Between Hate and Love

Between Hate and Love
Halusinasi yang menjijikkan



Mobil sport melaju dengan kecepatan lambat, tidak seperti biasanya dan tentu itu disengaja. Karena Lovia tidak ingin sampai di mansion itu, kalau bisa dia tidak akan sampai' tapi percuma saja sepelan apa pun dia membawa mobilnya tetap saja dia sampai di kediaman Jerk.


"Argh.........! Sial bagaimana bisa aku sampai di mansion ini, huh.....! Menyebalkan sekali" dia mengumpat memukul setir dan langsung turun dari mobinya. Ya dia telah sampai gerbang itu pun terbuka otomatis, dan muncul salah satu maid menyambutnya.


Dan entah kenapa semenjak dia bertemu dengan pria itu, akhir - akhir ini dia sulit mengontrol emosinya. Bahkan dia membiarkan pria itu mendekatinya, padahal selama ini tidak ada yang pernah sekalipun berani menyentuhnya sedikit saja dan dia juga tidak membiarkannya. Tidak ada yang tahu ada apa dengannya apakah dia mulai membuka hatinya, untuk seorang pria yang selalu di hindari atau dia prustasi untuk keluar di zona dimana dia ingin menghindar dan pergi.


"Selamat datang Miss, mari masuk Tuan sudah lama menunggu Anda" kata maid itu tegas, yah tentunya dia bukan maid biasa bicaranya saja lantang dan dingin wajah datar persis seperti Tuannya.


Lalu Lovia memicingkan matanya dan menatap tajam maid itu lalu berkata " Lain kali jika berbicara kepadaku tidak perlu tegas seperti itu, walau bagaimanapun aku adalah Nyonya di sini!" Lalu dia melenggang pergi ke kamar mereka berdua.


"Sialan sepertinya aku harus menjaga mulut ini agar tidak melakukan kesalahan, bagaimanapun dia istri Tuan Jerk. Tidak mungkin Tuan akan tinggal diam jika ada yang mengusik miliknya" katanya dalam hati lalu bergegas pergi melanjutkan pekerjaannya.


Ceklek..... Suara pintu terbuka, tentu saja yang masuk adalah orang yang ditunggu-tunggu oleh Jerk. Saat wanita itu masuk dia langsung bertanya cepat " dari mana Beby?... Apakah kau tidak merindukan aku?... Sudah satu bulan sayang kita tidak bertemu" katanya dengan merentangkan kedua tangannya tanda dia ingin dipeluk.


"Cih......! Mau satu tahun pun aku tidak perduli sayang.... " Katanya dengan memutar bola matanya tanda dia jengah, lalu melangkah maju memeluk Jerk dan membenamkan kepalanya di bidang pria yang sedang dipeluknya itu.


Senyum Jerk pun terbit, "ada apa tumben sekali menjadi kelinci penurut?..." Tidak lupa juga membalas pelukannya dan mengecup puncak kepala istrinya.


"Aku hanya ingin kau menghukum salah satu maid mu itu, dia lancang bersikap kurang ajar dengan ku aku kan istri mu" katanya sambil mendongakkan kepalanya menatap mata milik Jerk.


"Benarkah....? Jika begitu dia memang pantas dihukum mati, bagaimana kau puas?" Katanya sambil mengecup bibir Lovia sekilas.


"Ya....! Kenapa tidak" jawabnya sambil tersenyum lebar. Dan beberapa detik kemudian terdengar suara deheman dari seorang pria yang berada di depannya.


"Ehem.....! Ada apa dengan mu babe?! Kenapa kau diam dan termenung saja apakah kau mulai menyukai ku atau terpesona dengan ketampanan yang ku miliki?" Katanya dengan mengedipkan mata sebelah tersenyum menyeringai.


Ya Lovia dari tadi melamun sejak dia masuk ke kamar dan menatap Jerk dengan pikirannya yang sedang membayangkan sesuatu yang menurutnya menjijikkan.


Cih......! Ada apa dengan ku kenapa membayangkan hal-hal yang membuat ku muak saja, sepertinya aku stres jika berlama-lama disini apa lagi jika selalu bertemu dengannya. Aku harus secepatnya pergi dan memutuskan hubungan yang konyol ini dan mencari cara agar terlepas dengan aman, ya itu harus ku pikirkan secepatnya. Kata Lovia dalam hati lalu menjawab pertanyaan dari Jerk.


"Yah.... Aku memang sedikit kagum, tapi bukan kepada mu melainkan kepada seorang maid. Ternyata mereka sangat pandai sekali dalam melawan Tuan merek sendiri, dan anehnya kau membiarkannya saja dengan mulus tanpa ada teguran sedikit pun!" Lalu dia tersenyum mengejek.


"Sayang....... Apa benar yang kau katakan, jika begitu aku akan menegurnya dengan hukuman cambuk bagaimana?!" Jawabnya dingin dan tegas. Tentu saja Jerk mengerti dan paham akan sindiran itu, dia tidak terlalu bodoh untuk menerima kode dari istrinya.


"Apakah hukuman itu tidak terlalu mudah, bagaimana jika membiarkan anjing yang kelaparan untuk makan?. Aku rasa itu yang paling pantas sekaligus menguntungkan, tidak perlu memberikan makanan yang mahal' karena itu sudah cukup membuat anjing peliharaanmu kenyang!". Katanya sambil tersenyum lebar seolah-olah tidak sadar dengan apa yang dia katakan.


"Ternyata kau cukup hebat juga jika memberikan saran ya, baiklah sesuai kemauan mu saja" lalu menelpon salah satu bawahannya.


Tapi sebelum bawahannya mengangkat telepon dari Tuannya, tiba' saja ponselnya di rampas. Jerk menyipitkan matanya tanda apa yang kau lakukan, menunggu jawaban dari Lovia.


"Aku hanya bercanda, tidak perlu seserius itu" lalu mengedikkan bahunya. " Baiklah apa yang ingin kau bicarakan dengan ku, sampai repot-repot menunggu ku. Selain kata rindu karena itu basi lebih baik mengatakannya dengan jelas" kata Lovia cepat tidak ingin menunda yang akan semakin membuatnya pusing apa lagi jika berhadapan dengan Jerk.


"Baiklah ini tentang masalalu babe, dan tentang bagaimana seseorang wanita arogan akan menjadi penurut sebentar lagi" ucapnya menyeringai dan menatap lekat' ekspresi dari lawannya.


"Katakanlah karena apa pun yang terjadi kelinci itu akan lepas dari sangkarnya dan pergi sejauh mungkin, jika bisa dia bersembunyi di lubang yang kecil sehingga tidak akan ada yang menemukannya!" Ucap Lovia dengan nada tegas.


"Hem..... Yah tapi aku sayangnya lebih tertarik pada hal - hal yang misterius, jadi apa pun akan aku lakukan agar menemukan jawaban dari penasaran ku!" Dan mengepalkan tangannya kuat'.


"Begini saja katakan itu nanti, karena untuk saat ini aku ingin beristirahat" lalu pergi ke kamar mandi dan setelah memakai pakaian lalu mengerikan rambutnya baru dia tidur, mengabaikan Jerk yang menatapnya sedari tadi.


"Kali ini aku akan menuruti mu babe!, Tapi besok kau tidak bisa menghindar lagi" lalu keluar dari kamar meninggalkan Lovia yang sudah tertidur dan menuju ruang kerjanya.


Ya Lovia memang sengaja menunda waktu, setidaknya dia bisa beristirahat tanpa harus tegang menghadi Jerk yang akan mendesaknya menceritakan masa lalu yang membuat dia serasa ingin mati jika mengingatnya.


Sebenarnya Jerk dulu sudah mencari informasi tentang Lovia saat dia pertama kali tertarik padanya tetapi tetap saja masalalu yang disampaikan oleh kaki tangannya tidak begitu lengkap dan itu membuat dia tidak puas, karenanya dia turun tangan sendiri mengumpulkan serpihan' masalalu milik Lovia.


Masalalu istrinya sangat penting baginya, untuk membungkam dan menjadikannya penurut tidaklah mudah dia berbeda dari wanita lainnya tidak mudah terintimidasi.


****


Di sebuah club ternama seorang wanita sedang meminum minuman wine yang sudah menjadi candunya ketika otaknya merasa lelah untuk berfikir.


Bagaimana tidak Cessi selalu gagal dalam misinya menjatuhkan Laudia, karena itu dia butuh obat yang bisa menenangkan pikirannya. Dan disaat dia sedang asyik tiba' muncul sosok wanita yang dia benci dan pengawal yang terlihat menyeret wanita itu.


Terlihat jelas raut wajahnya yang hanya menampakkan datar, dingin, tidak ada senyuman. Seakan-akan akan pasrah dengan apa yang terjadi padanya.


"Ah.... Sepertinya aku mengenal wanita itu, bukan kah dia si ****** Laudia. Mengapa dia ada di sini dan kenapa dia diseret pengawal, tidak mungkin dia di culik. Sepertinya itu pengawal Wilgo ya aku pernah bertemu dengan pengawal itu sewaktu aku ingin menerobos masuk ke mansion Wilgo" gumamnya dengan suara pelan.


Lalu pengawal itu membawa Laudia ke tempat di mana ada banyak sekali wanita' ****** yang sedak sibuk memperbaiki riasannya, sedetik kemudian pengawal itu berbincang-bincang mungkin itu adalah menejer yang akan memimpin dia nanti.


"Baik akan saya laksanakan perintah dari Tuan Wilgo" jawab menejer itu dengan tegas, karena itu Laudia bisa mendengarnya. Kemudian pengawal pergi meninggalkannya sendiri dan dia tiba-tiba di tarik paksa untuk di dandani.


Tentu saja dia akan menjadi ****** malam ini dan jika saja musuh bebuyutannya tahu, yang tidak lain adalah Cessi mungkin akan menjadi kebahagiaan sempurna untuknya.


****


Cessi ingin mengikuti pengawal Jerk tapi dia tidak bisa karena penjagaannya yang ketat dan mata pengawal itu melirik ke sana ke mari seolah-olah menandakan kewaspadaan yang tajam.


"Argh...... Damn.....! Aku tidak berkutik jika begini terus" katanya mengumpat pelan seperti bergumam, tiba' dret'...... Suara ponsel bergetar lalu dia menjauh untuk mengangkat teleponnya.


"Hallo..... ! Ada apa kenapa mengganggu ku" maaf Miss tapi ini ada masalah dalam perusahaan karena mohon tidak menundanya lagi jika tidak mau bangkrut. Kata asistennya dia sengaja menekan kata bangkrut agar si Missnya ini tidak bermain-main lagi.


"Baiklah tunggu aku!" lalu mematikan ponselnya berjalan cepat sambil mengumpat karena telah berani mengganggunya.


__________


Hay'.........πŸ‘‹πŸ‘‹πŸ‘‹πŸ˜


Selamat membaca ya,


jangan lupa komenπŸ’¬' agar R semangat ngelanjutti Nya See you πŸ˜˜πŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒ