
"Tuan apa kita akan langsung pulang?" pertanyaan sang sopir seketika membuat dua orang itu menoleh.
"Langsung pulang saja!" perintah Yohan.
"Loh ko pulang, tadi katanya mau jalan-jalan." Keluh Safira.
"Tunggu sampai luka-mu sembuh, baru kita pergi." Tegas Yohan.
"Aku baik-baik saja, ini hanya luka kecil. Ayolah Yohan, ayo kita pergi," tanpa sadar Safira memeluk lengan Yohan.
Yohan tersenyum pelan, "oke!" Ujarnya dengan wajah memerah.
"Nyonya ingin jalan-jalan dulu, turuti saja keinginannya." Sopir itu pun mengangguk.
Mereka memasuki kawasan yang ramai dengan pejalan kaki, mobil di larang masuk ke-tempat ini. Jadi Safira dan Yohan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, di masing-masing samping jalan banyak stand pedagang dengan barang jualan yang berbeda-beda, ada yang menjual makanan dan ada juga yang menjual aksesoris.
Sebuah stand pedagang menarik perhatian Safira, tanpa sadar dia menggenggam tangan Yohan dan menariknya, "Yohan ayo beli eskrim!" ajaknya, Yohan seolah tersihir dia hanya bisa menuruti ajakan gadis itu tanpa mau menolak.
"Pak eskrim-nya dua!" pinta Safira, yang langsung di layani oleh sang penjual.
"Ini eskrim-nya Mbak, silahkan di nikmati!" Safira hendak mengambil eskrim itu, saat dia sadar tangannya sejak tadi menggenggam tangan Yohan. Sikap Safira langsung tampak kikuk dia mengambil eskrim itu dari pedagang tadi, sedangkan yang satunya di ambil Yohan dia sekalian membayarnya.
Safira berjalan meninggalkan Yohan dengan perasaan malu setengah mati, "Fira tunggu aku!" teriak Yohan, dia berusaha mempercepat langkahnya agar bisa berjalan sejajar dengan wanita itu.
"Kau yakin?" Safira tersenyum jahil, Yohan mengangguk tak ada keraguan di matanya.
"Baiklah, jangan salahkan aku jika membuatmu bangkrut!" Safira terkekeh dia mulai menjajal setiap toko yang ada, dan tak satu-pun dari toko itu yang terlewat, dia membeli setiap barang yang menurutnya menarik. Dia bahkan membeli kostum bergambar buaya yang lengkap dengan penutup kepalanya.
"Ngapain kamu beli baju begitu?" Yohan mengernyitkan dahi menatap baju yang Safira beli.
"Berasa lucu aja, apa lagi kalau seseorang memakainya." Safira terkekeh, jiwa jahilnya muncul.
"Memangnya siapa yang mau pakai baju begituan," Yohan bergidik.
"Ada deh." Safira tetap membelinya dan berlalu ke toko berikutnya. Yohan tampak kesulitan membawa barang belanjaan yang Safira beli, bahkan menurut Yohan apa yang Safira beli bukan hal yang wajar.
Contohnya, dia menyatroni toko aksesoris, tapi yang dia beli hanya gantungan kunci, yang ke-dua, dia datang ke-toko perabot yang dia beli hanya satu toples kaca dan yang ke-tiga ya tadi dia malah membeli baju kostum buaya. Wanita ini benar-benar aneh, dan isi paper bag yang Yohan bawa juga benda yang menurutnya bukan waktunya untuk di beli, ada keset, centong nasi, sepasang cangkir keramik dan lampu tidur.
"Oke, sepertinya sudah cukup!" Safira menengok paper bag yang dibawanya juga yang di bawa Yohan.
'Astaga syukurlah, rasanya nyawaku hampir habis.' Batin Yohan.
Safira dan Yohan pun kembali ke mobil, dengan barang-barang yang sudah tertata rapi di bagasi, hanya butuh waktu sekitar sepuluh menit untuk sampai di vila, disana sudah terdapat mobil berwarna hitam dan seorang pria yang Safira kenali.