Between Hate and Love

Between Hate and Love
Bab 20 : Hubungan masa lalu keluarga



Deg...!! Deg...!!


Yohan terdiam, jantungnya berdegup cepat, "Tante Widia?!" Gumam Yohan sembari mengepalkan tangan. Wajahnya, memberengut giginya menggertak, menahan amarah.


"Apa yang kau katakan Liana, kau sudah gila!" Balas Yudo dengan nada tinggi.


"Gila? Ya, aku memang sudah gila! Ketika aku melihat kau dan Widia keluar dari kamar hotel bersama." Teriak Liana kembali. Yohan menitikan air mata, sambil menutup telinga, tak ingin mendengar kata-kata yang begitu menyakitkan itu.


Suara tangisan Yura kecil, yang baru berusia 2 tahun membuat Yohan menurunkan tangan dari telinganya.


"Yura!" Pekik Yohan, dia baru ingat tentang adiknya kecilnya itu, yang pasti menyaksikan pertengkaran hebat sang Mamah dan Papahnya.


Brak...!!


Tanpa permisi, Yohan langsung menerjang masuk ke kamar orang tuanya dia tidak peduli pada sopan santun, yang ada di benaknya saat ini hanya Yura! Dia, takut adiknya mengalami trauma jika terus melihat pertengkaran kedua orang tuanya.


"Maaf bisa tidak, kalian jangan bertengkar di depan Anak kecil." Ucap Yohan sembari, menggendong Yura yang sedang menangis di tempat tidur.


Seketika itu juga Liana dan Yudo terdiam. Mereka malu agaknya, karena mendapat perkataan sarkas dari sang Anak. Yohan keluar sambil menggendong Yura di pangkuannya. "Sudahlah Dik, jangan menangis. Kita main, yuk!"


Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan pun berganti tahun. Setelah kejadian itu, Yudo Ayah Yohan, pergi tanpa sepatah kata-pun entah kemana. Meninggalkan mereka sekeluarga, dia bahkan menyerahkan seluruh Properti dan harta atas namanya pada Liana dan Anak-anaknya. Hingga saat ini Yohan tidak mengetahui dimana Ayahnya berada. Sementara Liana, dia terus saja murung, bahkan dia mengabaikan Yura kecil yang masih butuh kasih sayang seorang Ibu, hingga akhirnya tiba. Yohan menemukan tubuh Liana Ibunya sudah terbujur kaku bersimbah darah di lantai. Di pergelangan tangan kirinya terdapat luka sayatan, yang berarti dia mengakhiri hidupnya sendiri.


flash back of.


Yohan berdiri, sambil menyilang kan tangan di dada memandang keluar jendela. Sungguh, saat ini hatinya tengah dilema besar. Di lain sisi, dia tahu bahwa Safira tidah bersalah, tapi Yohan juga tidak bisa melepaskan Safira karena hanya dia lah keturunan Widia. Yohan tidak bisa memungkiri, dia memiliki sedikit rasa kasihan pada Safira, entah ini perasaan seorang suami pada istrinya atau hanya sebatas perikemanusiaan saja.


Yohan menghela nafas panjang. Lantas beranjak naik ke atas ranjang, dan membaringkan tubuhnya. Dia berusaha memejamkan mata, namun bayangan Safira terus saja menari-nari dalam benaknya. Dia berguling ke-sisi kanan menutup mata, berusaha untuk tidur namun hasilnya tetap sama. Dia berguling kembali ke-sisi kiri berharap bisa menyingkirkan Safira dari benaknya, namun hasilnya tetap sama. Senyuman dan tawa Safira seolah terus memanggil jiwanya.


"Ah sial!!" Pekik Yohan, sembari beranjak duduk. Dia membenamkan wajah di antara lututnya.


"Ada apa denganku? Pikiranku hanya berpusat pada dia?" Yohan mengacak rambut frustasi.


Keesokan paginya Yohan bangun dan turun untuk sarapan. Tubuhnya nampak lemas, lingkaran hitam terlihat di sekitar matanya, dia duduk di meja makan sambil menumpu dahi dengan sebelah tangannya. Kepalanya terasa pening, akibat dia tidak bisa tidur semalam. Terlihat, Yura sudah duduk di salah satu kursi kosong, sembari berceloteh mengajak bicara boneka Barbie nya yang jelas-jelas tidak bisa menjawab kata-katanya.


'Kapan Adikku bisa kembali normal?' batin Yohan.


Yohan menghela nafas berat, sungguh dia ingin melihat Yura, bisa seperti gadis pada umumnya. Bersekolah, dan bermain dengan teman sebaya nya. Trauma berat yang di alaminya membuatnya, jadi seperti ini. Semua ini karena Widia! Yohan mengepalkan tangannya, emosinya kembali tersulut dia menggertakkan gigi sambil mengepalkan tangan.


Siang hari, Yohan tengah berada di kantornya sambil menumpu kepala dengan sebelah tangannya, matanya terpejam. Sedangkan Ken, dia tengah berdiri di hadapannya, sambil membawa sebuah dokumen dan bicara panjang lebar, dia tengah memberi tahukan jadwal rapat yang harus di hadiri Yohan hari ini.


"Tuan, hari ini ada pertemuan dengan Investor dari Negara S sekitar pukul 11:00 setelah itu lanjut makan siang. Dan pukul 13:00 kita ada peninjauan lokasi pembangunan Hotel, lalu setelah itu kita ada petemuan kembali dengan--," ucapan Ken terputus, dia melihat Yohan yang nampak tidak fokus dan tidak mendengarkan perkataannya sedari tadi.


"Tuan?" Panggil Ken pelan.


"Tapi Tuan, Rapat ini sangat penting?" Ucap Ken, yang langsung mendapat pelototan tajam dari Yohan.


"Ba--baik Tuan, saya akan segera memundurkan semua jadwal Anda hari ini." Ken tak bisa berbuat apa-apa, dia hanya bisa menelan ludah dan pasrah pada perintah Tuannya.


Meski, dimata orang lain Ken terlihat garang dan menyeramkan jika dia marah, tapi di hadapan Yohan dia tak ubahnya seperti Anjing kecil yang setia.


"Bagus! Setelah itu, ayo kita bertemu mainan lama." Yohan tersenyum smirk.


Ken yang sudah tahu, apa maksud dari kata-kata Tuannya itu hanya mengangguk patuh.



Di tempat lain, Safira dia tengah duduk termenung dalam kamarnya sambil menatap keluar jendela.


Ceklek...!!


Arian masuk kedalam tanpa mengetuk pintu, Safira pun menoleh dan tersenyum. Dia sudah tahu siapa yang datang tanpa permisi selain sang Ayah.


Arian duduk di hadapan Safira, "Fira! Ayah ingin mengatakan sesuatu padamu." Ucap Arian dengan wajah serius.


"Ayah mau bilang apa? Safira dengerin ko." Safira tersenyum lembut.


Arian menghela nafas berat, "Kamu jangan salah faham dengan perkataan Ayah ya Nak, seperti apa pun kenyataan dan sepahit apa pun itu, Ayah tetap adalah Ayah-mu, ingat itu." Arian mengusap kepala Safira lembut.


"Apa maksud Ayah? Safira gak ngerti?" Safira mengernyitkan dahi, namun raut wajah penasaran tergambar jelas di air mukanya.


"Nak, apa kau tau Ario Aditama?" Tanya Arian. Safira terdiam sambil mencari dalam ingatannya.


"Bukankah dia Paman? Dia kan Kakak Ayah." Jawab Safira, dia baru ingat waktu itu Ayah nya bilang dia memiliki saudara bernama Ario Aditama.


"Benar, dia adalah Kakak Ayah. Dan dia juga pacar Ibumu."


"Hah...?!" Safira terperangah dengan mulut menganga, bagaimana mungkin Ibunya yang nampak begitu baik bisa berhubungan dengan dua pria Kakak beradik ini.


"Bagaimana bisa begitu Yah?" Safira mengernyitkan dahi, pasti ada yang salah di sini pikir Safira.


Arian tersenyum lembut, lantas kembali bercerita. "Ayah dan Ibu-mu adalah teman satu kampus. Ayah sudah lama naksir Ibu-mu, tapi Ayah keduluan oleh Kakak Ayah sendiri." Arian mengangkat bahu.


"Lalu, kenapa Ayah dan Ibu bisa menikah? Dan kenapa Ibu tidak menikah dengan Paman?" Seketika banyak pertanyaan yang berputar di kepala Safira, tentang seperti apa hubungan mereka sebenarnya.