
Selepas kepergian Kevin, Namira masuk ke dalam kamarnya. Duduk bersimpuh di lantai dengan berurai air mata. Sesak di dadanya tak kunjung pergi. Jangankan pergi, reda sedikit saja tidak. Terlalu sulit menerima kenyataan dimana Kevin lebih mencintai Almira ketimbang dirinya. Selain merasa dibuang setelah tak butuh, ia juga merasa dipermainkan.
"Brengs*k!! Dasar pria brengs*k sialan!! Aku tidak akan membuatmu bahagia. Akan aku pastikan kamu tidak akan mendapatkan apa yang kamu mau," teriak Namira setengah menjerit. Beruntung kamarnya kedap suara, sehingga orang di rumah tak begitu ngeuh dengan teriakannya barusan.
"Aku tidak akan pernah membuat kamu bahagia!! Pria brengs*k! Hukss .. Huks ... huks." Amarah Namira meledak-ledak saat mengingat perbuatan jahat Kevin. Ia tak kuasa membendung emosinya. Direkatkannya buku - buku jarinya, menyalurkan seluruh emosinya lewat tangannya yang mengepal erat. Sejurus kemudian, ia melempar sendalnya ke arah kaca hingga membuat kaca tersebut setengah retak.
"Aku akan membalas perbuatanmu! Kamu harus merasakan seperti apa yang aku rasakan sekarang!" tekad Namira. Matanya menyorot tajam, wajahnya memerah penuh kilatan amarah. Emosinya semakin tidak stabil.
"Istilah dunia mengatakan, orang jahat berasal dari orang baik yang tersakiti. Maka aku akan melakukan hal itu juga buat kamu, karena berani-beraninya menyakiti aku," imbuh Namira seraya mengusap sisa-sisa air matanya yang masih melekat di tepian pelupuk matanya. Diakhiri dengan senyuman dingin dan jahat.
***
Kevin memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan yang tak terlalu ramai. Wajahnya nampak kusut seiring dengan otaknya yang mulai tak jernih.
"Tuhan, kenapa semuanya jadi rumit kaya gini sih? Shit!!" umpat Kevin seraya memukul refleks bagian tengah kemudinya dan menimbulkan bunyi klakson yang cukup nyaring. Ia tak peduli beberapa orang memandang aneh ke arah mobilnya, mungkin mereka mengatakan Kevin tidak waras karena membunyikan klakson di saat jalanan tak terlalu ramai dan Kevin masih dapat spase jalan jika ingin menyalip.
Kevin menaikan kecepatan mobil beberapa step. Ia tidak peduli jika nanti akan mencelakainya. Mungkin dengan dia celaka, setidaknya dia bisa menghindar dan kabur dari semua masalah yang melandanya saat ini. Percuma dihadapipun, masalah-masalah tersebut seolah mengejek dan menantang Kevin.
Namun beruntungnya, meski memacu kendaraannya dengan batas kecepatan tak wajar serta carut - marutnya pikiran Kevin saat ini, ia masih bisa selamat dari petaka. Celaka, Semesta, bahkan Tuhan seperti melindunginya dan tak ingin Kevin pergi cepat-cepat dan tak bertanggung jawab atas apa yang diperbuatnya. Membiarkan Kevin tetap hidup agar bisa meluruskan dan memulihkan semuanya seperti sedia kala.
Saat ini, mobil Kevin telah terparkir di sebuah gedung Universitas Swasta, di mana Almira belajar. Kevin terpaksa ke sana demi menemui Almira, karena semenjak Almira memutuskan pindah dari kontrakannya yang lama, Kevin belum pernah tahu di mana Almira tinggal. Sehingga mau tak mau, Kevin harus menantikan Almira di kampusnya jika ingin bertemu dengan gadis itu. Tidak ada pilihan lain.
Mata Kevin mengedar ke seluruh penjuru kampus, berharap gadis yang ia cintai lewat di depannya. Ia tidak mungkin masuk dan mencari Almira di gedung fakultas Ekonomi dan Bisnis, ia khawatir akan bertemu dosen menyebalkan dan cowok yang mengaku-ngaku pacar Almira. Berabe urusannya kalau bertemu mereka, sebab niatan Kevin akan terhambat jika ada mereka. Jadi sebisa mungkin Kevin menahan kakinya di parkiran.
Entah apa yang membawanya ke kampus Almira, Kevin hanya ingin melihat dan mencoba tetap meluruskan semuanya pada gadis itu. Ia tidak mau berlarut-larut diterpa sangkaan buruk. Ia harus bisa meyakinkan Almira bahwa dia sangat mencintai gadis itu. Ia berjanji akan menjaga dan membahagiakan gadis itu. Sebisa mungkin Kevin harus menyelesaikan semuanya secara teratur. Setelah urusannya dengan Namira selesai, kini dia akan fokuskan pada Almira.
Tak berselang lama, orang yang Kevin tunggu akhirnya menampakkan batang hidungnya. Benar saja, Almira lewat ke arah parkiran. Gadis itu akan memilih gerbang dua, yang dekat parkiran jika mau keluar masuk. Selain lebih strategis buat pejalan kaki, di gerbang dua juga jarang ada kendaraan yang lewat situ. Makanya Almira sering lewat situ.
"Almira..." panggil Kevin dengan buru-buru.
Almira menoleh ke arah sumber suara. Tatapan sebalnya kembali muncul saat orang yang paling ia benci muncul lagi dihadapannya. Saking bencinya, Almira memilih tak mengindahkan suara Kevin dan fokus melangkahkan kakinya setapak demi setapak.
"Almira," Kevin masih berusaha memanggil nama gadis pujaannya, sembari mendekat pada Almira. "Almira, tolong dengarkan aku dulu!" pinta Kevin, menggenggam pergelangan tangan Almira tanpa seizin yang empunya.
"Aku ingin bicara sebentar sama kamu. Aku mohon!" harap Kevin memelas.
"Aku tidak punya cukup banyak waktu untuk mendengar semua ocehan tidak bermanfaat dari kamu lagi. Jadi stop mengejar - ngejar aku. Aku sungguh risih dan muak setiap kali melihat wajah kamu!" ucap Almira, galak dan sinis.
"Aku tahu, tapi aku perlu bicara. Tidak bakal menyita waktumu kok. Hanya lima menit, jadi kumohon sekali ini saja kamu mau dengerin aku."
"Lima menit adalah hal yang banyak menurutku. Jadi maaf, aku tidak bisa!" tukas Almira, ia segera pergi. Namun lagi-lagi harus gagal, karena Kevin menahan lengannya.
"Baiklah kalau lima menit terlalu lama buat kamu, bagaimana kalau tiga menit?" tawar Kevin sembari mengacungkan tiga cari tangan kirinya, berharap Almira menyanggupi permintaan Kevin.
"Aku tetap tidak bisa! Minggirlah!" Almira masih berusaha kabur. Sebenarnya bukan masalah berapa menitnya, tapi Almira memang enggan berbicara dengan Kevin. Baginya, nama Kevin sudah mati dan terhapus dari daftar ingatannya. Jadi, ia tidak mau berurusan lagi sama orang yang tengah memelas dihadapannya kini.
"Yaudah satu menit. Please!"
Almira tak menjawab. Ia terlalu malas menanggapi. Baginya satu menit tetap berharga, yang otomatis ia tak mau membuang satu menit yang berharga itu hanya demi mendengar ocehan tidak bermanfaat dari Kevin. Lagipula, tidak ada yang perlu dijelaskan.
Namun hal itu justru di salah artikan oleh Kevin, diamnya Almira menurut Kevin pertanda setuju. Gadis itu setuju untuk diajak bicara. Tak apalah, walau waktu yang diberikan oleh Almira terbilang sangat amat limit, tapi setidaknya ia mau diajak kompromi.
Kevin mulai membuka suara. Ia tak mau membuang waktu yang terbatas itu untuk hal yang tak terlalu penting. Jadi ia akan mengatakan secara singkat padat dan jelas serta langsung ke inti pokoknya. "Aku sama Namira tidak jadi bertunangan. Namira sama aku sepakat untuk mengakhiri hubungan kita," jelas Kevin.
Almira terperangah tak percaya. Ia bingung harus senang atau bahagia sekarang. Kemudian ia menyipitkan matanya, menelisik mata Kevin yang barang kali berbohong. Ia takut kalau Kevin hanya membual lantas berusaha mengkadali dirinya lagi. Cukup sekali dia dibohongi. Cukup sekali dia patah hati!
Cukup lama Almira menelisik mata Kevin dalam-dalam. Berharap ada satu titik kebohongan tertera di sana. Ia tidak boleh langsung mempercayai orang di hadapan dirinya kini begitu saja. Ia harus lebih waspada jika tak ingin menjadi korban Kevin lagi. Harus! Oleh karena itu, Almira masih mencari-cari celah kebohongan di dalam manik mata Kevin. Namun sayangnya, apa yang tengah ia cari tak kunjung ia dapatkan. Menandakan kalau Kevin memang berkata jujur.
"Apa dia beneran berkata jujur? Kenapa aku kurang yakin? Tapi hatiku mengatakan kalau Kevin benar-benar serius dengan ucapannya. Namun kenapa otakku begitu menolak semua ini? Tidak! Tidak! Stop menggunakan perasaan dalam menilai sesuatu, Almira... Kamu telah banyak sakit hati ketika kamu lebih banyak menggunakan hatimu ketimbang logika kamu. Stop mempercayai orang ini hanya karena hatimu berkata kalau dia memang berkata jujur. Tapi... Arggh...!" Almira mengerang dalam batinnya. Semakin galau saja di posisi Almira sekarang.
Haruskah ia mempercayai Kevin? Atau justru sebaliknya? Mengingat, apa yang pernah Kevin perbuat cukup membuat dirinya sedikit banyak tersiksa.
Bersambung.