
Sepanjang perjalanan menuju hotel, Vallen terus saja mengoceh panjang lebar padahal lawan bicaranya sama sekali tidak meresponnya. Sekalipun merespon, paling hanya sebatas "Ya" dan "Hmm". Tapi anehnya Vallen tidak bosan-bosan melontarkan banyak pertanyaan pada Almira. Mungkin dia memang sedang mencoba untuk membuka obrolan untuk memecah keheningan di dalam mobilnya.
Almira sengaja membiarkan Vallen berbicara sesukanya, Almira sama sekali tidak peduli. Pikirannya masih diliputi rasa bingung. Almira benar-benar tidak mengerti dengan semua ini.
Yang Almira lakukan hanya memandang ke arah jalan, saat Vallen tidak berhenti mengoceh layaknya burung beo yang sudah terlatih. Almira masih tidak habis pikir kenapa ada orang setidak waras Vallen di dunia ini. Wajah boleh ganteng, tapi cerewetnya itu mengalahkan ibu-ibu di tempat jual beli sayur.
Sama halnya sekarang, dia tetap nyerocos membuka obrolan dengan Almira, "Kamu pertama kali kenal Kevin di mana sih?" tanya Vallen penasaran.
"Di jalan," jawab Almira dengan begitu malas.
"Jalan mana?" tanya Vallen lagi.
Lagi, Almira menjawab dengan nada malas. "Aku tidak ingat"
"Terus kamu bisa saling jatuh cinta gimana caranya tuh?" Vallen semakin penasaran ingin mengulik kisah asmara bosnya dengan gadis yang sedang duduk di sebelahnya itu.
"Jatuh cinta? Sejak kapan dia mengatakan jatuh cinta padaku?" Almira menaikan sebelas alisnya, tak mengerti.
"Loh emang dia tidak pernah menyatakan cinta pada kamu?"
"Tidak pernah!" ucap Almira tertunduk.
Awalnya dia tidak ingin membuka obrolan dengan Vallen, tapi mendengar kata "saling jatuh cinta" Almira jadi tertarik untuk meladeni obrolan Vallen.
"Ajaib! Dia masih sama seperti yang dulu. Tidak menyatakan cinta tapi dia tunjukan dengan aksi," Vallen memuji Kevin.
Lagi, entah yang keberapa kalinya Vallen memberikan kalimat yang ambigu. Mungkin sudah tak terhitung oleh jari. Entah itu kalimat pertanyaan, atau kalimat pernyataan, dua-duanya selalu dilontarkan dengan ambigu. Almira geram bukan main, dia tidak suka di suruh menebak-nebak seperti itu. Memangnya dia sedang ikutan kuis cerdas cermat apa!.
Daripada semakin bingung, sengaja Almira memasang earphone pada telinganya. Menurutnya percuma membuka obrolan dengan Vallen, kalau ujung-ujungnya kalimatnya itu susah di cerna oleh Almira.
Vallen yang sadar akan hal tersebut, akhirnya memilih fokus mengemudi. Mobil Vallen meluncur dengan kecepatan yang lumayan tinggi membelah jalanan.
Selang beberapa puluh menit, mobil Vallen yang membawa Almira telah sampai di hotel bintang lima, tempat di mana acara pertunangan Kevin di selenggarakan.
"Sekarang kita sudah sampai!" seru Vallen seraya melepas seatbelt yang mengikat tubuhnya.
"Terimakasih atas tumpangannya," ucap Almira dan buru-buru hendak keluar.
Dia tidak ingin berlama-lama berada di dalam mobil bersama orang gila seperti Vallen. Bisa-bisa dia akan ikutan gila, jika tak segera turun. Tapi naas, saat Almira hendak turun dari mobil yang ditumpanginya itu, tiba-tiba Vallen menahannya.
"Kamu mau kemana? Kenapa kita tidak masuk sama-sama," tawar Vallen.
"Aku harus menunggu temanku di depan. Soalnya aku sudah janjian bertemu di sana," kilah Almira.
Kali ini giliran Vallen yang di buat bingung, "Kamu nunggu temanmu?"
"Ya," Almira buru-buru kabur dari Vallen.
Dia tidak ingin Vallen berbicara yang aneh-aneh lagi yang membuat kepala Almira pusing tujuh keliling.
"Hey, tapi kamu kan yang punya acara. Kenapa kamu harus nunggu orang lain di luar bukan di dalam?" Vallen memekik, tapi nyatanya Almira sudah lebih dulu kabur sehingga dia tidak mendengar apa yang di katakan Vallen.
Vallen termenung sejenak, lalu bergumam. "Kenapa dia aneh sekali. Dari tadi aku ajakin ngomong panjang lebar tapi dia ketus begitu. Apa mungkin dia begitu nervous makanya jadi berubah?" kiranya.
Lalu tak lama Vallen mengedikkan bahunya, merespon sendiri kalimatnya.
"Biarlah, kenapa aku harus ikutan pusing mikirin dia" Vallen menambahkan kalimatnya lalu segera turun dari mobilnya.
Vallen berjalan masuk menuju hotel, dia harus segera sampai di dalam hotel untuk memberi tahu bosnya kalau dia sudah menyelesaikan tugasnya, yaitu menjemput gadis yang di cintai oleh anak bos nya itu, Kevin.
Saat sampai di ballroom hotel, di sana sudah tampak ramai orang-orang yang menghadiri acara pertunangan Kevin.
Vallen mengedarkan pandangannya mencari Kevin. Namun saat melihat Kevin, Vallen nampak terkejut dengan sosok gadis di sebelah Kevin.
"Loh, kok Namira udah di sini? Apa aku tidak salah lihat?"
"Eh! Ini mataku yang rabun apa memang gadis yang sekarang di sebelah Kevin itu beneran Namira?" Vallen terheran.
"Jika Namira ada di sana, lalu siapa gadis yang tadi aku jemput?" Vallen membelalakan matanya.
Glek~
Vallen meneguk air salivanya untuk membasahi tenggorokannya yang mendadak panas dan terasa kering. Ia bahkan mulai berpikir yang tidak-tidak.
"Astaga! Apa mungkin tadi jelmaan Namira?"
Benar, Vallen mulai parno sekarang. Dia sepertinya tidak tahu bahwa gadis yang tadi dia jemput dan dia lihat sekarang adalah gadis berbeda, meskipun wajah mereka serupa.
Vallen mendekat ke arah Kevin yang sedang asyik menyapa beberapa rekan kerja dan kolega papanya. Dia harus menanyakan semua ini pada Kevin. Ya, harus.
"Vin, gue udah jemput gadis yang lo bilang adalah tambatan hati lo," ucap Vallen setengah berbisik.
Kevin shock dan nampak cemas, "sekarang dimana dia?" tanya Kevin setengah berbisik juga.
"Ada di depan" balas Vallen seraya sesekali memfokuskan matanya pada gadis yang di sebelah Kevin sekarang.
Mata Vallen tidak berkedip memandang Namira, dia seperti sedang menyelidik sesuatu.
"Bahkan gadis tadi benar-benar tidak ada bedanya, sangat mirip di lihat dari segi manapun," batin Vallen.
Tak ada respon dari Vallen, Kevin pun mencubit lengan Vallen. Hal itu tentu membuat Vallen mengaduh dan tersadar dari keterhanyutannya memperhatikan Namira yang berdiri di sebelah Kevin.
Auchhh~
"Sakit Vin," protes Vallen.
"Dasar mata keranjang! Ngapain kamu mandangin Namira sampai tidak berkedip seperti itu!" ucap Kevin gemas di selingi senyum bodoh agar yang lain tak curiga, terutama Namira.
Vallen mencebik tak terima di sebut mata keranjang oleh anak bosnya itu, "gue gak maksud mandangin cewek lo kaya gitu, gue cuma penasaran aja," kilah Vallen seraya memegang pinggangnya yang masih terasa perih.
"Lalu buat apa kamu mandangin Namira?" Kevin menyelidik.
"Gue penasaran kenapa Namira ada dua," ucap Vallen polos.
Kevin mengerutkan dahinya, "ada dua? Maksud kamu?".
"Lo tadi kan nyuruh gue buat jemput tambatan hati lo di rumahnya, nah gue udah jemput. Terus dia tadi kabur dan gak mau gue ajak masuk bareng, dia beralasan kalau dia mau tungguin temannya. Nyatanya dia udah ada di samping lo, gue bingung gimana dia masuk dan ganti baju secepat ini," jelas Vallen panjang lebar.
"Ish... dasar bodoh!" Kevin berdesis sebal lalu menepuk jidatnya.
"Hey, ngapain lo ngatain gue bodoh? Gue gak bodoh ya!" cebik Vallen tak terima.
"Yang kamu jemput itu memang tambatan hati aku, namanya Almira. Dia bukan Namira, dia orang yang berbeda," ujar Kevin menjelaskan.
Vallen mencoba mencerna kata-kata Kevin dengan seksama.
"Jadi maksud kamu mereka punya wajah mirip gitu?" tanya Vallen lagi.
"Bukan mirip lagi tapi kembar indentik," ucap Kevin.
Vallen membekap mulutnya tak percaya, dia tidak menyangka ternyata Namira punya kembaran. Dan Vallen baru mengetahuinya sekarang. Pantas saja sepanjang perjalanan menuju hotel, Almira memilih diam dan sering sekali menanyakan Vallen siapa. Vallen kira orang yang di jemputnya tadi adalah Namira.
"Tapi kalau dia memang tambatan hati lo, kenapa lo malah tunangan sama Namira?" Vallen bingung.
Dan Kevin menjawab dengan santai, "Aku terpaksa!"
Bersambung~