Between Hate and Love

Between Hate and Love
Kau Akan Tahu Nanti



"Tapi kalau dia memang tambatan hati lo, kenapa lo malah tunangan sama Namira?" Vallen bingung.


Dan Kevin menjawab dengan santai, "Aku terpaksa!"


Vallen sedikit tercengang, lalu dia kembali melontarkan pertanyaan dan merutuk Kevin. "Terpaksa lo bilang? Apa lo gila!"


Kevin mendelik ke arah Vallen setelah mendengar dirinya dirutuk oleh Vallen.


"Ada yang sedang aku rencanakan," jawab Kevin ambigu.


"Rencana apa?"


"Nanti kamu akan tahu!" lagi, Kevin menjawab pertanyaan Vallen dengan ambigu.


Kevin nampak tenang dan tak cemas sama sekali dengan apa yang sedang dia lakukan. Sementara Vallen memijat pelipisnya dengan pelan, ternyata tidak mudah untuk mencerna maksud dari perkataan Kevin yang ambigu. Dia tidak habis pikir, kenapa Kevin rela bertunangan dengan Namira padahal dia tidak mencintai Namira sama sekali.


Mendengar ada yang bisik-bisik, Namira pun yang sedari berdiri di samping Kevin langsung tergerak hatinya untuk ikut menimbrung.


"Kalian lagi ngobrolin apa?" tanya Namira pada Kevin dan Vallen yang sedari tadi sibuk mengobrol dengan cara setengah berbisik.


Meski Namira sedari tadi berada dekat dengan Kevin, dia tidak cukup jelas menangkap obrolan Kevin dan Vallen. Selain karena dilakukan dengan cara setengah bisik-bisik, suara alunan musik yang menghiasi ruangan itu pun ikut menyemarakkan suasana dan mengganggu pendengaran Namira sehingga ia tak bisa mendengar obrolan Vallen dan Kevin secara jelas. Apalagi sedari tadi Namira sibuk bersalaman dengan tamu-tamu yang baru datang.


"Anu~ aku hanya... "


Kevin nampak bingung mau jawab apa, dia bahkan menyenggol lengan Vallen agar mau membantunya menjawab pertanyaan Namira yang mendadak menimbrung pembicaraan.


"Anu~ Aku hanya sedang mengobrol tentang urusan kantor," ucap Vallen asal.


Terpaksa dia mengatakan itu, karena yang terbesit di otaknya cuma urusan kantor. Tidak ada alasan lain. Lagipula Vallen takut Namira akan marah jika sebenarnya yang jadi topik pembicaraannya tadi adalah Namira dan kembarannya.


"Tapi kenapa harus bisik-bisik?" Namira tampak curiga.


"Itu karena... " kali ini Vallen yang kebingungan mau jawab apa.


Dia bingung harus mencari alasan apalagi, Namira bukan gadis bodoh yang akan percaya begitu saja setiap kata-kata yang keluar dari mulut Vallen, apalagi mencurigakan seperti itu.


Namun dengan sigat, giliran Kevin yang menyelamatkan Vallen dari kecurigaan Namira, "karena ini privasi perusahaan, dan di sini cukup banyak kolega papa yang datang. Jadi sangat riskan jika kami membicarakannya tanpa bisik-bisik." ucap Kevin santai.


"Oh... " Namira membulatkan mulutnya, mengerti.


Sementara Vallen menghembuskan nafas lega, karena Kevin berhasil meyakinkan Namira. Kali ini Vallen berhasil selamat dari Namira. Kevin, anak bos sekaligus rekan kerjanya Vallen itu memang sangat cerdas kalau urusan beginian. Pembawaannya yang kalem, tak menutup kemungkinan siapapun akan terpengaruh dengan ucapannya. Buktinya, hanya dengan sekali melontarkan alasan, Namira langsung percaya dan bungkam. Coba kalau tadi yang jawab Vallen, bisa-bisa Namira akan mencecarnya dengan banyak pertanyaan lanjutan.


"Vin, Nami... kalau gitu aku ke sana dulu ya!" ucap Vallen asal.


"Oh ya udah... " pungkas Namira.


Sengaja dia ingin kabur dari sana, dia tidak berlama-lama di dekat Namira dan Kevin. Rasanya, Vallen tak tahan dengan situasi yang membingungkan itu. Vallen khawatir Namira bertanya-tanya lagi. Daripada di tanya Namira dengan pertanyaan yang membuatnya mati kutu, lebih baik Vallen menghindar sejenak.


Namun sebelum Vallen beranjak, Kevin seperti memberi kode melalui ekor matanya "jangan ceritakan ini pada siapapun" tapi tanpa bersuara pada Vallen. Vallen yang mengerti maksud tatapan kode Kevin itu langsung merespon Kevin dengan lenguhan malas, kemudian dia benar-benar pergi dari hadapan Kevin dan Namira.


"Sikap Vallen sangat aneh ya?!," tukas Namira setelah sepeninggal Vallen.


"Dia kan emang dari dulu aneh. Hahaha," jawab Kevin asal kemudian tertawa.


"Aku mau menyapa kolega-kolega papa dulu ya?!" pungkas Kevin, namira pun mengangguk mengiyakan.


Kevin berlalu menuju kolega-kolega papanya sambil sesekali mengamati sekitar. Sepertinya Kevin hanya mencari alasan agar dia bisa bertemu Almira, dia ingin menjelaskan semuanya sebelum Almira salah paham. Rencana Kevin yang sudah di susun rapih itu tak boleh gagal kali ini.


Sesekali Kevin juga mengamati gerak-gerik Namira supaya Kevin bisa lebih leluasa bertemu Almira, dia ingin mempertemukan Almira dengan keluarganya sendiri. Tapi sebelum itu terjadi, Kevin ingin mengajak Almira berbicara sesuatu yang penting dan mengatakan alasan mengapa dia bertunangan dengan kakaknya.


"Aku harap dia akan mengerti," gumam Kevin pelan.


Setelah memastikan Namira lengah mengamati Kevin, kemudian Kevin melangkah keluar hotel, mencari Almira di sana. Karena menurut informasi Vallen tadi, Almira masih di luar hotel menunggu temannya yang mungkin itu Tania.


"Aku harus segera menjelaskan semuanya alasanku bertunangan, sebelum Almira masuk ke hotel dan tak sengaja melihat keluarganya ada di sini," pungkas Kevin panik.


Kevin seperti di kejar bom waktu, dia panik dan buru-buru ingin menyelesaikan semuanya. Dia tidak ingin bertindak gegabah, karena apa yang sedang dia susun sekarang nyatanya terlalu berisiko. Sekali Kevin terlambat memberi tahu Almira yang sebenarnya, maka semuanya selesai.


Glek~


Kevin terkesima saat matanya menangkap sosok Almira dengan balutan dress selutut berwarna salmon dan make up yang natural serta tatanan rambut yang di curly.


"Ya ampun kenapa dia cantik sekali?" puji Kevin.


Dengan sigat dia menepis kekagumannya melihat Almira malam ini, dia harus bisa mengendalikan dirinya agar normal kembali. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk terhanyut dalam rasa kagum.


"Tidak... tidak... sekarang bukan waktunya untukku terpesona seperti ini. Ada yang lebih penting yang harus segera ku selesaikan," ucap Kevin meyakinkan dirinya sendiri.


Kevin menarik nafasnya dalam dalam, menstabilkan kembali dirinya yang tadi sempat teralihkan. Lalu dengan pasti Kevin mendekat ke arah Almira.


"Almira... " sapa Kevin dari arah belakang setelah berhasil mempersempit jaraknya dengan Almira.


Almira pun berbalik ke arah orang yang menyapanya. Dan saat melihat Kevin sudah berdiri di belakangnya, mendadak Almira jadi kikuk. Kevin tampil keren dengan balutan jas hitam berdasi kupu-kupu.


Namun sesegara mungkin Almira menepis rasa kikuknya, kemudian dia menyodorkan tangannya ke hadapan Kevin. Memberi Kevin selamat.


"Selamat ya pak atas pertunangan bapak!" ucap Almira sembari menyimpulkan tepian bibirnya, padahal hatinya lumayan sakit.


Bagaimana tidak, dia menyalami dan memberi selamat pada orang yang dia sukai. Sebenarnya cukup sulit untuk berpura-pura bahagia melihat Kevin bertunangan dengan yang lain bukan dengan dirinya. Tapi apa mau di kata, Kevin telah menentukan pilihannya. Dan Almira harus menerima kenyataan pahit ini sendiri.


Melihat Almira memberikan selamat padanya, Kevin jadi terlihat bingung bercampur sedih. Dia bahkan tak membalas uluran tangan Almira, dan malah memasukan tangannya kedalam saku celananya. Melihat tak ada respon, Almira pun menurunkan lengannya.


"Almira aku sebenarnya tidak ingin berbasa-basi lagi, ada sesuatu yang penting yang perlu kamu ketahui.... " ucap Kevin gusar.


"Sesuatu yang penting penting?" Almira menaikan sebelah alisnya.


"Ya... semua ini ada hubungannya dengan kamu. Sebenarnya_____"


Dan saat Kevin bermaksud untuk menjelaskan semuanya, tiba-tiba seseorang memekik dari arah belakang. Sontak saja Kevin dan Almira kaget. Bahkan Kevin menjeda kalimatnya.


"Almira!" pekik orang itu, kemudian mendekat ke arah Kevin dan Almira.


"Sial! Kenapa dia harus datang di waktu yang gak tepat sih?!" umpat Kevin dalam hatinya.


"Al, aku gak nyangka kamu ada di sini. Kamu kemana aja Al?" pungkas orang tersebut yang tak lain adalah Namira.


Almira tak bergeming, jantung Almira mendadak berdetak begitu cepat, darahnya juga berdesir hebat seiring dengan rasa terkejutnya bertemu Namira di pertunangan Kevin.


Almira ingin berlari, tapi Namira mencekal lengan Almira untuk tidak kabur lagi.


"Al, jangan pergi lagi, aku mohon!" lirih Namira memohon. Matanya berkaca-kaca saat melihat adiknya yang sudah lama menghilang itu.


"Lepaskan aku!" Almira mencoba berontak, tapi Namira malah memeluk Almira begitu erat, dan kemudian air matanya jatuh di bahu Almira.


"Setidaknya, temani aku malam ini saja sampai acara pertunanganku selesai,"


DEG!


Shock! itulah kata pertama yang terbesit di benak Almira. Ia tidak menyangka ternyata gadis yang di pilih Kevin adalah Namira, kembarannya sendiri. Emosi Almira naik, dadanya sesak sekali. Almira menatap Kevin dengan tajam, menyiratkan banyak pertanyaan yang tak dapat terlontarkan oleh mulut Almira.


"Aku bisa jelaskan semuanya," ucap Kevin.


"Aku tak butuh penjelasan apapun!"


BRUGH!


Refleks, Almira mendorong Namira yang sedari tadi memeluknya dan kabur dari hadapan Kevin dan Namira yang kini tersungkur jatuh.


Kevin ingin mengejar, tapi dia dihadapkan situasi yang sulit sekarang. Dia tidak mungkin mengejar Almira sementara Namira jatuh akibat di dorong Almira, tapi dia juga tidak ingin membiarkan Almira kabur dengan lebih menyelamatkan Namira yang jatuh.


Kevin bingung mana yang harus lebih dulu dia dahulukan.


Bersambung~