Between Hate and Love

Between Hate and Love
Ini sesuai apa tidak?



Tak lama, orang suruhan Namira pun membalas pesan Namira. Buru-buru Namira membacanya sebelum Kevin kembali masuk ke dalam mobilnya dan memergoki Namira, apalagi sampai ketahuan aksi buruknya.


Orang suruhan: Gawat bos, tadi ada lelaki berperawakan putih dengan tinggi badan kira-kira 168 cm memergoki saya tengah mengawasi kontrakan Almira. Untungnya saya segera kabur sebelum lelaki itu bertanya-tanya pada saya. Tapi agaknya dia mulai curiga sama saya, soalnya saya sekilas lihat dia kaya natap saya layaknya orang jahat.


Namira: Ya memang kamu orang jahat, dasar bodoh!!


Orang suruhan: Oh iya ya Bos, hehe... terus kira-kira saya harus bertindak apa lagi nih?


Dari dalam mobil Kevin, Namira menepuk jidatnya dengan keras saat membaca balasan dari orang suruhannya itu. Betapa bodohnya orang suruhan Namira. Ia jadi emosi sendiri bawaannya.


"Aishhh begini saja dia tidak bisa berpikir jernih dan malah tanya ke aku. Bodoh banget sih ini orang. Andai saja kemarin dia dan teamnya tidak berhasil menemukan informasi tentang Almira, aku pasti sudah memecatnya dan mungkin akan berpikir dua kali akan menggunakan jasanya lagi. Tapi sekarang, rugi juga kalau aku batalin kerjasamanya. Haduuh bikin pusing aja!!" gerutu Namira berbicara pada dirinya sendiri. Kemudian dia pun menarik nafasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan sebelum akhirnya membalas pesan dari orang suruhannya lagi.


Namira: Hindari tempat itu untuk beberapa saat sebelum aku menugaskan kamu kembali.


Orang suruhan: Baik Bos, segera saya laksanakan.


Namira tak membalas lagi pesan orang suruhannya. Ia malah meremat ponselnya dengan erat seolah melampiaskan kekesalannya pada benda pipih tak berdosa itu akibat punya orang suruhan yang bodoh tidak ketulungan.


"Dasar bodoh!" umpat Namira dan mengakhiri sesi berkirim pesan dengan orang suruhannya setelah dia berhasil memberikan instruksi pada orang suruhannya yang cenderung bodoh kebangetan.


Namira juga merutuk orang suruhannya sendiri yang dirasa dungu dan lemot berulang-ulang. Jika saja cara kerja mereka tak terbukti bagus, Namira pasti sudah memecatnya jauh-jauh hari. Namun karena tempo lalu orang suruhannya berhasil menjalankan tugasnya dengan baik, Namira akhirnya memberi kesempatan untuk orang suruhannya. Toh, Namira masih membutuhkan orang itu minimal sampai semuanya berjalan sesuai rencana.


Saat ini rencana Namira masih seperempat perjalanan dalam misi balas dendam dan menghancurkan Kevin. Masih ada tahap-tahap lain yang membutuhkan tambahan tenaga. Ia tak mungkin menyewa detektif baru atau meminta tolong temannya, terlalu beresiko jika sudah diketahui beberapa orang. Namira khawatir jika orang tuanya juga ikutan menyalahkan Namira saat tahu dia berbuat curang pada adik sekaligus kembarannya sendiri, jadi dengan sedikit berat hati Namira tidak akan mengungkit-ungkit kebodohan suruhannya tersebut.


"Stay calm Namira, stay cool and chill. Gak boleh marah-marah. Gitu-gitu juga kalau masalah cari mencari info mereka selalu bergerak cepat. huh.. aku harus sedikit lebih sabar dan jangan sentimen. Ya, aku harus sabar!"


Setelah berhasil melawan egonya, Namira kembali menatap Kevin lekat-lekat dari dalam mobilnya. Wajahnya tak sama sekali bergerak, hanya fokus menatap lurus di mana ada Kevin tengah asyik teleponan dengan Vallen.


"Dia begitu terlihat serius jika obrolannya tentang Almira, tapi anehnya kenapa dia selalu menyembunyikan gadis itu dari aku. Kenapa dia masih belum berani jujur? Apa dia mencoba melindungi Almira? Atau dia sebenarnya sudah tahu sifat asli? Aku perlu lebih waspada. Aku juga perlu mengawasi Vallen, lelaki itu selalu berhasil menemukan informasi tentang Almira layaknya seorang detektif bayaran." Namira bergumam begitu pelan, menelisik dalam-dalam sosok Kevin dan Vallen. Ia tidak mau kecolongan dan kemudian rencananya akan gagal. Namira bertekad harus berhati-hati di setiap langkah dan misi yang ia jalankan. Jangan sampai ketahuan atau tercium pergerakannya oleh Kevin, Vallen bahkan Ayah dan Ibunya.


Di sisi lain, Kevin sedikit kalang kabut saat Vallen mengabarinya bahwa Almira telah kabur lagi, padahal baru saja Vallen menemukan informasi keberadaan tempat tinggal Almira yang terbaru, namun saat sampai di sana ia justru tak menemukan Almira.


"Kamu yakin itu alamat Almira? Kamu udah pastiin itu sesuai atau tidak dengan informasi yang kita dapat sebelumnya?" tanya Kevin pada Vallen begitu resah.


"Yakin Vin, ini memang tempat Almira yang baru. Gue juga udah tanya-tanya ke tetangga sekitar yang kebetulan sampingan sama kontrakan Almira," jawab Vallen dengan nada serius. Biasanya dia selalu menyelipkan guyonan di setiap percakapannya dengan Kevin, namun saat ini dia tidak sedang bercanda atau mengada-ada bahwa itu memang rumah yang sempat ditinggali Almira setelah hengkang dari rumah kontrakannya yang lama.


"Gue tadi sempat tanya-tanya ke beberapa tetangga dia siapa saja yang pernah berkunjung ke tempat Almira baru-baru ini. Dan fakta yang gue dapat sih, katanya ada cewek seumuran dia yang datang beberapa kali. Ciri-cirinya kurang pasti karena orang itu langsung dibawa masuk ke dalam, tapi yang jelas katanya mereka pernah terlibat cekcok gitu," papar Vallen di sebrang sana.


"Lah kok bisa? Kira-kira siapa ya Len? Perasaan Almira gak punya musuh deh."


"Ya mana gue tahu, Kevin Fernaldy!! Kan gue juga belum lihat secara jelas siapa orangnya, gimana sih Lo!" jawab Vallen ngegas.


"Ya kamu tanya lagi dong sama orang-orang di sekitar sana ciri-ciri detailnya, masa gak ada satupun yang tahu sih? Pokoknya aku gak mau tahu, kamu harus bisa temukan orang itu!! Aku takut gadis itu mengancam Almira dan membahayakan hidup Almira," tegas Kevin. Lagi-lagi dia menunjukkan kekuasaannya pada Vallen saking tidak karuannya otak Kevin saat ini.


"Tapi bentar deh, emang Almira punya musuh ya? Setahu gue bukannya musuh Almira adalah keluarganya sendiri, lebih tepatnya kan bokapnya," terka Vallen mulai curiga.


Kevin berpikir sejenak, mengingat-ngingat kembali siapa saja orang yang menjadi sumber utama masalah Almira selain ayah kandungnya sendiri.


"Iya juga sih. Tapi katanya kan yang terlibat cekcok itu jenis kelaminnya cewek, bukan cowok. Gak mungkin Pak Jamil." Kevin jadi ikut curiga. Namun sayangnya ia sama sekali tidak mendapatkan sedikit info perkara hal tersebut. Jadinya, ia kesulitan untuk menelaah atau mencari tahu siapakah gadis yang sudah mengusik hidup gadis tercintanya kini. Andai Kevin tahu, ia akan memastikan gadis itu tak tenang hidupnya karena telah mengganggu Almira.


"Atau mungkin orang itu Namira?" celetuk Vallen menebak.


"Ngaco kamu!! Bagaimana mungkin itu Namira, kalau dia sendiri belum tahu keberadaan Almira. Jadi aku rasa bukan Namira deh," sanggah Kevin. Ia merasa tidak mungkin bahwa gadis yang diklaim para tetangga Almira itu adalah Namira. Sebab, Kevin yakin bahwa saat ini Namira memang tidak tahu menahu keberadaan Almira. Kevin juga berani menjamin kalau Namira tidak mungkin mengajak Almira bercekcok ria. Mengingat ke kejadian sewaktu Namira kambuh dari penyakitnya, awal dari semuanya semakin menjadi merumit, Kevin menangkap bahwa Namira begitu menyayangi Almira. Jadi dapat Kevin pastikan sepertinya tebakan Vallen kali ini keliru. Lagian tebakan Vallen tak berdasar, Kevin jadi enggan percaya kalau tanpa bukti.


"Lo yakin si Namira belum tahu?" tanya Vallen lagi. Entah kenapa dia begitu yakin kalau ini semua pasti ada hubungannya dengan Namira.


"Kenapa kamu mencurigai Namira?" Kevin balik bertanya.


"Ya gue cuma nebak aja. Soalnya kalau kita hubungkan dengan informasi yang gue dapet dari para tetangga serta masalah dasar Almira, dan penjelasan Lo yang berani jamin Almira tidak punya musuh, kayanya dugaan gue merujuk pada Namira."


"Jangan asal bunyi kamu Len, kalau Namira tahu nanti dia tersinggung. Repot urusannya kalau dia ngambek lagi. Ini aku baru baikan sama dia, jadi hati-hati kamu kalau bicara!"


"Ya Lo jangan kasih tahu lah!! Susah amat sih, Lo." sergah Vallen ngegas. "Tapi ngomong-ngomong, tadi pas gue sampai di sini ada orang yang gerak-geriknya mencurigakan kaya lagi ngawasin rumah kontrakan Almira."


Mata Kevin membulat sempurna. "Maksud kamu?"


Bersambung