Between Hate and Love

Between Hate and Love
Kapan Cari Almiranya?



Setelah puas meledek Vallen, Kevin langsung menghampiri meja resepsionis dan bertanya pada resepsionis yang tengah berjaga. Sebut saja nama resepsionis itu Mawar, tapi bukan Mawar merah apalagi Mawar-di.


"Hallo selamat sore pak Kevin, ada yang bisa saya bantu?"


"Mawar, tolong kamu carikan data profil Almira ya! Masih ada 'kan?"


"Nanti saya cek dulu ya, Pak!"


"Oke jangan lama-lama."


Detik berikutnya, resepsionis yang bernama Mawar itu langsung mengotak-atik komputer kerjanya untuk mencari data Almira yang diminta Kevin.


"Udah ketemu belum?" tanya Kevin tak sabaran.


"Sebentar pak, lagi saya cari nih."


"Buruan dong!"


"Ya sabar Pak," jawab si resepsionis bernama Mawar itu dengan raut yang ikutan panik karena di buru-buru terus oleh Kevin.


Kevin melirik kembali pergelangan tangannya untuk melihat jam yang tersemat di tangan kirinya. "Kamu udah menghabiskan satu menit tapi belum dapat datanya juga. Besok kamu mending gak usah kerja di sini lagi kalau kerja kamu lelet begini," kesal Kevin.


Melihat Kevin bersikap tidak biasanya, Vallen pun membuka suara. "Lo kenapa jadi sensian gini sih? Nyebut Vin ... nyebut ... lagian bukan kapasitas lo buat mecat si mbaknya. Ini kan butik nyokap lo Vin, dan lo gak kerja di sini," ucap Vallen mengingatkan.


Kevin menepuk jidatnya dengan kasar, menyadari tindakannya yang sudah seperti ditaktor yang semena-mena pada karyawan Mamanya. Betul kata Vallen, bahwa Kevin tidak punya kapasitas memecat pekerja Mamanya hanya karena rasa sensi Kevin yang semakin menjadi-jadi dan mengacaukan otaknya.


"Maafin saya ya mbak Mawar, saya udah ngomong kasar ke mbak. Tolong jangan masukin ke hati ucapan saya yang tadi, saya cuma kebawa emosi aja karena saking ruwetnya masalah saya," sesal Kevin seraya menyisipkan curhat colongan pada Mawar. Bahkan Kevin menyisipkan kata 'mbak' pada resepsionis tersebut, padahal sebelumnya dia hanya memanggil namanya langsung tanpa embel-embel 'mbak'.


Sudut bibir si resepsionis itu pun ditarik ke atas, membentuk senyum manis bak bunga mekar merekah di pagi hari. Pertanda, kalau dia sudah memaafkan sikap arogansi Kevin barusan.


"Tidak apa-apa pak. Saya maklumi kok," balas Mawar dengan ramah. Setelah itu, tangannya menyodorkan selembar kertas yang telah diprint out pada Kevin. "Ini data Almira yang pak Kevin minta," imbuh resepsionis itu masih dengan ke ramah tamahannya setelah sebelumnya diperlakukan tidak baik oleh Kevin.


"Terimakasih ya Mbak Mawar," ucap Kevin.


"Sama-sama Pak, ada yang bapak butuhkan lagi?" lanjut Mawar.


"Tidak ada."


Kevin pun langsung memeriksa selembar kertas yang diberikan Mawar tadi dengan seksama. Diikuti dengan Vallen yang setia menemani Kevin sedari tadi.


Ketika mereka berdua fokus melihat selembar kertas berisi data pribadi Almira, tiba-tiba seseorang menyapa mereka berdua.


"Loh ... Kevin, Vallen kalian ngapain ada di sini?" tanya seseorang yang sudah familiar di mata Kevin dan Vallen.


Kevin dan Vallen pun mendongak mengikuti sumber suara yang memanggil mereka barusan.


"Mama ...."


"Tante Vania ...."


Orang yang memanggil Kevin dan Vallen tadi tak lain dan tak bukan adalah bu Vania, mamanya Kevin.


"Kalian ngapain ke sini? Tumben."


"Aku lagi cari Almira Ma," balas Kevin sembari menurunkan kertas yang sedang dibacanya tadi.


"Cari Almira?" bu Vania mengerutkan dahinya tak mengerti. "Almira kan udah gak kerja di sini, apa kamu lupa Vin?"


"Anu ... maksud Kevin ... Kevin sama Vallen berkunjung ke butik mau minta CV-nya Almira."


"Loh memangnya buat apa?"


Dengan sigat Vallen pun menyambar. Dia terlalu gemas dengan jawaban Kevin yang menurutnya terlalu bertele-tele dan babibu tidak langsung ke intinya.


"Jadi gini tante, Almira hilang dari kontrakannya dan sepertinya dia sengaja kabur, karena si Kevin ini ngebet ingin menemui Almira, makanya Vallen mau bantuin dia. Sayangnya, Kevin gak tahu tempat-tempat yang sering Almira kunjungi, udah gitu Kevin itu gak punya kontak Almira jadi kita kesulitan ngelacak Almira. Makanya kita ke sini buat cari info lewat CV atau resume Almira," terang Vallen sejelas-jelasnya.


"Jadi Almira hilang? Sejak kapan?"


"Bukan menghilang sih tante, lebih tepatnya kabur," tambah Vallen.


"Kok bisa?"


Vallen tak menjawab pertanyaan bu Vania, bola matanya malah melirik ke arah Kevin. Mengisyaratkan bu Vania, kalau beliau ingin tahu alasan dibalik kaburnya Almira, tentu bu Vania bisa melihat sosok yang menjadi sumber utama kerumitan hidup Almira lewat Kevin, putra semata wayangnya bu Vania itu yang telah menjadi penyebab kaburnya Almira.


Merasa tersindir, Kevin pun membuka suara.


"Kenapa kamu malah menoleh ke arah aku? Mama aku tanya tuh!" tukas Kevin pura-pura polos. Ia bahkan mengedarkan pandangannya ke atas, berusaha menyembunyikan salah tingkahnya.


"Vin?" tanya bu Vania, ia seperti mengerti tanda isyarat dari tatapan Vallen ke Kevin. "Emang bener gara-gara kamu, Almira jadi kabur lagi?"


Merasa terciduk, Kevin pun hanya bisa menghembuskan nafasnya dalam-dalam. "Kevin juga gak tahu Ma, tapi kayanya sih iya. Almira masih kecewa sama Kevin gara-gara Kevin memutuskan tunangan sama Nami," pasrah Kevin.


"Emang kamu belum kasih tahu ke Almira yang sebenarnya, kalau kamu sama Nami belum sempet tunangan?"


"Astaga! Pantas saja Almira kabur lagi, kenapa kamu gak kasih tahu yang sebenarnya aja sih?"


"Tadinya aku mau kasih tahu Ma. Tapi sebelum itu, Kevin tadi ajakin Almira melihat kondisi Namira dulu. Cuma pas Kevin mau ngomong dari hati ke hati di depan Namira, keluarga pak Jamil keburu dateng," terang Kevin.


"Terus Almira kabur setelah dari rumah sakit gitu?"


"Kurang tahu si Ma, tapi pas tadi Kevin ke kontrakan Almira buat ngelanjutin obrolan dengan dia, ternyata kata orang yang tinggal sekitaran kontrakan Almira bilangnya Almira sudah pergi bawa ransel sama koper gede."


"Kenapa kamu gak langsung cari?"


"Nah itu dia Ma, masalahnya ... tadi Kevin minta Vallen buat nemenin cariin, dan ternyata si Vallen itu telat datangnya."


"Lah ... kok lo jadi nyalahin gue sih Vin?" sambar Vallen.


"Emang salah kamu kok. Coba kalau kamu gak terlambat datang tadi, pasti Almira belum keburu jauh, jadi kita masih bisa menghadang dia untuk tidak kabur," Kevin pun tak mau kalah menyambar dan mendakwa Vallen, Kevin merasa Vallen lah yang paling bersalah dalam hal ini karena sudah terlambat datang tadi.


"Lah tapi kan ... kalau lo pinter dikit mah, gak perlu tuh lo kudu nungguin gue dulu buat cari Almira. Seharusnya lo gercep tuh nyari dia bukan malah sengaja nungguin gue dateng dulu biar bisa cari si Almira barengan," bantah Vallen, tak terima diklaim sebagai terdakwa dalam masalah ini.


"Kamu tetap paling bersalah!" tekan Kevin.


"Lo yang salah. Lo yang lambat dan lola!" hardik Vallen.


"Kamu yang salah!"


"Lo, sekali lo ... tetep lo yang salah."


"Ish ... tetep kamu!"


Tanpa diduga-duga, keduanya pun malah beradu mulu menyalahkan satu sama lain, membuat bu Vania menepuk jidatnya tanpa aba-aba.


"Stoooop!" pekik bu Vania, mencoba melerai percekcokan antara putra semata wayangnya dengan asisten sekaligus sahabat anaknya. "Kenapa kalian malah jadi ribut nyalahin siapa yang paling salah sih?" tambah bu Vania.


Di situasi seperti ini, bu Vania memang harus berperan menengahi percekcokan diantara Kevin dan Vallen. Bu Vania harus berusaha melerai kedua anak muda dihadapannya itu.


"Kenapa kalian malah jadi ribut? Kalian pikir dengan menyalahkan satu sama lain, kalian bisa menemukan Almira?" lanjut bu Vania menceramahi Kevin dan Vallen yang kini tertunduk takut.


"Abis Vallen duluan Ma, yang gak mau disalahin," tukas Kevin sambil tetap menundukkan kepalanya.


"Kenapa aku lagi sih yang disalahin?" protes Vallen, ia masih belum terima disalah-salahin terus sama Kevin.


"Memang kamu yang salah."


"Dih! Bukannya lo ya ... yang salah?!"


"Kamu yang salah, Vallen."


"Lo yang salah, Kevin."


Mereka berdua saling mendongakkan. Detik berikutnya, mereka memulai lagi percekcokan menyalahkan siapa yang paling bersalah dalam perkara kaburnya Almira.


"Lo yang salah. Titik!" Kevin ngeyel.


Pun dengan Vallen. "Cih! Pinter banget lo membalikkan fakta, udah jelas-jelas lo yang salah!" Vallen mulai ngegas.


Terus seperti itu, hingga bu Vania yang tadi melerai harus kembali menyiapkan tenaganya untuk menghentikan percekcokan antara Vallen dan Kevin yang mirip Tom & Jerry.


"Stoooppp!" jerit bu Vania menghentikan percekcokan diantara Kevin dan Vallen.


Kevin dan Vallen pun serentak membungkam mulut mereka, dan kembali tertunduk.


"Daripada kalian cekcok gak jelas, lebih baik sekarang bergegas mencari Almira lagi!" lerai bu Vania lagi dengan menaikan intonasi bicaranya.


Kevin dan Vallen pun mendadak memandang satu sama lain. Benar kata bu Vania, seharusnya mereka bergegas melakukan pencarian Almira lagi, bukan malah cekcok mencari siapa orang yang paling salah dalam kasus hilangnya Almira.


"Gara-gara lo sih!" Kevin mulai menyalahkan Vallen lagi.


"Gue lagi ... gue lagi ... kapan lo salahnya kalau gitu?" balas Vallen semakin sebal pada Kevin.


"Lo yang—"


"Stooooop! Sekarang lebih baik cepat kalian pergi dan cari Almira!" titah bu Vania dengan nada memerintahkan sekaligus emosi.


Bu Vania jengah, sangat amat jengah dengan dua orang dihadapannya itu. Belum ada lima menit dilerai, Kevin sudah memancing-mancing emosi Vallen dan hampir menciptakan lagi percikan api percekcokan. Beruntung, bu Vania segera menghentikan percekcokan yang ketiga kalinya dengan menyuruh mereka berdua untuk segera mencari Almira.


Kevin dan Vallen pun menurut, lantas bergegas dengan raut masih kesal. Mereka berdua juga masih enggan untuk akur, terlihat dari cara mereka berjalan, masih saling sikut menyikut satu sama lain.


Bu Vania yang menatap punggung mereka, hanya bisa menepuk dahinya sambil berkata, "Kalau mereka terus ribut begitu, kapan cari Almira-nya?"


Bersambung.