Between Hate and Love

Between Hate and Love
Kabur



"Sialan, berani-beraninya dia merencanakan hal itu," gumam Vallen sembari memundurkan kakinya, hendak kabur. Namun karena tak hati-hati Vallen tak sengaja menginjak sesuatu yang menimbulkan bunyi yang cukup keras.


Hal itu tentu saja mengundang kecurigaan dari Namira di dalam sana. Namira menoleh dengan cepat , tatapannya sangat murka.


"Siapa di sana?"


Namira segera berlari memeriksa sumber suara, hal itu tentu saja membuat Vallen kalang kabut tak terkira. Ia segera berlari kabur sebelum ketahuan Namira.


"Sialan, kenapa harus ceroboh kaya gini sih?" Vallen berdecak sebal dengan dirinya sendiri. Ia pun sebisa mungkin keluar dari tempat itu sebelum semuanya menangkap basah dirinya. Apalagi saat ini situasinya dia adalah target utama Namira. Jika Namira tahu Vallen menguping pembicaraannya dengan para orang suruhannya, tentu saja akan semakin membahayakan posisi Vallen.


Vallen terus berlari dan berlari, menjangkau mobilnya. Ia lari terbirit-birit agar Namira tak menangkapnya, dan beruntungnya Tuhan masih mengizinkan dirinya selamat. Dia akhirnya menjangkau mobilnya walau harus tergopoh-gopoh.


Setelah itu, Vallen langsung melesak masuk ke dalam mobilnya dengan gemetaran. Tak lama dia langsung menyalakan mobilnya, hingga pada akhirnya dia bisa segera tancap gas sebelum Namira tiba di luar.


***


"Sialan! Kita kehilangan jejak orang yang menguping kita barusan," umpat Namira. Betapa murkanya dia, sampai-sampai ia melampiaskan kemurkaannya dengan cara menendang apapun yang bisa ia tendang saat itu.


Tak berhenti di situ, Namira bahkan berani mengeplak kasar kepala para orang sewaannya satu persatu.


"Bodoh! Kenapa kalian bisa kecolongan ada orang yang tahu tempat ini? Kalau sudah begini, repot urusannya!" murka Namira menyalahkan para orang sewaannya.


Sementara orang-orang yang jadi korban kebringasan Namira hanya mampu menunduk takut. Mereka seolah begitu pasrah dengan semua perlakuan Namira yang semakin semena-mena. Maklum, mereka sadar diri kalau orang yang tengah memukul sembari marah - marah itu adalah bos mereka, alias sumber uang mereka.


Jadi tak heran jika mereka hanya diam dan menerima segala perlakuan apapun dari Namira. Baik itu perlakuan manis atau kasar sekalipun, mereka tak akan pernah berani melawan atau menepis. Lagipula, menurut mereka pukulan Namira hanya seperti gigitan semut untuk ukuran perawakan mereka yang cenderung tinggi besar dan berotot.


"Maaf bos, kita gak tahu kalau tempat ini sudah terendus warga. Tapi sejauh ini saya berani memastikan kalau belum pernah ada yang datang kesini, lantas bagaimana orang bisa curiga pada tempat ini," pria berkepala plontos dengan wajah sangar itu mulai mencari pembelaan. Ia berani bertaruh kalau sebelum - sebelumnya tidak ada kejadian seperti tadi. Jadi, agak sedikit mengherankan kalau tiba-tiba ada yang kepo dan berani masuk ke dalam rumah kumuh tersebut.


"Apa maksud kamu berkata seperti itu? Apa kalian berpikir tadi itu kucing, hah?" maki Namira. sorot matanya memancarkan kilatan amarah yang begitu dalam. "Jelas-jelas tadi itu manusia, tidak mungkin ada binatang yang menimbulkan bunyi sekeras itu, dan kita juga sama-sama mendengar kalau tadi ada deru mobil yang melarikan diri dari sini."


"Memang betul sih bos, tapi mungkin saja orang itu sebenarnya orang terdekat di dalam hidup bos yang udah mulai curiga," tutur pria berambut kriwil. Ia mulai ikut-ikutan ambil bicara dan mencari pembelaan juga.


"Jadi kalian nyalahin saya?" Namira protes. Matanya melotot lebar-lebar hingga membuat para pria bertubuh kekar sewaannya itu langsung ciut seketika.


"Bukan gitu maksud kita bos..." Salah seorang dari para orang sewaan Namira itu kembali menyergah. Dia berupaya untuk membuat Namira tak merasa tertuduh walau pada kenyataannya semua ini sepertinya memang salah Namira. Gadis itu yang ceroboh karena masuk ke rumah tersebut tanpa memeriksa keadaan sekitar dan hanya masuk begitu saja.


"Lantas apa namanya kalau kalian bukan mau mendakwa saya? Jelas-jelas kalian tengah berupaya memojokan saya. Kalian hendak menyalahkan saya kan? Kalian pasti mikir ini semua gara-gara saya, kan? Udah deh ngaku aja!" serobot Namira, memotong kalimat salah seorang orang sewaannya yang tengah membela diri dan teman-temannya.


"Nggak bos, sumpah kita gak bermaksud seperti itu. Kita gak berniat merujuk ke arah situ. Kita hanya..." salah seorang dari orang sewaan Namira lagi-lagi berupaya untuk menyergah, namun sayangnya Namira kembali memotong dengan amat sangat lugas.


"Hanya apa?! Kamu pikir saya gak tahu jalan pikiran kalian, hah? Kamu pikir saya gak tahu otak jahat kalian? Dan apa kalian pikir saya orang bodoh sehingga tak bisa membaca mimik wajah seseorang saat hendak berkata nyinyir?"


"Duh bos, beneran kita gak sampe mikir kesitu," elak orang sewaan Namira. Mereka begitu pasrah karena Namira bersikap keras kepala dan bebal hingga tak mau menerima alasan apapun untuk mengelak.


"Gini aja deh bos, daripada kita ribut-ribut mencari yang salah. Ada baiknya kita temukan jejak orang tadi. Siapa tahu ada barang dia yang terjatuh atau apa kek, yang bisa kita jadikan kajian untuk menelaah atau paling nggak memprediksi kira-kira siapakah gerangan yang sudah berani masuk ke wilayah kita," usul pria berambut lurus yang sedari tadi diam seolah sengaja bungkam dan tak mau ambil pusing dengan terlibat perdebatan.


Namira diam menimang - nimang usul tersebut, tak lama dia pun berkecipak senang.


"Ck! Benar juga kata kamu. Ternyata kamu diam-diam cemerlang juga, gak seperti teman-teman kamu yang bodoh ini," puji Namira pada orang berambut lurus, sembari mengejek para orang sewaan yang lainnya.


"Terimakasih bos. Memang sudah seharusnya kita berpikir jernih daripada buang - buang waktu hanya untuk saling mengklaim siapa yang salah," lanjut orang berambut lurus.


"Kamu benar," ucap Namira pada akhirnya. "Sekarang kalian cepat cari bukti sekecil apapun yang ditinggal oleh penguping sialan tadi. Saya yakin, dia pasti meninggalkan jejaknya di sana. Kita bisa cari tahu di dalam, pokoknya saya minta kalian temukan buktinya! Sebelum kalian menemukan bukti, kalian dilarang buat istirahat!! Mengerti?!" titah Namira dengan intonasi tinggi.


Para orang sewaannya itu langsung menyahut mengerti secara kompak. Lantas mereka bergegas masuk kembali ke dalam rumah persembunyian mereka hanya untuk mencari bukti yang ditinggalkan oleh orang yang menguping mereka tadi.


***


Vallen menarik nafas lega saat ia berhasil lolos dari Namira, sebelum gadis itu benar-benar tahu bahwa Vallenlah yang telah menguping tadi. Setidaknya, Vallen sekarang bersyukur kalau apa yang tengah dia curigakan selama ini benar-benar terbukti nyata.


"Kejahatan akan selalu kalah, meski sudah diupayakan dengan amat sangat keras," gumam Vallen merasa menang.


Bersambung.