Between Hate and Love

Between Hate and Love
Bab 21 : Ternyata aku bukan Anaknya



Arian bangkit dan berdiri sambil melempar pandang keluar jendela. Dia pun mulai bercerita kembali.


"Semua berawal ketika Ayah dan teman-teman mengajak Ibumu berkunjung kemari. Ayah ingin mengenalkan kehidupan Ayah pada Ibumu dan membuat Ibumu terkesan. Tapi, diluar dugaan Ario yang jarang sekali dekat dengan wanita, jatuh cinta pada pandangan pertama ketika Ia melihat Ibumu." Arian menjeda ucapannya sembari menghela nafas dalam, terlihat jelas penyesalan di wajahnya.


Dia pun melanjutkan kembali ceritanya, "Saat Ayah ingin menyatakan perasaan Ayah pada Ibumu, semuanya sudah terlambat. Paman dan Ibumu sudah menjalin hubungan dan terlihat sangat bahagia. Ayah hanya bisa merelakan Ibumu dan menyembunyikan perasaan Ayah dalam hati. Hingga pada hari pernikahan mereka, sebuah bencana terjadi Ario dia... mengalami kecelakaan, mobilnya terlibat dalam tabrakan beruntun saat akan ke lokasi pernikahan. Ibumu mengalami shock dan jatuh pingsan, dia pun di bawa ke rumah sakit dan di situlah kami tahu, kalau Ibumu sudah mengandung saat itu." Arian mengakhiri ucapannya lantas berbalik menatap putrinya itu.


Safira diam termenung sembari menatap wajah sang Ayah, dia belum bisa mencerna semua yang ia dengar dari mulut sang Ayah. "Nak, apa kau sudah mengerti?" Tanya Arian dengan nada rendah.


"Aku memutuskan menikahi Ibumu, selain karena Anak yang di kandung Widia adalah keponakanku, aku juga sangat mencintai dia." Tambah Arian, membuat kebenaran seketika terbuka dalam pikiran Safira.


"Ja--jadi, aku bukan putri kandung Ayah? Itulah sebabnya selama ini Ayah tidak pernah menyayangi aku?" Safira membenamkan wajah di telapak tangannya.


Arian lekas menghampiri dan membawa Safira dalam dekapannya, "Tidak bukan begitu Nak, aku selalu menyayangimu dan sudah menganggap mu seperti putriku sendiri. Hanya saja, ke-salah pahaman besar telah terjadi antara aku dan Ibumu. Sebetulnya, aku lah yang terlalu bodoh hingga percaya pada apa yang aku dengar dan memilih menutup mata dan telinga dari bukti dan penjelasan yang di berikan Ibumu." Arian terisak pelan.


"Aku di buta kan oleh kecemburuan, aku terlalu mencintai Ibumu hingga aku tidak bisa melihat dia bersama laki-laki lain walau hanya berjabat tangan sekali pun." Arian menyeka sudut matanya dengan ujung jarinya.


Safira melepaskan diri dari dekapan Arian, "Apa maksud Ayah?" Safira menatap sang Ayah menanti jawaban.


Arian menghela nafas pelan, "Apa kau ingat saat kau berusia enam tahun?" Safira segera mengangguk sebagai jawaban.


Tentu saja dia ingat, itulah hari paling menyakitkan bagi dia. Hari dimana dia kehilangan kasih sayang seorang Ayah tanpa dia tahu apa penyebabnya.


"Hari itu Ayah sedang gelap mata, Ayah kesal Ayah marah karena Ayah pikir Ibumu sudah berselingkuh dengan teman kuliah kami. Ayah tidak ingin mendengar penjelasan dari Ibumu, Ayah langsung mengusirnya dengan kasar." Arian membenamkan wajah di antara telapak tangannya, tampak begitu jelas raut penyesalan di air mukanya.


"Ayah bahkan melampiaskan segala kebencian dan kemarahan Ayah pada kamu juga, Nak. Ayah benar-benar minta maaf, Fira! Ayah sungguh menyesal." Arian berjongkok dan memegang tangan Safira.


"A--ayah, apa yang Ayah lakukan?" Safira membantu Ayah nya kembali duduk di sopa, "Ayah jangan lagi melakukan hal seperti itu, itu sungguh tidak pantas. Aku mengerti semua ini hanya kesalahpahaman, sudahlah." Safira tersenyum sambil menggengam tangan Arian sang Ayah.


"Ayah sangat bodoh Safira, seandainya Ayah mendengarkan perkataan Ibumu dan percaya padanya. Kita akan menjadi keluarga bahagia, setidaknya di hari-hari terakhir Ibumu." Arian terisak lirih.


Sepasang Ayah dan Anak itu-pun menangis sambil berpelukan, hingga Bi Sumi datang menghampiri mereka sambil mengetuk pintu pelan.


Tok...!!


Tok...!!


"Tuan, Nona! Maaf mengganggu, di depan ada... Tuan Muda entah dari keluarga mana, dia sangat tampan tapi saya tidak kenal dia." Ucap Bi Sumi.


"Tuan Muda?!" Safira mengulang ucapan Bi Sumi dengan keheranan. Bi Sumi hanya mengangguk.


"Tuan Muda siapa Bi?" Arian ikut bertanya.


"Saya juga tidak tahu Tuan, yang pasti dia terlihat muda dan tampan, tubuhnya tinggi dan tegap. Dan oh... Ya, dia juga datang bersama seorang laki-laki hampir seumuran dia tapi pakai kacamata." Tambah Bi Sumi, dia mencoba menjelaskan secara rinci apa yang dia lihat.


"Yohan!" Pekik Safira.


"Yohan! Astaga, dia datang kesini? Apa dia gak bilang dulu sama kamu, Nak?" Arian nampak antusias sekaligus panik, menantu kesayangannya baru datang untuk pertama kali ke-rumahnya ini tapi dia tidak mempersiapkan apa pun, membuat dia sedikit panik.


"Bi cepat siapkan makanan! Bawa juga camilan dan minuman!" Titahnya, yang langsung du angguki oleh Bi sumi, "oh ya Nak, makanan apa yang di sukai Yohan?!"


"Apa aja Yah, dia gak pilih-pilih, makanan ko." Jawab Safira asal. Sungguh dia mulai benci pada Yohan, dia kesal kenapa Yohan begitu tega bahkan tidak membiarkan Safira datang di hari pemakaman Ibunya.


Safira berjalan dengan langkah pelan, membiarkan sang Ayah jalan lebih dulu menuju ruang tamu.


"Fira, ayo cepet jangan biarin Nak Yohan lama nunggu!" Desak Arian. Safira hanya mengangguk pelan, sejujurnya dia begitu enggan bertemu dengan suaminya itu untuk saat ini.


Mereka pun sampai di ruang tamu, Safira hanya diam sambil membuang muka ke arah lain, dia tak ingin menatap wajah mengesalkan Yohan, dia masih belum bisa berdamai dengan hatinya, yang begitu kecewa dan marah pada laki-laki itu. "Fira, kenapa kamu berdiri di sana Nak, kamu gak salam sama suami kamu?" Tanya Arian dengan tatapan heran.


Safira pun menuruti perkataan Ayahnya, lantas mendekat, meraih tangan Yohan dan menciumnya sekilas, untuk saat ini dia tak ingin Ayahnya mengetahui fakta hubungan Safira dan Yohan yang sebenarnya, sebelum dia membuktikan jika sebenarnya ini hanya kesalah pahaman semata. Dan Safira yakin bahwa Ibunya tidak bersalah.


Yohan hanya diam, dia sedikit terkejut karena Safira mencium tangannya tiba-tiba. Wajahnya sedikit memerah, dia pun mengambil air minun dan meneguknya sedikit untuk menyembunyikan rasa gugupnya.


"Nak Yohan, kenapa kamu datang di jam segini, bukannya kamu sangat sibuk?" Tanya Arian dengan wajah sumbringah.


"Ehem... Kebetulan, saya tidak terlalu sibuk hari ini Tuan Aditama." Jawab Yohan santai, sembari tumpang kaki.


'Cih, kau pandai membual Tuan. Tidak sibuk bagaimana, hari ini kamu sudah membatalkan semua rapat penting dan malah memilih datang ke sini demi Nona Safira yang nampak begitu acuh.' batin Ken bergumam.


"Kenapa masih panggil Tuan? Panggil saja Ayah." Arian tersenyum tulus.


"Baik Ayah!" Yohan menuruti kata-kata mertuanya itu.


Safira langsung membuang muka, mendengar Yohan memanggil Arian Ayah.


'Cih, akting yang membosankan.' cibir Safira tanpa kata.