
Mobil Kevin melaju dalam kecepatan sedang, sedari tadi dia terus saja mengoceh begitu akrab dengan Namira. Padahal sang lawan bicara sama sekali tak tertarik dengan obrolan tidak bermanfaat yang Kevin lontarkan. Ya, kali ini Kevin tengah membicarakan salah satu hobinya yaitu menonton pertandingan kejuaraan dunia motto GP yang setiap akhir pekan dilaksanakan.
Jika dulu Kevin tampak ragu-ragu dan selalu jaga image pada Namira, kali ini berbeda. Kevin tampak lebih santai karena statusnya dengan Namira bukan lagi calon tunangannya melainkan hanya teman biasa. Oleh karena itu Kevin sangat nyaman berceloteh mengenai jagoan kesayangan di motto GP, yaitu Vallentino Rossi serta sang Rocky Rider kandidat juara masa depan yaitu Fabio Quartararo dan joan Mir.
Kevin merasa ketiga rider atau pembalap motto gp tersebut adalah rider yang patut diacungi dua jempol. Terlebih, Kevin merasa dirinya sangat kagum dengan ketampanan tiga rider tersebut. Walaupun Kevin adalah laki-laki tapi dia mengakui kalau parah para rider motto GP tersebut memanglah tampan.
Kevin bercerita mengenai hal itu pada Namira yang notabene sama tidak mengerti, tidak mengenal mereka, tidak tahu mereka dan tidak mau tahu. Jadi apapun yang tengah Kevin beberkan tak akan merubah Namira untuk berbelok arah menjadi pecinta motto GP.
Yang Namira inginkan sekarang adalah membuat Kevin hancur perlahan-lahan. Hancur berkeping-keping seperti apa yang pernah Namira rasakan waktu itu akibat dari perbuatan Kevin yang seenaknya meninggalkan dan mencampakkan Namira begitu saja.
Menurut Namira, ditinggalkan pas sedang sayang - sayangnya dan hampir menjadi pendamping hidupnya yang digadang-gadang sempurna itu amatlah sangat perih selaksa hatinya teriris oleh ribuan silet tajam. Terlebih Kevin meninggalkan Namira untuk wanita yang memiliki hubungan darah dengannya yaitu Almira— adik kandung sekaligus kembaran Namira.
Jadi meski Kevin kini mengakrabkan diri seperti seorang teman, bagi Namira tak mudah untuk tidak membalas perbuatan Kevin dulu.
"Si bodoh ini kenapa terus menerus mengoceh soal motto gp sih? Dia pikir aku mengerti dan tertarik begituan? Membuat kepalaku pusing dan emosiku naik saja!! Rasanya aku ingin sekali menyumpal mulut cerewetnya ini. Tapi ... saat ini aku harus berpura-pura untuk diklaim sebagai teman baik yang akan mendengarkan semua hal-hal yang ingin Kevin keluarkan. Hufft!! Tahan Namira, biarkan dia mengoceh sesukanya meskipun telinga kamu ini rasanya berdenyut-denyut saking berentetnya cerita Kevin."
Meski tak sesuai ilmu pengetahuan dan informasi yang Namira dapat di tempat kuliahnya, Namira tetap berupaya untuk berpura-pura menjadi teman Kevin yang baik hati dan mendengarkan secara seksama apapun yang Kevin ceritakan.
"Jujur, momen seperti ini amat sangat menyebalkan dimana dia asyik sendiri ngomong ngalor ngidul, heboh sendiri dan ketawa sendiri, aku harus tahan untuk tidak mengumpati si brengsek terang-terangan. Dia pikir ceritanya menarik?! Hishhh membuatku mengantuk saja!! Tapi sekali lagi, aku harus bisa tahan!!" tekad Namira sembari menopang kepalanya menggunakan telapak tangan sebelah kirinya, sementara tangan yang satunya lagi ia gunakan untuk menutupi uap yang keluar dari mulutnya.
Memang tidak ada yang menarik sama sekali obrolan yang tercipta di dalam mobil mewah milik sang pangeran tahta kerajaan Gunawan Group. Sedari tadi hanya seputaran olahraga yang asing, membuat Namira kebosanan sendiri mendengar cerita yang dibuat oleh Kevin. Bahkan lelaki itu tak sadar Namira begitu bosan sampai-sampai Namira hanya menanggapi dengan kalimat yang tidak kreatif sama sekali, seperti sekarang ini. Gadis itu hanya menimpali seperlunya dengan kalimat yang sama.
"Kamu tahu gak, dulu itu Fabio Quartararo itu dulu pas junior satu team sama Joan Mir yang sekarang jadi rivalnya," celoteh Kevin heboh sembari fokus menyetir si merah.
"Oh ya?"
"Iya, terus mereka itu akrab banget. Aku pernah stalking IG dia. Terus aku lihat foto-foto masa lalunya dan di situ ada foto dia sama Joan Mir pakai baju yang sama. Hahaha lucu banget mereka, gemesin."
"Iya Nami, terus pas aku scroll IG nya lagi semakin ke bawah, semakin ke bawah, aku juga menemukan foto-foto pas Fabio Quartararo masih kecil banget. Kamu tahu gak, di situ si Fabio foto-foto sama atlet generasinya Rossi kaya Nicky Hyden terus Rossi, pokoknya banyak deh..."
"Masa sih?" jawab Namira tidak merubah pertanyaannya. Jika ada titel penghargaan jawaban tidak kreatif, maka hal itu pantas di sematkan pada Namira. Dia sungguh tidak merubah tanggapannya selain dari 'Oh ya dan Masa sih'
Kendati demikian, Kevin tetap saja bercerita antusias. Dia lelaki yang tidak peka, andai saja Namira bisa mengelak atau menyumpal mulut Kevin saat ini, mungkin dia akan melakukan hal itu agar Kevin berhenti berceloteh.
"Benar-benar manusia tidak peka!! Aku sudah bosan begini dengerin ceritanya eh masih aja terus berlanjut nyerocos. Dia pikir aku tahu siapa itu Rossi, Fabio Quartararo atau Joan Mir?!! Belum lagi, Nicky Hyden, ahelaaah mana pusing kepala gue terus-terusan dicekokin cerita beginian, seperti gak ada bahasan lain yang lebih menarik saja!!" Namira mengumpat kesal dalam hatinya. Sungguh, Namira merasa amat kebosanan sedari tadi terus mendengar cerita yang sampai sekali tidak nyambung dengan kehidupannya.
Jika saja Namira bisa mengatakan apa cerita yang Namira ingin dengar saat ini, tentunya bukan Motto GP dan olah raga lainnya. Yang Namira ingin dengar adalah tentang kabar Almira. Dia ingin mendengar kabar buruk yang Kevin terima, dia ingin mendengar dan melihat reaksi langsung jika Kevin tahu bahwa gadis pujaannya sudah minggat dari kota ini. Sayangnya, Namira harus bersabar dengan semua keinginannya, karena sampai detik ini Kevin masih belum tahu bahwa Almira— cintanya telah pergi ke kota lain dan tak akan pernah terhubung lagi dengan lelaki itu.
Dalam benak Namira, ia ingin sekali ada keajaiban yang berpihak padanya agar seseorang mengabari kepergian Almira pada Kevin.
Saat Kevin masih sibuk menyetir dan menceritakan Motto GP kesukaannya, tiba-tiba saja handphone berdering cukup nyaring dan menandakan ada telepon masuk. Dengan begitu, Kevin pun langsung berhenti cerita, sementara Namira cukup lega karena telinganya terbebas dari cerita Motto GP yang dijejali Kevin.
"Thank God, akhirnya si brengs*k ini berhenti membeo tentang Motto GP yang sama sekali tak kumerti!!" ucap syukur Namira ia panjatkan pada Tuhan melalui suara hatinya.
Kevin pun merogoh ponselnya dari saku celana bahannya, lantas melihat kontak yang tertera di layar ponselnya.
"Vallen?" ucap Kevin refleks mengerutkan kedua alisnya bertaut saat melihat nama temannya tertera di dalam ponselnya.
Kevin belum mengangkat panggilan Vallen, dia hanya menatap layar ponselnya dengan perasaan takut. Apalagi sekarang ada Namira di sebelahnya. Sebab, kalau Vallen menelepon pasti informasi yang akan ia sampaikan hanya dua topik. Pertama tentang perusahaan, kedua tentang Almira.
Jika topiknya adalah Almira, repot urusannya jika mengangkat panggilan telepon Vallen saat ada Namira duduk di sebelah Kevin. Pada akhirnya, Kevin dilema. Ia pun melirik Namira sembari menimang-nimang kalau telepon Vallen harus diangkat atau jangan.
Bersambung.