
"Ken menepi sebentar!" Perintahnya tiba-tiba, mengejutkan Ken juga Safira. Namun, Ken lekas menuruti perintah Tuannya.
Mobil pun menepi di pinggir jalan, "Ken pergi beli itu!" Tunjuk Yohan pada sebuah gerobak berwarna merah muda. Ken nampak tercengang, namun dia hanya bisa mengangguk dan melangkah keluar.
Taklama kemudian dia pun kembali, di tangannya ia membawa dua bungkus panjang gula kapas, masing-masing berwarna merah muda dan biru.
"Ini Tuan!" Ken menyodorkan gula kapas tersebut dari luar kaca jendela. Yohan mengambilnya dan menutup kaca mobil kembali, Ken pun sudah kembali masuk ke dalam mobil dan duduk di depan kemudi.
Mobil pun kembali melaju di jalanan beraspal. Yohan menyodorkan sebungkus gula kapas itu pada Safira.
"Maaf, aku gak suka makanan manis." Tolak Safira sembari memalingkan wajah.
"Maaf! Kali ini aku memang salah, tapi... Aku juga gak tahu kalau Ibu kamu akan," Yohan tak mampu meneruskan perkataannya.
"Kamu bukan peramal jadi mana mungkin kamu tahu." Jawab Safira ketus, masih enggan menatap lawan bicaranya.
"Tuh kamu tahu." Ucapnya datar. Safira hanya mendengus sebagai jawaban.
Beberapa saat kemudian, mobil pun sampai di depan gerbang rumah Yohan, seorang penjaga membuka kan pintu, Ken pun lekas melajukan mobilnya masuk kedalam gerbang dan menepikannya.
Tanpa basa-basi Safira turun dari mobil lebih dulu meninggalkan Yohan yang masih tinggal di dalam sana. Safira kembali menjejakan kaki di dalam sangkar emas, di pandangan orang lain Safira tampak beruntung bisa menikahi seorang pengusaha muda yang kaya raya, sudah tampan mapan pula, sungguh seorang suami idaman. Tapi kenyataannya semua berbalik 180° Safira di paksa menikah dengan Yohan yang hanya ingin membalas dendam saja.
"Kakak Ipar!" Teriak seseorang yang Safira kenal, sambil berlari menyeruak memeluknya. Gadis berperawakan hampir sama dengan Safira, namun bersikap seperti anak berumur 5 tahun itu, berhambur memeluk Safira sambil memanggilnya dengan sebutan Kakak Ipar bukan Mami seperti sebelumnya.
"Yura!" Pekik Safira keheranan, dia lantas melepaskan pelukan Yura pelan.
"Darimana kamu tahu kalau Aku adalah--." Safira tak sanggup menuntaskan kata-katanya.
Safira tersenyum lembut dan mengusap kepala Yura dengan penuh kasih sayang, "Yura, kamu masih boleh ko panggil aku Mami." Ucap Safira.
"Gak ah, panggil Kakak Ipar lebih enak." Jawab Safira.
"Emh ya sudah, terserah kamu aja deh." Safira lebih baik mengalah dan tidak berdebat dengan Yura.
Malam setelah Safira menemani Yura tidur dia hendak kembali ke kamarnya, namun di tengah jalan dia bertemu Yohan yang tengah berbicara di telpon. Safira berlalu dan mengabaikan Yohan, seolah pria itu tak ada.
"Menyebalakan! Aku sudah minta maaf tadi, tapi dia tidak menanggapinya sama sekali." Geram Yohan sambil melempar pandang kesal pada punggung Safira yang telah menjauh. Ya sedari tadi Yohan menunggu di luar kamar Yura, menunggu Safira keluar, namun begitu Safira memutar gagang pintu dia lekas berpura-pura menelpon.
Yohan meras kesal karena di abaikan oleh Safira, padahal Safira lah orang pertama yang mendengar kata maaf yang keluar dari bibir Yohan
***
Halo Gaes👋 salam sayang dari othor🤗
Mohon maaf ya jika othor jarang up, kalau pun up pendek-pendek pula🙏 😂
Di karenakan othor sibuk di RL jadi agak susah untuk menyempatkan menulis, jadi sekali lagi othor mohon maaf🙏
Tapi othor janji akan berusaha menyelesaikan tiap novel yang othor bikin, walau pastinya selow update😅 gak tentu juga.
Jadi so, author harap kalian gak bosan nunggu dan tetap mengikuti cerita abal-abalnya othor yang satu ini🤣🤣
Peluk online dari othor🤗😘 👋👋