinta segitiga itu.


"Bodo amat! Yang penting aku harus nyubit kamu biar kamu sadar kalau tindakan kamu tadi salah."


"Ish ... tadi kita hampir tertangkap basah, Vin. Gue gak mau mengambil resiko dengan membuat Pak Jamil emosi sama lo. Lo gak lihat betapa menyeramkannya muka Pak Jamil pas tadi nahan emosi? Baru menampilkan emosi tertahan aja bulu-bulu halus di tengkuk gue udah berdiri, apalagi beneran kena semprot. Hiiyyy gue gak bisa bayangin, Please hentiin cubitan lo ke gue, please!" tukas Vallen seraya diiringi memohon dan bergidik ngeri.


"Tapi emang kamu gak mikir ya?! Dengan kamu bilang aku tidak akan meninggalkan Namira sama aja kamu menanam masalah baru buat aku. Aku benar-benar gak bisa lepas dari Namira nantinya ... Aishhh ... dasar payah kamu, Len!" gusar Kevin.


"Ya maaf tapi tadi gue terlalu khawatir lo di apa-apain sama si tua bangka itu. Gue kan panik, Vin. Gue gak tega nantinya lo disemprot apalagi dijotos sama si Pak Jamil."


"Kamu pokoknya harus tanggung jawab buat ikut bantuin aku nyelesein masalah aku ini. Kamu juga harus bantu jelasin semuanya ke Namira kalau aku sama sekali tidak mencintai Namira."


"Iya ... iya ... nanti gue bantuin. Lagian kapan sih gue nolak permintaan lo? Mau nolak juga lo tetep maksa! Jadi gue gak ada pilihan buat ngelak."


"Sekarang kita tinggal nunggu si Pak Jamil keluar agar kita bisa masuk lagi ke dalam dan meluruskan segalanya pada Namira. Jujur aku udah gak tahan dengan situasi begini, Almira semakin jauh dari aku jika tidak segera kusudahi drama mencintai Namira. huhu."


"Lagian lo sih, macem-macem aja! Kalo bertindak tuh ya ... mboh dipikirin dulu kali jangan asal ngelakuin ini dan itu tapi ogah nanggung resiko. Dasar payah lo!" rutuk Vallen.


"Iya ... iya ... aku yang salah. pokoknya ini semua salah aku," ujar Kevin pasrah.


"Ya memang salah lo dari awal," tandas Vallen ngegas.


Bersambung.