
"Vallen?" ucap Kevin refleks mengerutkan kedua alisnya bertaut saat melihat nama temannya tertera di dalam ponselnya.
Kevin belum mengangkat panggilan Vallen, dia hanya menatap layar ponselnya dengan perasaan takut. Apalagi sekarang ada Namira di sebelahnya. Sebab, kalau Vallen menelepon pasti informasi yang akan ia sampaikan hanya dua topik pilihan. Pertama tentang perusahaan, kedua tentang Almira.
Jika topiknya adalah Almira, repot urusannya jika mengangkat panggilan telepon Vallen saat ada Namira duduk di sebelah Kevin. Pada akhirnya, Kevin dilema. Ia pun melirik Namira sembari menimang-nimang kalau telepon Vallen harus diangkat atau jangan.
Raut wajah Kevin ketara gelisah, dia sungguh bingung harus mengangkat atau tidak panggilan dari sahabat sekaligus rekan kerjanya bernama Vallen itu. Keberadaan Namira sekarang benar-benar membuat Kevin jadi sulit mengambil pilihan.
30 detik berlalu, telepon Kevin masih berdering - dering namun sang pemiliknya masih membiarkan bunyi ponselnya begitu saja. Melihat hal itu, Namira yang sedari tadi enggan berkomentar lantas menoleh ke arah Kevin dan menegurnya dari ketermanguan.
"Kok gak diangkat teleponnya, Vin?"
Kevin sedikit terkesiap. Ia jadi kikuk saat Namira angkat bicara. "Aaa... ini tidak penting. Biarkan sajalah..." tukas Kevin cuek, jemari tangannya memasukan ponsel tersebut ke dalam sakunya.
Sementara Namira jadi curiga melihat tingkah Kevin yang begitu aneh. Namira bisa menangkap kalau Kevin tengah gelisah lantaran ponselnya berdering. Namira juga mampu menerka kalau Kevin sebenarnya ingin mengangkat telepon tersebut, namun agaknya Kevin canggung saat ada dirinya. Alhasil, Namira pun berupaya untuk meyakinkan Kevin bahwa tidak masalah jika Kevin memang mau mengangkat teleponnya.
"Kalau kamu mau angkat, angkat saja Vin. Dari tadi aku perhatiin kamu kaya gelisah gitu pas lihat layar ponselnya?"
"Ah masa sih? Perasaan e-enggak deh ... a-aku biasa aja dari tadi, kamu salah lihat kali..." dalih Kevin.
Kendati Kevin berdalih dan berpura-pura biasa saja, namun dia lupa bahwa orang yang tengah jadi lawan bicaranya kini adalah Namira. Si gadis cerdik yang pandai menebak mood seseorang hanya dengan melihat gerak-geriknya saja. Kevin lupa kalau Namira adalah wanita cerdas yang tak gampang percaya ketika ada tanda-tanda mencurigakan. Dan Kevin juga lupa kalau Namira bukanlah anak balita yang akan mudah dengan alasan klasik.
"Ck! Berlaga sok biasa saja.. padahal jelas-jelas dia gelisah begitu pas ponselnya berbunyi. Apa dia pikir aku bocah balita yang gampang dibohongi? Ck! Memalukan sekali dia... etapi ... aku jadi penasaran siapakah yang kini menelepon Kevin? Jika Kevin bilang itu tidak penting, padahal jelas-jelas wajah menunjukan kegelisahan yang tiada tara, aku jadi yakin kalau ini pasti ada hubungannya sama adik tercintaku, Almira. Hmmm... aku jadi tidak sabar ingin tahu reaksi si bodoh ini ketika si Almira beneran tidak ada lagi di kota ini? Hmmm... aku tidak sabar dia tahu hal ini," pikir Namira berdialog dalam batinnya.
"Kalau emang biasa aja, kenapa gak kamu angkat aja. Siapa tahu urgent!" desak Namira. Tingkat keponya sedang tinggi pada si penelepon yang tengah menelepon laki-laki di sampingnya ini.
"Tidak perlu, ini gak penting kok," tolak Kevin sembari menoleh ke arah Namira, memberikan senyum terbaiknya agar Namira tak curiga.
Namun agaknya, Kevin telat untuk membuat Namira tak curiga padanya. Justru kali ini Namira semakin curiga bahwa ada yang tidak beres di layar ponsel Kevin.
"Memangnya itu dari siapa Vin? Kok kamu bilang nggak penting? Bukankah kamu sekarang sedang di jam kerja kan seharusnya? Angkat aja Vin, kalau mau."
"Hahaha nggak deh, biarin aja ya. Etapi... kamu keganggu ya sama bunyi telepon aku?" terka Kevin.
"Ya sedikit sih, makanya aku suruh kamu buat angkat saja. Lagian kasian orang yang telepon kamu kalau gak diangkat dengan sengaja. Siapa tahu itu emergency," ceplos Namira. Ia berupaya memancing agar Kevin mau menerima panggilan ponselnya yang berdering-dering sejak tadi.
"Maaf ya buat kamu gak nyaman. Tapi bentar lagi palingan berenti, namanya juga iseng!" dalih Kevin lagi. Semakin hebat saja dia berbohong jika di dekat Namira.
"Ya bukan gitu, takut itu penting. Memang apa salahnya kan kalau diangkat saja, toh aku gak ngelarang. Statement kamu barusan tuh kaya mencerminkan aku adalah pengganggu yang tak boleh tahu rahasia kamu dengan si penelepon tersebut."
"Ya gak gitu konsepnya, Namira... aku gak mau angkat karena emang gak penting," tandas Kevin berbohong untuk ke sekian kalinya. Jujur, ia terpaksa berbohong berkali-kali gara Namira tak curiga bahwa Kevin mengenal Almira. Selama ini, Kevin beranggapan kalau Namira tak pernah tahu siapa orang yang sebenarnya Kevin pilih. Padahal, sejatinya Namira sudah tahu tanpa diberi tahu oleh Kevin. Maklum, dia adalah wanita nekat saat ini yang berani membayar detektif dengan biaya 50 juta per minggu. Jadi Namira sudah tahu semua detailnya tanpa luput sedikit pun.
"Memangnya siapa sih yang telepon kamu? Gak mungkin kan kalau nomor kamu ke sebar dan setelah itu ada telepon nyasar?" Namira masih berusaha membujuk Kevin agar mau mengangkat telepon tersebut.
"Nah apalagi dari Vallen. Siapa tahu ada hubungannya sama pekerjaan di kantor."
"Iyasih... tapi... " Kevin masih ragu. Membuat Namira yang sedari tadi menyaksikan tingkah Kevin yang gelisah jadi gemes sendiri ingin menampol kepala Kevin dan mengeluarkan isinya agar Namira bisa mengambil otak dan membersihkannya supaya Kevin pintar sedikit.
"Angkat saja!" sergah Namira gemas.
Kevin jadi skak matt kalau begini caranya. Ia sudah kehabisan kata-kata untuk menampik permintaan Namira saat ini, maka dari itu Kevin pun padaa akhirnya pasrah dan mau mengangkat telepon Vallen yang entah kapan akan berhenti.
"Baiklah akan aku angkat," ucap Kevin pasrah.
Kevin segera merogoh sakunya lagi, mengambil ponselnya dan menekan tanda terima panggilan sebelum deringnya benar-benar berhenti.
"Hallo?" ucap Kevin setelah terhubung, ia pun melirik Namira dengan ekor matanya, berharap bahwa gadis itu tidak mengawasinya. Dan beruntungnya, Namira kini fokus menatap jalanan seolah tidak mau tahu apa topik percakapan Kevin dan Vallen saat ini.
"Lo lama amat sih angkatnya. Ngapain aja emang lo di kantor?! Molor lo ya!!" serbu Vallen saat Kevin baru mengangkat teleponnya.
"Sembarangan aja kalo ngomong!! Aku lagi nyetir makanya gak buru-buru angkat, emang ada apa sih? Demen banget ya kamu gangguin aku tuh?"
"Idihhh pede banget lo!! Gini-gini gue normal," sergah Vallen di sebrang sana, dari nada bicaranya ia tampak jijik mendengar penuturan kalimat Kevin yang barusan. "Etapi ngomong-ngomong ngapain lo nyetir? Bukannya jadwal meeting di luar gue yang handle ya? Aaaaa...hh gue tahu, pasti lo bolos lagi kan?"
"Hetdahh... kamu tuh kalo ngomong asal jeplak aja ya, pantes su'udzon mulu sama orang. Aku gak bolos kali... aku tadi bilang dulu ke Papa, soalnya aku nganterin Namira nih."
"Eeh?! Namira? Apa gue gak salah denger?" Vallen menjengat kaget di sana.
"Ya nggaklah..."
"Emang dia udah gak marah lagi sama lo? Bukannya kemaren-kemaren dia ngambek sama lo?"
"Udah...." jawab Kevin malas.
"Kok bisa?" Vallen penasaran. Namun agaknya Kevin geram karena Vallen malah kepo pada Namira padahal dia tadi meneleponnya bukan untuk hal itu.
"Udah deh ah!! Ngapa jadi bahas ini sih? Katakan, sebenarnya kamu ngehubungin aku mau ngapain?" geram Kevin mengalihkan topiknya ke awal.
"Eh iya lupa... sebenarnya gue bawa berita buruk buat lo!!"
"Apa?! Berita buruk?" refleks, mata Kevin membulat sempurna.
Bersambung