Between Hate and Love

Between Hate and Love
Biarkan Aku Pergi!



Almira berhasil lolos dari Kevin yang hendak mengajaknya berbicara. Dadanya terasa sesak jika berhadapan dengan Kevin. Tidak hanya dadanya, tapi batinnya juga.


"Huh, setiap kali melihat wajah dia, bawaannya aku ingin emosi terus," Almira berdecak kesal dalam hatinya.


Seiring dengan rasa kesalnya, Almira mencoba mengetuk pintu ruangan bu Vania. Lalu, sejenak ia mengatur nafasnya yang tak beraturan akibat dari amarah yang sempat menguasainya.


"Tenangkan dirimu Almira! hilangkan rasa emosimu dan bersikaplah biasa saja!" titahnya pada diri sendiri ketika tangannya mengudara mengetuk pintu.


Tok... Tok... Tok...


"Masuk!" pekik bu Vania dari dalam ruangannya.


Almira masuk ke dalam ruangan bu Vania dengan sikap yang biasa saja. Dia memang cukup mahir dalam menormalkan kembali kondisi moodnya.


"Permisi bu," ucap Almira ragu.


Bu Vania mendongak dan berkata, "ada apa Al? Apa ada file yang harus saya tanda tangani?"


"Anu bu... saya,... " mendadak Almira jadi gugup. Padahal tadi dia sangat optimis. Tapi ketika bertatapan langsung dengan bu Vania, dia jadi ciut untuk mengutarakan perihal pengunduran dirinya.


Seolah mengerti dengan sikap yang ditunjukan Almira, bu Vania kemudian kembali bertanya, "Apa kamu mau membicarakan hal yang penting di luar pekerjaan?"


Tentu saja Almira terhenyak dan mengelak. "Bukan bu," ucapnya takut.


"Lalu?"


Almira mendekat ke arah bu Vania seraya menyodorkan amplop yang berisi surat pengunduran dirinya.


"Apa ini?" Ada raut heran dari dalam wajah bu Vania.


"Itu surat pengunduran diri saya bu," ucap Almira setelah berhasil mendudukan bokongnya dengan ragu.


"Apa??! pengunduran diri? Alasannya apa? kenapa mendadak? Apa kamu merasa kurang dengan gaji yang saya berikan?" bu Vania tersentak kaget dengan keputusan Almira yang mendadak itu. Dia bahkan mencecar Almira dengan banyak pertanyaan tanpa jeda.


Almira langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat, "bukan karena itu bu," elak Almira.


"Jika bukan karena gajinya lalu karena apa?"


"Karena saya mau ____ " ucapan Almira tertahan kala bu Vania menyerobot dan menginterupsi.


"Apa ada hubungannya dengan acara semalam?" ucap bu Vania menyelidik.


Almira tercekat, kenapa bu Vania tahu?. Padahal Almira sama sekali belum mengatakannya pada siapapun. Tapi buru-buru Almira mengutarakan alasan lain agar bu Vania tak menahannya untuk tetap bekerja di sana.


"Saya mau melanjutkan kuliah saya bu," kembali, Almira mengatakan alasan yang sama seperti alasan yang dia kemukakan pada Tania sebelumnya.


"Kuliah?" bu Vania menaikan sebelah alisnya terheran.


Almira kembali mengangguk lalu menunduk, sejujurnya dia tidak berani menatap langsung ke sorot netra bu Vania. Nyalinya terlalu takut dan cemas kalau bu Vania tahu alasan pengunduran Almira itu bukan karena ingin melanjutkan kuliah, tapi memang ada hubungannya juga dengan Kevin.


"Kenapa harus berhenti? Gini aja, saya akan memberi keringanan pada kamu untuk bekerja sambil kuliah, asal kamu bisa atur jadwal kamu dengan baik. Bagaimana? Apa kamu bersedia?" tawar bu Vania.


"Maaf bu, tempat kuliah saya lumayan jauh dari sini. Saya takut akan keteteran jika fokus saya terbagi dua, lagipula jika kerjaan saya tidak maksimal maka akan merugikan ibu juga," tolak Almira.


"Tapi kamu kan harus menyelesaikan proyek kamu untuk butik saya,"


Sengaja bu Vania berkelit, dia tidak ingin kehilangan aset berharga seperti Almira, lagipula dia juga masih berharap Kevin dan Almira bisa bersatu seperti dulu. Toh pertunangan Kevin dan Namira pun tidak terlaksana, itu artinya masih ada harapan untuk Almira kembali bersatu dengan Kevin.


Tapi ironisnya, Almira sama sekali tidak tahu seluruh kejadian semalam. Yang Almira tangkap dan tertanam di otaknya adalah Kevin bertunangan dengan Namira. Hanya itu saja. Makanya dia bersikukuh ingin menjauhi Kevin.


"Proyek yang ibu berikan pada saya sudah saya selesaikan bu. Saya akan menyerahkannya setelah ini. Ibu jangan mengira saya telah melalaikan tugas dan kepercayaan yang ibu berikan pada saya. Jauh sebelum ini. Tidak bu! saya tidak akan pernah berbuat seperti itu, saya bahkan telah membuat cadangan design yang mungkin berguna untuk ibu," tegas Almira.


"Tapi, ____ " bu Vania masih berusaha untuk menahan Almira untuk tidak jadi mengundurkan diri, namun sayangnya keputusan Almira sudah bulat.


"Maaf bu, saya mohon izinkan mengundurkan diri dari sini sehingga saya bisa melanjutkan kuliah saya," harap Almira sembari mengatupkan telapak tangannya khas orang memohon.


Melihat kesungguhan Almira, akhirnya bu Vania pasrah dan mengabulkan permintaan Almira, "baiklah jika ini keputusan kamu, saya akan setujui surat pengunduran diri kamu. Tapi Al, jika nanti kamu ingin kembali pada butik ini nanti, jangan sungkan untuk datang ke sini. Saya dengan senang hati akan menerima kamu kembali. Kamu sangat berbakat, saya sangat suka dengan pekerjaan kamu," jelas bu Vania dengan ramah.


"Terimakasih bu," balas Almira seraya mengulum bibirnya tipis-tipis.


"Sebenarnya saya masih belum rela kamu pergi dari sini Al," lirih bu Vania, lalu meregangkan tangannya untuk memberi pelukan perpisahan pada Almira.


Almira mengerti maksud bu Vania, ia pun masuk kedalam pelukan bu Vania. Seperti seorang ibu yang memeluk putrinya. Hangat dan lembut.


Dan suasana haru pun tercipta di sana, Almira sampai menitikkan air matanya kala bu Vania malah memberikan pelukan perpisahan bukan memberikan jabat tangan seperti seorang bos pada umumnya.


"Sekali lagi terimakasih atas segalanya bu," ucap Almira haru.


Bu Vania memang sangat menyukai Almira semenjak Kevin membawa Almira ke butiknya. Sejak awal bu Vania sudah melihat potensi yang di miliki Almira, kalau dia berbakat menjadi designer. Selain itu, sikap disiplin dan semangat Almira yang tinggi membuat bu Vania terkagum-kagum pada Almira.


Apalagi bu Vania tahu kalau Almira disukai oleh Kevin, maka tak heran bu Vania menyayangi Almira seperti anaknya. Bu Vania sangat berharap kalau nanti Kevin bisa menikah dengan Almira, tapi sayang karena anaknya terlibat dengan masalah yang pelik, hubungan Almira dan Kevin jadi terganggu. Belum lagi salah paham yang tidak kelar-kelar dan semakin memperunyam permasalahan antara Kevin dan Almira.


Cukup lama mereka berpelukan, hingga tak sadar Kevin masuk ke dalam ruangan bu Vania dan mengejutkan dua orang yang tengah asyik berpelukan itu.


Kevin juga sedikit shock melihat mamanya memeluk Almira begitu erat. Lalu Almira melepaskan pelukannya dengan bu Vania.


"Ada apa ini?" tanya Kevin memecah haru yang tengah menyelimuti Almira dan bu Vania.


Almira tak menjawab, pun dengan bu Vania. Hal itu membuat Kevin penasaran apa yang sebenarnya terjadi.


"Kalau gitu saya permisi dulu bu," pamit Almira.


Bu Vania mengangguk. Kemudian Almira berlalu dari ruangan bu Vania dan tak mengindahkan keberadaan Kevin di dalam ruangan itu.


Kevin yang merasa diabaikan kehadirannya, lalu kembali membuka suara dan bertanya pada mamanya. "Ma, sebenarnya ada apa?" curiga Kevin.


"Almira mengundurkan diri dari butik ini," ucap bu Vania pada akhirnya.


"APA?!"


Shock! itulah kata pertama yang terlintas di otak Kevin. Lidahnya kelu, kakinya terasa lemas saat mendengar kalimat mamanya barusan. Dia tidak menyangka Almira mengundurkan diri secepat ini.


"Pasti semua ini ada hubungannya denganku," gumam Kevin pelan.


Bersambung~