
"Iya nih, jangan ngarang Mas. Hidup tuh jangan kebanyakan ngehalu, repot urusannya kalau sampai ditolak!" timbrung Ricko meremehkan, membuat Kevin benar-benar ingin menenggelamkan lelaki itu ke kerak bumi terdalam.
"Diam!" bentak Kevin. Secara otomatis Ricko melongo tak percaya.
"Kenapa aku harus diam? Anda tidak berhak melarang saya."
"Aku bilang diam!!!" bentak Kevin kedua kalinya. Intonasi bicaranya lebih tinggi dari sebelumnya. Wajahnya memerah murka, membuat Ricko sedikit takut dibuatnya.
"Almira, urusan kita belum selesai. Kamu masih berhutang penjelasan padaku." Kini atensi bicara Kevin beralih ke Almira. Menuntut jawaban dari gadis yang kini bersedekap malas.
"Tapi aku sudah selesai. Semua sudah kujelaskan sejelas-jelasnya, kalau aku sudah memiliki pacar. Jadi berhentilah mengganggu hidupku detik ini juga. Hiduplah masing-masing sama seperti saat sebelum kita saling mengenal," tandas Almira memerintah.
"Aku tetap tidak akan percaya sebelum kamu kasih bukti kongret mengenai siapa, dimana, dan seperti apa pacar kamu itu."
Suasana jadi semakit sengit. Almira keukeuh tidak mau jujur tentang perasaannya dan selalu menegaskan kalau dia sudah punya kekasih. Sementara Kevin tetap teguh pada pendiriannya. Ia yakin Almira berbohong demi menghindarinya. Ia berbohong agar Kevin melupakannya dan fokus pada Namira. Padahal Kevin sudah terang-terangan kalau dia tidak memiliki perasaan pada Namira, dia hanya berupaya menolong dan menstabilkan kesembuhan Namira, meskipun cara Kevin dianggap salah.
Di otak Almira sekarang tertanam kalau Kevin telah bertunangan dengan Namira, karena sejatinya dia tak mengetahui fakta yang sebenarnya terjadi di malam itu. Malam tersebut adalah malam saat Kevin hendak bertunangan dengan Namira, sayangnya Tuhan berkata lain. Rencana Kevin untuk menjelaskan pada Almira kalau dia bertunangan dengan Namira hanya karena kasihan serta ingin meluruskan kesalah pahaman yang terjadi antara Almira dan Namira keburu gagal begitu saja. Oleh karena itu, Almira yang merasa telah dipermainkan Kevin memilih untuk pergi tanpa mendengar penjelasan Kevin. Dan saat itu juga, penyakit Namira kambuh hingga membuat pesta pertunangannya dengan Kevin urung.
Sampai saat ini, Almira masih berpikir kalau pertunangan Kevin dan Namira telah berjalan mulus. Maka dari itu, Almira tidak mau menerima Kevin meskipun lelaki itu telah menyatakan cinta padanya. Pantang buat Almira untuk merebut apa yang telah menjadi milik orang lain, terlebih lawannya tengah sakit.
Almira mengambil napas sebanyak-banyaknya dan mengeluarkannya secara perlahan, lantas menjawab pertanyaan Kevin.
"Baiklah kalau kamu mau bukti mengenai pacar aku," Almira berhenti sejenak, seperti menguatkan mentalnya untuk mengambil jalan pintas. "Pacarku adalah Ricko!" tegas Almira yang membuat Ricko serasa diterjang banteng liar.
"Apa?" Ricko melongo tak percaya. Ia sungguh begitu terkejut sekaligus bingung. Pun dengan Kevin yang sedari tadi mendesak Almira untuk memberi tahu siapa pacar Almira sesungguhnya.
"Ini maksudnya apph—" Almira memberi kode pada Ricko yang hendak menginterupsi. Beruntungnya, kode yang diberikan Almira melalui kedipan matanya cukup dimengerti oleh Ricko. Lelaki itu menurut dan tidak melanjutkan kalimatnya.
Kevin tersenyum sarkas. "Kamu mau mencoba membodohi aku lagi, Al? Kamu pikir aku akan percaya begitu saja setelah kamu berhasil menunjukan kalau Ricko adalah pacar kamu? Big No! Aku tidak percaya," timpal Kevin menegaskan.
"Terserah kalau kamu mau percaya atau tidak. Yang jelas aku dan Ricko sudah jadian beberapa hari yang lalu. Iyakan, Rick?" dusta Almira seraya memberi senyum pada Ricko. Menuntut lelaki di sampingnya itu untuk ikut dalam permainannya.
Ricko nampak tersenyum canggung. Sejujurnya dia tidak mengerti sama sekali kenapa Almira mengatakan sudah jadian dengannya beberapa hari yang lalu. Padahal jelas-jelas jika Ricko menawarkan sesuatu, gadis itu cenderung menghindar. Lantas bagaimana bisa jadian? Otak Ricko begitu bingung memikirkan itu semua, tapi ia berusaha untuk berada di pihak Almira dan mengikuti semua arahan Almira meski ia sama sekali belum paham apa tujuannya.
"Aku tetap tidak percaya!" seru Kevin.
"Ya kamu harus percaya dong. Aku tegasin sama kamu ya, jangan suka gangguin pacar orang lain," timbrung Ricko berusaha membela Almira. Meski ia tidak tahu skenario apa yang tengah dimainkan Almira, namun Ricko bisa menangkap kalau Almira risih pada Kevin sehingga Almira memang butuh bantuannya untuk bisa mengusir Kevin secepatnya.
"Diam kamu!" sentak Kevin.
"Kurang ajar! Berani kamu meninggikan suaramu padaku, hah?" Kevin membusungkan dadanya ke arah dada Ricko.
Ricko pun membalas. "Kamu pikir aku takut?" ia tak gentar sama sekali.
Melihat siatuasi dan kondisi yang sudah mengecam, buru-buru Almira menarik lengan Ricko menjauh dari Kevin. Almira khawatir Kevin kelepasan meninju Ricko. Ia tidak mau ada baku hantam antara Ricko dan Kevin yang sudah tersulut emosi. Ia akan jadi orang yang paling merasa bersalah kalau Ricko sampa kenapa-kenapa karena lelaki itu sejatinya tidak tahu apa-apa. Lelaki itu hanya berupaya membela Almira sehingga senan tiasa masuk dalam permainan Almira meski tak tahu sebab musababnya lebih dulu.
"Ayo Rick, mending kita tinggalkan dia. Percuma juga kita meladeni dia. Buang-buang waktu!" ucap Almira mengajak Ricko untuk beranjak dari tempat itu. Bak sebuah robot yang memiki remot kontrol, Ricko pun lagi-lagi patuh dengan Almira. Mereka berdua pergi meninggalkan Kevin yang mematung tak percaya.
Selepas terbebas dari Kevin, Almira pun mengajak Ricko duduk di kursi kantin. Dia merasa lega karena Kevin tak kelepasan menghajar Ricko. Kalau saja Ricko sampai terhajar Kevin, bisa berabe urusannya.
"Sebenarnya ada apa sih Al?" Ricko berusaha membuka obrolan secara hati-hati. "Dan laki-laki yang tadi tuh siapa? Kenapa kamu kaya benci banget sama dia?"
Almira menghela napasnya begitu berat. Seolah sedang melepaskan beban yang membelenggu di benaknya.
"Dia Kevin. Sebenarnya aku tidak membenci dia. Aku cuma sedang sebal saja sama dia dan aku tengah memberinya pelajaran biar dia mikir."
Alis Ricko mendadak bertautan, menandakan kalau dia heran luar biasa.
"Maksud kamu?"
"Ya aku gak benci dia. Cuma kami memang ada masalah kecil dan aku sengaja membuatnya menjauh dariku karena ...." ucapan Almira tergantung sesaat, membuat Ricko semakin penasaran menantikan kelanjutannya. "Karena aku kesal dia bertunangan dengan Namira tanpa memberi tahuku."
"Apa? Bentar deh, aku rada gak mudeng nih nyerna kata-kata kamu."
"Udahlah lupain aja, Rick. Gak penting ini."
"Ya gak bisa gitu dong. Aku penasaran nih. Jadi maksud kamu dia itu tunangan kembaran kamu si Nami itu?" Almira mengangguk. Ricko pun melanjutkan telaahnya.
"Terus kamu sebenarnya suka sama dia, terus kamu ngambek gara-gara kamu tahu kalau dia tunangan sama kakak kamu? Begitu?" Almira kembali mengangguk. "Terus perasaan dia ke kamu gimana?"
"Sebenernya sih ceritanya panjang tapi aku ceritakan poin pentingnya saja. Aku sama Kevin sebenernya saling suka, tapi aku terlanjur kecewa karena dia memilih Namira. Belum lagi Kevin menyembunyikan semuanya dari aku dan berdalih kalau dia melakukan semua ini karena mau membantu kesembuhan Namira. Dan sekarang meminta aku buat tetap bersamanya di saat Namira sedang sakit, gimana aku gak makin kesel coba?" Almira memaparkan, sementara Ricko hanya mangut-mangut mengerti.
"Ya aku kalau jadi kamu juga pasti kesel, Al. Tapi emang kamu rela kalau Kevin beneran sama Namira? Bukankah kamu juga suka? Kamu juga selalu berambisi ingin mengalahkan Namira sejak dulu. Lantas kenapa kamu memilih mengalah sekarang?"
"Karena Namira sedang sakit. Aku juga gak mau jadi orang egois dengan merebut Kevin yang sudah sah jadi tunangan Namira," keluh Almira sembari menjatuhkan kepalanya. Betapa dilematisnya dia sekarang.
Bersambung.