
Yohan berdecak kesal menanggapi sikap Safira yang keras kepala. Dia menolak setiap bantuan yang Yohan berikan, kebencian yang Ia tunjukan terlalu nyata, tapi meski begitu Yohan tak bisa berpaling dan membiarkannya begitu saja.
"Ken jangan jalan dulu, tunggu sampai dia naik bus, dan ikuti dari belakang." Perintah Yohan yang seketika di angguki Ken.
"Ken apa kamu pernah jatuh cinta?" Tanya Yohan masih dengan ekspresi wajah datar.
"Emh, mungkin pernah," Ken nampak berpikir, "sepertinya saat aku sekolah dasar aku pernah menyukai teman sekelas ku, dia gadis yang imut bertubuh mungil dan punya mata besar." Ujar Ken nampak terkekeh. Yohan berdecak, bukan jawaban itu yang dia inginkan, cinta masa kecil bagaimana mungkin di sebut cinta, itu hanya rasa suka terhadap teman yang respek padamu. Bertanya pada Ken bukan pilihan yang tepat, membuat Yohan memilih untuk diam lagi.
"Apa Tuan jatuh cinta pada Nyonya?" Celetuk Ken tiba-tiba yang membuat Yohan seketika melotot padanya.
"Itu tidak mungkin, fokus menyetir jangan sampai kau menabrak orang!" bentak Yohan yang seketika membuat Ken menciut.
'Hmph, seberapa pun kau mengelak aku tahu kau sudah jatuh hati pada gadis itu, Yohan yang bodoh.' Ken tersenyum samar.
Sesuai apa yang Yohan katakan Ken melajukan mobilnya pelan sengaja agar dia tetap berada di belakang bus yang Safira tumpangi.
"Tuan, Nyonya sepertinya sudah turun." Ujar Ken sembari memerhatikan Safira yang baru saja turun di halte yang letaknya tak jauh dari kantor mereka.
"Hem bagus, tunggu sampai dia masuk. Jangan biarkan dia tahu kalau kita membuntutinya dia bisa salah faham lagi padaku." Ucap Yohan, yang langsung di angguki oleh Ken. Untuk beberapa saat mereka berdiam di dalam mobil menunggu Safira masuk, setelah itu mereka menyusul dan langsung masuk pula.
~*~
Safira tengah duduk menghadap komputernya setelah atasan menjelaskan apa yang harus ia kerjakan. Mereka tak banyak bertanya tentang siapa Safira dan dari mana asalnya, yang mereka tahu adalah, Safira karyawan baru yang di rekomendasikan sendiri oleh Ken. Mereka berpikir Safira adalah kekasih Ken, atau mungkin juga adiknya, mereka tak berani macam-macam terhadap Safira karena mereka takut pada Ken yang adalah tangan kanan bos mereka.
"Safira, kamu dulu kerja dimana?" tanya Dira yang satu divisi dengannya, mereka sempat berkenalan tadi karena mereka duduk bersebelahan.
"Aku dulu kerja di salah satu perusahaan berita, ya gak terlalu lama sih cuma sekitar dua tahunan." Jawab Safira sembari menyeduh secangkir kopi untuk menambah energinya.
"Jadi sebetulnya ini bukan bidang kamu dong?" tanya Dira lagi.
"Emh, ya bisa di bilang gitu. Tapi, aku akan berusaha menyesuaikan diri, ini tidak terlalu sulit jika aku terus berusaha." Safira menyeruput kopinya, dia senang saat hari pertama kerja dia sudah mendapat teman baru, sepertinya menerima tawaran Yohan kali ini adalah pilihan yang benar.
"Oh ya, apa hubungan kamu dan Tuan Ken?" pertanyaan itu Dira lontarkan membuat Safira langsung terdiam, otaknya berputar keras mencari alasan yang tepat untuk mengelabui Dira.
"Emh, Ken ya. Dia... Dia tetangga aku, ya dia tetangga aku, rumah kami kebetulan bersebelahan dan aku sudah kenal dia cukup lama, jadi aku meminta untuk di carikan pekerjaan karena aku sudah lama menganggur." Safira menilik wajah Dira dari sudut matanya, takut jika alasannya tak mampu membuat Dira percaya. Namun, ke khawatiran nya nampaknya sia-sia Dira terlihat mempercayai kata-kata Safira barusan.
"Oh gitu ya, aku pikir kamu pacarnya Tuan Ken." Uhuk... Seketika Safira tersedak kopi yang baru saja dia minum, dia terkejut dengan isi kepala Dira, bagaimana pikiran gadis itu bisa sampai ke arah sana.
Selepas mengobrol sejenak dengan Dira, Safira kembali ke mejanya, tanpa di duga di mejanya sudah terdapat setumpuk dokumen yang harus Ia kerjakan, dia sampai melongok di buatnya.
"Hah, apa-apaan ini?" Safira mengedarkan pandangannya mencari sosok orang yang menaruh dokumen tersebut di atas mejanya tanpa memberitahunya terlebih dahulu.
"Permisi. Apa kau tahu siapa yang menaruh tumpukan dokumen ini di mejaku?" tanya Safira pada salah satu karyawan yang mejanya tak jauh dari meja milik Safira.
"Tadi Tuan Ken yang menaruhnya di situ, dia bilang kamu harus meninjau dan menghapal perkembangan perusahaan satu tahun terakhir." Jawab karyawan wanita tersebut.
"What? Satu tahun terakhir? Dia gila apa?" Wanita itu mengernyit mendengar ucapan Safira, mungkin dia berpikir kenapa karyawan baru seperti Safira berani mengatai atasannya sendiri gila. Dengan segera Safira menetralkan kembali ekspresinya, dia tak ingin karyawan lain curiga padanya.
"Makasih ya, maaf sudah mengganggu." Safira pun berlalu dan duduk di mejanya sendiri.
"Ya ampun Fira, kamu pasti harus lembur malam ini," Dira menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa Iba pada nasib Safira, "aku pikir karena kamu di rekomendasikan sendiri oleh tuan Ken takkan ada yang berani mengerjai mu, tapi ternyata malah tuan Ken sendiri yang melakukannya." Dira menghela napas berat.
"Ini pasti kerjaan dia." Gumam Safira kesal.
"Kamu ngomong apa?" tanya Dira yang tak mendengar dengan jelas apa yang Safira gumamkan.
"Tidak ada, kau bekerjalah lagi aku akan mengerjakan pekerjaanku yang harusnya untuk satu Minggu ini," ucap Safira dengan wajah kesal.
Di dalam ruangan lain tepatnya di ruangan paling tinggi di gedung perkantoran tersebut, seseorang tengah memerhatikan Safira dari layar laptopnya. Ya Yohan, dia memiliki hobi baru sekarang, yaitu memata-matai Safira dimana pun dia berada, seolah dia tak ingin melewatkan satu kesempatan pun dan memberi ruang Safira lolos dari pengawasannya. Safira sudah seperti penjahat yang terus di awasi tanpa dia sadari.
"Tuan, kenapa anda memberi Nyonya pekerjaan sebanyak itu?" Tanya Ken keheranan.
"Birkan saja, biar dia tak punya waktu untuk bergosip," ujar Yohan kesal, bukan tanpa alasan Yohan bersikap demikian dia tidak suka Safira tertawa dengan orang lain selain Yura tentunya, sedang dengan dirinya Safira selalu memasang wajah dingin dan cemberut sepanjang waktu.
"Bergosip?" Ken mengulang perkataan Yohan penuh tanya.
"Sudahlah jangan pedulikan dia, lanjutkan pekerjaanmu!" Yohan melambaikan tangan mengusir Ken pergi.
'Jatuh Cinta itu menyenangkan kan, Tuan.' batin Ken, dia tersenyum penuh arti sembari berlalu.
Yohan masih terus menatap Safira dari layar laptopnya, sembari sesekali dia menyematkan senyum melihat ekspresi wajah Safira yang tampak berubah-ubah. Bahkan untuk menunjang maksud terselubungnya itu, dia sengaja membeli laptop baru untuk pekerjaannya yang lain. Agar dia bisa terus mengawasi gerak gerik Safira setiap waktu.