Between Hate and Love

Between Hate and Love
Namira kenapa sih?



Pada akhirnya Kevin hanya menurut saya kemana pun Namira membawanya. Ia tak kuasa menolak atau menepis cekalan tangan Namira yang terus-terusan menyeretnya hingga menuju sebuah coffee shop yang jaraknya beberapa puluh meter dari mini market tadi.


Memang, Kevin sebenarnya agak merasa aneh dengan sikap Namira yang mendadak baik seperti sebelumnya. Padahal Kevin ingat betul bahwa gadis itu kemarin-kemarin susah sekali diajak bicara. Bahkan Kevin ke rumahnya saja, gadis itu begitu ketus dan muak melihat kedatangan Kevin. Namun coba lihat sekarang? Namira sudah kembali seperti sedia kala yang begitu manis di depan Kevin.


Awalnya, Kevin ingin mencari tahu penyebab sifat Namira yang berubah-ubah. Namun Kevin urungkan niatnya dan bersikap tak mau terlalu diambil pusing. Bukankah bagus kalau Namira kembali ke sifat awalnya? Jadi Kevin setidaknya bisa sedikit mengambil nafas lega karena Namira telah kembali menjadi baik dan ramah padanya seperti sedia kala.


Dengan begitu, Kevin anggap bahwa permasalahannya dengan Namira sudah selesai. Oleh karena itu, sekarang Kevin berusaha untuk tidak membantah apapun yang mau dilakukan Namira. Termasuk menyeretnya ke cofee shop tanpa persetujuannya terlebih dahulu.


"Taraaaa kita sudah sampai," sorak Namira ceria. Kevin hanya tersenyum simpul.


"Kenapa kamu membawa aku ke sini Nami?" tanya Kevin.


"Kan katanya kamu mau American Cappucino jadi aku membawa kamu ke sini. Sewaktu aku kuliah, aku juga sering ke sini. Jadi dapat aku pastikan kalau aku tidak akan membuat kamu kecewa, di sini semua kopi yang dijual sudah terbukti enak," terang Namira sembari mengacungkan dua jempol begitu girang.


"Benarkah?" ucap Kevin ragu. Ia serta merta bukan ragu kalau tempatnya tak akan menyajikan kopi enak, tapi ia ragu dengan dirinya sendiri bahwa dia sebenarnya tidak betul-betul menginginkan American Cappucino. Dia hanya beralasan saja tadi agar tak ketahuan bohong.


"Heummm di sini semua kopi yang dijual disajikan oleh para barista handal. Jadi aku bisa memastikan kalau kopinya enak. Apa kamu tidak percaya sama aku?" pancing Namira.


"Aha.. bukan begitu, aku hanya ..."


"Ah kelamaan!! Kamu harus coba!" Namira menarik tangan Kevin secara paksa memasuki coffee shop. Mau tak mau Kevin lagi-lagi hanya bisa menurut pasrah. Pasrah kalau Namira memaksanya untuk memesan kopi padahal dia sejatinya sedang tidak ingin minum kopi.


Namira pun terus menarik lengan Kevin menuju counter. Disana mereka langsung dihadapankan dengan beberapa menu kopi.


"Kamu mau American Cappucino aja atau mau sekalian pesan yang lain?" tanya Namira sembari memutar kepalanya menatap Kevin.


Kevin celingukan seperti bocah linglung. Ia tampak bingung dengan dirinya sendiri. "Ah apa? Anu maksud aku cukup American Cappucino saja."


"Baiklah." Namira berbalik lagi ke arah counter yang terdapat dua orang penjaga di sana. "Mbak saya pesan American Cappucino satu, terus sama Cappuccino late with boba and brown sugar, satu ya, Mbak." pesan Namira.


Si mbak penjaga counter pun langsung mengulangi pesanan Almira dan mencatatnya di mesin kasir. Setelah itu, Namira pun membayar pesanannya menggunakan debit cardnya.


"Ditunggu ya, Mbak!" ucap si penjaga counter ramah tamah seraya menyerahkan kembali debit card pada Namira.


Namira tersenyum manis. Kemudian Namira dan Kevin duduk di kursi pengunjung sambil menunggu pesanan mereka datang.


Kevin tak henti-hentinya menatap bingung ke arah Namira. Meski berulang kali ia mencoba untuk tak ambil pusing, tapi dia tetap saja penasaran. Jika dipikir - pikir Namira dan Almira tidak bisa dikatakan serupa kalau menilai dari segi sifat. Namira cenderung lebih mudah dijinakkan dan melembut, sementara Almira kebalikannya. Gadis itu lebih keras kepala dari apa yang Kevin duga.


Ah, memikirkan hal itu Kevin jadi tampak senyum-senyum sendiri. Dia bahkan tidak sadar kalau di depannya Namira sudah menatap kesal.


'Dasar pria aneh! Aku tahu kamu senyum-senyum sendiri pasti karena kamu lagi mengingat Almira kan? Dasar brengs*k! Bahkan kamu tidak menghargai aku yang sedang berada di samping kamu. Lelaki macam apa kamu. Kalau saja duduk di sini bersamamu bukan untuk menghancurkan kamu, aku tidak akan pernah mau ada di sini. Namun aku harus lebih sabar akan hal ini. Aku harus membuang semua egoku demi melancarkan aksiku yang besar nanti. Aku akan membuat kamu dan Almira selamanya tak akan bersatu! Lihat saja!' Namira bermonolog dalam batinnya, membiarkan Kevin menikmati dunia imajinya sepuasnya.


Sampai pada akhirnya seorang pramusaji datang membawakan pesanan Namira dan Kevin, lelaki itu masih begitu asyik mesem-mesem sendiri.


Pramusaji itu menatap Kevin dengan pandangan aneh sekaligus penasaran. "Si Mas nya kenapa Mbak?" tanya si pramusaji pada Namira yang duduk di depan Kevin.


"Ah teman saya ini agak-agak sepertinya ..." balas Namira membuat gerakan tangan di miringkan di jidat, menggambarkan bahwa Kevin agaknya stress. Si pramusaji pun hanya membulatkan mulutnya dan terkikik geli mendengar jawaban Namira.


Setelah itu, si pramusaji itu kembali ke tempatnya dengan cekikikan yang entah kapan berhentinya. Dia terlalu geli melihat kelakuan Kevin.


Namira mengaduk pesanannya sambil masih membiarkan Kevin sibuk dengan dunianya. Namira tidak begitu peduli, dia harus bersikap tenang di depan Kevin ketika lelaki itu sadar nantinya.


'Aku akan menjadi wanita yang terlihat seperti malaikat di luar tapi seperti iblis di dalam. Lihat saja! Aku akan membuat kamu dan Almira hancur!!' decak Namira masih dalam hatinya.


Tak lama, entah ada angin darimana, Kevin pun tersadar dengan sendirinya. Dia jadi salting sendiri karena keasyikan melamun. Apalagi saat dia melihat minumannya sudah tersaji tanpa sepengetahuannya.


"Ah rupanya minumanku sudah datang," kata Kevin kikuk. "Ngomong-ngomong sejak kapan minumanku datang?" lanjutnya, bertanya pada Namira yang tengah mengaduk cappuccino late with boba and brown sugar miliknya.


Namira tersenyum manis. Senyumannya itu sarat akan makna. "Sedari tadi saat kamu masih asyik dengan duniamu," ucap Namira lembut.


Kevin mengangkat tepian bibirnya dengan malu. "Ah sepertinya aku tadi terlalu banyak melamun sampai-sampai tidak sadar pesananku sudah datang. Maafin aku ya Nami," gumam Kevin menyesal.


Lagi-lagi Namira menyelipkan senyuman sebelum menjawab.


"Tidak apa-apa. Tidak perlu minta maaf, toh kamu begitu menikmatinya sampai aku jadi tak tega sendiri mau menyadarkan kamu," tukas Namira sarkasme.


Kevin mengusap tengkuknya yang tak gatal. Ia merasa malu sejadi-jadinya karena kepergok melamun padahal dia sedang duduk dengan Namira. Rasanya Kevin ingin mengubur dirinya di lubang semut saat itu juga. Beruntungnya, Namira tidak tahu apa yang tengah dilamunkan Kevin tadi.


'Huh untungnya Namira tidak tahu kalau yang membuatku terbawa lamunan karena ingat Almira. Kalau saja dia tahu, dia pasti sudah marah padaku. Terimakasih Tuhan, setidaknya kamu melindungi dari kebodohanku sendiri.' Kevin membatin.


'Dasar pria payah! Lagi-lagi kamu bersikap sok polos di depanku. Kamu pikir aku tidak tahu apa yang tengah mengganggu pikiranmu? Aku cukup tahu kalau kamu melamunkan si Almira. Andai saja aku tidak sedang berpura-pura baik padamu, mungkin detik ini juga aku sudah memekik di depan wajahmu karena aku sangat amat kesal dengan kelakuanmu!!!' Namira ikut membatin. Ia benar-benar muak di situasi yang tak berpihak padanya.


Bersambung.