Between Hate and Love

Between Hate and Love
Semakin Lama Semakin Mencurigakan



Untuk kedua kalinya, Kevin mendesah pasrah. Susah juga kalau Vallen sudah bersikap memohon - mohon seperti itu di depan Kevin. Rasanya ia tak tega untuk bersikap culas.


"Baiklah. Aku akan sedikit percaya, tapi bukan berarti aku mendukung kamu. Kamu harus buktikan bahwa apa yang kamu duga itu beneran nyata. Tapi jika salah, sorry sorry to say deh pokoknya aku gak bakal mau lagi dengerin dugaan kamu."


"Iya iya, gue pasti buktiin. Btw thanks ya," tandas Vallen girang. Dia tersenyum simpul penuh makna.


Sebenarnya Kevin ragu untuk mendukung Vallen. Ia masih belum dapat bukti nyata yang bisa mengklaim bahwa tuduhan Vallen bukan sekedar omongan belaka. Namun agaknya, Kevin tak setega itu membiarkan temannya terus-terusan memohon, memelas dan memintanya untuk sedikit percaya.


Sehingga, mau tak mau Kevin pun berusaha untuk adil. Dia menaruh sedikit rasa percayanya untuk Vallen sahabatnya.


"Sekali lagi terimakasih ya Vin, Lo sudah mau percaya sama gue. Gue janji secepatnya gue akan kasih bukti bahwa Namira adalah orang yang bersalah dalam masalah perginya Almira."


Kevin tak mau berbasa-basi. Dia hanya berdehem tanpa banyak kata. Satu sisi dia merasa ikut senang karena Vallen tak lagi memohon dan memelas padanya. Di sisi lainnya, Kevin sangat merasa miris melihat temannya menggebu-gebu menyatakan Namira adalah orang yang paling bersalah.


Biar bagaimanapun, Kevin tetap tak setuju dengan Vallen yang menyebut Namira pelakunya. Otak Kevin bahkan bertanya-tanya kenapa dan kenapa Vallen bisa sebegitu yakin bahwa Namira bersalah?


"Kalau gitu gue mau ke ruangan gue dulu ya, abis pulang dari kantor gue usahain balik lagi ke sekitaran komplek kontrakan Almira buat cari bukti," tukas Vallen penuh semangat.


"Iya. Kamu balik deh ke ruangan kamu. Aku juga mau lanjutin pekerjaan aku, masih banyak file keuangan yang belum aku cek dan bereskan," tandas Kevin setengah mengusir.


"Siap Pak Bos," ucap Vallen dengan senyum mengembang dan menempelkan ujung jari jemarinya membentuk tanda hormat layaknya seorang prajurit pada komandannya.


Setelah itu, Vallen bergegas memutar tubuhnya dan melesat meninggalkan Kevin di dalam ruangannya. Tergambar jelas kalau mood Vallen saat ini begitu penuh semangat setelah berhasil membujuk dan meyakinkan Kevin meskipun dengan agak maksa sedikit.


Berbeda dengan Vallen, Kevin benar-benar ragu dengan tindakan Vallen kali ini. Boro-boro mau semangat, senyum aja enggan. Sebenarnya Kevin juga was-was jika nanti Namira tahu tuduhan tak berdasar yang dilontarkan Vallen ini. Bisa repot urusannya.


"Huffft..." Kevin meloloskan lenguhan panjang setelah Vallen benar-benar menghilang tertelan pintu. Kemudian dia jambak rambutnya sendiri, menyalurkan seluruh rasa frustrasi sekaligus dilematisnya.


"Aku gak tahu tindakan aku ini sudah benar apa belum, tapi jika aku tak memberikan Vallen kesempatan buat buktiin semua tuduhan konyolnya itu, sama aja aku membuat si pria malang itu sedih. Dia pasti akan salah paham padaku. Tapi jika aku biarkan, ya gini nih... aku takut Namira yang ngambek kalau sampai ketahuan," cicit Kevin. Semakin plin-plan saja dia saat ini.


"Argggghhh... sialan! Kenapa harus jadi gini sih?" erang Kevin gusar. Tapi apa boleh buat, semuanya sudah dia sanggupi. Dia tidak mungkin meralat ucapannya pada Vallen, bisa-bisa Vallen mengamuk dan kecewa.


Kevin bangkit dari duduknya, dengan langkah tersugut-sugut dia mencoba mengejar Vallen yang baru saja keluar ruangannya. Dia memang tak bisa menghentikan atau menarik ucapannya sendiri mengenai kesetujuannya dengan permintaan Vallen.


Tapi setidaknya Kevin harus mengingatkan Vallen kembali jangan terlalu gegabah dan terang-terangan kalau Vallen tengah mencurigai Namira.


Kevin takut jika semua tuduhan Vallen tak benar dan tak terbukti, hal itu akan membuat Namira marah lagi pada Kevin. Dan Kevin tak mau hal itu sampai terjadi akibat kecerobohan Vallen yang terlalu buru-buru mengambil kesimpulan bahwa Namira yang salah.


"Leeeen," Kevin memekik setengah menjerit memanggil Vallen yang baru saja hendak menarik handle pintu ruangan kerjanya.


Kevin meleguk air salivanya sendiri saat tubuhnya telah berada tepat di depan Vallen. Rasa ragunya tiba-tiba saja muncul, dia harus berhati-hati berbicara dengan Vallen agar lelaki itu tak tersinggung.


"Ada apa Vin? Kenapa Lo kaya tergesa-gesa gitu?" tanya Vallen merasa heran.


"Ng-nggak sebenarnya.. duh gimana ya ngomongnya.." Kevin kesulitan merangkai kata-katanya dengan benar saking terlalu berhati-hatinya berbicara pada Vallen agar tak salah mengartikan.


"Lo masih mau ngomongin masalah Namira lagi?" tebak Vallen. Lelaki bermata sipit dengan senyum matahari itu seolah bisa membaca mimik wajah Kevin yang tengah gusar.


"Bukan gitu Len, tapi..." dan bodohnya, Kevin masih kesulitan berucap. Ia seolah kehilangan rentetan kosa kata yang telah ia susun di dalam otaknya. Dia masih terlalu berhati-hati agar Vallen tak marah karena Kevin masih enggan berpihak padanya.


"Ngomong aja. Ini pasti masih tentang Namira kan? Lo pasti mau bilang kalau Lo mau narik ucapan Lo kan?" Vallen tersenyum masam. Ia tak menyangka kalau temannya itu lagi-lagi bersikap plin-plan.


Padahal, Vallen hanya minta sedikit kepercayaan dari Kevin agar dia leluasa mengawasi Namira. Padahal, yang Vallen lakukan sekarang juga semuanya untuk kebaikan Kevin dan Almira. Namun, entah ada setan apa yang merasuki Kevin hingga mampu membutakan matanya tak bisa membedakan mana Namira yang baik mana Namira yang jahat.


Kevin diam tak bergeming. Ia masih mencoba merangkai kosa-kata demi kosa kata yang baik agar Vallen mau mendengarkan.


"Ck! Sudah gue duga .. dengan diamnya Lo kaya sekarang membuktikan kalau Lo emang gak mau berpihak ke gue. Lo pasti masih belum rela kan kalau gue nuduh Namira?" decak Vallen seraya berkacak pinggang.


"Bukan gitu Len..." bujuk Kevin. Dia memang tak bermaksud seperti itu. Dia hanya ingin mengingatkan Vallen untuk tak terlalu menampakkan kecurigaannya terhadap Namira. "Aku gak bermaksud begitu, aku diam bukan berarti mau meralat apa yang telah aku setujui. Jujur aku gak bermaksud kaya gitu Len, jangan ngambek dulu!"


"Terus maunya Lo gimana? Kalau emang Lo gak ngizinin gue buat membeberkan kelicikan Namira, it's OK! Tapi sayangnya gue tetap akan menyelidikinya. Lo akan berterima kasih sama gue nantinya sekaligus menyesal karena tak mau berpihak sama gue!" tekan Vallen. Lelaki itu agaknya sudah jengah dengan keplin-planan bos sekaligus rekan kerjanya itu.


"Duh Len, bisa nggak sih kamu tuh jangan nuduh gitu dulu. Aku nahan kamu bukan berarti aku berada di pihak oposisi. Tapi aku cuma mau mengingatkan kamu bahwa kamu jangan terlalu ketara curiga sama Namira. Aku takut dia salah paham, dan aku juga takut kalau nantinya..."


"Semua yang gue tuduhkan gak kebukti gitu?" potong Vallen dengan cepat. Ia seakan tahu kelanjutan kalimat yang akan Kevin lontarkan.


"Iya itu salah satunya. Jadi... "


"Jadi gue gak boleh selidikin gitu?" sambar Vallen lagi.


"Bukan gitu..."


"Kevin.. Vallen."


Secara mengejutkan seseorang kemudian menginterupsi percakapan antara Vallen dan Kevin yang tengah mendebat salah paham.


Bersambung.